NovelToon NovelToon
DOPAMIN

DOPAMIN

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Key Kastara

TAMAT
DIJUAL SEBAGAI PELUNAS HUTANG.
SEKARANG DIA YANG MENENTUKAN HARGA NYAWA MEREKA.

Lima tahun lalu Zara diinjak harga dirinya oleh keluarga sendiri.
Hari ini, dia kembali sebagai Zevana Ardhani.
Bukan korban lagi. Tapi sang mafia wanita yang ditakuti di dunia korporat.

Misinya satu: BALAS DENDAM.

Sampai Arka muncul.
Putra dari guru Mafianya sendiri.
Polos. Tulus. Satu-satunya yang melihat Zevana sebagai manusia, bukan monster.

Antara nyawa, racun, dan cinta.
Zevana harus memilih: Menenggelamkan mereka semua dalam kebencian,
atau hancur karena satu-satunya pria yang bisa meluluhkan hatinya?

[MAFIA WANITA] [BALAS DENDAM] [DARK ROMANCE]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Key Kastara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kabur

Tin!

Sebuah mobil yang melintas refleks menekan klakson lantaran terkejut melihat Zara menghalangi jalannya. Sementara itu, Zara yang baru pertama kali lagi keluar rumah setelah sekian lama, gemetar setiap kali melihat kendaraan melintas di hadapannya. Seketika ia merasa suasana terasa riuh dan bising oleh kendaraan yang lalu lalang. Kepalanya seperti berputar hingga lonjakan diperutnya hampir keluar–reflek ia menutup mulutnya.

Glek!

Zara menelan salivanya, ia terlalu gugup untuk dunia luar, karena sudah lama terkurung layaknya tahanan di dalam penjara. Namun meski demikian, ia sudah bertekad untuk melawan rasa takutnya demi kehidupan yang layak.

"Bibi dan Reno pasti masih tidur. Semuanya aman," bisiknya pada diri sendiri, sembari menggigit kuku jarinya.

Dengan ragu, ia merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan recehan yang Susi lempar kemarin dan ia punguti dari lantai tanpa mempedulikan harga dirinya itu.

"Baik, anggap aja senilai dengan harga diriku," gumamnya sambil bangkit, mengabaikan harga dirinya yang diinjak seharga koin recehan di genggamannya.

Namun begitu ia hendak melangkah, tiba-tiba....

"Zara?"

Deg!

Seketika Zara mematung saat suara barito seorang pria menyebut namanya.

Tap! Tap! Tap!

Langkah itu mendekat, namun Zara masih bergeming seolah tak berniat sama sekali untuk mendongakkan wajah–menatap sang empunya suara.

"Zara?" ulangnya sembari menyentuh bahu Zara.

Plak!

Reflek Zara menepis tangan itu dengan kasar hingga orang itu terkejut.

"Ini Om, Zara. Kamu lagi apa di sini?" tanya pria itu yang ternyata dia adalah Hardi, suami Susi–orang yang memang hendak Zara temui.

"Zara! Kamu kenapa?" tanya Hardi dengan nada meninggi, lantaran Zara terlihat seperti orang yang limbung.

"O-om? Oh ... A-a-itu, maaf," gagap Zara sembari mengangkat wajah, menatap sang paman.

"Ya ampun. Kamu ngapain disini subuh-subuh gini?" tanya Hardi sembari mendongak, lalu mengedarkan pandangan. Nampak dengan jelas, langit masih gelap, dan suasana masih sepi.

Zara pun menyadari bahwa sejak tadi semua riuh kendaraan dan hiruk pikuk orang hanya bayangannya saja. Belum ada tanda-tanda kehidupan yang beraktivitas, selain satu dua kendaraan yang hanya lewat untuk berangkat kerja.

"Om ... anu ... itu, om...." gagap Zara masih sulit mengendalikan diri.

Mulutnya kelu, tubuhnya gemetar. Semua rencana yang sudah ia pikirkan sejak semalam, tiba-tiba menghilang begitu saja. Ia hanya bisa memelintir jarinya sendiri sebagai usaha untuk mencoba fokus, namun itu sia-sia.

Melihat Zara gelisah begitu, Hardi meraih bahunya lalu mengajaknya untuk masuk kembali, lewat pintu yang baru saja ia gunakan untuk keluar tadi. Menyadari hal itu, sontak Zara mundur dan melepaskan rangkulan Hardi.

"Nggak! Jangan ke sana! Aku gak mau ke sana!" tolaknya spontan.

"Ayo masuk, kita bicara di dalam Zara," bujuk Hardi sembari mengedarkan pandangan.

"Aku mau cerita sama om, aku mau bicara. Tapi nggak mau di sana!" ucap Zara pada akhirnya.

"Hah...." Hardi menghela nafas frustasi.

Beberapa saat suasana hening, cukup lama lantaran Zara kukuh menolak untuk masuk. Namun saat matahari mulai terbit, Hardi berinisiatif membawa Zara ke suatu tempat.

"Oke, kita pergi." Hardi mengambil langkah terlebih dulu dan memberi isyarat kepada Zara untuk mengikutinya.

"Ayo. Mobil Om dititip di garasi lapangan di sana," ujarnya sembari menunjuk ke ujung jalan tepat di hadapan mereka.

 

Sepanjang perjalanan, Zara terlihat gelisah. Ia gugup dan ketakutan. Sesekali ia tersentak menyadari bahwa ia lupa untuk bernafas saking dalamnya ia memikirkan cara untuk menjelaskan semua hal yang menimpanya pada sang Paman.

Sedangkan Hardi terlihat menekuk wajah seperti orang yang sedang menahan kesal. Tentu saja, mungkin ia lelah baru pulang bekerja setelah beberapa minggu tidak pulang ke rumah.

"Turun," titah Hardi setelah memarkirkan mobilnya di parkiran bawah tanah.

"I-ini bukan kantor Om?" tanya Zara tergagap saat melihat sekeliling.

"Om gak bisa ke sana. Kalo di kantor pasti banyak karyawan. Lagian kan Om lagi cuti, masa harus ke kantor lagi," ujarnya sembari mengangguk dengan senyuman.

Zara pun ikut mengangguk dengan bibir membulat tanda mengerti.

Zara mengedarkan pandangan sembari memeluk diri dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya terus menggenggam ponsel yang sejak tadi ia genggam.

"Sini, lewat sini," ajak Hardi.

Mereka berjalan menyusuri lorong lalu berhenti tepat di depan sebuah lift. Zara mengekori Hardi seperti seekor bebek ternak di tangan sang tuan. Begitu pintu lift terbuka, terlihat seorang petugas kebersihan pria keluar dari dalam lift, dengan menenteng alat pel. Pria itu pun tersenyum kepada Hardi.

"Ada yang ketinggalan Pak?" ujar pria itu namun hanya di balas anggukan kecil dengan senyuman tipis oleh Hardi.

Zara pun melirik pria itu lalu menunduk saat pria itu menatapnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Refleks Zara merapatkan kedua kakinya lalu mundur ke belakang Hardi.

"Em, Om emang habis dari sini?" tanya Zara.

"Yah, Om sering meeting di sini sama klien." Hardi menjawabnya tanpa nada suara.

Pintu lift tertutup perlahan, menyisakan ruang sempit yang tiba-tiba terasa menyesakkan dada Zara. Ia menekan punggungnya ke dinding dingin, matanya tak berani menatap sosok di sebelahnya.

"Kamu bilang mau bicara serius," ucap Hardi tiba-tiba memecah keheningan, suaranya kini datar tanpa kehangatan seperti biasanya. "Sekarang kita sudah di jalan. Katakan saja apa yang sebenarnya kamu inginkan. Uang? Atau kamu cuma ingin mencari perhatian?"

Tusukan kata itu membuat napas Zara tercekat. Ia menggeleng lemah, air mata mulai menggenang lagi. "Bukan... aku nggak minta uang. Aku cuma mau Om tahu... aku... Aku cuma takut, Om. Aku takut di rumah itu."

Hardi mendengus pelan, lalu membuang muka ke arah angka lantai yang berubah-ubah. "Takut apa? Kamu tinggal di rumah Om, segala kebutuhanmu Om yang tanggung. Apa yang perlu ditakutkan? Bibi merawatmu dengan susah payah, dan kamu mau menuduhnya macam-macam?"

Zara terdiam seribu bahasa. Kata-kata pembelaan yang sudah ia susun semalaman tiba-tiba terasa hampa. Ia sadar—sebelum ia sempat bercerita panjang lebar, keraguan itu sudah tertanam kuat di hati pamannya.

Menyadari sikap Hardi yang terlihat acuh, tiba-tiba Zara merasa asing. Kecanggungan pun mengisi ruang di dalam lift itu. Kurang lebih dua menit di dalam lift, terasa cukup lama bagi Zara, lantaran selama itu Hardi tak mengatakan sepatah kata pun.

"Apa yang harus kulakukan sekarang?" batin Zara resah, tiba-tiba saja keberaniannya meredup.

Kepalanya terasa penuh, suaranya seolah terikat di kerongkongan. Ia pun berinisiatif untuk menarik nafas, menenangkan diri sebelum kembali mengatur rencana di dalam pikirannya untuk menyampaikan kembali niatnya kepada Hardi.

***

Pojok Author

Hola pembaca tersayang! Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like dan komen di bawah ya~

Laffya~

💜✨

1
yah udah kelewat😄
udah pasti si Reno🤨
diam-diam beliau sedang mengasah pisau🤭
lampunya kristal tapi gak dikasih alas tidur sekalipun ...
mana gak dikasih makan lagi, hamdeuh ...
malaikat jatuh kali🤭
bilang aja takut 🤣
beliau sedang mengumpulkan amunisi buat membalas💪 btw Susi gede omong doang🤭
nyalang itu apa kak?
namanya juga ortu, pasti bela terus anaknya, mana anaknya pinter maen belakang lagi🤣
Mami kamu cuma mau ngelampiasin emosi no🤣
si Reno baik gak?
emang kerabat kalo ortunya udah gak ada ya suka gitu, apalagi kalo soal mau rebut warisan ...
beliau sedang menciptakan monster💪
sadis bangey ya si Susi ini🤨
emang sengaja mau menghakimi aja nih bu Susi🤨
puitis banget bahasanya🤭
aku mampir kak🤭
Huda Talitha
😭 Pembuka yang mengandung bawang
Huda Talitha
Keren kak , berasa lagi baca film barat genre2 aksi darkromance gereget gimana gitu. Seru pokoknya, rekomended, lanjutkan 🤩🥰🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!