Ini adalah cerita tentang seorang remaja yang dianggap sebagai generasi muda terkuat saat ini. Ia tidak hanya kuat, ia juga kaya. Semua ia dapatkan berkat campur tangan gurunya.
Takdir mempertemukannya pada seorang pendekar misterius. Pendekar itu sangatlah kuat, walaupun tingkahnya agak sembrono.
Di kemudian hari ia akan mengetahui identitas dari pria itu. Petualangan mereka berdua akan sangat seru dan penuh intrik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seorang Diri Menghadapi Serigala Darah
Gao Rui menganggukkan kepala mantap.
"Baik, Paman."
Sha Nuo melirik sekilas ke arah Sung Wen.
"Ayo ke sana."
Sung Wen segera mengangguk.
"Baik."
Tanpa menyembunyikan keberadaan mereka sedikit pun, ketiganya langsung menuruni lereng menuju Desa Qinghe.
Langkah kaki mereka terdengar jelas di tengah guyuran hujan. Mereka tidak berusaha memutar ke samping ataupun bersembunyi di balik pepohonan. Sebaliknya, mereka berjalan lurus melalui jalan utama desa.
Tak butuh waktu lama. Salah seorang pendekar berpakaian hitam yang berjaga di pintu masuk desa langsung menyadari kedatangan mereka.
"Ada orang datang!"
Seruannya segera menarik perhatian para pendekar lain. Dalam sekejap, ratusan pasang mata langsung mengarah ke pintu masuk desa.
"..."
Di tanah lapang, kepala desa yang sejak tadi berlutut bersama para penduduk juga ikut menoleh. Begitu melihat sosok Sung Wen, matanya langsung membelalak.
"Sung Wen sudah kembali!"
Ia sama sekali tidak menyangka pria itu sudah kembali secepat ini. Harapan yang sempat padam langsung kembali menyala.
"Mungkinkah... ia benar-benar berhasil membawa bala bantuan?"
Jantungnya berdegup semakin kencang.
Namun beberapa saat kemudian, senyum di wajahnya perlahan memudar. Di belakang Sung Wen, hanya ada dua orang. Seorang pemuda yang usianya tampak belum terlalu dewasa dan seorang pria bertubuh tinggi besar yang berjalan dengan santai di sampingnya.
Tidak ada pasukan dan tidak ada kelompok pendekar. Harapan yang baru saja muncul kembali mulai digantikan kegelisahan.
"Hanya... dua orang?"
Di sisi lain, para perampok yang semula memasang wajah waspada juga ikut mengamati. Mereka sempat mengira Sung Wen benar-benar berhasil membawa bantuan dari sebuah sekte atau keluarga besar.
Beberapa orang bahkan telah menggenggam erat senjata mereka. Namun begitu melihat hanya tiga orang yang datang...
"Hahaha!"
Tawa langsung pecah dari berbagai penjuru.
"Jadi cuma tiga orang?"
"Yang satu bahkan masih bocah!"
"Kurasa bocah itu bahkan belum cukup umur untuk minum arak!"
"Hahaha!"
Suasana yang sempat tegang langsung berubah menjadi ejekan. Tak seorang pun benar-benar menganggap Gao Rui ataupun Sha Nuo sebagai ancaman.
Di antara kerumunan itu, seorang pria bertubuh kekar perlahan melangkah maju. Wajahnya dipenuhi bekas luka, sementara sebuah golok besar tersampir di bahunya.
Tatapannya menyapu Gao Rui, lalu berhenti pada Sha Nuo.
"Hmph."
Ia mendengus dingin.
"Dengar baik-baik. Sebaiknya kalian berdua tidak usah macam-macam di sini."
Ia menancapkan goloknya ke tanah dengan keras.
Duar!
Tanah di sekitarnya langsung retak.
Pria itu menyeringai lebar.
"Kami adalah Kelompok Serigala Darah."
Nama itu diucapkannya dengan penuh kebanggaan.
Di wilayah Kekaisaran Zhou, nama Kelompok Serigala Darah memang cukup dikenal sebagai salah satu kawanan perampok yang kejam. Mereka terkenal sering menyerang desa-desa terpencil dan tidak segan membantai siapa pun yang melawan.
Pria itu menatap Gao Rui dengan sorot mata meremehkan.
"Kalau masih sayang nyawa... bawa pengawalmu itu, lalu pergi dari sini."
"Kalau tidak..."
Senyumnya berubah semakin menyeramkan.
"...kalian akan berakhir sama seperti penduduk desa ini."
Pria bertubuh kekar itu masih menatap Gao Rui dengan sorot mata meremehkan.
Di matanya, bocah itu kemungkinan besar merupakan keturunan sebuah keluarga bangsawan. Pakaiannya yang rapi, cincin ruang di jarinya, serta sikapnya yang tenang sudah cukup membuktikan hal tersebut. Sedangkan pria bertubuh tinggi besar yang berdiri di sampingnya kemungkinan besar adalah pengawal pribadi sang tuan muda.
"Hmmm..."
Ia mendengus pelan.
Sejujurnya, ia sedang malas berurusan dengan kaum bangsawan. Terakhir kali kelompoknya berselisih dengan salah satu keluarga bangsawan, mereka bahkan kehilangan hampir sepertiga pasukan. Meski akhirnya berhasil meloloskan diri, kerugian itu masih membekas hingga sekarang. Karena itulah, bila memungkinkan, ia tidak ingin mengulang kejadian serupa.
Di sisi lain, Sha Nuo memandang pria bertubuh kekar itu dengan santai sebelum menoleh kepada Gao Rui.
"Rui'er."
"Iya, Paman?"
"Kau mengenal Kelompok Serigala Darah?"
Gao Rui menggeleng pelan.
"Tidak."
Ia kemudian balik bertanya.
"Kalau Paman?"
Sha Nuo ikut menggeleng.
"Aku juga tidak tahu."
"..."
Jawaban itu membuat beberapa anggota Kelompok Serigala Darah saling berpandangan.
"Apa?"
"Mereka... tidak tahu Kelompok Serigala Darah?"
Beberapa orang bahkan tampak tercengang. Selama ini, nama kelompok mereka cukup dikenal di wilayah Kekaisaran Zhou. Jarang sekali ada pendekar yang benar-benar tidak pernah mendengarnya.
Sha Nuo tidak memedulikan reaksi mereka.Ia hanya menatap para perampok itu beberapa saat, lalu mengalihkan pandangannya kepada Gao Rui.
Di dalam hatinya, ia mulai berpikir.
"Bocah ini terlalu baik. Ia pasti tidak pernah membunuh orang jahat."
"Kemungkinan besar... ia belum pernah berhadapan dengan kawanan perampok seperti ini."
Tatapannya kembali mengarah kepada para pendekar berpakaian hitam.
"Orang-orang seperti mereka tidak hidup dengan mencari nafkah secara benar."
"Mereka merampas, membunuh, dan menghancurkan kehidupan orang lain demi kepentingan mereka sendiri."
"Kalau hari ini mereka dibiarkan hidup... besok akan ada desa lain yang menjadi korban."
"Mereka bukan orang yang pantas diberi kesempatan kedua."
Memikirkan hal itu, Sha Nuo akhirnya membuka mulut.
"Rui'er."
"Iya, Paman?"
"Kalau begitu, kau tetap di sini saja."
Ia melangkah maju setengah langkah.
"Biar aku yang mengurus mereka."
Namun Gao Rui langsung menggeleng.
"Tidak, Paman."
Tatapannya tertuju kepada ratusan penduduk desa yang masih dikepung.
"Biarkan aku yang bertarung. Aku tidak boleh membiarkan kejahatan seperti ini terus terjadi."
Sha Nuo menatap Gao Rui beberapa saat. Kemudian, ia mengalihkan pandangannya kepada kelompok Serigala Darah.
Dalam sekali sapuan indra, ia sudah mengetahui kekuatan mereka. Yang paling kuat hanyalah seorang pendekar raja. Sisanya bahkan tidak layak menjadi ancaman.
Beberapa saat kemudian, Sha Nuo menganggukkan kepala pelan.
"Baiklah. Kau boleh melakukannya."
"Tapi berhati-hatilah."
Gao Rui tersenyum lebar.
"Baik, Paman."
Sementara itu, Sha Nuo hanya mengangguk tipis. Di dalam hatinya, ia telah mengambil keputusan.
"Kalau Rui'er tidak tega menghabisi mereka... dan hanya melukai mereka... maka akulah yang akan menyelesaikan semuanya."
"Orang-orang seperti ini tidak boleh dibiarkan hidup."
Sesudah itu, Sha Nuo mengusap cincin ruang di jarinya. Kilatan cahaya tipis muncul. Sebuah payung berwarna hitam segera berpindah ke tangannya.
Krek.
Ia membuka payung itu dengan santai. Derasnya hujan yang sejak tadi mengguyur langsung tertahan di atas kepalanya.
Kini, tubuh Sha Nuo sama sekali tidak lagi terkena air hujan. Pemandangan itu membuat beberapa anggota Kelompok Serigala Darah mengernyit heran.
Sementara Sha Nuo hanya berdiri tenang di bawah payungnya. Ia menoleh kepada Gao Rui.
"Silakan. Anggap saja ini latihan."
"Semakin sering kau bertarung, semakin cepat pula pengalamanmu bertambah."
Ia tersenyum tipis.
"Aku akan menjagamu dari sini."
Gao Rui membalas senyum tipis itu.
"Terima kasih, Paman."
Ia melangkah beberapa langkah ke depan hingga berdiri seorang diri di hadapan Kelompok Serigala Darah.
Tangannya perlahan bergerak menuju gagang pedang yang tergantung di pinggangnya.
Srak!
Pedang itu tercabut perlahan dari sarungnya. Bilah pedang yang berwarna keperakan memantulkan cahaya petir yang sesekali membelah langit. Meski hujan masih turun deras, ujung pedang itu tetap memancarkan kilau dingin yang tajam.
Gao Rui menggenggam pedangnya erat. Tatapannya tenang. Tidak terlihat sedikit pun rasa gentar di wajahnya.
Namun pemandangan itu justru membuat para anggota Kelompok Serigala Darah saling berpandangan. Sesaat kemudian...
"Hahaha!"
Tawa mereka kembali meledak.
"Bocah itu benar-benar ingin melawan kita?"
"Aku tidak salah lihat, kan?"
"Dia sendirian!"
"Kurasa kepalanya sudah tidak beres."
"Hahaha!"
Beberapa orang bahkan menepuk-nepuk paha mereka karena terlalu keras tertawa.
Di mata mereka, tindakan Gao Rui benar-benar konyol. Seorang bocah yang bahkan belum genap dewasa, berani berdiri sendirian menghadapi lebih dari seratus pendekar. Bukankah itu sama saja mencari kematian?
Pemimpin Kelompok Serigala Darah pun ikut menyeringai. Ia menggeleng pelan sambil menatap Gao Rui penuh ejekan.
"Bocah."
"Apa otakmu sudah rusak?"
"Kau benar-benar berpikir bisa mengalahkan kami seorang diri?"
Di belakang Gao Rui, Sung Wen tanpa sadar menelan ludah. Meskipun ia telah melihat ketenangan Gao Rui sejak awal, menghadapi lebih dari seratus musuh seorang diri tetap merupakan pemandangan yang sulit dipercaya.
Sementara itu Sha Nuo berdiri santai di bawah payung hitamnya. Tangannya memegang gagang payung dengan satu tangan, sedangkan tangan lainnya dimasukkan ke balik lengan bajunya.
Tatapannya hanya tertuju kepada Gao Rui.
"Perlihatkan padaku... seberapa jauh kemampuanmu bocah."
Di kejauhan, para penduduk Desa Qinghe ikut menahan napas. Tak seorang pun berani bersuara. Mereka semua menatap pemuda yang berdiri seorang diri di tengah hujan deras itu.
Suasana desa seketika menjadi sunyi. Hanya suara hujan yang terus mengguyur tanah serta gemuruh petir yang sesekali menggelegar di langit malam.
Pertarungan akhirnya siap dimulai.
...*********...
Hai semua, author baru saja membuat akun tiktok. Kalian bisa follow author ya @boqin.changing
Thanks all