Sinopsis Ringkas
Kayla selalu menjadi wanita sempurna—cantik, pintar, dan selalu juara sejak kecil. Namun setelah menikah muda dengan pria yang dicintainya, Adrian, hidupnya perlahan berubah. Demi menjadi istri yang baik, Kayla mengorbankan impian, penampilan, dan dirinya sendiri.
Sayangnya, semua pengorbanan itu justru membuat Adrian bosan.
Saat Adrian mulai berselingkuh dengan Bianca, Kayla tetap bertahan… sampai akhirnya ia lelah menjadi satu-satunya orang yang memperjuangkan pernikahan mereka.
Setelah dua tahun penuh luka, Kayla memilih bercerai.
Tak ada yang menyangka bahwa setelah pergi dari Adrian, Kayla kembali bersinar. Ia melanjutkan kuliah, meraih karier impian, dan berubah menjadi wanita yang begitu mempesona.
Di saat Adrian mulai menyesal dan mati-matian ingin mendapatkannya kembali, hadir Julian—CEO muda sekaligus kakak senior kampus yang diam-diam telah lama mencintai Kayla.
Namun hati Kayla sudah terlalu hancur untuk percaya pada cinta lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan yang Mulai Retak
Malam itu, Adrian pulang lebih cepat dari biasanya. Sangat cepat bahkan. Jarang sekali ia melakukan hal seperti ini belakangan ini.
Jam di dinding bahkan belum menunjukkan pukul delapan malam saat suara kunci diputar dan pintu apartemen terbuka.
Kayla yang sedang duduk bersandar di sofa sambil membuka halaman buku, langsung menoleh dengan tatapan sedikit terkejut. Ia mengira akan menunggu berjam-jam lagi seperti malam-malam sebelumnya.
“Kamu pulang cepat sekali hari ini,” sapanya pelan.
“Hm. Pekerjaan selesai lebih awal,” jawab Adrian singkat. Ia meletakkan tas kerjanya sembarangan di atas sofa, lalu tangan kanannya bergerak melonggarkan ikatan dasi yang mengerat di lehernya.
Tatapannya mengedar ke sekeliling ruang tamu, dan tanpa sadar, gerakannya berhenti saat melihat sosok istrinya. Baru beberapa detik kemudian ia sadar… ia sedang mencari keberadaan Kayla. Ia sedang memastikan ada atau tidaknya wanita itu.
Aneh. Biasanya, ia bahkan tidak terlalu memperhatikan apakah Kayla ada atau tidak saat pulang. Biasanya ia hanya masuk, lewat, dan langsung ke kamar.
“Kamu sudah makan malam?” tanya Kayla sambil segera berdiri dari duduknya, menutup bukunya.
“Belum.”
Jawaban pendek itu cukup membuat sudut bibir Kayla sedikit terangkat. Ada rasa lega yang menyelinap di dada. Setidaknya malam ini ia tidak akan makan sendirian lagi.
“Kalau gitu tunggu sebentar ya. Aku hangatin makanan dulu. Ada sayur dan lauk yang tadi siang aku simpan,” ucapnya cepat, lalu bergegas masuk ke dapur dengan langkah yang sedikit lebih ringan.
Sedangkan Adrian masih berdiri diam di ruang tamu, menatap punggung istrinya yang menghilang di balik sekat dapur.
Apartemen mereka masih sama persis. Perabotannya, tata letaknya, baunya, semuanya tidak berubah. Namun entah kenapa… akhir-akhir ini ia mulai merasa asing di rumah sendiri. Rumah yang seharusnya menjadi tempat ternyaman baginya.
Dan yang lebih aneh lagi… perasaan asing dan kacau itu justru muncul dan makin terasa sejak ia mendengar nama Julian dari mulut Kayla pagi tadi.
Mereka akhirnya duduk berhadapan di meja makan. Suasana terasa canggung, namun jauh lebih tenang dan tidak sedingin biasanya.
Setidaknya malam ini Adrian tidak sibuk memainkan ponselnya terus-menerus, tidak sibuk membalas pesan, dan tidak membuang muka. Ia makan dengan tenang, sesekali menatap ke arah istrinya yang duduk diam di seberang sana.
Dan hal kecil itu pun diam-diam disadari dan disyukuri oleh Kayla.
“Kamu ketemu senior kampusmu itu… di mana?” tanya Adrian tiba-tiba, memecah keheningan dengan suara yang sedikit berat.
Kayla sedikit terkejut sampai sendok di tangannya sempat berhenti bergerak. “Eh? Di mal. Di dekat pintu keluar lantai dasar,” jawabnya jujur.
“Ngobrol lama?”
“Nggak kok. Cuma sebentar saja. Sapa-sapan, tanya kabar, terus aku pulang.”
Adrian mengangguk kecil, matanya menatap makanan di piringnya sambil memainkan sendok pelan.
“Dia kerja apa sekarang?”
Kayla memperhatikan wajah suaminya beberapa detik dengan tatapan bingung. Entah kenapa pertanyaan-pertanyaan mendetail ini terasa sangat aneh keluar dari mulut Adrian. Suami yang biasanya tidak peduli dengan urusannya.
“Kayaknya… kerja di perusahaan milik keluarganya. Dulu memang anak orang mampu sih,” jawabnya pelan.
“Hm.”
Keheningan kembali menyelimuti mereka. Namun kali ini berbeda. Bukan keheningan yang dingin atau penuh amarah. Lebih seperti… Adrian sedang memikirkan sesuatu yang berat.
“Kenapa emangnya? Kok tanya-tanya terus?” tanya Kayla hati-hati, memberanikan diri bertanya balik.
Adrian langsung mengangkat kepala, menatap istrinya cepat. “Apanya?”
“Kok kamu tanya soal dia terus. Ada apa?”
“Ya cuma nanya biasa aja. Penasaran,” jawabnya berusaha terdengar santai. Namun nada suaranya terdengar sedikit kaku, dan rahangnya sedikit mengeras tanpa sadar.
Dan di detik itu, Kayla mulai sadar sepenuhnya.
Adrian terlihat tidak nyaman. Adrian terlihat terganggu.
Entah kenapa kesadaran kecil itu membuat hati Kayla terasa campur aduk. Antara sakit, bingung, dan sedikit lega. Karena setelah sekian lama diabaikan, setelah sekian lama dianggap tidak ada… akhirnya Adrian menunjukkan reaksi. Akhirnya Adrian merasa punya hak atas dirinya.
Walau alasannya mungkin karena rasa curiga atau cemburu.
Setelah makan malam selesai, Adrian duduk bersandar di sofa ruang tamu sambil membuka laptop kerjanya. Ia mengetik sesekali, namun matanya sering kali melirik ke arah dapur.
Kayla membereskan meja makan dan mencuci piring seperti biasa. Gerakannya luwes, rambutnya diikat asal dengan pita rambut, dan tubuhnya terbalut baju rajut berukuran besar yang sederhana.
Sederhana sekali. Namun terasa tenang. Terasa damai.
Dan tiba-tiba sebuah pertanyaan kecil namun tajam muncul di kepala Adrian: Kapan terakhir kali aku benar-benar memperhatikan istriku? Kapan terakhir kali aku benar-benar melihat dia?
“Kay.”
Suara panggilan itu membuat Kayla menoleh dari arah wastafel. Tangannya masih basah.
“Hm? Ada apa?”
Adrian diam beberapa detik, menatap wanita itu lekat-lekat, sebelum akhirnya ia berkata pelan.
“Besok sore atau malam… kamu ada acara nggak?”
Kayla sedikit bingung dengan pertanyaan mendadak itu. “Nggak ada. Di rumah aja seperti biasa. Emang kenapa?”
“Mau keluar sebentar?”
“Ke mana?”
“Makan malam. Di luar. Berdua.”
Kayla benar-benar terdiam di tempat. Matanya membelalak sedikit.
Jantungnya langsung berdetak sedikit lebih cepat dan kencang. Karena sudah sangat lama, berbulan-bulan rasanya, Adrian tidak pernah mengajaknya pergi berdua. Bahkan sekadar makan malam biasa saja pun tidak pernah.
“Aku pikir kamu sibuk terus,” jawabnya pelan, suaranya sedikit bergetar menahan haru.
“Sibuk bisa diatur. Aku bisa luangin waktu kalau mau,” jawab Adrian santai.
Kalimat itu sederhana. Pendek. Tidak ada makna khusus. Namun cukup membuat hati Kayla yang selama ini retak dan beku, perlahan kembali menghangat lagi.
Ia langsung tersenyum kecil, senyum yang tulus dan lega. “Yaudah. Aku mau.”
Dan untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu penuh pertengkaran dan kebisuan… malam itu mereka terlihat seperti pasangan suami istri normal lagi.
Namun kehangatan kecil itu tidak bertahan lama.
Karena hanya beberapa menit kemudian, ponsel yang tergeletak di meja depan Adrian berdering nyaring.
Nama Bianca tertera jelas di layar yang menyala.
Kayla yang sedang berjalan membawa cangkir teh hangat untuk Adrian, langsung melihat nama itu. Langkah kakinya sedikit berhenti dan melambat.
Sedangkan Adrian bereaksi cepat. Tangannya refleks meraih ponsel itu secepat kilat, seolah tak ada yang lebih penting dari panggilan itu.
“Angkat aja nggak apa-apa,” ucap Kayla pelan, berusaha terdengar biasa saja, berusaha tidak terlihat sakit hati.
Entah kenapa, suasana hangat yang baru saja terbangun tadi langsung berubah lagi menjadi dingin dan menyakitkan.
Adrian akhirnya mengangkat telepon itu sambil segera berdiri dan berjalan menjauh menuju pintu balkon agar tidak terdengar suaranya.
“Iya? Halo?”
Suara Bianca terdengar samar-samar dari sana. Terdengar ceria, terdengar manja, terdengar akrab sekali.
Kayla berdiri diam di ruang tengah, menatap punggung suaminya. Ia melihat bagaimana ekspresi wajah Adrian perlahan berubah menjadi lebih santai, lebih hidup, dan lebih ceria saat berbicara dengan wanita lain. Sesuatu yang jarang sekali ia lihat saat Adrian berbicara dengannya.
Dadanya langsung terasa dingin lagi. Kosong lagi.
Beberapa menit kemudian Adrian masuk kembali ke ruangan dengan wajah yang sedikit serius.
“Kenapa? Ada masalah?” tanya Kayla berusaha menahan rasa sakitnya.
“Kerjaan.”
“Jam segini masih ada kerjaan?”
“Iya. Besok pagi ada revisi mendadak untuk materi rapat.”
Kayla mengangguk kecil pura-pura paham. Namun kali ini… jauh di lubuk hatinya, ia tidak benar-benar percaya.
Malam semakin larut.
Kayla sudah berbaring di sisi kiri kasur, memunggungi kamar, saat Adrian keluar dari kamar mandi. Pria itu meletakkan ponselnya di meja samping tempat tidur dengan hati-hati, lalu naik ke atas kasur di sisi kanan.
Keheningan menyelimuti kamar mereka beberapa saat.
Lalu Adrian tiba-tiba berbicara lagi di dalam kegelapan.
“Besok jangan batal ya. Aku tunggu kamu siap jam tujuh malam.”
Kayla menoleh sedikit, meski hanya melihat punggung suaminya. “Makan malam kan? Iya. Nggak batal.”
Adrian ikut menoleh sedikit. Di remang kamar, untuk sesaat… ia seperti melihat kembali sosok Kayla yang dulu. Sosok wanita yang lembut, cantik, sabar, dan penuh kehangatan yang dulu membuatnya jatuh cinta.
Namun bersamaan dengan bayangan itu… entah kenapa bayangan Bianca juga muncul tiba-tiba di pikirannya.
Wanita yang selalu terlihat menarik, penuh percaya diri, cerdas, dan sangat menyenangkan untuk diajak bicara. Wanita yang membuatnya merasa dihargai dan dibutuhkan.
Adrian memejamkan mata pelan. Dadanya terasa kacau, berantakan, dan penuh pertentangan batin.
Karena untuk pertama kalinya malam itu…
ia sadar sepenuhnya bahwa dirinya mulai berdiri di antara dua perempuan. Di antara masa lalu yang lembut, dan masa kini yang menggoda.
Dan keseimbangannya mulai goyah.
harus nya lebih banyak lagi tadi di balikin kata-kata soal kedekatan antara laki dan perempuan kepada si Adrian yg kemarin dia lebih parah deketnya sama si ulet Bianca itu 😡😡👍
dan saat hal tsb di lakukan oleh pasangan nya, dia gak terima..dan merasa sakit!!
tapi sebenarnya jauhh sebelumnya, dia sendiri melakukan hal tsb jauhhh lebih menyakitkan 😡😡