Di mata teman-temannya yang sombong, Saka hanyalah "si beban" yang lamban, miskin, dan tak punya masa depan, sering kali menjadi bahan rongsokan ejekan dan perundungan. Namun, di balik senyum polos dan sikapnya yang kelihatannya bodoh itu, Saka menyembunyikan rahasia besar: dia adalah pewaris tunggal kemampuan mistis Raja Fengshui yang mampu melihat aliran Qi, pendar aura barang antik tak ternilai, hingga nasib malang-mujur seseorang hanya dalam sekali tatap. Sambil membiarkan musuh-musuhnya tertawa di atas ketidaktahuan mereka, Saka diam-diam meraup keberuntungan dari barang-barang pusaka yang dianggap remeh, menunggu momen paling tepat di sebuah pelelangan elit untuk membongkar kedoknya, menghancurkan harga diri mereka, dan memaksa dunia berlutut di hadapan sang Raja Fengshui yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1
Matahari bersinar terik menyengat kulit di Pasar Loak Jatinegara siang itu. Udara terasa pengap bercampur dengan bau debu dari barang-barang usang yang menumpuk di sepanjang jalan.
Lalu lalang pengunjung membuat suasana pasar sangat bising dan sesak. Suara klakson kendaraan dari jalan raya ikut menambah pusing kepala siapa saja yang mendengarnya.
Saka berjalan gontai di belakang dua temannya sambil membawa dua tas belanjaan besar yang sangat berat. Peluh bercucuran membasahi kaus lusuhnya yang warnanya sudah pudar dan kusam.
"Woi Saka, jalan yang bener dong lo, lambat banget kayak keong." Suara Rio terdengar nyaring dari depan.
Pemuda kaya dengan kemeja merek ternama itu menatap Saka dengan tatapan jijik. Di sebelahnya ada Kevin yang langsung ikut menertawakan Saka dengan keras.
"Maklum Bos Rio, dia kan belum makan dari kemarin mikirin utang ibunya." Kevin menyahut sambil menunjuk wajah Saka yang pucat.
"Iya tuh, dasar gembel nyusahin orang aja bisanya." Tambah Kevin dengan nada suara yang sangat merendahkan.
Saka hanya menunduk dan menguatkan pegangannya pada tali tas belanjaan itu. Hatinya perih mendengar ibunya yang sedang terbaring sakit di rumah sakit dibawa-bawa dalam hinaan mereka.
Sudah seminggu ibunya koma dan tagihan rumah sakit terus membengkak tanpa ampun. Jika hari ini Saka tidak menyetor uang, pihak rumah sakit mengancam akan menghentikan perawatan ibunya.
"Maaf Bos, tasnya lumayan berat jadi agak susah jalannya." Saka memaksakan sebuah senyuman bodoh di wajahnya.
Dia sengaja merendahkan dirinya agar Rio mau memberinya upah lima ratus ribu seperti yang dijanjikan. Harga dirinya sudah mati sejak lama tergilas oleh kejamnya kemiskinan yang mencekik keluarganya.
"Alah alasan aja lo miskin, udah untung gue ajak jalan-jalan ke sini." Rio mendengus kesal sambil mengibas-ngibaskan tangannya karena kepanasan.
"Harusnya lo sujud syukur gue kasih kerjaan bawa tas begini, lumayan kan buat nambah beli obat ibu lo yang penyakitan itu." Kata Rio lagi tanpa perasaan sedikitpun.
Tangan Saka terkepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih menahan amarah. Dia ingin sekali memukul wajah sombong Rio saat itu juga sampai hancur.
"Sabar Saka, sabar, lo butuh uang lima ratus ribu dari dia hari ini." Saka membatin dalam hati mencoba menenangkan gejolak di dadanya.
"Iya Bos Rio, terima kasih banyak sudah berbaik hati sama saya hari ini." Saka membalas dengan nada yang sengaja dibuat sangat merendah.
Mereka bertiga kemudian berhenti di depan sebuah lapak pedagang barang antik yang digelar di atas karpet usang. Lapak itu penuh dengan berbagai macam pernak-pernik kuno yang terlihat kotor.
Rio tampak tertarik dengan sebuah keramik guci kecil berwarna biru yang dipajang di tengah karpet. Dia mengambil guci itu dan memutarnya dengan gaya sok tahu.
"Pak, guci ini berapa harganya." Tanya Rio sambil menunjuk barang tersebut dengan dagunya dengan sombong.
"Wah kebetulan sekali Tuan muda, itu barang peninggalan Dinasti Ming yang sangat langka." Pedagang tua itu mulai mempromosikan barangnya dengan semangat.
"Saya dapat barang ini langsung dari kolektor rahasia di luar kota." Lanjut pedagang itu merangkai kebohongan yang sangat rapi.
"Harganya cuma sepuluh juta saja khusus untuk Tuan muda yang tampan ini." Ucap pedagang itu dengan senyum lebar yang penuh kelicikan.
Kevin langsung bertepuk tangan memuji bosnya. "Gila Bos, sepuluh juta mah kecil banget buat lo, beli aja Bos buat nambah koleksi di rumah."
"Iya Bos, guci ini kelihatan mewah banget cocok ditaruh di ruang tamu rumah lo." Tambah Kevin yang terus menerus menjilat tanpa henti.
Saka menatap guci biru itu dengan pandangan kosong tanpa minat. Namun tiba-tiba pandangannya berubah menjadi sangat kabur sejenak seperti orang pusing.
Kepalanya berdenyut nyeri selama beberapa detik sebelum akhirnya menghilang. Suara mekanik yang sangat dingin tiba-tiba menggema di dalam kepalanya.
[Sistem Mata Dewa Fengshui berhasil diaktifkan kembali setelah masa pemulihan.]
[Sistem telah mengikat jiwa master secara permanen.]
[Mendeteksi objek di sekitar radius pandangan master.]
[Guci Keramik Biru: Barang tiruan modern buatan pabrik lokal di pinggiran kota.]
[Bahan: Tanah liat campuran semen kualitas rendah. Nilai sebenarnya: Lima puluh ribu rupiah.]
Saka terkejut setengah mati mendengar rentetan suara aneh itu. "Suara apa ini, sistem, apakah aku mulai berhalusinasi karena kelaparan." Batin Saka dengan jantung berdebar kencang.
Dia mengucek matanya dengan cepat lalu menatap guci itu lagi. Kini di atas guci itu muncul sebuah layar transparan kecil berisi tulisan yang sama persis dengan suara tadi.
Saka menelan ludah melihat keajaiban yang ada di depan matanya saat ini. Rio langsung mengeluarkan dompet tebalnya dan menghitung uang tunai lembaran seratus ribuan.
"Gue ambil gucinya, sepuluh juta kan, nih uangnya pas." Ucap Rio sambil melempar segepok uang ke atas karpet pedagang itu.
"Luar biasa Bos Rio, insting lo soal barang antik memang tidak ada duanya di kota ini." Puji Kevin yang kembali menjilat bosnya itu.