Menjadi janda muda di usia 27 tahun sekaligus Bu RT membuat Jasmine kenyang digosipkan miring oleh warga kompleks, namun ia tidak pernah menyangka bahwa tantangan terbesarnya bukan berasal dari bibir nyinyir ibu-ibu PKK, melainkan dari Aldi—berondong kuliahan nakal sekaligus Ketua Karang Taruna baru yang nekat melempar pesona demi bisa masuk ke dalam hidupnya. Di tengah benturan masa lalu Jasmine yang kelam sebagai single mom dan penolakan keras dari orang tua Aldi, sebuah kepasrahan di malam yang sepi justru menjebak keduanya dalam ketegangan yang tak semestinya terjadi, menyisakan satu pertanyaan besar: mampukah Aldi mengubah obsesi liarnya menjadi sebuah pernikahan nyata, ataukah hubungan terlarang ini justru akan hancur menjadi skandal terbesar di RT 04?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: PERINTAH BUNDA
Sinar matahari pagi mulai menembus celah-celah pohon mangga di halaman rumah Aldi. Jam digital di layar HP menunjukkan pukul enam tepat ketika Aldi selesai mengetik pesan siaran di grup WhatsApp Karang Taruna RT 04.
Aldi Wijaya: Pemberitahuan buat semua anggota Karang Taruna. Pagi ini jam 08.00 WIB kumpul di pos ronda, kita ada agenda kerja bakti komplek buat bersihin lahan fasum sama saluran irigasi. Lanjut nanti siang jam 14.00 WIB wajib kumpul di balai desa buat rapat koordinasi acara 17 Agustusan bareng pemuda gang sebelah. Gak ada alasan telat, ini perintah langsung dari Pak RW dan Pak Lurah. Tolong direspon.
Begitu tombol kirim ditekan, Aldi mengembuskan napas panjang. Ia menoleh ke arah ruang tamu, namun kondisi kasur lantai di bawah sudah kosong melompong. Seprai berantakan dan bantal-bantal terlempar tak beraturan.
"Al, gue sama Sendy balik dulu ya. Mau balik ke rumah bentar, laper banget mau nyari sarapan. Ntar jam tuju-an kita ke rumah lu lagi sebelum berangkat kerja bakti," Ucap Kenan.
Aldi hanya mendengus pelan sambil menggelengkan kepala. Baru saja ia hendak melangkah menuju kamar mandi untuk membasuh muka, langkahnya terhenti oleh suara dentingan spatula yang beradu dengan wajan dari arah dapur. Bu Baren keluar dari balik sekat ruangan dengan mengenakan celemek kain motif bunga-bunga, tangannya cekatan membawa satu baskom besar berisi nasi goreng kampung yang asapnya masih mengepul wangi, lengkap dengan telur dadar suwir dan kerupuk udang di atasnya.
Bu Baren mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruang tengah yang sepi. Dahinya langsung berkerut dalam, memancarkan aura ketidakpuasan yang sangat pekat.
"Loh? Bocah-bocah ke mana kok ilang, Mas? Kok kamu sendirian? Ini Bunda sudah masak banyak banget loh, sengaja buat sarapan kalian bertiga sebelum kerja bakti," tanya Bu Baren dengan nada kecewa yang kentara sekali.
Aldi yang sedang menggaruk lehernya yang tidak gatal langsung menyahut santai, "Lah... udah balik, Bun, monyet-monyetnya Aldi. Katanya mau mandi sama ganti baju dulu di rumah masing-masing, ntar ke sini lagi."
Mendengar jawaban dari anak sulungnya, wajah Bu Baren seketika manyun. Wanita paruh baya itu meletakkan baskom nasi goreng ke atas meja makan dengan hentakan yang agak keras, membuat sendok di dalamnya bergemerincing.
"Gak mau tahu! Susulin mereka cepet, suruh makan di rumah! Hiss... kamu itu gimana toh, temennya mau pulang kok gak ditahan, dibilangin Bunda lagi masak banyak juga!" omel Bu Baren, matanya melotot memberi titah mutlak yang tidak bisa diganggu gugat. Bagi Bu Baren, membiarkan tamu—apalagi teman dekat anaknya—pulang dengan perut kosong adalah sebuah pantangan besar.
Aldi yang melihat ibunya sudah mengeluarkan mode iblis langsung pasang posisi siap gerak. Ia tahu betul, kalau perintah Ibunya tidak dilaksanakan dalam hitungan detik, taruhannya adalah uang jajan mingguannya terancam dipotong sepihak. "Eh—iya, Bun, iya! Ini Aldi susulin sekarang! Jangan marah-marah dulu dong, ntar nasi gorengnya jadi pait!"
Tanpa sempat memakai sandal yang benar, Aldi langsung ngacir berlari menuju pintu depan dengan setengah panik. Di sudut ruang tengah, Mikha yang baru saja keluar dari kamar sambil memegang segelas susu hangat langsung ngakak terpingkal-pingkal melihat abangnya yang bertubuh bongsor itu lari tunggang-langgang seperti dikejar penagih utang akibat omelan ibunya.
"Hahaha! Sukurin lu, Kak! Rasain tuh kena semprot Bunda pagi-pagi! Makanya punya temen tuh dikandangin yang bener!" ledek Mikha puas, tawanya menggema memenuhi ruangan, sengaja memanaskan suasana hati abangnya.
"Diem lu, Bocil! Awas lu ya ntar!" teriak Aldi sambil terus berlari keluar rumah.
Di halaman depan, suasana pagi terasa lebih tenang. Pak Dadang, ayahnya Aldi, sedang berdiri santai di dekat pohon mangga sambil memegang selang kecil, asyik memandikan burung perkutut peliharaannya yang digantung di dalam sangkar kayu jati. Pak Dadang yang sedang bersiul-siul kecil mendadak tersentak kaget ketika melihat anak lakinya melesat keluar dari pintu rumah seperti peluru kendali.
"Loh... mau ke mana lagi kamu, Mas? Pagi-pagi kok sudah lari maraton begitu, gak pakai sandal yang bener lagi!" tegur Pak Dadang heran, menatap kaki Aldi yang sebelah kanan memakai sandal jepit hijau dan sebelah kiri memakai sandal selop hitam milik ibunya.
"Nyusulin Sendy sama Kenan, Yah! Disuruh balik lagi sama Bunda, disuruh makan di rumah!" jawab Aldi setengah berteriak tanpa menghentikan langkah kakinya. Ia langsung lanjut ngacir lari keluar dari pagar halaman, membelah jalanan gang yang mulai diterangi cahaya matahari pagi.
Untung saja, Kenan dan Sendy jalannya lambat seperti siput karena memang masih dilanda rasa kantuk sisa begadang semalam. Jarak mereka baru sekitar seratus meter dari ujung gang rumah Aldi, tepat di dekat persimpangan jalan yang menuju ke arah rumah mereka masing-masing.
Melihat punggung kedua sahabatnya dari kejauhan, Aldi yang napasnya sudah senin-kamis langsung mengumpulkan sisa-sisa tenaga di tenggorokannya untuk berteriak sekencang mungkin.
"Woy! Kunyuk! Tolongin gue woy! Berhenti dulu lu pada!" teriak Aldi lantang, suaranya memecah kesunyian pagi komplek RT 04 hingga membuat beberapa ekor ayam milik tetangga spontan berkokok saling bersahutan.
Mendengar teriakan histeris bernada frustrasi dari arah belakang, Kenan dan Sendy langsung menghentikan langkah kaki mereka serempak. Mereka membalikkan badan dengan cepat. Begitu melihat Aldi berlari kencang ke arah mereka dengan wajah merah padam, napas ngos-ngosan, dan setelan sandal yang selang-seling, kepanikan langsung melanda pikiran kedua cowok itu. Mereka mengira telah terjadi sesuatu yang buruk di rumah Aldi, entah itu kebakaran, kemalingan, atau Pak Dadang mendadak ngamuk besar.
"Eh, eh, kenapa tuh si Aldi? Kok mukanya panik banget begitu?" tanya Sendy ikut panik, langsung membuang puntung rokoknya yang baru dinyalakan.
Tanpa pikir panjang, rasa khawatir yang besar membuat Kenan dan Sendy langsung berlari balik nyamperin Aldi demi memberikan pertolongan pertama. Mereka bertemu di tengah-tengah jalanan aspal gang yang sepi.
"Hoy Bedul! Lu kenapa woy kenapa?! Ada masalah apa di rumah?! Bapak lu ngamuk ya?!" tanya Kenan panik setengah mati sambil memegang kedua pundak Aldi, mengguncang-guncangnya dengan keras.
Bagi anak-anak tongkrongan komplek, mereka memang kadang memanggil Aldi dengan nama aslinya, tapi kalau suasana sudah panik atau sedang bercanda kelewat batas, panggilan akrabnya berubah menjadi 'Bedul'. Entah dari mana asal-usul sejarahnya sampai Aldi bisa dipanggil Bedul oleh monyet-monyet kesayangan nabi itu, yang jelas nama panggilan itu sudah melekat sejak zaman mereka masih sering main kelereng di tanah kosong bersama.
Aldi membungkuk dalam-dalam, memegangi kedua lututnya demi mengatur pasokan oksigen yang sempat hilang dari paru-parunya akibat lari maraton dadakan. Wajahnya terlihat sangat sengsara.
"Kenapa, Dul?! Ngomong dong, jangan bikin kita berdua jantungan pagi-pagi!" desak Sendy ikut cemas, matanya celingukan melihat ke arah gang rumah Aldi, takut ada warga yang mengejar mereka.
Setelah berhasil menarik napas dalam-dalam, Aldi akhirnya mendongak dengan tatapan mata pasrah. "Lu berdua... disuruh balik lagi sekarang sama Bunda... disuruh makan di rumah."
Suasana jalanan gang mendadak hening selama tiga detik. Hanya terdengar suara embusan angin pagi dan kicauan burung di atas pohon.
Kenan dan Sendy langsung melongo dengan mulut sedikit terbuka. Ketakutan dan kepanikan yang sempat membuat adrenalin mereka memuncak seketika runtuh dan menguap begitu saja ke udara, berganti dengan rasa jengkel yang luar biasa.
"Heuhhhh!!! Bikin panik aja lu, Dul! Sumpah ya, gue kirain lu kenapa-napa tadi sampai lari kesetanan begitu!" seru Sendy dengan nada super kesal. Tanpa ampun, ia langsung mengeplak punggung Aldi dengan telapak tangannya yang lebar hingga menimbulkan suara plak yang cukup nyaring.
"Aduh! Sakit, Nyuk! Gak usah pakai KDRT dong!" protes Aldi sambil mengusap punggungnya yang mendadak panas.
"Lagian lu kelakuan ada-ada aja! Bilang dari awal kek lewat WA, gak usah pakai teriak 'tolong gue' segala! Jantung gue berasa mau pindah ke ginjal tahu gak!" omel Kenan ikut dongkol, meski di dalam hati ada rasa lega yang teramat sangat karena sahabatnya tidak mengalami musibah apa pun.
Namun, begitu kata 'makanan' dan 'Bunda' kembali dicerna oleh sirkuit otak mereka yang sedang kelaparan, ekspresi wajah Sendy dan Kenan mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Mata mereka berdua yang tadinya sipit karena ngantuk langsung berbinar-binar terang, memancarkan aura keserakahan tingkat tinggi.
"Bentar... tadi lu bilang Bunda masak banyak, Dul? Masak apaan emangnya?" tanya Sendy, air liurnya seolah sudah siap menetes, mengabaikan rasa kesalnya yang baru berumur semenit lalu.
"Nasi goreng kampung sepanci gede, pakai telur dadar suwir sama kerupuk udang segentong. Tadinya mau buat sarapan kita bertiga, tapi lu berdua malah main kabur aja. Nyokap gue langsung manyun, makanya gue diancam suruh nyeret lu berdua balik," jelas Aldi jujur.
"Waduh! Nasi goreng kampung buatan Tante Baren mah gak ada tandingannya di seluruh jagat raya RT 04!" seru Kenan langsung gerak cepat memutar arah tubuhnya. "Yaudah, tunggu apa lagi? Ayo buruan balik ke rumah lu, Dul! Kasihan Tante Baren kalau makanannya gak dihabisin, pamali katanya!"
"Nah bener! Jiwa sosial dan kemanusiaan gue mendadak terpanggil kalau urusan menghabiskan makanan gratis," timpal Sendy ikut gercep melangkah lebar-lebar mendahului Aldi, melupakan niat awalnya yang mau pulang ke rumah untuk mandi.
Aldi yang melihat kelakuan dua kunyuk di depannya hanya bisa menghela napas panjang sambil berjalan menyusul dari belakang. Sandalnya yang selang-seling sebelah hijau dan sebelah hitam membuat jalannya agak pincang dan berbunyi aneh di atas aspal, namun ia tidak peduli lagi.
Bagi keluarga Aldi, terutama Bu Baren, keberadaan Kenan dan Sendy memang sudah bukan dianggap sebagai sekadar teman main anak sulungnya lagi. Sejak zaman sekolah dulu, kedua cowok gesrek itu sudah sangat sering menumpang makan, tidur, bahkan ikut membantu membersihkan rumah kalau ada acara syukuran. Ketulusan dan kesetiaan mereka dalam menemani Aldi dalam suka maupun duka membuat Bu Baren sudah menganggap mereka seperti anak kandungnya sendiri. Itulah alasan kenapa Bu Baren bisa sesayang dan se-protektif itu, bahkan sampai ngamuk hanya karena tahu mereka berdua mau pulang dalam keadaan perut kosong pagi ini.
"Ayo cepetan jalannya, Dul! Lambat bener lu kayak janda lagi dasteran!" teriak Sendy dari depan, sengaja memancing emosi Aldi demi menyambut petualangan kerja bakti mereka yang pastinya akan sangat ramai beberapa jam lagi.