Ye Ning, putri sah Menteri Sayap Kiri, hanya ingin membangun kerajaan bisnis, mengumpulkan kekayaan, dan membawa kemakmuran bagi keluarganya. Namun semua menjadi berantakan ketika Tuan Muda Bai datang dan mengacaukan rencananya. Di saat yang sama, Putra Mahkota Li Yan, pria yang dahulu menolak perjodohan dengannya, tiba-tiba berkata bahwa ia akan menceraikan istrinya.
Di antara ambisi, cinta, dan pengkhianatan, Ye Ning harus memilih: tetap menjadi wanita pebisnis yang bebas atau terjerat dalam permainan politik yang mengancam keselamatan keluarganya.
Mampukah Ye Ning melindungi orang-orang yang dicintainya ketika dua pria paling berpengaruh di kekaisaran mulai menginginkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga_Persik98, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 NASIB YANG BERBALIK
**Masa Kini**
Ye Ning memaki Zhilan dalam hati. Ia terus meronta, berusaha melepaskan diri dari ciuman paksa Zhilan yang mendominasi. Dasar pria gila! batin Ye Ning kesal. Bagaimana bisa pria ini dengan tak tahu malunya menyusup ke dalam kereta dan menciumnya. Namun, sekeras apa pun Ye Ning mendorongnya, tubuh Zhilan sama sekali tidak bergeser. Ciuman Zhilan semakin dalam dan menuntut, membuat mata Ye Ning melotot karena kesal. Barulah setelah dua menit yang terasa panjang, Zhilan dengan sukarela melepaskannya.
Plakk!!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Zhilan, sudut bibirnya tampak mulai berdarah. Air mata Ye Ning turun begitu saja tanpa bisa dibendung lagi. Melihat itu, Zhilan diam namun jarinya bergerak perlahan, menghapus air mata yang membasahi pipi wanita di hadapannya.
"Kau... sama sekali tidak ingin mengatakan apa pun padaku?" tanya Ye Ning dengan suara bergetar. Zhilan membuka mulutnya, seolah ada kata yang ingin ia ucapkan. Namun akhirnya ia kembali diam.
Ye Ning tersenyum masam. Ia tahu persis bagaimana pria ini. Jika Zhilan sudah memilih untuk tutup mulut, maka tidak akan ada yang bisa memaksanya agar berbicara. Dengan perasaan yang sangat kecewa, Ye Ning memalingkan muka. Rasa bersalah seketika menghimpit dadanya. Dalam hati, ia memohon ampun kepada para leluhur karena gagal melindungi keluarganya. Namun, ia bersumpah tidak akan menyerah begitu saja. Jika takdir terburuk harus menjemputnya, ia akan bersujud sampai mati di depan makam leluhurnya nanti.
Kereta kuda yang membawa mereka terus melaju menuju kediaman. Namun, ketegangan itu mendadak pecah saat kereta berhenti secara tiba-tiba.
"Tuan, ada kabar darurat," suara Shao Zu terdengar dari luar, memecah keheningan.
"Penjaga bayangan di Penjara Perlindungan Utara melaporkan bahwa Menteri Sayap Kiri dan putranya telah dibawa ke Pengadilan Kekaisaran. Mereka akan segera dieksekusi!"
Mendengar berita itu, jantung Ye Ning seolah berhenti berdetak. Kepanikan menguasai dirinya. Ia langsung bangkit berdiri dan hendak keluar dari kereta secepat mungkin. Namun sebuah tangan menahannya, Zhilan menggelengkan kepala, memberi isyarat agar Ye Ning tetap tenang. Sebelum Ye Ning memprotes, Zhilan menuntunnya keluar dari kereta. Pria itu lalu membawa Ye Ning naik ke atas punggung kuda hitamnya, memacu hewan itu sekencang angin menuju Kota Terlarang
Kuda yang mereka tunggangi berderap kencang menuju Gerbang Selatan. Tepat sebelum mencapai gerbang, Zhilan melemparkan sebuah token persegi berwarna hitam legam. Benda misterius yang bahkan tidak dikenali oleh Ye Ning. Ketika penjaga melihat token tersebut, para penjaga langsung membungkuk hormat dan membuka gerbang lebar-lebar. Membiarkan Zhilan menerobos masuk tanpa turun dari kudanya. Meski tahu tindakan ini dalam adalah pelanggaran berat terhadap hukum kekaisaran, Zhilan tidak peduli. Ia siap menanggung segala konsekuensinya.
Tujuan mereka sekarang adalah Pengadilan Dalam Istana. Tuduhan yang dijatuhkan kepada Ayah Ye Ning cukup fatal, yaitu korupsi ransum militer. Sang ayah dituduh menyelundupkan pasokan logistik dengan mengoplos bahan pangan berkualitas tinggi dengan bahan bermutu rendah, lalu memangkas volume ransum hingga jumlah yang tiba di perbatasan jauh lebih sedikit daripada yang dicatat dan diberikan oleh Kementerian Pendapatan.
Begitu sampai di lokasi eksekusi, jantung Ye Ning berdegub kencang. Di depan sana, ia melihat ayah dan kakaknya duduk berlutut dengan wajah kuyuh dan pakaian yang sudah bernoda darah kering.
Ye Ning berteriak histeris. Dalam kepanikan yang luar biasa, ia hendak melompat begitu saja dari atas punggung kuda. Beruntung, Zhilan menahan pinggangnya, membantu gadis itu turun agar mendarat dengan sempurna tanpa cidera.
Ye Ning langsung berlari menghampiri ayah dan kakaknya. Setelah itu, ia membalikkan badan dan menatap tajam ke arah hakim yang duduk angkuh di kursi kebesarannya.
"Kenapa ayah dan kakakku ada di sini?!" teriak Ye Ning penuh kemarahan. "Bukankah persidangannya baru diadakan besok? Kenapa mereka akan dieksekusi sekarang?! Di mana Kaisar?!"
Mendengar itu, sang hakim melotot geram. Ia membentak, "Lancang! Beraninya kau meneriakkan nama Yang Mulia seperti itu! Prajurit, tangkap dia!"
Beberapa prajurit istana melangkah maju untuk menangkap Ye Ning. Tetapi sebelum mereka sempat menyentuhnya, Zhilan sudah di depan Ye Ning dengan belati di tangannya.
"Kalau sampai ada dari kalian yang berani melukainya, aku tidak akan segan untuk membunuh," ancam Zhilan.
Sang hakim justru tertawa meremehkan. "Haha! Sungguh angkuh. Tuan Muda Bai, kau bukan siapa-siapa di tempat ini. Meskipun kau adalah putra dari seorang adipati, kau bukan seorang raja (Wang) yang punya kuasa!"
Zhilan tidak terkecoh, Ia tidak memedulikan ucapan hakim dan tetap dalam posisi untuk melindungi Ye Ning di belakang punggungnya. Tepat saat suasana di area eksekusi semakin memanas, seorang prajurit datang dengan napas terengah-engah dan berseru
"Putra... Putra Mahkota datang kemari!"
Seketika, semua orang yang berada di sana tertegun dan saling pandang dengan wajah syok. Putra Mahkota? Bukankah selama ini beliau dikabarkan sedang koma akibat diracun? Benarkah sosok yang datang itu adalah sang Putra Mahkota?
Tak lama kemudian, terdengar derap langkah kaki yang bergemuruh. Rombongan besar masuk dengan langkah cepat, ditengahnya seorang pria dengan aura pangeran berjalan masuk dengan langkah yang tegas dan berwibawa.
Ia melangkah lebar menuju ke arah Ye Ning. Bersamaan dengan itu, pengawal pribadinya dan melemparkan segulung surat berisi bukti bahwa keluarga Xiao tidak bersalah, tepat mengenai wajah sang hakim. Meskipun kesakitan, hakim tersebut tetap mengambil surat itu dan membacanya dengan seksama. Setelah membaca isinya, raut wajahnya langsung berubah ketakutan.
"Lepaskan mereka!" perintah Putra Mahkota Li Yan dengan suara yang menggelegar.
Hanya berselang beberapa detik setelah perintah itu dijatuhkan, Kepala Kasim Kekaisaran, Kasim Gu, tiba di lokasi dengan membawa gulungan kain kuning cerah.
--sebuah dekrit resmi dari Kaisar--
Melihat kedatangan dekrit suci tersebut, semua orang yang berada di sana langsung berlutut dengan penuh hormat untuk mendengarkan titah tertinggi.
Kasim Gu membuka gulungan tersebut lalu mengumandangkan isinya dengan suara lantang:
"Atas mandat surga, Kaisar Yuanzong mengeluarkan dekrit. Kami selama ini memimpin kerajaan dengan hati-hati, namun baru-baru ini telah terpedaya oleh fitnah keji dari pejabat yang licik nan culas. Akibatnya, telah terjadi kesalahpahaman dan ketidakadilan yang menimpa Menteri Xiao dan keluarganya. Mengetahui bahwa kesetiaan mereka yang murni telah dinodai oleh tuduhan palsu, hati Kami dipenuhi oleh penyesalan yang mendalam. Mulai hari ini, seluruh tuduhan pengkhianatan dinyatakan gugur dan tidak sah. Menteri Kiri Xiao dan seluruh klannya resmi dibersihkan dari segala tuduhan. Gelar kebangsawanan yang sempat dicabut kini dikembalikan sepenuhnya, dan posisi mereka di istana dipulihkan seperti sedia kala."
Kemudian Kasim Gu melanjutkan dekrit. Begitu dekrit selesai dibacakan, Xiao Wentian langsung terduduk. Air matanya turun seketika, rasa lega yang teramat sangat karena nama baik keluarganya berhasil diselamatkan.
Sementara itu, Ye Ning terpaku di tempatnya, Hatinya berkecamuk penuh ketidakpercayaan. Nasib ini, bisa berbalik secepat ini ?
Saat ia masih tenggelam dalam pikirannya, Ye Ning mendongak dan mendapati Putra Mahkota Li Yan tengah menatapnya dan memberikan senyuman padanya. Ye Ning membalas senyuman itu dengan sangat kaku. Pikirannya mendadak melayang ke masa lalu. Li Yan? Tersenyum padaku? Bukankah dulu kau yang menolakku mentah-mentah?