NovelToon NovelToon
Bukan Menantu Pilihan Umi

Bukan Menantu Pilihan Umi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Perjodohan
Popularitas:466
Nilai: 5
Nama Author: Mrs. Fmz

Apakah selembar kain jilbab cukup untuk menghapus masa lalu yang dianggap cacat?
Bagi Hana, pernikahan adalah gerbang lembaran suci. Namun, kenyataan menamparnya begitu menginjakkan kaki di kediaman suami. Sebagai wanita modern, ia dinilai miskin ilmu agama dan tidak bernasab terhormat. Sang Umi pun menganggapnya sebagai perusak masa depan putra kesayangan.
Kini, Hana harus menghadapi penolakan dingin dan upaya mertua mengembalikan kekasih lama suaminya. Ia hanya ingin bertahan demi membuktikan keikhlasan berbenah diri.
Jika gagal, Hana akan kehilangan pria tercinta sekaligus merelakan kesehatan jiwanya hancur. Di tengah jepitan konflik, sang suami dipaksa memilih antara bakti orang tua atau melindungi belahan jiwanya.
Akankah ketulusan Hana melunakkan kerasnya hati sang Umi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Cangkir Teh Pertama Yang Beraroma Dingin

Cangkir teh pertama yang beraroma dingin berdenting kencang saat Umi Kalsum menggesernya hingga airnya sedikit tumpah. Wanita tua itu memandang cairan pekat tersebut dengan tatapan penuh penghakiman seolah benda di hadapannya adalah sebuah kesalahan besar. Hana yang berdiri tepat di ujung meja makan menahan napas dalam batinnya yang kian bergolak hebat mendapati respons tersebut. Ketegangan kembali merayap, meracuni udara pagi yang bersih di dalam ruang makan khusus keluarga pengasuh pesantren itu.

"Apakah begini cara seorang wanita kota menghormati suaminya saat pagi menjelang?" tanya Umi Kalsum dengan suara mendesik tajam.

Azzam yang baru saja duduk segera mengangkat pandangan matanya dengan gurat kegelisahan yang sangat nyata. "Umi, ini hanyalah urusan sepele, teh buatan Hana rasanya sudah cukup baik untuk dinikmati."

"Urusan bakti tidak pernah menjadi perkara sepele di dalam kamus kehidupan surau kita, Azzam," balas Umi Kalsum tanpa memedulikan pembelaan putranya.

Hana merasakan sekelumit perih kembali meremas ulu hatinya yang terasa semakin rapuh dari waktu ke waktu. Ia menatap cangkir porselen itu, menyadari bahwa ketulusannya bangun sebelum fajar murni dianggap sebagai angin lalu yang tidak berharga. Perasaan terasing kian menebal ketika sepasang mata sang mertua beralih menatapnya dengan tatapan merendahkan yang teramat kentara. Di lingkungan baru ini, setiap jengkal pergerakan tangannya seakan selalu salah dan tidak pernah memenuhi standar kesempurnaan.

"Maafkan saya, Umi, saya akan menyeduh kembali teh yang baru jika cara saya salah," ucap Hana dengan nada suara bergetar.

Umi Kalsum melipat kedua tangannya di depan dada, menyandarkan tubuh senjanya pada sandaran kursi kayu jati yang kokoh. "Percuma saja kamu mengulanginya jika hatimu belum sepenuhnya menyatu dengan napas kesalehan tempat ini."

"Saya sungguh berniat belajar dengan tulus untuk mengabdi di rumah ini, Umi," lirih Hana mencoba membela martabatnya yang tersisa.

"Pengabdian itu butuh pembuktian nyata, bukan sekadar untaian kata manis yang biasa diucapkan orang kota," tukas wanita tua itu dingin.

Azzam memilih kembali menundukkan kepala, membiarkan keheningan yang canggung menyelimuti persidangan sepi di meja makan asrama utama tersebut. Sikap diam sang suami laksana tamparan tak kasat mata yang membuat pertahanan batin Hana perlahan mulai goyah. Keberpihakan lelaki itu terasa sangat semu, seolah ketakutannya pada kemarahan sang ibu jauh lebih besar daripada janji perlindungan pernikahan. Kekecewaan yang menumpuk membuat Hana merasa berdiri sendirian di tengah kepungan badai penolakan yang amat pekat.

Pagi yang seharusnya membawa kehangatan bagi pasangan yang baru saja mengikat janji suci justru terasa sangat membekukan jiwa. Hana meremas ujung pakaian longgarnya yang sewarna abu muda, berusaha keras menahan bendungan air mata agar tidak jatuh di depan mertuanya. Ia tidak pernah menyangka bahwa keputusannya untuk menjemput hidayah akan disambut dengan rentetan ujian mental yang sedemikian menguras energi. Di mata Umi Kalsum, eksistensi dirinya tidak lebih dari sekadar noda yang mengancam reputasi kesucian pesantren terpandang ini.

"Ambil kembali cangkir ini dan bersihkan seluruh area meja sebelum para pengurus inti datang," perintah Umi Kalsum memecah kesunyian.

Hana melangkah maju dengan lutut yang terasa lemas, meraih cangkir porselen tersebut dengan jemari yang gemetar hebat. "Baik, Umi, saya akan segera merapikan semuanya sekarang juga."

Azzam bangkit dari duduknya lalu meraih kitab suci yang tergeletak di atas bufet sudut tanpa mengucapkan sepatah kata pun. "Aku harus segera menuju ke aula utama untuk memeriksa kesiapan hafalan para santri putra."

Langkah kaki suaminya yang menjauh meninggalkan ruangan menjadi penegas bahwa Hana harus berjuang sendirian menghadapi kepahitan ini. Umi Kalsum turut bangkit, berjalan melewati Hana dengan kibasan kain mukena yang menimbulkan embusan angin sedingin es. Tinggallah Hana seorang diri di dalam ruangan yang luas itu, ditemani sisa keheningan yang terasa semakin mencekik rongga dadanya. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya luruh satu demi satu, menetes tepat di atas lantai marmer yang mengilat.

Pekerjaan membersihkan meja makan dilakukan Hana dengan ritme yang lambat karena diselimuti kabut kesedihan yang teramat mendalam. Pikirannya melayang pada kebebasan masa lalu yang kini terasa sirna, digantikan oleh belenggu aturan yang dirasanya sengaja diperketat untuk menyudutkannya. Setiap sudut rumah utama ini seolah memiliki mata yang terus mengawasi dan bersiap melaporkan setiap celah kesalahannya pada sang penguasa tunggal. Hana menyadari bahwa statusnya sebagai menantu sah sama sekali tidak memberinya hak untuk merasa aman di bawah atap ini.

Ketika matahari mulai memancarkan sinar teriknya, suasana di luar rumah utama terdengar semakin riuh oleh aktivitas ratusan santri. Hana membawa langkah kakinya menuju area belakang, bermaksud mengembalikan peralatan makan yang telah dibersihkannya ke tempat semula. Namun, langkah wanita muda itu mendadak terhenti tepat di koridor penghubung yang memisahkan rumah utama dengan bangunan dapur besar. Dari balik sekat pembatas, suara lantang Umi Kalsum kembali terdengar sedang berbicara dengan beberapa pengurus senior dengan nada penuh penekanan.

"Kita tidak bisa membiarkan tradisi kesalehan tempat ini luntur hanya karena kehadiran orang baru yang tidak memahami syariat," ucap Umi Kalsum tegas.

Seorang pengurus wanita paruh baya menyahut dengan nada yang tidak kalah sinis. "Benar, Umi, tata cara berbusana dan pembawaannya masih sangat kental dengan nuansa keduniawian."

"Sebab itulah, mulai hari ini seluruh aktivitas memasak dan urusan logistik asrama akan menjadi tanggung jawab penuh dirinya," lanjut Umi Kalsum memberikan putusan.

Hana terpaku di tempatnya berdiri, merasakan jantungnya berdegup dua kali lebih cepat mendengar rencana terselubung sang mertua. Tugas mengurus logistik untuk ratusan orang murni sebuah tekanan fisik dan mental yang sengaja dijatuhkan untuk meremukkan semangatnya. Di tempat ini, dapur asrama bukan lagi sekadar ruang untuk meracik makanan pengisi lambung yang lapar. Tempat memasak itu telah bertransformasi menjadi sebuah tempat pengadilan terbuka yang siap menguji sisa kesabaran batinnya hingga mencapai titik nadir.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!