Tujuh tahun Pamela bertahan menjadi istri dari Zidan yang playboy, menantu yang ditindas, dan ibu yang tak dihargai anak-anaknya sendiri. Dia mengabdi dalam diam, hanya bermodalkan cinta.
Puncaknya hancur saat Zidan membawa selingkuhannya yang hamil tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka. Tanpa air mata, Pamela meletakkan surat cerai di meja makan, lalu pergi menghilang di tengah malam.
Awalnya keluarga Zidan bersorak senang si "miskin" telah pergi. Namun dalam hitungan minggu, rumah megah itu berubah menjadi neraka yang kacau tanpa kehadiran Pamela. Saat penyesalan mereka datang terlambat, Pamela ditemukan telah menjelma menjadi wanita sukses yang bersinar dan bahagia tanpa mereka.
Saat mereka bersujud memohon maaf, sanggupkah Zidan memenangkan kembali hati "mantan istri miskin" yang kini telah menjadi ratu?
...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Merasa Kebingungan.
...
Keheningan di dalam ruang kerja pribadi Zidan terasa kian mencekik leher. Pendaran lampu meja yang redup hanya mampu menerangi sebagian wajah tampannya yang kuyu, sementara separuh lainnya tenggelam dalam kegelapan yang pekat. Di balik layar kaca ponsel pintarnya, Pamela masih setia menunggu, menatapnya dengan sepasang mata yang sedingin es kutub. Tidak ada lagi kehangatan, tidak ada lagi toleransi.
Zidan menatap bibir ranum Pamela yang terkatung rapat di layar. Di dalam benaknya yang kacau, ada sebuah dorongan yang teramat kuat untuk sekadar mengucapkan kata-kata sederhana yang dulu begitu tabu baginya. Dia ingin mengatakan 'Selamat tidur, Pam', atau 'Istirahatlah, kamu pasti lelah setelah seharian di kedai'.
Namun, lidah pria dingin itu mendadak terasa sekaku bongkahan batu. Rasa malu yang teramat besar seketika membakar dadanya, menyumbat kerongkongannya hingga tidak ada satu patah kata pun yang berhasil lolos.
Bagaimana mungkin seorang pengecut sepertinya, yang telah menorehkan luka kekerasan emosional selama tujuh tahun, tiba-tiba bertingkah perhatian seperti seorang suami yang baik? Sifat keangkuhannya yang telah runtuh kini menyisakan rasa bersalah yang teramat pekat, membuatnya merasa tidak tahu diri jika lancang mengucapkannya.
"Kalau tidak ada lagi yang penting untuk dibicarakan mengenai anak-anak, aku matikan telponnya," ucap Pamela datar, suaranya terdengar sangat renyah namun begitu menusuk batin Zidan. Tangan Pamela bergerak perlahan mendekati kamera, bersiap memutus jembatan digital yang menghubungkan mereka.
Zidan panik, namun egonya yang terluka membuat wajahnya tetap terpasang kaku. Dia tidak mencoba mengalihkan pembicaraan, tidak juga mencari alasan bodoh untuk menahan wanita itu lebih lama di layar. Pria itu hanya bisa terpaku bisu, menatap lurus dengan sepasang mata elangnya yang sarat akan kehampaan batin yang mendalam.
Tut.
Layar ponsel itu seketika menggelap. Sambungan terputus secara sepihak.
Zidan perlahan menurunkan tangannya, meletakkan ponsel itu di atas meja mahoni dengan pelan. Dia menyandarkan punggungnya pada kursi kulit, membiarkan kesunyian malam kota yang kering kembali meremukkan jiwanya dalam penyesalan yang tiada akhir. Malam ini, dia kembali tidur dalam pelukan rasa bersalah yang kian membusuk di dalam dadanya.
...
Keesokan paginya, suasana diRumah mewah Arkatama belum juga membaik. Zidan terbangun dengan kepala yang terasa pening akibat kurang tidur. Setelah mandi dan mengenakan kemeja abu-abu gelapnya tanpa dasi, dia melangkah turun menuju lantai bawah untuk mengecek anak-anak sebelum mereka berangkat sekolah bersama sopir.
Namun, baru saja kakinya menginjak anak tangga terakhir, pendengarannya menangkap suara tangisan ringkih dan rintihan pelan yang berasal dari arah ruang tengah. Suara itu bukan milik Riana, melainkan milik seorang wanita dewasa yang teramat dia kenali.
Zidan melangkah mendekat dengan dahi berkerut halus. Begitu dia melewati sekat pembatas ruangan, sebuah pemandangan yang teramat tidak enak langsung tersaji di depan matanya.
Karina.
Wanita yang dulu selalu dia pedulikan, wanita yang karena egonya yang narsis telah membuatnya tega mencampakkan dan meninggalkan Pamela di tengah badai makian keluarganya. Kini, Karina tengah terduduk di atas sofa kulit mewah dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Wajahnya yang biasa dipenuhi riasan tebal kini tampak pucat pasi, keringat dingin bercucuran di pelipisnya, dan air mata terus mengalir membasahi pipinya.
Kedua tangan Karina tampak mencengkeram erat perutnya yang sudah membuncit besar. Dia tengah berbadan dua, namun usia kandungannya jelas-jelas belum menginjak sembilan bulan. Janin di dalam rahimnya masih membutuhkan waktu beberapa minggu lagi untuk siap melihat dunia.
"Zidan... Tolong aku, Zidan..." rintih Karina dengan suara bergetar hebat penuh emosi dan ketakutan yang pekat. Tubuhnya tampak agak melengkung menahan rasa sakit yang teramat sangat. "Perutku... perutku sakit sekali. Rasanya seperti diremas-remas... Padahal belum bulannya..." suaranya lemas dam raut wajahnya keringat. Menahan sakit.
Melihat kondisi Karina, tidak ada lagi binar cinta atau kepedulian buta di dalam sepasang mata Zidan seperti dulu. Yang tersisa hanyalah rasa kaku dan tatapan mata yang teramat dingin. Jiwa pria itu seolah telah mati rasa untuk wanita di depannya ini. Setiap kali dia melihat Karina, memorinya justru dipaksa berputar pada malam di mana Pamela diusir dari rumah ini tanpa membawa apa-apa selain tas anyaman bambu tuanya.
Namun, bagaimanapun juga, ada darah daging yang tengah dikandung oleh wanita itu sebuah ikatan kesalahan masa lalu yang tidak bisa dia hapus begitu saja. Ini kesalahannya.
"Kenapa kamu bisa seperti ini? Di mana obat-obatanmu?" tanya Zidan, suaranya terdengar sangat datar dan rendah, tanpa ada sedikit pun kepanikan atau rasa khawatir yang tulus. Atmosfer di antara mereka terasa begitu asing dan berjarak.
"Aku tidak tahu... Tadi subuh tiba-tiba rasanya nyeri sekali," tangis Karina kian pecah, dia mencoba meraih ujung kemeja Zidan, namun pria itu dengan halus melangkah mundur satu jengkal, menghindari kontak fisik yang tidak perlu. Penolakan dingin dari Zidan membuat Karina merasa terpukul, menyadari bahwa posisi istimewanya di hati sang CEO telah runtuh total sejak kepergian Pamela.
"Zidan, aku mohon... temani aku periksa ke dokter sekarang. Aku takut... aku takut terjadi sesuatu dengan kandungan ini," pinta Karina mengiba, menatap Zidan dengan pandangan mata yang sarat akan permohonan.
Zidan memejamkan matanya sejenak, menghirup napas dalam-dalam untuk menekan rasa kesal dan muak yang mendera batinnya sendiri. Penyesalan keluarga dan kerumitan domestik ini kian hari kian mencekik lehernya. Dia menoleh ke arah jam dinding, memikirkan Ryan dan Riana yang harus segera berangkat sekolah, lalu memikirkan jadwal rapatnya di kantor. Rasanya pusing memikirkan banyak hal. seketika ia mengingat Mantan istrinya yang pasti waktu itu lebih memiliki fikiran yang membuatnya sampai jatuh sakit.
Maaf... Maaf.... Zidan benar-benar bingung dengan perasaannya sekarang. Ia seperti pengecut. Bahkan ia membenci dirinya sendiri.
"Aku akan panggilkan sopir untuk menyiapkan mobil. Aku akan mengantarmu ke rumah sakit, tapi setelah itu aku harus ke kantor," ucap Zidan dengan ketegasan mutlak yang dingin, membalikkan badannya tanpa menunggu jawaban dari Karina yang masih mengedumel sambil mengelus perutnya yang sudah sedikit membuncit.
bagaimanapun juga ini salah dirinya. Fikir Zidan dalam hati.
Sambil melangkah ia melirik Mamanya yang sedang bersama adiknya diruang keluarga.
Tarikan nafas kembali. Zidan lelah. Tapi bingung. Semua ini salahnya. mama dan adiknya memang kejam pada Pamela namun yang membuat hati Pamela membeku adalah karena dirinya sendiri yang acuh sebagai Suami. Bahkan selalu bersikap kasar, Jarang tersenyum lembut bahkan makanan masakan mantan istrinya tidak disentuh.
sial...sial!
Zidan mengusap kasar muka Tampannya. Lalu membuang nafasnya lagi dan lagi.
...
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
masa orang kaya bodoh gitu
jangan diulang ulang
makasih
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
⬜🟥⬜⬜⬜🟥⬜
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
⬜🟥⬜⬜⬜🟥⬜
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜