Diusir dari desa karena fitnah kemiskinan, Bumi terdampar di kerasnya ibu kota sebagai kuli panggul pasar yang kerap. Satu-satunya alasan ia bertahan hidup adalah Alya, gadis sederhana yang tulus merawat luka-lukanya.
Nasib Bumi berubah total setelah ia di beri ramuan ajaib oleh kakek misterius yang membuat perubahan pada tubuh dan otaknya. Terbangun dengan kecerdasan mutlak sekelas superkomputer, Bumi bertransformasi menjadi The Ghost Trader—raja saham baru yang ditakuti di dunia bisnis. Ia bahkan berhasil menyelamatkan perusahaan milik Kirei, seorang CEO wanita dingin yang akhirnya jatuh hati pada harga diri Bumi.
Namun, berdiri di puncak takhta berarti mengundang badai. Adrian, konglomerat kejam sekaligus rival asmaranya, siap menghancurkan Bumi lewat sabotase berdarah. Di tengah perang bisnis yang mematikan, hati Bumi juga terkoyak dalam dilema pelik antara ketulusan Alya dari masa lalunya, atau pengorbanan Kirei yang mempertaruhkan nyawa demi masa depannya.
Mampukah mantan ku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Khasiat Ramuan Misterius
Langkah kaki Bumi begitu ringan saat memasuki area bongkar muat blok barat pasar induk. Pagi itu, hiruk-pikuk kloter pertama truk engkel sayuran sedang mencapai puncaknya. Dari kejauhan, Kang Bendot yang sedang memegang nota coret-coret langsung menegakkan badannya begitu melihat Bumi berjalan mendekat dengan tas karung goni di pundak.
"Bumi! Lu beneran gak apa-apa, Tong?" teriak Kang Bendot, langsung berlari kecil menghampiri Bumi dengan wajah yang dipenuhi rasa penasaran sekaligus lega. "Aduh, si Alya subuh-subuh tadi nyariin lu sampai ke rumah gua, panik beneran itu anak! Dia bilang lu ilang dari sore kemarin. Gua udah mikir yang macem-macem aja!"
Bumi tertawa kecil melihat ekspresi seniornya yang heboh. "Aman, Kang Bendot. Selow. Kemarin sore saya emang agak ambruk di dekat kios kelontong tua samping gudang bawah. Badan remuk banget rasanya, jadi ketiduran di sana sampai subuh tadi. Tapi untung subuh tadi Mbak Alya nemuin saya."
"Gila lu ya, tidur di emperan toko setelah digebukin preman sadis!" Kang Bendot geleng-geleng kepala, lalu menyipitkan matanya, menatap wajah Bumi dekat-dekat. "Tapi bentar... kok lu keliatan seger bener hari ini? Lebam-lebam lu emang masih ada keunguan, tapi jalan lu udah gak pincang, tegap bener kayak gak habis dihantam balok kayu. Lu pakai susuk apa gimana, Bum?"
"Hahaha, mana ada susuk, Kang. Gak tahu juga nih, pas bangun subuh tadi badan rasanya malah langsung seger banget, demamnya hilang total," jawab Bumi, sengaja merahasiakan soal kakek misterius dan ramuan herbal aneh semalam agar tidak memicu obrolan panjang yang aneh. "Udah, Kang, ceritanya singkat aja dulu. Kerjaan udah nunggu banyak tuh, mending kita langsung turun."
Kang Bendot menepuk jidatnya. "Oh iya, bener! Truk kubis dari Cianjur baru aja buka bak. Yok, langsung masuk barisan, Bum!"
Bumi langsung mengambil posisinya di belakang bak truk engkel. Ketika keranjang bambu besar berisi kubis seberat hampir enam puluh kilogram diturunkan ke pundaknya, Bumi sempat bersiap menahan rasa linu yang luar biasa seperti kemarin. Namun, keanehan langsung terjadi. Begitu beban berat itu mendarat, pundak dan lutut Bumi sama sekali tidak merasakan tekanan yang berarti.
"Loh? Kok keranjangnya kerasa enteng banget ya? Apa ini kubisnya kopong?" gumam Bumi heran dalam hati.
Ia melangkah dengan sangat cepat membelah keramaian pasar. Gerakannya menjadi berkali-kali lipat lebih cepat dan lincah dibandingkan kuli-kuli lainnya. Bumi bolak-balik dari bak truk ke lapak pedagang tanpa jeda sedikit pun. Hebatnya lagi, jantungnya tidak berdegup kencang dan napasnya tetap teratur rata, seolah ia hanya sedang berjalan santai tanpa beban. Tidak ada rasa lelah atau pegal sama sekali yang singgah di tubuhnya.
"Woy, Bumi! Pelan-pelan, Tong! Lu jalannya kayak kesurupan setan pasar, cepet bener!" seru salah seorang kuli senior yang kewalahan menyamai ritme kerja Bumi.
"Hahaha, buru-buru mau ngejar setoran, Kang!" sahut Bumi santai, sambil menaruh keranjang kelimanya dengan mudah.
Bumi sendiri merasa sangat heran dan bingung dengan perubahan drastis pada fisiknya. Tenaganya seolah tidak ada habisnya, mengalir terus dari dalam dadanya. Namun, karena jam kerja sedang padat dan tumpukan keranjang kubis masih mengantre ria, ia memilih untuk tidak berpikir panjang waktu itu. Ia memanfaatkan keajaiban ini untuk menyelesaikan seluruh borongan secepat mungkin agar bisa segera mengantongi upah penuh.
Begitu matahari mulai condong ke atas kepala menunjuk waktu tengah hari, seluruh muatan truk telah selesai dibongkar. Kepala blok barat memanggil Bumi dengan senyuman lebar, lalu menghitung beberapa lembar uang kertas baru ke telapak tangan Bumi.
"Luar biasa kerja lu siang ini, Bum. Ini upah penuh plus bonus kecepatan buat lu," kata kepala blok sambil menepuk lengan Bumi yang kekar.
"Alhamdulillah... terima kasih banyak ya, Pak," jawab Bumi tulus.
Bumi segera berpamitan kepada Kang Bendot yang sedang asyik meminum es kelapa. "Kang Bendot, saya pamit balik ke kosan duluan ya. Mau bersih-bersih badan dulu."
"Yo, Bum! Istirahat yang bener lu! Jangan sampai pingsan lagi kayak kemarin!" teriak Kang Bendot melambaikan tangannya.
Bumi berjalan pulang menyusuri gang sempit menuju kosannya. Sepanjang jalan, ia merasa tidak nyaman dengan kondisi fisiknya yang terasa sangat lengket dan kotor karena debu pasar dan sisa keringat dingin dari kemarin malam yang belum sempat dibasuh dengan benar. Begitu sampai di bangunan kosan dua lantai milik Mak Surti, Bumi beruntung karena antrean kamar mandi umum sedang kosong. Ia langsung mandi dengan tergesa-gesa, menyiram seluruh tubuhnya dengan air sumur yang dingin segar hingga badannya kembali bersih.
Setelah selesai mandi dan berganti kaos oblong bersih, Bumi masuk ke dalam kamar kos petaknya yang sempit. Ia mengunci pintu triplek dari dalam, lalu duduk berselonjor di atas kasur busa tipis pemberian Alya, berniat untuk menghitung sisa uangnya.
Namun, baru saja ia memegang dompet kainnya, Bumi mendadak merasakan sebuah sensasi keanehan yang sangat hebat menyerang kepalanya. Nyut!
Tiba-tiba saja, di dalam otaknya terasa sangat penuh, seolah-olah ada jutaan informasi yang dipaksakan masuk secara bersamaan. Kilatan angka-angka rumit, diagram geometris, dan tulisan-tulisan asing berbentuk aksara aneh bermunculan di benaknya. Pada detik-detik pertama, Bumi sama sekali tidak mengerti apa maksud dari semua visualisasi misterius tersebut.
Anehnya, perasaan kaku dan penuh itu sama sekali bukan rasa pusing atau sakit kepala yang menyiksa seperti saat ia demam tadi pagi. Kepalanya justru terasa sangat jernih, dingin, dan mendadak dipenuhi oleh berbagai macam strategi bisnis, perhitungan logistik yang presisi, hingga rumus-rumus matematika tingkat tinggi yang sebelumnya sama sekali tidak pernah ia kenal atau pelajari selama hidup di desa terpencil. Otaknya bekerja layaknya sebuah komputer canggih yang sedang memproses data dengan kecepatan tinggi.
Kejadian aneh di dalam kepala Bumi itu berlangsung sekitar lima belas menit lamanya. Bumi hanya bisa terduduk diam sambil memegangi pelipisnya, menahan napas sampai seluruh gempuran angka dan rumus itu perlahan-lahan memudar dan menghilang. Setelah lewat lima belas menit, pikiran Bumi akhirnya kembali berangsur normal. Seluruh visualisasi rumit itu lenyap, meninggalkan rasa dingin yang nyaman di kepalanya.
"Aduh... barusan itu apaan ya? Kok kepala gua mendadak pinter banget rasanya?" gumam Bumi bingung, menatap kedua tangannya sendiri.
Belum sempat Bumi mencerna keanehan di otaknya, sebuah perubahan baru kembali terjadi pada tubuhnya. Kali ini, panca indranya yang mendadak mengalami peningkatan sensitivitas yang sangat tajam dan luar biasa ekstrem.
Pertama adalah penglihatannya. Ketika Bumi menengok ke arah celah ventilasi udara yang kecil di atas pintu, pandangannya seolah bisa menembus keluar. Fokus matanya menajam secara otomatis. Ia bahkan bisa melihat dengan sangat jelas guratan serat daun di pohon mangga yang terletak sangat jauh di ujung gang pemukiman padat luar kosannya, sesuatu yang secara logika mustahil dilihat dari dalam kamar sempit itu.
Setelah itu, giliran indra pendengarannya yang menajam secara drastis. Telinga Bumi mendadak menangkap berbagai macam suara dari lingkungan sekitar dengan tingkat kejelasan yang luar biasa tinggi. Suara obrolan tetangga kosan di ujung lorong seberang terdengar sangat dekat, seolah-olah mereka sedang berbisik tepat di samping telinganya.
"Eh, lu tahu gak, harga cabai di pasar pagi ini lagi naik banget loh..."
"Iya, untung gua udah nyetok dari kemarin..."
Bukan hanya itu, Bumi bahkan bisa mendengar suara gesekan sapu lidi Mak Surti di halaman depan, desiran angin yang menerpa jemuran baju di lantai dua, hingga suara detak jarum jam dinding dari rumah warga di luar kompleks kos. Kepungan suara yang teramat bising dan masuk secara bersamaan itu sempat membuat Bumi merasa sedikit pusing dan tidak nyaman. Ia refleks menutup kedua telinganya dengan telapak tangan.
"Aduh, berisik banget! Kenapa suara orang-orang kedengaran jelas semua gini sih?" keluh Bumi sambil memejamkan matanya, mencoba menenangkan diri.
Untungnya, sama seperti kejadian di otaknya tadi, fase adaptasi indra yang tajam ini pun hanya berlangsung selama beberapa menit. Telinga dan matanya perlahan mulai bisa menyaring dan mengontrol volume informasi yang masuk, membuat pusing di kepalanya hilang sepenuhnya.
Saat Bumi mulai bisa mengendalikan pendengaran barunya yang super tajam itu, telinganya mendadak menangkap sebuah suara yang sangat spesifik dari arah lorong tangga bawah. Tap... tap... tap...
Itu adalah suara langkah kaki seseorang yang sedang berjalan santai menuju ke arah kamarnya. Ritme langkahnya sangat teratur dan ringan. Berkat ketajaman indranya sekarang, Bumi bahkan bisa mengenali gesekan alas sandal yang khas dengan lantai semen.
"Ini... ini kan suara langkah kakinya Mbak Alya?" tebak Bumi dalam hati, matanya langsung tertuju ke arah pintu triplek kamarnya.
Hanya berselang beberapa detik setelah Bumi membatin, suara langkah kaki itu benar-benar berhenti tepat di depan pintunya.
Tok! Tok! Tok!
"Mas Bumi? Ini saya, Alya. Kamu di dalam, kan?" seru suara dari luar, persis seperti tebakan pendengaran Bumi.
Bumi langsung tersenyum lebar, rasa heran dan takjub atas perubahan tubuhnya itu langsung ia simpan dalam-dalam untuk sementara waktu. Ia segera bangkit berdiri dengan tubuhnya yang kini terasa sangat segar dan penuh energi baru, lalu melangkah cepat untuk membukakan pintu bagi gadis baik yang selalu memperhatikannya itu.