NovelToon NovelToon
The Return Of The Lost Heiress

The Return Of The Lost Heiress

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Keluarga & Kasih Sayang / Drama
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Haena_Llulia

Tujuh belas tahun hidup sederhana, Haena mendadak mendapati dirinya adalah putri kandung yang tertukar dari Keluarga Dirgantara, dinasti konglomerat terkaya. Namun, kepulangannya ke istana megah itu justru disambut dingin oleh sang ibu, Nyonya Rosalind, serta intrik busuk dari Vanya, anak angkat yang takut posisinya tergusur.

Bukannya tumbang oleh intimidasi dunia elite, gadis jenius bermental baja ini justru menarik perhatian Kaelen Arkananta, pewaris tunggal yang terkenal dingin dan tak tersentuh. Bersama Kaelen, Haena tidak hanya menemukan cinta sejati, tetapi juga mulai membongkar konspirasi gelap masa lalu yang sengaja membuangnya saat bayi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haena_Llulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 Badai Elektromagnetik di Selat

BOOM!

Ledakan dahsyat mengguncang menara radar bagian atas kapal logistik utama Dirgantara Corp, melemparkan percikan api dan serpihan logam panas ke atas dek kapal yang gelap pekat. Guncangan akibat hantaman rudal EMP (Electromagnetic Pulse) itu begitu masif hingga membuat kapal bertonase besar tersebut miring beberapa derajat ke arah kanan sebelum akhirnya kembali stabil di atas deburan ombak Selat yang ganas.

Dalam hitungan detik, seluruh sistem kelistrikan kapal mati total. Lampu-lampu koridor yang semula menyala terang seketika padam, menyisakan kegelapan pekat yang mencekam sebelum akhirnya sistem pencahayaan darurat berwarna merah redup menyala otomatis, memberikan atmosfer magis yang mengerikan di dalam kabin komando utama.

"Lapor! Menara komunikasi satelit utama hancur total!" teriak salah satu awak kapal dengan nada panik di tengah kegelapan.

"Seluruh sistem navigasi digital kita mati! Kita kehilangan kontak dengan tim siber Gavin di ibu kota!"

Di tengah kepanikan massal yang mulai menjangkiti para awak kapal, Haena tetap berdiri tegak di tengah ruang kemudi utama, mempertahankan mental bajanya yang tak tersentuh. Kemeja sutra putih murninya tampak sedikit berkilau di bawah temaram cahaya lampu darurat merah, sementara kacamata dengan bingkai transparan yang dikenakannya memantulkan siluet tiga kapal motor cepat musuh yang kian mendekat di balik jendela kaca besar yang menghadap langsung ke lautan lepas. Jari telunjuk tangan kirinya mengetuk pelan tahi lalat kecil di bawah dagunya dengan ritme yang sangat konstan sebuah tanda bahwa otak jeniusnya sedang melakukan komputasi taktis darurat untuk membalikkan keadaan.

Di sampingnya, Kaelen Arkananta langsung bergerak dengan ketangkasan seorang predator puncak. Pemuda penguasa sekolah itu merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah perangkat suar taktis genggam yang langsung memancarkan cahaya hijau berpendar, menerangi ruang kemudi yang gelap. Aura dominan dan marahnya kian memancar kuat saat melihat tiga siluet kapal penyerang yang melaju dengan kecepatan ekstrem dari arah barat laut.

"Tuan Agharna benar-benar mempertaruhkan seluruh sisa asetnya untuk misi bunuh diri ini," desis Kaelen, suara baritonnya yang berat terdengar sangat dingin dan berbahaya. Dia menoleh ke arah Clarissa yang sedang berjuang menyalakan kembali konsol komputer darurat yang layarnya sempat berkedip-kedip akibat hantaman radiasi gelombang EMP.

"Clarissa! Berapa lama waktu yang kamu butuhkan untuk mengaktifkan kembali sirkuit enkripsi jam tangan Haena?"

Clarissa, dengan jemari yang bergetar namun tetap fokus pada papan ketik mekanis darurat, menyeka keringat dingin di dahinya.

"Radiasi EMP tadi memutus sekring pelindung utama, Tuan Kaelen! Saya harus melakukan bypass sirkuit secara manual pada konsol pusat. Setidaknya butuh waktu tujuh menit untuk mengembalikan daya cadangan satelit privat Arkananta!"

"Kita tidak punya waktu tujuh menit, Clarissa," potong Haena dengan suara yang sangat jernih, tenang, dan beraura tegas tanpa ada riak ketakutan sedikit pun.

"Tiga kapal motor cepat mereka bergerak dengan kecepatan empat puluh knot. Dalam waktu kurang dari tiga menit, tentara bayaran internasional sewaan Vanya dan Tuan Agharna akan mulai melakukan penyerangan fisik ke atas dek utama kita."

Haena melangkah maju mendekati konsol tengah, menatap jam tangan berlian di pergelangan tangan kirinya. Cip mikroskopis di dalam jam tersebut masih berkedip merah redup menandakan perangkat pelacak frekuensi privatnya memiliki lapisan pelindung timbal khusus yang membuatnya selamat dari kehancuran EMP, namun kehilangan daya pancar sinyal jarak jauh karena menara satelit kapal yang hancur.

"Kaelen," Haena menoleh menatap langsung ke dalam manik mata elang pemuda itu dalam jarak yang cukup dekat di bawah pendaran cahaya hijau suar.

"Virus Trojan penghancur sirkuit yang kutanam di dalam cetak biru navigasi palsu mereka tidak hancur karena EMP. Virus itu masih ada di dalam memori kapal mereka. Yang kita butuhkan sekarang adalah pemicu frekuensi jarak pendek (short-range trigger) berskala lokal untuk mengaktifkannya dari sini."

Kaelen menyipitkan matanya yang tajam, langsung menangkap arah pemikiran jenius gadis di hadapannya.

"Kamu ingin memanfaatkan kabel sisa jangkar magnetik atau dinamo generator cadangan di dek bawah untuk menembakkan gelombang radio balik?"

"Tepat," balas Haena, seulas senyuman sinis yang teramat menawan terukir di bibir cantiknya yang dipoles riasan Douyin glass skin.

"Jika kita bisa mengalirkan arus listrik dari generator cadangan langsung ke sisa kabel menara radar yang hancur di atas, kita bisa mengubah seluruh badan kapal logistik ini menjadi sebuah antena pemancar pulsa kinetik raksasa. Begitu mereka mendekat dalam radius satu kilometer... virus Trojan itu akan dipaksa aktif secara instan dan meledakkan seluruh sistem navigasi serta mengunci senjata elektronik mereka dari dalam."

Kaelen terkekeh rendah, sebuah tawa karismatik yang memancarkan kepuasan mutlak atas kecerdasan luar biasa aliansinya.

"Rencana gila yang sangat indah, Tuan Putri. Clarissa, tetap di sini dan selesaikan bypass sirkuitmu! Aku dan Haena akan turun ke ruang mesin bawah bersama tim taktis."

Sementara itu, di atas salah satu kapal motor cepat penyerang yang sedang membelah ombak Selat, Tuan Agharna berdiri di dalam kabin kemudi dengan ekspresi kemenangan yang sangat pekat. Di sampingnya, Vanya menggenggam erat sebuah senapan otomatis ringan dengan jemari yang bergetar hebat akibat kombinasi antara adrenalin dan dendam kesumat yang membakar otaknya.

"Hahaha! Lihat itu, Tuan Agharna! Kapal raksasa kebanggaan Papa mati total!" jerit Vanya histeris, tertawanya melengking tinggi menembus bisingnya suara mesin kapal. Jaket denim longgarnya berkibar tertiup angin laut yang kencang.

"Tembakan rudal EMP tadi pasti sudah membuat Haena menangis ketakutan di dalam kegelapan! Aku tidak sabar untuk menyeretnya keluar, merobek kacamata transparannya, dan melihat wajah sok jeniusnya hancur berantakan di hadapanku!"

Tuan Agharna tidak menanggapi celotehan histeris Vanya. Sepasang matanya tetap fokus menatap layar monitor taktis sekunder yang menampilkan sisa jarak antara kapal mereka dengan target.

"Jarak tinggal satu koma lima kilometer. Perintahkan seluruh tim serbu garis depan untuk menyiapkan tali pengait taktis dan bom paku magnetik. Begitu kita merapat di lambung kapal, lumpuhkan siapa saja yang melawan. Ingat, bawa Haena dalam kondisi hidup untuk perekaman video eksekusi."

"Siap, Bos!" jawab pemimpin tentara bayaran di belakang mereka dengan nada dingin.

Namun, di saat kapal-kapal penyerang itu bersiap melakukan manuver pengepungan, layar monitor navigasi di hadapan Tuan Agharna mendadak berkedip cepat menampilkan rangkaian baris kode enkripsi berwarna merah darah yang bergerak turun secara vertikal dengan kecepatan ekstrem.

BZZZZT!

"Ada apa ini?!" Tuan Agharna terbelalak, cerutu di mulutnya hampir terjatuh.

"Kenapa sistem kendali otomatis kita tiba-tiba mengunci diri?!"

Di saat yang sama, di ruang generator cadangan lantai paling bawah kapal logistik Dirgantara, suasana tampak sangat pengap dan panas. Haena berdiri di depan panel sirkuit tegangan tinggi dengan kemeja sutra putih yang kini sedikit terkena noda oli hitam di bagian lengannya, namun penampilannya justru kian memancarkan aura seorang penguasa sejati yang tak tergoyahkan.

Jari-jari lentiknya bergerak cepat menghubungkan dua kabel tembaga besar langsung dari inti dinamo generator ke jalur distribusi atas, mengabaikan percikan api listrik kecil yang sesekali menyambar di dekat wajah cantiknya. Jari telunjuknya mengetuk tahi lalat di bawah dagunya untuk terakhir kali sebelum dia menatap Kaelen yang berdiri di samping tuas sakelar utama.

"Sekarang, Kaelen! Tarik tuasnya!" perintah Haena tegas.

Dengan satu sentakan tangan yang kuat dan berotot, Kaelen menarik tuas besi raksasa tersebut ke bawah.

BOOM-BZZZZT!

Arus listrik berkekuatan ribuan volt seketika melonjak dari ruang mesin bawah, mengalir deras melewati tiang-tiang baja kapal menuju sisa reruntuhan menara radar di dek atas. Sebuah gelombang kejut frekuensi radio tak kasatmata memancar kuat ke udara, menyapu seluruh permukaan laut dalam radius dua kilometer secepat kilat.

Efeknya instan dan mematikan bagi pihak penyerang.

Di atas kapal motor cepat musuh, virus Trojan yang terpicu oleh pulsa elektromagnetik balik buatan Haena langsung mengamuk menghancurkan seluruh sirkuit mikrokontroler. Sistem kelistrikan tiga kapal cepat itu meledak dari dalam secara beruntun, memercikkan bunga api dari konsol kemudi yang langsung membakar tangan para pengemudinya.

BOOM! BOOM! BOOM!

"Aaaakh! Tanganku!" jerit pengemudi kapal Tuan Agharna saat konsol kendali di hadapannya meledak hancur.

Senjata otomatis elektronik yang dipegang oleh para tentara bayaran internasional di atas dek mendadak mengunci pelatuknya sendiri karena sistem otentikasi digitalnya hangus terbakar, membuat mereka mematung dengan senjata tak berguna di tangan mereka. Tiga kapal cepat itu seketika kehilangan daya dorong mesin, terombang-ambing tak berdaya di atas ombak besar Selat tepat dalam radius beberapa ratus meter dari lambung kapal logistik utama Dirgantara Corp.

Di dalam kabin kemudi penyerang yang kini dipenuhi asap hitam tebal, Vanya terbatuk-batuk dengan wajah pucat pasi bagaikan mayat. Senapan di tangannya terasa panas dan tidak bisa ditembakkan sama sekali.

"T-Tuan Agharna... apa yang terjadi?! Kenapa kapal kita mati total?!"

Tuan Agharna terduduk lemas di lantai kabin dengan mata melotot penuh ketakutan yang teramat dalam.

"Jalang kecil itu... dia tidak menggunakan pertahanan militer... dia meretas kita menggunakan tubuh kapalnya sendiri! Kita... kita sudah masuk ke dalam panggung pembantaiannya!"

Tepat pada detik itu, lampu-lampu utama di atas dek kapal logistik Dirgantara Corp kembali menyala dengan sangat terang benderang, memecah kegelapan malam dan menyinari tiga kapal musuh yang terombang-ambing tak berdaya di bawah sana. Sistem komunikasi satelit telah pulih sepenuhnya berkat keberhasilan bypass sirkuit yang dilakukan oleh Clarissa.

Dari pengeras suara eksternal kapal utama yang berkekuatan tinggi, suara Haena yang jernih, dingin, dan sarat akan otoritas mutlak menggema lantang menembus deburan ombak, membungkam sisa-sisa nyali para penyerang:

"Tuan Agharna, Vanya... selamat datang di panggung eksekusi terakhir Anda. Senjata Anda telah mati, sistem navigasi Anda telah buta, dan dalam waktu sembilan puluh detik... unit helikopter siluman Arkananta Group akan berada di atas kepala Anda untuk melakukan pembersihan total. Menyerahlah sekarang, atau biarkan Selat menjadi kuburan massal bagi ambisi bodoh kalian."

Mendengar pengumuman itu, Vanya jatuh berlutut di atas dek kapal yang dingin, air matanya mengalir deras merusak seluruh penampilannya. Dia mendongak menatap ke atas dek kapal utama, di mana sosok Haena berdiri dengan anggun di samping Kaelen Arkananta di balik dinding kaca yang terang benderang.

Haena menatap ke bawah dari balik kacamata transparannya dengan pandangan yang penuh rasa jijik dan dingin, seolah sedang melihat sekelompok tikus selokan yang tidak layak mendapatkan belas kasihan. Sang putri sejati yang dulu sempat hilang dan dibuang, kini telah membuktikan sekali lagi bahwa tidak ada satu pun kekuatan atau konspirasi gelap di dunia ini yang mampu menggoyahkan takhta imperiumnya yang agung.

(Cliffhanger)

"Tepat saat unit helikopter taktis Arkananta yang dipimpin oleh Gavin mengepung tiga kapal musuh dari udara, Clarissa tiba-tiba menangkap sebuah sinyal darurat baru dari Jakarta. Pak Baskara yang berada di ruang administrasi kapal menerima telepon langsung dari Tuan Bramasta di Swiss, yang mengabarkan dengan suara panik bahwa faksi rahasia Nyonya Rosalind yang tersisa di ibu kota baru saja melakukan sabotase hukum dengan memalsukan dokumen kesehatan Ibu Aminah, menyatakan bahwa ibu angkat Haena itu berada di bawah pengaruh gangguan jiwa kronis untuk membatalkan seluruh keabsahan hak waris 51% saham yang baru saja ditandatangani."

1
Osie
rosalind mak kandung harga bukan yaa?? kok malah jd musuh anak sendiri
Haena_Llulia: kamu tau kan maknya gimana😔
total 1 replies
Osie
ini hana apa udah gak sekolah ya..kok mainnya diperusahaan terus
Haena_Llulia: iya, kayaknya gitu deh. ini jg pasti krn masalah yg muncul
total 1 replies
Osie
eh nyonya rosalind ente emak kandung haena kan??? kok kayak mak tiri ya yg takut kehilangan harta warisan
Haena_Llulia: iya aku juga jadi ngedek dehhh sama dia😡
total 1 replies
Osie
mampir akuh nya..msh nyimak dan moga MC nya sosok tangguh. benar benar tangguh n smart
Haena_Llulia: Terimakasih banyak, aminnnn🙏🤗
total 1 replies
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat thor nulisnya😍
Haena_Llulia: Terimakasih banyak bebkuhhhh😳🙏❤
total 1 replies
Alia Chans
mampir thor✍️👈
Haena_Llulia: Terimakasih banyak🙏
total 1 replies
Siru06
mampir thor👍
Haena_Llulia: Terimakasih banyak🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!