Balas dendam adalah hidangan paling nikmat, tapi juga yang paling memabukkan.
Lima tahun lalu, Zara dijual, dihina, dan diinjak harga dirinya oleh kerabat sendiri. Diselamatkan sekaligus ditempa oleh Garda, ia berubah menjadi Zevana Ardhani—wanita cerdas, berkuasa, dingin, dan mematikan yang hidupnya hanya punya satu tujuan: Balas Dendam.
Namun segalanya goyah saat Arka hadir. Pemuda tulus dan polos—anak musuh terbesarnya—mencintainya tanpa syarat, perlahan mencairkan hati beku yang ia bangun bertahun-tahun.
Di tengah pusaran kebencian yang memberi kepuasan sesaat layaknya efek dopamin… Zevana dihadapkan pada pilihan terberat yaitu antara terus memburu kehancuran, atau berani berhenti demi cinta yang menawarkan kesembuhan sejati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Key Kastara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabur
Tiiin!
Sebuah mobil melintas menekan klakson lantaran terkejut melihat Zara menghalangi jalannya. Sementara itu, tubuh Zara refleks gemetar setiap kali melihat kendaraan melintas di hadapannya. Seketika ia merasa suasana terasa riuh dan bising oleh kendaraan yang lalu lalang.
Glek!
Zara menelan salivanya, ia terlalu gugup untuk dunia luar–setelah sekian lama terkurung layaknya tahanan di dalam penjara. Namun ia sudah bertekad.
"Bibi dan Reno pasti masih tidur. Semuanya aman," bisiknya pada diri sendiri, sembari menggigiti kuku jarinya.
Dengan ragu, ia merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan recehan yang Susi lempar kemarin dan ia punguti dari lantai tanpa memedulikan harga dirinya itu.
"Baik, anggap aja senilai dengan harga diriku," gumamnya sembari bangkit.
Namun saat ia hendak melangkah, tiba-tiba....
"Zara?"
Deg!
Zara mematung seketika saat seseorang menyebut namanya.
Tap! Tap! Tap!
Langkah itu mendekat, namun Zara masih bergeming seolah tak berniat sama sekali untuk mendongakkan wajah–menatap sang mpunya suara.
"Zara?" ulangnya sembari menyentuh bahu Zara.
Plak!
Reflek Zara menepis tangan itu dengan kasar hingga orang itu terkejut.
"Ini Om, Zara. Kamu lagi apa di sini?" tanya pria itu yang ternyata dia adalah Herdi, suami Susi–orang yang memang hendak Zara temui.
"Zara! Kamu kenapa?" tanya Herdi dengan nada meninggi, lantaran Zara terlihat seperti orang yang limbung.
"O-om? Oh ... A-a-itu, maaf," gagap Zara sembari mengangkat wajah, menatap sang paman.
"Ya ampun. Kamu ngapain di sini subuh-subuh gini?" tanya Herdi sembari mendongak, lalu mengedarkan pandangan. Nampaklah dengan jelas, langit masih gelap, dan suasana masih sepi.
Zara pun menyadari bahwa sejak tadi semua riuh kendaraan dan hiruk pikuk orang hanya bayangannya saja. Belum ada tanda-tanda kehidupan yang beraktivitas, selain satu dua kendaraan yang hanya lewat untuk berangkat kerja.
"Om ... anu ... itu, om...." gagap Zara masih sulit mengendalikan diri.
Mulutnya kelu, tubuhnya gemetar. Semua rencana yang sudah ia pikirkan sejak semalam, tiba-tiba menghilang begitu saja. Ia hanya bisa memelintir jemarinya sendiri sebagai usaha untuk mencoba fokus, namun itu sia-sia.
Melihat Zara gelisah begitu, Herdi meraih bahunya lalu mengajaknya untuk masuk kembali, lewat pintu yang baru saja ia gunakan untuk keluar tadi. Menyadari hal itu, sontak Zara mundur dan melepaskan rangakulan Herdi.
"Nggak! Jangan ke sana! Aku gak mau ke sana!" tolaknya spontan.
"Ayo masuk, kita bicara di dalam Zara," bujuk Herdi sembari mengedarkan pandangan.
"Aku mau cerita sama om, aku mau bicara. Tapi nggak mau di sana!" ucap Zara pada akhirnya.
"Hah...." Hardi menghela nafas frustrrasi.
Beberapa saat suasana hening, cukup lama lantaran Zara kukuh menolak untuk masuk. Namun saat matahari mulai terbit, Herdi berinisiatif membawa Zara ke suatu tempat.
"Oke, kita pergi." Herdi mengambil langkah terlebih dulu dan memberi isyarat kepada Zara untuk mengikutinya.
"Ayo. Mobil Om dititip di garasi lapangan di sana," ujarnya sembari menunjuk ke ujung jalan tepat di hadapan mereka.
***
Sepanjang perjalanan, Zara terlihat gelisah. Ia gugup dan ketakutan. Sesekali ia tersentak menyadari bahwa ia lupa untuk bernafas saking dalamnya ia memikirkan cara untuk menjelaskan semua hal yang menimpanya pada sang Paman.
Sedangkan Herdi terlihat menekuk wajah seperti orang yang sedang menahan kesal. Tentu saja, mungkin ia lelah baru pulang bekerja setelah beberapa minggu tidak pulang ke rumah.
"Turun," titah Herdi setelah memarkirkan mobilnya di parkiran bawah tanah.
"I-ini bukan kantor Om?" tanya Zara tergagap saat melihat sekeliling.
"Om gak bisa ke sana. Kalo di kantor pasti banyak karyawan. Lagian kan Om lagi cuti, masa harus ke kantor lagi," ujarnya sembari mengangguk dengan senyuman.
Zara pun ikut mengangguk dengan bibir membulat tanda mengerti.
Zara mengedarkan pandangan sembari memeluk diri dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya terus menggenggam ponsel yang sejak tadi ia genggam.
"Sini, lewat sini," ajak Herdi.
Mereka berjalan menyusuri lorong lalu berhenti tepat di depan sebuah lift. Zara mengekori Herdi seperti seekor bebek ternak di tangan sang tuan. Begitu pintu lift terbuka, terlihat seorang petugas kebersihan pria keluar dari dalam lift, dengan menenteng alat pel. Pria itu pun tersenyum kepada Herdi.
"Ada yang ketinggalan Pak?" ujar pria itu namun hanya di balas anggukan kecil dengan senyuman tipis oleh Herdi.
Zara pun melirik pria itu lalu menunduk saat pria itu menatapnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Refleks Zara merapatkan ke dua kakinya lalu mundur ke belakang Herdi.
"Em, Om emang habis dari sini?" tanya Zara.
"Yah, Om sering meeting di sini sama klien." Herdi menjawabnya tanpa nada suara.
Menyadari sikap Herdi yang terlihat acuh, tiba-tiba Zara merasa asing. Kecanggungan pun mengisi ruang di dalam lift itu. Kurang lebih dua menit di dalam lift, terasa cukup lama bagi Zara, lantaran selama itu Herdi tak mengatakan sepatah kata pun.
"Apa yang harus kulakukan sekarang?" batin Zara resah, tiba-tiba saja keberaniannya meredup.