NovelToon NovelToon
Warisan Dewa Kematian: Naga Bintang & Hantu Pedang

Warisan Dewa Kematian: Naga Bintang & Hantu Pedang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Fantasi Timur / Anak Genius
Popularitas:431.3k
Nilai: 5
Nama Author: Boqin Changing

Ini adalah cerita tentang seorang remaja yang dianggap sebagai generasi muda terkuat saat ini. Ia tidak hanya kuat, ia juga kaya. Semua ia dapatkan berkat campur tangan gurunya.

Takdir mempertemukannya pada seorang pendekar misterius. Pendekar itu sangatlah kuat, walaupun tingkahnya agak sembrono.

Di kemudian hari ia akan mengetahui identitas dari pria itu. Petualangan mereka berdua akan sangat seru dan penuh intrik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Enam Sandera di Tengah Hujan Lebat

Hujan masih turun tanpa henti. Butiran air membasuh darah yang memenuhi jalan utama Desa Qinghe, namun tidak mampu menghapus aroma kematian yang memenuhi udara.

Semua mata kini tertuju kepada satu sosok, Gao Rui. Remaja itu berdiri diam dengan pedangnya masih tergenggam. Ujung bilahnya sesekali meneteskan darah ke tanah berlumpur.

"..."

Entah mengapa, baik para anggota Kelompok Serigala Darah maupun para penduduk desa merasakan hal yang sama. Bocah itu kini jauh lebih menakutkan daripada Zhan Hu.

Pemimpin Kelompok Serigala Darah memang memiliki aura yang buas dan menyesakkan. Namun Gao Rui berbeda. Ia membunuh tanpa emosi.

Wajahnya tetap tenang sejak awal hingga akhir pertarungan. Tidak ada kemarahan. Tidak ada kegembiraan. Bahkan setelah menghabisi seorang pendekar raja tahap menengah, ekspresinya sama sekali tidak berubah.

Justru ketenangan itulah yang membuat bulu kuduk semua orang meremang.

"Glek..."

Seorang anggota Kelompok Serigala Darah menelan ludah dengan susah payah. Tatapannya terus mengarah kepada Gao Rui.

Di belakangnya, masih ada puluhan anggota kelompok mereka yang tersisa. Namun kini, jumlah itu tidak lagi memberi rasa aman. Yang mereka rasakan hanyalah ketakutan.

"Ja... jangan..."

"Dia pasti akan membunuh kita juga..."

"Sial..."

Tangan mereka mulai gemetar.

Clang!

Seseorang mencabut pedangnya.

Clang! Clang! Clang!

Yang lain ikut menghunus senjata mereka.

Namun tidak seorang pun maju. Tidak seorang pun berniat menyerang.

Mereka hanya mengikuti naluri bertahan hidup. Seolah-olah, selama pedang masih berada di tangan, mereka masih memiliki sedikit harapan untuk tetap hidup.

Salah seorang maju setengah langkah.

"Jangan...!"

Suaranya bergetar.

"Jangan mendekat!"

"Berhenti di sana!"

Beberapa orang lain ikut berteriak.

"Jangan paksa kami!"

"Jangan dekati kami!"

"Berhenti!"

Namun Gao Rui sama sekali tidak menjawab. Tatapannya tetap datar.

Tap...

Ia melangkah.

Tap...

Satu langkah lagi. Tidak cepat dan tidak lambat. Ia hanya berjalan perlahan menuju para anggota Kelompok Serigala Darah.

Melihat itu, wajah para perampok semakin pucat.

"Dia... dia tetap datang!"

"Sial!"

"Jangan mendekat!"

Tangan mereka semakin gemetar hingga beberapa bilah pedang mulai bergetar mengikuti ketakutan pemiliknya.

Di saat itulah, seorang anggota Kelompok Serigala Darah yang berada paling dekat dengan kerumunan penduduk desa tiba-tiba membalikkan tubuh.

Wush!

Ia menerjang ke arah seorang wanita tua yang berdiri gemetar di belakang warga.

"Ah!"

Wanita tua itu bahkan tidak sempat bereaksi. Pria itu langsung menarik tubuhnya dengan kasar.

Sret!

Pedangnya menempel di leher sang wanita.

"Jangan bergerak!" teriaknya panik.

Melihat tindakan tersebut, mata para anggota Kelompok Serigala Darah lainnya langsung berbinar.

"Benar!"

"Cepat!"

Dalam sekejap, lima orang lainnya ikut bergerak.

Wush!

Wush!

Wush!

Jeritan warga langsung terdengar.

"Aaaah!"

"Tolong!"

"Jangan!"

Mereka menyeret penduduk desa yang berada paling dekat. Seorang pria paruh baya, seorang wanita muda, seorang pemuda, seorang bocah, dan seorang kakek tua. Total enam orang telah disandera.

Pedang-pedang dingin menempel di leher mereka. Tangisan mulai terdengar di antara kerumunan.

"Ibu!"

"Kakek!"

"Lepaskan mereka!"

Beberapa warga hampir berlari menolong. Namun melihat pedang yang menempel di leher para sandera, mereka langsung menghentikan langkah.

Sementara anggota Kelompok Serigala Darah yang lain segera membentuk barisan di depan keenam penyandera tersebut. Puluhan pedang kembali diarahkan kepada Gao Rui.

Kini mereka memiliki sandera. Keberanian mereka sedikit demi sedikit mulai kembali.

Pria yang menyandera wanita tua tadi berteriak sekuat tenaga.

"Berhenti!"

"Kalau kau melangkah lagi..."

Ia menekan pedangnya sedikit hingga setetes darah mengalir dari leher wanita tua itu.

"...aku akan membunuhnya!"

Wajah wanita tua tersebut langsung memucat. Tubuhnya gemetar hebat.

Di sisi lain, lima penyandera lainnya ikut melakukan hal yang sama.

"Kami serius!"

"Jangan bergerak!"

"Satu langkah lagi..."

"...mereka semua mati!"

Suasana Desa Qinghe kembali berubah tegang. Para penduduk hanya mampu menatap dengan wajah penuh kecemasan.

Mereka tahu, para anggota Kelompok Serigala Darah sudah putus asa. Dalam keadaan seperti itu, mereka benar-benar bisa membunuh para sandera kapan saja.

Salah seorang anggota Kelompok Serigala Darah menggertakkan giginya.

"Kami tidak ingin bertarung lagi!"

"Biarkan kami pergi!"

"Kami akan membawa mereka sampai keluar dari desa!"

"Kalau tidak ada yang mengejar... kami akan melepaskan mereka!"

Puluhan anggota Kelompok Serigala Darah mengangguk cepat. Kini, satu-satunya harapan mereka untuk tetap hidup adalah menjadikan keenam penduduk Desa Qinghe itu sebagai sandera agar dapat meloloskan diri dari tempat tersebut.

Gao Rui benar-benar menghentikan langkahnya. Tatapannya perlahan menyapu keenam sandera yang kini berada di lokasi berbeda.

"..."

Masing-masing dijadikan tameng hidup oleh seorang anggota Kelompok Serigala Darah. Jarak di antara mereka pun tidak berdekatan. Mereka sengaja berpencar agar tidak mudah diselamatkan sekaligus.

Mata Gao Rui sedikit menyipit.

"Enam orang..."

Ia mulai menimbang situasi di dalam benaknya. Seandainya hanya ada satu sandera, ia masih memiliki beberapa cara untuk menyelamatkannya. Dengan kecepatan yang dimilikinya, ditambah teknik langkah dan pedangnya, ia yakin dapat membunuh penyandera sebelum pria itu sempat menggerakkan tangannya.

Namun kini jumlahnya enam orang dan mereka berada di enam titik yang berbeda. Jika ia menyerang salah satunya, lima penyandera lainnya hampir pasti akan bereaksi pada saat yang sama. Kemungkinan besar, lima sandera lainnya akan langsung dibunuh.

Tatapan Gao Rui menjadi semakin dalam.

"..."

"Apakah aku benar-benar harus membiarkan mereka pergi?"

Pertanyaan itu terus bergema di dalam pikirannya.

Cara yang digunakan para perampok itu benar-benar keji. Mereka tidak lagi memiliki keberanian menghadapi lawan. Kini mereka justru menjadikan rakyat biasa sebagai tameng demi menyelamatkan diri.

Gao Rui menghela napas pelan.

"Haa..."

Bagaimanapun juga keselamatan penduduk desa tetap berada di atas segalanya. Selama keenam orang itu masih berada di bawah ancaman pedang, ia tidak memiliki banyak pilihan.

Setidaknya, jika ia membiarkan mereka pergi, masih ada kemungkinan seluruh warga desa dapat kembali dengan selamat.

Tatapan Gao Rui kembali tertuju kepada para anggota Kelompok Serigala Darah.

"Apa kalian benar-benar akan melepaskan mereka semua nanti?"

Suaranya tenang. Namun setiap kata terdengar jelas di tengah derasnya hujan.

Salah seorang penyandera segera mengangguk cepat.

"Tentu saja! Kami hanya ingin keluar dari desa ini!"

"Asal tidak ada yang mengejar kami... kami akan melepaskan mereka!"

Beberapa anggota Kelompok Serigala Darah lainnya ikut berteriak.

"Benar!"

"Kami tidak akan membunuh mereka!"

"Kami hanya ingin hidup!"

Gao Rui terdiam beberapa saat. Tatapannya bergantian melihat keenam sandera yang wajahnya dipenuhi ketakutan.

"..."

Perlahan, ia menurunkan sedikit ujung pedangnya. Niat untuk menerima syarat para perampok mulai muncul di dalam benaknya.

Namun...

Tap...

Terdengar suara langkah kaki menginjak genangan air.

Tap...

Tap...

Tap...

Langkah itu tenang. Tidak tergesa-gesa. Namun terdengar begitu jelas di tengah suasana yang sunyi.

Gao Rui sedikit memiringkan kepalanya. Para anggota Kelompok Serigala Darah juga tanpa sadar menoleh ke arah suara tersebut. Begitu pula seluruh penduduk Desa Qinghe.

Baru saat itulah mereka seakan teringat. Sejak tadi, Gao Rui tidak datang sendirian.

Tak jauh di belakangnya, seorang pria bertubuh tinggi besar berjalan perlahan sambil memegang payung hitam.

Air hujan jatuh di sepanjang sisi payungnya, sementara langkahnya tetap mantap menuju Gao Rui. Itu adalah Sha Nuo.

Sejak awal pertarungan, semua orang terlalu fokus kepada Gao Rui hingga sama sekali melupakan keberadaan pria berwajah dingin tersebut. Padahal, keduanya datang bersama.

Sha Nuo akhirnya berhenti beberapa langkah di belakang Gao Rui. Tatapannya perlahan beralih kepada keenam penyandera, lalu kepada para anggota Kelompok Serigala Darah yang wajahnya dipenuhi kepanikan.

Sesaat kemudian, ia menoleh ke arah Gao Rui. Dengan nada suara yang tetap tenang, ia bertanya,

"Rui'er... apa kau butuh bantuanku?"

...********...

Bonus:

1
🍁FAIZ❣️
paman nuo kereeeen
🍁FAIZ❣️
bantai semuanya jangan sisakan satu pun paman
Adek Darmansyah
masih sakit kah Thorr
Boqin Changing: masih....
total 1 replies
eka suci
pemimpin lembah iblis menyerang disaat yanluo ngga ada yg ngga sadar tangan kanan dewa Kematian ada disana
Sarip Hidayat
waah
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
paman Nuo terbawa emosi gara2 LAN Suya terluka🤣👍memang benar cinta membutakan semua nya🤣🤣👍
Slamet Subagio
lembah iblis darah, apakah berhubungan dgn keluarga Pei juga 🤔🤔🤔
Nanik S
Rui"er bawa bibimu.... betapa hangat hati LAN Suya👍👍👍💪💪💪
Nanik S
Boooooom..... cambuk Paman Nuo seperti ular yang tidak akan membiarkan mangsanya lolos
tariii
😍😍😍😍😍😍😍
mbono keling
💪💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍👍👍
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Paman Nuo gregetan 🔥🌽
budiman
satu mawar 🌹
Jeffie Firmansyah
paman Nuo marah besar kekasih titisannya hampir terbunuh🤭🤣🤣🤣
tenang Paman Nuo turun tangan, pasti semua beres dan aman... dan seterusnya
tinggal panen cincin ruang
Bubat Garage Reborn
☕️dulu othor..
Zainal Arifin
joooooooosssss 🤣🤣🤲🤲😍
Maria Sayem
Kasihan! Kekaisaran Zhou sedang diserang,! Sedang pelindung kekaisaran saat ini sedang bertarung juga d kekaisaran lain. Wah....makin seru ini? Thor ......sudah sehat kah?
Markinyo: kliatannya boqin bkn pelindung kaisar zou deh
total 1 replies
rangga f4f4n4nd4
sehat selalu thoorrr
Mamat Stone
💪
Mamat Stone
👊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!