Berciuman tidak diperbolehkan di dunia ini, apalagi berhubungan seks. Bayi dibuat oleh mesin dan cinta melanggar hukum. Tetapi sepasang kekasih saling jatuh cinta dan sang wanita hamil. Akankah mereka berhasil melarikan diri sebelum terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Sektor Militer
"Jadi... kamu diasingkan?"
Rey meletakkan cangkir kopi sintetisnya dengan bunyi denting yang agak keras di atas meja kerja. Matanya yang mengantuk mendadak melebar, menatap Carson seolah-olah rekannya itu baru saja divonis hukuman mati.
Di kubikel sebelah, Roxa dan Mala, rekan satu tim Carson, langsung memutar kursi mereka. Bahkan Dr. Vega yang baru saja masuk dengan tumpukan dokumen di dekapannya sampai menghentikan langkah.
"Bukan diasingkan, Rey. Ini surat tugas resmi langsung dari Direktur Utama," Carson menghela napas, mengangkat selembar kartu akses fisik berwarna perak dengan logo militer di tengahnya. "Mulai hari ini sampai waktu yang belum ditentukan, aku dipindahtugaskan ke Sektor Militer. Jadi, semua tugas yang harus aku kerjakan di divisi kita sementara aku serahkan ke kalian dulu."
"Aduh, Carson, jujur saja padaku," Rey malah memajukan badannya, berbisik dengan nada sok rahasia yang justru terdengar ke penjuru ruangan. "Kamu kemarin habis berbuat apa, sampai-sampai Direktur mendepakmu ke Sektor Militer? Mengaku saja."
Carson memutar bolanya malas. "Kalau aku berbuat sesuatu ke Direktur, aku tidak akan dikirim ke Sektor Militer, Rey. Aku sudah jadi pupuk organik sekarang."
Tawa Roxa dan Mala langsung pecah.
"Tapi serius, Carson," Mala menimpali, wajahnya tampak ngeri. "Sektor Militer itu isinya orang-orang kaku yang bicara saja harus pakai bentakan. Kamu yakin tidak mau pura-pura pingsan saja sekarang agar surat tugasnya dibatalkan?"
"Ide bagus, tapi kamu tahu sendiri kan fungsi gelang ini?" ucap Carson sambil menunjuk gelang perak yang tidak pernah lepas dari pergelangan tangannya. "Sudah pasti aku tidak bisa berbohong selama gelang ini masih melekat di tanganku."
Mala terdiam. Menyetujui perkataan Carson barusan. Walaupun pada kenyataannya, Carson telah memanipulasi gelang perak milik Nezha. Membuktikan bahwa ada celah pada sistem detektor yang terlewat oleh pemerintah.
Dr. Vega berjalan mendekat, meletakkan tumpukan dokumen di mejanya sendiri lalu menatap Carson dengan senyum tipis yang sulit diartikan. "Sudah kubilang kemarin, kan? Berurusan dengan Direktur Utama itu selalu sepaket dengan kejutan. Tapi setidaknya, ini pengalaman bagus untuk rekam jejakmu, Carson. Tidak semua warga sipil punya akses ke Sektor Militer."
"Ya, kuharap kepalaku masih utuh untuk menikmati rekam jejak itu nanti, Dok," gurau Carson sambil menyampirkan ranselnya di bahu. Ia menatap rekan-rekan timnya bergantian. "Aku berangkat dulu. Jangan rindu padaku kalau tiba-tiba sistem bobrok ini error. Meskipun aku tidak ada, aku yakin kalian pasti bisa menangani masalah sepele seperti itu, ya kan?"
"Sialan kamu, Carson! Sana pergi!" usir Rey sambil tertawa, melambaikan tangannya tinggi-tinggi diikuti oleh Roxa dan Mala.
...***...
Perjalanan dari Laboratorium Pusat menuju Sektor Militer memakan waktu sekitar tiga puluh menit menggunakan kereta rel magnetik khusus pekerja otoritas. Semakin mendekati perbatasan sektor, pemandangan gedung-gedung kaca yang megah perlahan digantikan oleh dinding-dinding beton tebal berlapis baja, lengkap dengan menara pengawas yang dilengkapi senapan mesin otomatis di setiap dua ratus meter.
Begitu Carson turun di stasiun pemberhentian terakhir, atmosfer udara langsung terasa berbeda. Bau mesiu samar, pelumas mesin, dan hawa dingin yang aneh langsung mencekiknya.
Dihadapannya, sebuah pintu baja raksasa yang tingginya mencapai lima belas meter langsung menyambut Carson. Di depan gerbang perimeter utama Sektor Militer ini, Carson dihadang oleh empat orang tentara bertubuh tegap dengan seragam tempur lengkap dan senapan serbu laras panjang yang tergantung di dada mereka.
"Berhenti. Tunjukkan identitas dan surat perintah," tegur salah satu tentara yang wajahnya sekaku dinding beton di belakangnya.
Carson langsung menyodorkan kartu akses perak dari Direktur Utama.
Tentara itu mengambil kartu tersebut, menempelkannya ke perangkat pemindai. Tak lama, layar mulai menampilkan data Carson, namun pemeriksaan tidak berhenti di situ.
"Letakkan kedua tangan di atas panel medis itu. Jangan bergerak," perintah tentara lainnya.
Carson mengembuskan napas pendek, lalu menempelkan kedua telapak tangannya pada panel logam dingin yang mendadak mengeluarkan sinar laser merah, memindai sidik jari, detak jantung, dan entah apa lagi. Carson tak begitu paham apa fungsi maupun tujuannya.
"Buka mata Anda lebar-lebar, tatap lensa di atas." Kilat lampu pemindai retina membuat mata Carson sedikit perih.
"Lepaskan ransel Anda. Letakkan di dalam wadah pemindai molekuler."
Prosedurnya luar biasa banyak dan berbelit-belit. Carson harus berdiri tegap di bawah terik matahari yang mulai naik, sementara barang-barangnya diperiksa seolah-olah dia adalah mata-mata musuh yang membawa bom waktu. Sepuluh menit berlalu, dan mereka masih sibuk mencocokkan nomor seri perangkat tablet yang dibawanya dengan daftar inventaris laboratorium.
Rasa lelah dan kesal mulai merayap di dada Carson. 'Sialan, kenapa juga aku harus menerima tugas melelahkan ini? Memangnya tidak ada orang lain apa?' batinnya menggerutu. Rasanya ia ingin sekali merebut kembali kartunya, berbalik arah, dan pulang ke apartemennya untuk tidur siang.
Namun, tepat saat kekesalannya berada di puncak, bayangan wajah Nezha mendadak melintas di kepalanya. Ia teringat bagaimana wanita itu memegang perutnya yang mulai membuncit, bagaimana matanya berbinar penuh harap saat menceritakan aroma segar dari buah-buahan yang tidak bisa ia cicipi.
Carson mengepalkan tangannya yang tersembunyi di dalam saku. Rasa lelahnya seketika menguap, digantikan oleh ketekatan hati yang kokoh. 'Tidak. Ini demi Nezha. Demi bayi kami. Persetan dengan prosedur sialan ini, aku harus masuk ke dalam.'
"Heisler! Berapa lama lagi kalian mau menahan orangku di depan gerbang, hah?!"
Sebuah teriakan melengking yang sangat tidak berwibawa mendadak memecah ketegangan di pos pemeriksaan. Carson dan para tentara serentak menoleh ke arah dalam gerbang yang baru saja terbuka sedikit.
Seorang laki-laki berlari kecil ke arah mereka. Penampilannya benar-benar kontras dengan lingkungan militer yang rapi dan kaku. Rambutnya hitam keriting acak-acakan seperti habis tersengat aliran listrik, jubah laboratorium putih yang dipakainya tampak kusam, penuh noda oli dan zat kimia di bagian lengannya, dan kancingnya bahkan terpasang selang-seling.
"Dokter Avnan," ujar tentara yang memegang kartu Carson, nadanya mendadak berubah agak malas, seolah sudah terbiasa dengan keanehan pria itu. "Kami hanya menjalankan prosedur validasi standar untuk warga sipil."
"Validasi dengkulmu! Dia ini Carson, teknisi jenius yang dikirim langsung oleh orang di atas untuk membantu proyek bioteknologi militer!" Pria keriting itu langsung menyambar kartu akses Carson dari tangan tentara tanpa permisi, lalu menarik ransel Carson dari wadah pemindai dengan kasar.
Ia menatap Carson dari atas ke bawah dengan mata belo yang bergerak cepat, lalu tersenyum lebar hingga memamerkan deretan giginya yang agak tidak rapi. "Kamu Carson, kan? Sesuai di foto. Wajahmu terlihat tampan juga ternyata, tidak seperti tentara-tentara kaku di sini."
"Ah... iya, saya Carson—"
"Bagus! Identitas terkonfirmasi, kan? Selesai!" potong pria itu cepat, berbalik menghadap para tentara sambil mengibas-ngibaskan tangannya mengusir.
"Ayo, Carson! Kita tidak punya waktu untuk berjemur di sini!" Tanpa menunggu jawaban, pria itu langsung mencengkeram lengan jaket Carson dan menyeretnya melangkah masuk melewati gerbang dengan langkah lebar dan terburu-buru.
Carson yang ditarik begitu saja hanya bisa pasrah, menyamakan langkah kakinya yang hampir tersandung beberapa kali karena kecepatan jalan pria asing ini. Carson melirik tangannya yang dicengkeram, lalu menatap profil samping wajah pria berambut keriting yang terus mengoceh tanpa henti.
Carson bahkan belum sempat menanyakan siapa nama lengkap pria ini, atau ke mana sebenarnya dia akan dibawa pergi di dalam kompleks militer yang luas dan menyerupai labirin raksasa ini. Eh, sepertinya tadi dia mendengar salah satu tentara di sana sempat menyebut nama pria itu, hanya saja Carson tidak begitu mempedulikan. Namun satu hal yang pasti, Carson tahu penjelajahannya di tempat rahasia ini baru saja dimulai.