NovelToon NovelToon
Saat Takdir Menautkan Hati

Saat Takdir Menautkan Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Rani Ramadhani

Sejak bangku taman kanak-kanak, sekolah dasar, menengah, hingga ruang kuliah, mereka selalu dipertemukan, seolah takdir tak ingin memisahkan langkah keduanya. Namun perbedaan watak dan sifat menjadikan mereka dua kutub yang selalu berlawanan, sering berselisih paham atas hal-hal kecil, dan saling memandang dengan dingin. Kini, dua jiwa yang dulu saling menjauh dan penuh pertikaian, terpaksa disatukan dalam satu ikatan pernikahan. Di atas janji yang tertulis di atas kertas, tersembunyi sebuah tanya besar: mungkinkah benci yang lama terjalin perlahan meleleh, berubah menjadi rasa cinta yang tumbuh diam-diam di tengah perbedaan dan perselisihan yang selama ini ada di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Makan Malam yang Canggung

Tujuh hari tujuh malam berlalu penuh kisah. Selama seminggu penuh itu, Vira benar-benar mengabdikan diri menjadi perawat pribadi yang setia, tegar, namun tak segan bersikap galak demi keselamatan pasiennya.

Buktinya? Saat ada telepon dari kantor yang menelepon menanyakan pekerjaan atau meminta berbicara langsung dengan Farzhan, Vira yang mengangkat telepon itu dengan nada ketus, tajam, dan sangat protektif.

"Halo? Iya ini rumah Pak Farzhan. Apa? Dia lagi istirahat! Dia sakit parah tau tidak! Demam tinggi, badan panas membara, sampai mengigau segala! Masa jadi rekan kerja tidak punya hati sih?! Orang lagi sekarat harus ikut campur urusan kantor segala! Tidak boleh! Dia tidak boleh mikir kerja dulu! Kalau ada apa-apa sama dia, kalian yang tanggung jawab penuh?!"

Dan di seberang sana, para staf dan bawahan yang biasanya gemetar ketakutan mendengar suara tegas dan dingin Farzhan, sekarang jadi lebih takut setengah mati sama Vira yang ternyata jauh lebih garang dan berapi-api.

"I-iya Nyonya... maaf Nyonya... kami mengerti sekali. Tolong sampaikan salam kami, semoga Pak Farzhan lekas pulih..."

Sementara itu, Farzhan yang mendengar semua itu dari balik selimut tebalnya, hanya bisa diam. Wajahnya yang pucat tersenyum sangat tipis, hampir tak terlihat. Ada rasa hangat yang menjalar pelan di dada dan ulu hatinya. Ternyata, istrinya itu bisa sangat galak, sangat membela, dan sangat menyayanginya saat ia sedang tak berdaya.

Selama seminggu itu pula, Vira menyimpan baik-baik sisi baru Farzhan yang jarang sekali orang lain lihat. Ia sangat gemas melihat pria yang biasanya sedingin es, kaku, keras kepala, dan menyeramkan itu, bisa berubah menjadi selembut kapas, selemah anak kecil, dan semanja kucing yang butuh perhatian.

Ia mengingat jelas Farzhan yang hanya mau disuapi untuk makan minum, Farzhan yang tidur hanya tenang jika punggungnya ditepuk-tepuk pelan, Farzhan yang terus-menerus memeluk perut Vira saat tidur karena mengeluh kedinginan, dan Farzhan yang saat mengigau tidak jelas dan lucu.

Wah... ternyata singa dingin itu kalau lagi sakit jadi bayi manis ya, batin Vira sambil tersenyum sendiri saat mengelap keringat dingin di dahi suaminya. Aku tidak menyangka, Di balik topeng kaku dan aturan ketat itu, ternyata dia juga punya sisi rapuh dan butuh sandaran gitu.

Perlahan, rasa kesal atau benci yang dulu sering muncul karena sifat Farzhan yang otoriter, berganti menjadi rasa perhatian, rasa ingin menjaga, dan rasa memiliki yang aneh namun terasa begitu nyaman.

 

Akhirnya, masa kritis pun berlalu. Demam Farzhan turun total. Tubuhnya yang tadinya panas membara kini kembali ke suhu normal. Wajahnya yang dulu pucat pasi dan lesu, kini perlahan kembali segar, meski belum berseri seperti biasanya.

Hari ini adalah hari pertama Farzhan benar-benar pulih dan boleh beraktivitas ringan. Ia sudah bisa berjalan tegak kembali, sudah bisa mandi sendiri, dan yang paling penting... ia sudah bisa turun ke ruang makan untuk makan malam bersama.

Suasana ruang makan malam itu terasa... sangat berbeda, berat, dan penuh ketegangan halus.

Meja makan panjang dan megah itu kini sudah mulai diisi oleh mereka berdua. Menu makan malam sudah tersaji rapi, tertata simetris sesuai selera Farzhan. Masakan Vira juga kali ini rasanya pas, matang sempurna, dan disiapkan dengan penuh perhatian khusus. Aroma masakan yang sedap menyebar ke seluruh ruangan, namun tak ada satu pun yang berniat memulai obrolan.

Farzhan duduk di kursi utamanya. Penampilannya sudah rapi, memakai baju rumah berwarna gelap yang nyaman dan sopan. Postur tubuhnya sudah tegap kembali, bahunya lebar dan tegas seperti biasa, namun ada hal yang berbeda: gerakannya lebih pelan, matanya tak setajam dulu, dan raut wajahnya... kembali dingin, tertutup, namun kali ini diselimuti rasa canggung yang sangat kentara. Ia menunduk sedikit, menatap piring di depannya tanpa ekspresi berlebih.

Vira duduk di seberangnya. Gadis itu juga diam, tangannya menggenggam sendok dengan agak kaku. Biasanya kalau makan malam, mulutnya tidak pernah diam. Entah itu mengeluh, menyindir, bertanya ini itu, atau sekadar berdebat soal rasa masakan. Tapi malam ini? Mulutnya rapat tertutup. Matanya sesekali melirik ke arah Farzhan, mengamati profil wajah yang kembali tegas itu lalu buru-buru menunduk memandang piringnya sendiri seolah di sana ada hal menarik.

Ada rasa malu yang menjalar ke seluruh tubuh Vira. Ia suka sekali melihat sisi lemah dan manja Farzhan kemarin-kemarin, sisi di mana pria itu bergantung penuh padanya. Tapi sekarang Farzhan sudah sembuh, sudah kembali jadi sosok yang kuat, dingin, dan berwibawa. Vira jadi merasa segan, ragu, dan tersipu malu karena sudah melihat "rahasia besar" bahwa suaminya yang menakutkan itu ternyata punya sisi yang sangat menggemaskan.

Suasana hening total. Hanya terdengar suara denting sendok dan garpu yang sesekali berbenturan pelan dengan piring keramik menciptakan bunyi nyaring yang terasa menggema di ruangan luas itu.

Farzhan mengambil nasi, memasukkan ke mulutnya, mengunyah pelan dengan wajah datar. Ia ingin sekali bicara. Ia ingin sekali mengucapkan dua kata yang sangat berat baginya 'Terima kasih'. Selama seminggu ini Vira merawatnya dengan sangat sabar, teliti, dan tulus. Tanpa kehadiran, ketekunan, dan kasih sayang Vira, mungkin ia masih terbaring lemah sendirian di kamar, atau malah kondisinya makin parah.

Tapi, gengsinya setinggi gunung dan rasa malunya seluas samudra.

Bagaimana cara untuk berterima kasih? batinnya gelisah, rahangnya bergerak mengunyah meski rasanya makanan itu terasa hambar. Padahal kemarin-kemarin aku begitu rewel, minta disuapin, minta ditemenin, minta ditepuk-tepuk punggung, sampai mengigau pun dia sudah mendengarnya. Bayangkan saja, aku yang biasanya membuat aturan ketat dan mengawasi dia, eh pas sakit malah manja dan menempel terus. Malu sekali rasanya.

Ia melirik sekilas ke arah Vira dari balik kelopak matanya yang tertutup setengah. Gadis itu makan dengan sangat sopan dan pelan, matanya fokus menunduk, anak rambutnya sedikit jatuh menutupi pipi.

"Vi..."

Farzhan akhirnya memberanikan diri membuka suara. Nadanya rendah, berat, dingin seperti biasa, namun sedikit serak dan terdengar ragu.

Vira langsung mengangkat wajah dengan cepat, matanya berbinar, senyum jahil langsung terbit di bibirnya.

"Iya? Kenapa? Masih pusing? Atau... mau minta disuapin lagi? Hihihi."

Vira tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana yang beku itu, tapi sadar dengan terlambat bahwa ia baru saja meledek suaminya yang gengsiannya setinggi langit.

Wajah Farzhan langsung memerah padam, tepat di atas tulang pipi yang putih bersih itu. Matanya membelalak sedikit, kembali berkilat tajam seperti biasanya.

"Sembarangan! Aku sudah sembuh total! Bisa makan sendiri dengan sangat baik!" serunya cepat, nadanya agak tinggi karena panik dan malu. Ia kembali menunduk, memainkan sendoknya dengan sedikit kasar.

"Aku cuma mau bilang. Hmmm... makanannya, rasanya pas."

"Oh..." Vira mengangguk pelan, senyumnya melebar jadi senyum tulus yang manis. "Kalau begitu terima kasih pujiannya. Aku masak pake bumbu yang pas kok! Bukan pake cinta atau apa lho ya!"

Vira langsung tergagap dan buru-buru menutup mulutnya sendiri. Malunya juga ikut meledak. Ya ampun, ngomong apa sih aku?!

Kembali hening. Canggung sekali. Rasanya udara di ruangan itu jadi berat, kental, dan hangat.

Farzhan menunduk dalam-dalam, menatapi butiran nasi di piringnya. Ia ingin sekali bilang, "Terima kasih sudah merawat aku dengan baik, kamu hebat," tapi kata-kata itu terus mentok di tenggorokan, tak sanggup meluncur keluar. Gengsi dan rasa malu itu menghalangi segalanya, meski hatinya berteriak ingin mengungkapkan rasa syukur sebesar dunia.

Vira pun diam saja. Ia sebenarnya senang sekali melihat Farzhan yang kaku, dingin, tapi malu-malu begini. Jauh lebih menarik dan 'manusiawi' daripada Farzhan yang galak, dingin, dan sok berkuasa. Vira jadi ingin terus menggoda, tapi ia tahu batasnya. Takut kalau nanti suaminya marah besar dan kembali menutup diri sepenuhnya.

"Zhan..." panggil Vira pelan, suaranya lembut sekali memecah keheningan.

Farzhan mengangkat kepala sedikit, matanya menatap lurus ke depan, tak berani bertatapan lama.

"Ya?"

"Kamu jangan sakit-sakit lagi ya," kata Vira tiba-tiba, matanya menatap lekat wajah suaminya, nadanya sangat tulus, lembut, dan sama sekali tak ada nada mengejek atau bercanda.

"Aku tidak tega melihat kamu sakit gitu. Capek sih iya, ngurusin kamu yang rewelnya minta ampun. Tapi, aku lebih takut kalau ada apa-apa sama kamu. Jangan sampai sakit lagi, ya."

Farzhan tersentak hebat mendengar kalimat itu. Ia mengangkat wajahnya perlahan, menatap mata Vira lekat-lekat. Mata itu teduh, jujur, dan penuh perhatian yang mendalam.

Jantung Farzhan berdegup kencang, jauh lebih kencang dibanding saat ia sedang sakit demam kemarin. Rasa malu itu perlahan bercampur dengan rasa hangat yang meletup-letup memenuhi dadanya, rasa yang sulit ia definisikan dengan logika dinginnya.

"Iya." jawab Farzhan pelan, nadanya berat namun rendah dan lembut. Matanya tak berani menatap lama, kembali menunduk memandang piringnya, tapi sudut bibirnya yang dingin perlahan terangkat sedikit, sangat tipis namun nyata.

"Terima kasih Vi. Terima kasih banyak untuk semuanya."

Hanya itu. Beberapa kata sederhana, diucapkan singkat, dingin, dan tertutup seperti biasanya. Namun Vira tahu, di balik kata-kata itu tersimpan rasa terima kasih dan penghargaan yang paling dalam dari sosok pria yang sulit mengungkapkan perasaannya.

Dan itu sudah cukup bagi Vira.

Mereka kembali melanjutkan makan malam itu dalam keheningan yang aneh namun nyaman. Tak ada pertengkaran, tak ada teriakan, tak ada aturan ketat yang diteriakkan. Hanya ada dua orang yang sedang belajar memahami perasaan masing-masing, sama-sama tersipu malu, dan menikmati momen canggung yang ternyata... terasa jauh lebih manis dan berharga daripada apapun.

1
Pich
kenapa ga di cium sekalian haeh🥱
Rocean: masih kicik🤣
total 1 replies
Sheer
asikkk ada yg cemburu🤣🤭
Sheer
boleh juga vira . diam diam 🤭
Rocean: diam diam menghanyutkan ya
total 1 replies
Sheer
demen bnget kalo cerita yang sangai gini.
Rosella
lucu bangets yaampun🤣
Pich
ihh gemas deh sama mereka🤭
Pich
dia pikir mau ngapain🤣
Rocean: 🤣🤣🤣🤣
entahlah
total 1 replies
Seai
🥴
Rosella
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!