Di Oakhaven, cinta adalah racun paling murni, dan aku baru saja meminumnya hingga tetes terakhir."
Dulu, aku adalah mesin pembunuh bagi pemerintah. Kini, aku adalah Marie Vance—seorang putri bangsawan yang dibuang untuk dijadikan boneka. Di kota yang selalu menangis di bawah hujan neon ini, aku terikat kontrak darah dengan Julius Vance, monster yang menguasai aliran Nectar di jantung kota. Dia menginginkan kemampuanku untuk mengungkap konspirasi, sementara aku menginginkan kepala setiap orang yang menghancurkan hidupku. Namun, di antara ranjang yang dingin dan pengkhianatan yang mematikan, aku menyadari satu hal: kami berdua adalah predator yang saling memangsa, hingga tak ada lagi yang tersisa kecuali dendam yang manis... dan cawan hitam yang siap menampung darah kami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neef, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Topeng Perak dan Gema Masa Lalu
*"Turunkan senjatamu, atau aku bersumpah, malam ini kau akan menjadi tumbal pertama bagi sejarah yang sedang ku tulis di Oakhaven."*
Suaraku tidak bergetar. Meskipun pria bertopeng burung hantu itu muncul dari balik tembok yang hancur dengan aura sihir putih yang menyilaukan—sesuatu yang sangat kontras dengan kegelapan distrik ini—aku tidak membiarkan diriku lengah. Belati perak di tanganku masih terasa dingin, namun fokusku terbelah. Dia menyebut nama asliku. Nama dari dunia yang seharusnya sudah mati bersamaku.
Pria itu berdiri tegak, jubah putihnya tidak terkena noda debu sedikit pun meski dia baru saja meruntuhkan tembok batu yang kotor. Topeng perak yang menutupi wajahnya membiaskan cahaya remang-remang dari lab alkimia, menciptakan siluet yang hampir seperti malaikat di tengah sarang mafia yang busuk ini.
*"Aku tidak membawa niat buruk, Marie Nahzfreo"* ucapnya lagi. Suaranya terdengar sangat nyata, begitu akrab, hingga membuat dadaku sesak. *"Tapi kau berada di tempat yang salah, bersama pria yang salah. Julius Vance tidak sedang membangun kerajaan. Dia sedang membangun peti mati untuk jiwamu."*
Aku mengerutkan kening, menyipitkan mata untuk melihat celah di balik topengnya. *"Siapa kau? Dan bagaimana kau bisa tahu nama itu? Tidak ada seorang pun di dunia ini yang memanggilku dengan nama itu."*
Pria itu melangkah maju satu langkah. Aroma kayu pinus dan salju menguar darinya—aroma yang memicu ingatan tajam tentang misi-misi sulit yang pernah kulalui di duniaku yang dulu. *"Aku adalah seseorang yang tersesat di sini, sama sepertimu. Aku adalah pengamat yang telah lama mencari sisa-sisa jiwa yang 'terpilih'. Namun, kita tidak punya banyak waktu. Julius sedang dalam perjalanan kembali ke sini, dan dia tidak sendirian."*
Tiba-tiba, getaran hebat mengguncang seluruh bangunan bawah tanah *The Black Cup*. Langit-langit lab mulai retak, dan debu berhamburan menutupi pandangan kami. Aku bisa merasakan tekanan sihir yang sangat besar di lantai atas—sebuah kemarahan yang tidak tertahankan. Itu adalah aura Julius.
*"Kau harus memilih,"* pria itu menatapku tajam di balik topengnya. *"Ikut denganku sekarang, dan aku akan menjelaskan semuanya tentang bagaimana kita bisa terjebak di sini, atau tetaplah di sisi Julius dan menjadi budak dari ambisi darahnya sampai kau hancur tak bersisa."*
*Pilihan yang brutal.* Aku melirik ke arah lorong tempat Julius pergi tadi, lalu kembali ke pria bertopeng ini. Pikiranku bekerja dengan cepat. Pria ini tahu namaku, artinya dia punya akses ke masa laluku. Jika dia benar-benar dari dunia yang sama, dia bisa jadi kunci untuk memecahkan misteri perpindahan jiwaku. Namun, meninggalkan Julius saat aku baru saja mulai memegang kendali atas *Black Cup* adalah langkah yang berisiko tinggi. Aku bisa kehilangan akses ke informasi tentang ayah Marie.
*"Aku tidak bisa pergi begitu saja,"* jawabku tegas. *"Aku punya urusan yang belum selesai dengan keluarga yang menjebak ayah Marie. Dan aku tidak akan pergi sebelum aku mendapatkan keadilan."*
Pria itu terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang. *"Keadilan? Di kota ini, keadilan hanyalah mitos yang diceritakan oleh orang mati. Jika itu yang kau mau, baiklah. Tapi ambillah ini."*
Dia melempar sebuah benda kecil ke arahku. Aku menangkapnya dengan sigap. Itu adalah sebuah koin perak kuno dengan ukiran yang tidak kukenal. Dingin, sangat dingin.
*"Jika kau dalam bahaya yang tak terelakkan, hancurkan koin itu. Aku akan tahu di mana kau berada,"* ucapnya singkat. Sebelum aku sempat bertanya lebih jauh, dia menghentakkan kakinya ke lantai, dan sebuah lingkaran sihir putih berpendar terang di bawah kakinya. Dalam sekejap, tubuhnya memudar menjadi kabut tipis dan menghilang, meninggalkan aku sendirian di lab yang kini mulai runtuh sepenuhnya.
*Sial!*
Aku tidak punya waktu untuk memikirkan kepergiannya karena pintu kayu di ujung ruangan didobrak dengan sangat kasar. Julius masuk dengan jubahnya yang sedikit robek di bagian bahu, matanya yang obsidian kini menyala dengan gairah destruktif. Dia tidak melihat pria bertopeng itu—seolah pria itu tidak pernah ada—tapi dia menatapku dengan tatapan yang seolah bisa menembus dinding pertahananku.
*"Di mana dia?"* suara Julius rendah, mengancam.
*"Siapa?"* aku bertanya, memegang koin perak itu erat-erat di dalam genggamanku agar dia tidak menyadarinya.
*"Jangan berani membohongiku,"* Julius mendekat dalam satu langkah panjang. Dia mencengkeram rahangku dengan jemarinya yang dingin, memaksa kepalaku mendongak. *"Aku merasakan residu sihir suci di ruangan ini. Sesuatu yang sangat murni... sesuatu yang tidak seharusnya berada di wilayah kekuasaanku. Apa yang baru saja kau lakukan, Marie?"*
Aku menatapnya tanpa gentar. *Intelijen berarti menguasai kendali informasi.* Aku harus memutarbalikkan fakta.
*"Seorang pria bertopeng mencoba menyerangku. Dia mengklaim bahwa dia mengenal diriku yang lama—diriku sebelum aku terbangun di tubuh Marie Vance,"* aku berbohong dengan nada yang terdengar jujur. *"Dia mencoba meracuniku dengan kata-kata manis tentang pelarian. Tapi aku menolaknya, karena aku tahu, di luar sana tidak ada tempat untukku selain di sini, di bawah perlindunganmu."*
Julius terdiam. Dia menatap mataku dengan intens, mencoba mencari kebohongan di sana. Selama beberapa detik yang terasa seperti satu abad, dunia seolah berhenti. Lalu, seringai tipis muncul di wajahnya.
*"Perlindunganku?"* dia terkekeh, meski matanya masih penuh kewaspadaan. *"Kau mulai belajar untuk bersandiwara dengan baik, Marie. Tapi ingat, aku tidak peduli siapa dirimu di masa lalu. Yang aku pedulikan adalah apa yang bisa kau berikan untukku sekarang. Jika kau mencoba berkhianat, aku akan memastikan tubuhmu tidak akan pernah bisa menampung jiwa siapa pun lagi."*
Dia melepaskan cengkeramannya dan memutar tubuh. *"Ikut denganku. Pesta di atas sudah berakhir dengan cara yang sangat berantakan karena gangguanmu. Lord Valerius telah melarikan diri, dan pengkhianatan itu sekarang menjadi masalah besar bagi Syndicate."*
Aku berdiri, merasakan sisa-sisa sihir pria bertopeng tadi masih berdesir di udara. Aku mengikuti Julius keluar dari lab bawah tanah itu, menyadari bahwa hidupku kini berada di persimpangan jalan yang sangat berbahaya.
Pesta dansa di *Grand Ballroom* telah berubah total. Lampu kristal yang tadinya mewah kini pecah berantakan di lantai, dan para bangsawan Oakhaven tampak panik, berlarian menuju pintu keluar. Bau asap magis dan sisa Nectar masih menggantung di udara.
Julius naik ke atas panggung kecil, auranya begitu dominan hingga semua orang yang tersisa di ruangan itu terdiam seketika. Dia menatap ke arah kerumunan, matanya mencari target.
*"Malam ini adalah pengkhianatan,"* suaranya bergema, dingin dan penuh ancaman. *"Seseorang telah mencoba merusak kemurnian Syndicate Black Cup. Dan aku, sebagai kepala keluarga Vance, tidak akan membiarkan ini berlalu begitu saja."*
Dia menoleh ke arahku, memberi isyarat agar aku naik ke sampingnya. Aku melangkah naik, merasa tatapan ratusan orang yang penasaran dan penuh kebencian tertuju padaku.
*"Inilah istriku, Marie Vance,"* Julius memperkenalkan diriku dengan nada yang membuatku merasa seperti sebuah pajangan. *"Dan mulai malam ini, dialah yang akan memegang otoritas penuh atas distribusi Nectar di distrik tengah. Siapa pun yang berani membangkang padanya, sama saja dengan membangkang padaku."*
Kerumunan itu berbisik-bisik. Aku bisa merasakan kebencian yang nyata dari Elara, yang berdiri di pojok ruangan dengan tatapan yang tajam.
Namun, di tengah-tengah keheningan itu, seorang pria tua berjubah merah—tetua dari Dewan Bangsawan Oakhaven—melangkah maju ke depan panggung. *"Julius, apakah kau sudah gila? Menyerahkan tanggung jawab sebesar itu kepada seorang gadis yang baru saja muncul dari kehancuran? Ini melanggar hukum silsilah Vance yang paling dasar!"*
Julius menyeringai. *"Hukum silsilah hanyalah alasan bagi orang lemah untuk membatasi yang kuat, Tetua. Jika kau keberatan, silakan ajukan tantangan darah di hadapan semua orang di sini."*
Tetua itu tampak ragu. Tantangan darah berarti duel maut sampai salah satu pihak tewas atau menyerah. Dan tidak ada yang berani menantang Julius Vance dalam duel sihir.
*"Tidak perlu,"* aku melangkah maju, memotong pembicaraan mereka. Suaraku lantang, mengisi seluruh ruangan. *"Jika Dewan ragu, biarkan aku membuktikannya. Aku akan melakukan pemurnian Nectar di hadapan kalian semua saat ini juga. Jika aku gagal, aku akan menyerahkan posisi ini. Tapi jika aku berhasil... kalian harus tunduk pada keputusan Julius."*
Seluruh ruangan mendadak hening. Julius menoleh ke arahku dengan alis terangkat, mungkin tidak menyangka aku akan mengambil risiko sebesar ini.
*"Kau yakin, Marie?"* bisik Julius, suaranya mengandung nada peringatan.
*"Aku tidak pernah ragu dalam hidupku,"* jawabku mantap.
Mereka membawa sebuah cawan hitam besar ke atas panggung—Cawan Hitam yang legendaris, tempat di mana *Nectar* diproses menjadi bentuk yang paling murni dan berbahaya. Aku mendekati cawan itu, merasakan energi gelap yang sangat besar memancar dari dasarnya.
Aku menarik napas dalam-dalam. Ingatan tentang cara ayah Marie bekerja mulai merasuk ke dalam benakku. Aku tidak perlu sistem, aku tidak perlu alat bantuan. Aku hanya perlu memanipulasi energi di dalam Nectar itu dengan sihirku sendiri.
Aku meletakkan tanganku di atas cawan itu. Sihir biru yang tadi kudapatkan di lab bawah tanah mulai mengalir keluar dari telapak tanganku, masuk ke dalam cawan. Cairan hitam itu mulai mendidih, berubah warna dari hitam pekat menjadi emas yang berkilau.
Proses itu sangat menyakitkan. Aku bisa merasakan energinya menyedot tenaga hidupku. Tubuh Marie yang lemah ini mulai gemetar.
*Jangan menyerah. Kau bukan Marie yang lemah,* bisikku pada diriku sendiri.
Tiba-tiba, cairan emas itu meledak, memenuhi ruangan dengan aroma yang sangat harum, aroma yang menenangkan sekaligus memabukkan. Semua orang terkesiap. Pemurnian itu berhasil.
Namun, tepat saat aku hendak menarik tanganku, cawan itu tidak melepaskanku. Aku merasa seperti ada sesuatu di dalam cawan itu yang sedang memakan jiwaku.
*"Marie!"* suara Julius terdengar samar dari jauh.
Aku mencoba melepaskan tanganku, tapi aku tidak bisa. Dan saat itulah, aku melihat bayangan hitam keluar dari cawan itu—bayangan yang sama yang kulihat saat aku jatuh ke lubang bawah tanah tadi.
Bayangan itu mulai merayap naik ke lenganku, menutupi kulitku dengan tato hitam yang bergerak-gerak seperti hidup.
*Apa-apaan ini?*
Aku menatap Julius. Dia tidak terlihat khawatir. Dia malah tersenyum—senyum yang sangat puas, seolah dia memang menunggu momen ini terjadi. Dia tidak bermaksud menjadikan aku sebagai partnernya. Dia memang sengaja menggunakan aku sebagai wadah untuk membangunkan sesuatu yang seharusnya dibiarkan tertidur di dalam Cawan Hitam itu.
Tiba-tiba, sebuah suara yang sangat kuat bergema di dalam kepalaku, suara yang membuat seluruh penglihatanku menjadi merah.
*"Akhirnya... wadah yang cocok... untuk membangkitkan dendam yang tertidur..."*
Aku merasa kesadaranku mulai menghilang. Tubuhku terasa sangat ringan, seolah-olah jiwa asliku sedang didorong keluar oleh sesuatu yang lain.
Aku mencoba menoleh ke arah Julius, mulutku terbuka untuk berteriak, tapi tidak ada suara yang keluar.
*"Terima kasih, Marie,"* bisik Julius sambil menatapku dengan tatapan yang sangat dingin. *"Kau adalah korban yang sempurna untuk upacara kebangkitan ini."*
Lampu ballroom padam sepenuhnya. Kegelapan total menyelimutiku, dan aku sadar bahwa aku baru saja melakukan kesalahan fatal yang mungkin tidak akan bisa kuperbaiki lagi.