Setelah lelah menjalani hidup yang penuh kegagalan, Arga memutuskan berhenti dari pekerjaannya. Namun, ironisnya ia tewas.
Saat membuka mata, ia kembali ke masa SMA, titik awal kehidupan buruknya. Bedanya, kini ia memperoleh Sistem Keuntungan Usaha yang membuat setiap bisnis yang berhasil memberinya hadiah melimpah.
Di kehidupan kedua ini, Arga bertekad mengubah nasib dan membangun kerajaan bisnisnya sejak masih berseragam sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Kantin
Dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana, Arga berjalan santai menuju kantin.
"Ternyata ramai juga. Dulu aku jarang banget ke sini," gumamnya sambil melihat sekeliling.
Begitu melihat gerobak penjual bakso, ia langsung mendekat. Di sana sudah ada beberapa murid yang sedang mengantre.
"Bang, beli satu mangkuk. Pedas, ya," pesan Arga.
"Siap, Dek. Tunggu sebentar, ya," sahut abang penjual bakso ramah.
Sembari menunggu, Arga mencari tempat untuk duduk. Hampir semua meja penuh oleh murid-murid yang tidak ia kenali atau tidak akrab dengannya. Dulu ia memang menutup diri dan tidak punya teman sama sekali.
Bukan karena antisosial, Arga hanya terlalu fokus pada satu tujuan: belajar dan bekerja demi mendapatkan pengakuan dari ayah dan kakak-kakaknya.
"Nah, di sana sepi," gumam Arga saat melihat satu meja di pojok kantin.
Di meja itu hanya ada seorang murid laki-laki bertubuh kurus, berkacamata, dengan rambut yang agak berantakan.
Anak itu sedang makan sendirian. Arga agak heran, "kenapa cuma anak ini yang tidak punya teman mengobrol sementara yang lain duduk berkelompok?"
Tidak lama kemudian, pesanan Arga datang. "Ini, Dek. Hati-hati, masih panas."
"Makasih, Bang."
Dengan senyuman tipis, Arga mulai menyantap baksonya. Rasanya ternyata sangat enak, jauh lebih nikmat dari yang ia ingat.
"Memang benar, makan tanpa beban pikiran itu menambah kenikmatan berkali-kali lipat," batin Arga puas.
Murid di sebelahnya sempat menoleh sekilas dengan tatapan heran. 'Kenapa dia mau duduk di dekatku? Apa dia tidak takut kena masalah?' tanyanya dalam hati.
Arga melahap baksonya sampai habis tak tersisa. Ia bersendawa pelan sambil mengelus perutnya yang kenyang. "Seharusnya saat masih hidup di masa SMA dulu, aku menikmati hidup santai kayak begini."
Saat Arga sedang asyik melamun, tiba-tiba beberapa murid datang menghampiri meja mereka.
"Lihat siapa yang kita temukan di sini, Guys? Si culun ternyata lagi makan enak," ucap sebuah suara sinis diikuti tawa remeh dari teman-temannya. "Parah banget, Dim. Padahal dari tadi kita nyariin lho, ternyata kamu malah asyik mojok di sini."
Suasana kantin mendadak canggung. Murid-murid lain yang melihat kedatangan gerombolan itu langsung memalingkan wajah, tidak ingin ikut campur.
Arga membuka matanya dan menatap empat orang yang berdiri di depannya. Ia ingat betul wajah-wajah itu.
Pemimpinnya adalah Hendra, anak orang kaya yang juga merupakan teman dari kakak tirinya.
Orang tua Hendra adalah salah satu donatur terbesar di sekolah ini, tepat di bawah posisi keluarga Arga.
'Mau ngapain lagi curut-curut ini?' pikir Arga malas.
Hendra melangkah mendekat, lalu menepuk kasar pundak murid berkacamata tadi. "Dimas, ternyata kamu di sini. Makanannya enak, ya?"
Dimas langsung menunduk dalam-dalam. Bahunya gemetar ketakutan.
"Jawab dong! Enak atau enggak?!" bentak Hendra mulai main fisik dengan mendorong kepala Dimas.
Dengan suara parau dan bergetar, Dimas menjawab pelan, "E-enak..."
Hendra terkekeh puas. Ia meraih mangkuk bakso Dimas yang kuahnya masih tersisa setengah.
Tepat saat Hendra hendak menuangkan sisa kuah panas itu ke atas kepala Dimas, sebuah tangan mencengkeram pergelangan tangannya dengan kuat.
Arga menahan tangan Hendra.
Murid-murid di kantin yang mencuri pandang langsung syok. Ada yang berani melawan Hendra? Anak donatur yang terkenal berkuasa di sekolah ini?
Hendra melotot, pandangannya beralih tajam kepada Arga. "Kamu?! Adiknya Devan...!" Hendra mendengus kesal. "Lepasin tanganmu gak?! Mau aku laporkan ke kakakmu, hah?!"
Teman-teman Hendra di belakang mulai ikut memprovokasi. "Jangan sok jadi pahlawan deh, Arga. Mending kamu balik belajar sana!"
Arga tidak melepaskan cengkeramannya, wajahnya tetap datar. 'Aneh juga, kenapa di akhirat masih ada perundungan kayak gini?' pikirnya heran.
Melihat Arga yang hanya diam dengan tatapan kosong, Hendra dan teman-temannya bingung. "Orang ini sudah gila, ya?"
Saat suasana makin menegang, suara langkah kaki cepat tiba-tiba mendekat dari arah belakang. Tanpa peringatan, sebuah pukulan mentah mendarat keras di pipi Arga.
Bugh!
Rasa sakitnya teramat nyata dan berdenyut hebat. Arga langsung tersungkur ke lantai, menabrak Dimas dan meja di depannya hingga bergeser. Ia meringis kesakitan sambil memegangi pipinya yang memerah.
"Sial! Kok bisa sakit banget?!" umpat Arga.
Saat ia menoleh untuk melihat siapa pelakunya, mata Arga membelalak.
Orang yang baru saja memukulnya adalah Devan Mahendra—kakak keduanya.
Wajah tampan Devan tampak merah padam menahan amarah yang meluap-luap.
"Beraninya kamu bikin masalah di sini, sialan!" bentak Devan.
Hendra yang melihat kedatangan Devan langsung tertawa puas. "Nah, kan. Sudah aku bilang, nanti kakakmu sendiri yang bakal marah."
Devan menatap tajam ke arah Arga yang masih di lantai. "Sini, ikut aku!" Devan maju dan langsung menarik paksa tangan Arga agar berdiri.