Wan Chen tidak ingin menyelamatkan dunia.
Ia hanya ingin kaya.
Untungnya, saat berada di ambang kematian, ia memperoleh Sistem dengan kemampuan Duplikasi dan Penyimpanan Dimensional.
Dan di dunia yang kekurangan segalanya, tidak ada kemampuan yang lebih menakutkan dari itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 - Kematian Monster dan Loot Pertama
Tubuh gempal berbulu kaku itu ambruk sepenuhnya. Bobot matinya langsung mengunci lengan kanan Wan Chen di atas aspal yang hancur.
Darah menetes deras dari sela rahang yang tertusuk pisau. Mengalir lambat, hitam dan lengket seperti pelumas mesin basi. Cairan kotor itu perlahan merendam separuh sarung tangan taktisnya.
Napas Wan Chen terengah parah. Dadanya naik turun tidak beraturan, mencari pasokan oksigen di udara yang berbau karat.
'Selesai.'
Ia memejamkan mata sesaat. Tidak ada sorak sorai kemenangan. Tidak ada musik pahlawan yang turun dari langit. Terasa sepi yang bikin telinga berdenging.
Satu-satunya hal yang ia rasakan hanyalah rasa sakit. Berdenyut hebat di area rusuk kanannya, seolah ada pecahan kaca yang ditanam paksa ke dalam daging.
Berbaring pasrah sejenak, ia membiarkan detak jantungnya stabil lebih dulu.
Tangan kirinya kemudian terangkat perlahan. Mendorong kasar moncong hewan itu agar menyingkir dari lengannya. Otot bahunya bergetar hebat menahan beban.
Makhluk buas ini beratnya tidak masuk akal. Mungkin tiga kali lipat ukuran anjing normal sebelum masa radiasi menghancurkan segalanya.
Menyeret punggungnya menjauh, ia bangkit secara bertahap. Duduk merosot di atas tanah yang dipenuhi pecahan beton tajam.
Wan Chen menatap lurus pada bangkai cacat itu. Pandangannya kosong, murni datar tanpa emosi berlebih.
"Mati sungguhan rupanya," gumamnya dengan nada tanpa minat. Suaranya serak, kering kerontang.
Mengulurkan tangan kanan yang gemetar, ia menggenggam kuat pangkal gagang pisau patahnya. Baja itu menancap tembus di rongga mulut bagian atas monster tersebut.
Tarikannya yang pertama meleset. Tangannya terlalu licin oleh darah.
"Menyusahkan," decaknya pelan.
Ia membungkus gagang itu dengan ujung lengan jaketnya, lalu menariknya paksa dengan satu sentakan keras. Terdengar bunyi retakan basah yang memuakkan. Baja berkarat itu akhirnya lolos dari jepitan tulang tengkorak.
Cairan pekat bercampur jaringan otak muncrat sedikit. Mengotori ujung sepatu botnya yang sudah usang.
Anjing itu tetap diam. Benar-benar kaku. Ancaman maut itu telah sepenuhnya lenyap dari hadapannya.
Mengelap sisa noda menjijikkan di ujung bilah pisaunya, Wan Chen mengesekkan senjata itu ke celana kargonya sendiri. Pinggangnya berdenyut nyeri luar biasa tiap kali ia bergeser. Pendarahan di perutnya belum sepenuhnya berhenti, tapi setidaknya tidak lagi menyembur deras.
'Kalau tidak ada barang bagus di bangkai ini, pertaruhan nyawa barusan cuma jadi lelucon,' batinnya sinis.
Matanya langsung menyapu lekuk tubuh makhluk buas di depannya. Menilai secara pragmatis layaknya seorang tukang jagal miskin di pasar gelap.
Menggeser lututnya lebih dekat, pisau rongsokan tadi kembali ia genggam erat. Kali ini bukan sebagai penantang maut, melainkan murni sebagai pisau bedah tukang daging.
"Kulitnya robek parah," ucap Wan Chen mengevaluasi. Jari telunjuknya meraba area punggung hewan itu. "Dagingnya penuh benjolan tumor. Sama sekali tidak laku dijual."
Tanpa membuang sisa napasnya lagi, ia menancapkan ujung bilah langsung ke bagian dada tengah monster itu. Otot hewannya sangat tebal dan alot. Penuh urat biru menonjol yang sudah kehilangan denyutnya.
Menggergaji daging keras itu, ia mengerahkan sisa tenaganya secara kasar. Mengabaikan prosedur rapi atau kebersihan medis.
Bau busuk dari lambung yang bocor langsung menguap ke udara. Menyengat keras rongga hidungnya.
Wan Chen bahkan tidak repot-repot menutup hidung atau memalingkan wajah. Perutnya sendiri sedang melilit perih menahan lapar dua hari. Kepekaan indrawinya sudah lama tumpul oleh insting dasar bertahan hidup.
"Pasti ada di sekitar sini. Harusnya ada."
Tangannya terus membedah tulang dada monster itu. Membuka paksa celah rusuknya hingga menganga lebar.
Darah kotor kembali membasahi kedua lengannya. Merambat pelan sampai ke siku. Terasa sangat licin dan hangat di tengah hembusan udara malam yang mulai menggigit tulang.
Merogoh masuk ke sela-sela organ yang berantakan, tangan kirinya mengaduk-aduk usus buntu dan bilik jantung yang hancur berkeping-keping.
Jari-jarinya akhirnya bersentuhan dengan sebuah anomali. Teksturnya padat merayap. Jauh berbeda dengan jaringan daging lunak atau gumpalan tulang rawan di sekitarnya.
Berada tepat di dekat sumsum tulang belakang. Ukurannya kira-kira sekepalan tangan balita.
Mencengkeram benda itu sekuat tenaga, ia menariknya paksa. Membelah putus jaringan otot liat yang masih bersikeras menempel.
Bunyi serabut urat yang putus terdengar singkat. Benda itu lepas sepenuhnya.
Sebuah kristal seukuran kelereng berukuran ekstra kini tergeletak pasif di telapak tangannya. Warnanya abu-abu keruh. Seluruh permukaannya dilumuri cairan pekat kemerahan.
Mengusap kristal kotor itu dengan ujung ibu jarinya, ia membersihkan sebagian permukaannya secara asal-asalan.
Seketika, sebuah pendar redup perlahan muncul dari pusat batu. Memancarkan cahaya abu-abu tipis yang konstan dan stabil.
'Core Tingkat Satu,' nilainya dalam hati.
Garis bibirnya menegang sebentar. Ia tidak tersenyum puas. Hanya menghela napas panjang sebagai tanda kelegaan pragmatis seorang penyintas.
Di tatanan dunia yang sudah kacau balau ini, benda sekecil itu adalah poros rotasi segalanya.
Core bukan sekadar sisa organ mutasi. Itu adalah pondasi utama pembentuk energi dasar. Dan karena fungsinya yang absolut mutlak, batu bercahaya ini berevolusi paksa menjadi mata uang tunggal yang diakui oleh semua faksi.
Satu butir kecil ini memiliki daya beli yang logis. Setara dengan dua porsi makanan sintetik kemasan atau setengah botol air bersih penyaring radiasi di distrik kumuh.
"Kerja keras yang sepadan, kurasa," Wan Chen bergumam pada dinding beton di sebelahnya. "Setidaknya besok pagi aku bisa beli perban dan sepotong roti keras."
Menimang kristal itu sejenak, ia merasakan padatnya bobot benda itu. Telapak tangannya gemetar pelan akibat kelelahan otot dan kehilangan sel darah merah.
Barang ini terlalu berharga untuk sekadar dimasukkan ke dalam saku celana kargo yang jahitannya sudah lepas. Sangat berisiko jatuh atau dicopet pemulung jalanan saat ia pingsan nanti.
'Inventaris.'
Tanpa jeda sepersekian detik, kristal abu-abu itu lenyap dari tangannya. Tersedot tanpa jejak ke ruang dimensi hampa di balik layar antarmuka sistemnya.
Menyandarkan punggungnya kembali ke puing beton penyangga, tubuh Wan Chen merosot beberapa sentimeter. Adrenalin liar yang sejak tadi memompa pembuluh darahnya mulai menguap habis.
Kelelahan fisik kini menghantamnya telak layaknya pukulan palu godam.
Terpaku pada udara kosong di depannya, matanya menatap antarmuka sistem. Layar semi-transparan itu kembali memproyeksikan deretan ikon monokrom tepat di depan wajahnya.
Notifikasi pendarahan level kritis masih berkedip monoton di pojok kiri atas penglihatannya.
Ia memilih abai. Lampu peringatan merah itu bukan prioritas utamanya sekarang. Selama paru-parunya masih bisa memompa udara kotor ini, urusan luka bisa mengantre di belakang.
Fokus utamanya kini turun ke arah daftar kotak inventaris yang tertata rapi. Sebuah ikon batu abu-abu kecil kini bertengger manis di slot urutan pertama.
Angka jumlah di sudut bawah ikon itu tertera sangat jelas: satu.
Menyipitkan matanya yang terasa seberat timah, ia memusatkan kesadarannya pada deretan menu sistem lain. Menu yang sejak awal kemunculannya terus mengusik akal sehatnya.
'Sistem sialan ini menawarkan kemudahan yang terlalu instan,' pikirnya skeptis. Kewaspadaan khas penghuni jalanan mendominasi isi kepalanya. 'Tapi kemudahan tanpa logika di era seperti ini biasanya selalu menyembunyikan lubang jebakan.'
Meski begitu, ia tahu betul posisinya. Ia tidak punya privilese untuk merasa takut atau terlalu berhati-hati. Ketakutan berlebih itu cuma milik kaum elite yang masih punya kasur empuk untuk tidur malam ini.
Menggeser panel menu melalui kendali benaknya, ia melewati barisan angka statistik fisiknya yang babak belur.
Tatapannya berhenti pada satu tab khusus. Panel yang belum pernah berani ia sentuh sama sekali karena sebelumnya tidak memiliki bahan mentah untuk dijadikan kelinci percobaan.
Sebuah baris teks kaku menyala di tengah antarmukanya. Sangat jelas dan provokatif.
[Fungsi Sistem: Duplikasi]
Wan Chen menatap lekat-lekat pada tulisan tersebut. Otaknya memproses lambat segala kemungkinan fatal yang bisa terjadi jika fungsi manipulasi ruang dan materi ini berakhir gagal.
Namun, di sisi lain kepalanya yang realistis, godaannya terlalu besar. Jika fitur tidak masuk akal ini benar-benar bekerja sesuai namanya, ia tidak perlu lagi mempertaruhkan lehernya digigit anjing mutan hanya demi menenggak air bersih esok hari.
"Mari kita lihat seberapa jauh lelucon ini bekerja," bisik Wan Chen pelan.
Suaranya parau, nyaris tenggelam sepenuhnya oleh deru angin malam yang membawa pasir tajam.
Menetapkan target penguncian pada ikon Core Tingkat Satu di inventarisnya, tangannya yang penuh noda darah perlahan terangkat ke udara. Ia memilih opsi itu di kepalanya. Bersiap mengaktifkan manipulasi sistem secara penuh.
"Ayo kita uji," gumamnya, tersenyum sinis dengan sudut bibir yang berdarah. "Seberapa parah sistem ini bekerja."