NovelToon NovelToon
Beyond The Contract

Beyond The Contract

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Agatha soul

Akibat jebakan obat di malam perjamuan, Aruna berakhir di ranjang bos besarnya yang dingin, Adrian. Namun, sebuah garis dua di testpack mengubah segalanya. Batasan profesional di atas kertas itu perlahan runtuh saat seorang anak kecil—buah cinta kandung dari malam penuh skandal itu—hadir di antara mereka, memaksa hubungan ini berjalan jauh melampaui batasnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

POV ARUNA

Beberapa hari setelah malam yang sangat melelahkan di depan minimarket itu, hidupku di kantor mendadak terasa jauh lebih tenang. Setelah badai emosi karena resmi memutuskan hubungan dengan Raka, ditambah bonus diantarkan pulang oleh Pak Adrian, hari-hari berikutnya berjalan di luar dugaanku.

Sangat menyenangkan. Entah angin apa yang bertiup di lantai atas gedung kantor, Pak Adrian tidak lagi menyebalkan seperti biasanya. Setiap kali aku mengantarkan berkas rekapitulasi data ke ruangannya, dia hanya menerima dokumen itu dengan sikap tenang, memeriksa sekilas, lalu membiarkanku pergi tanpa ada sindiran atau tugas tambahan yang aneh-aneh. Aku benar-benar diberi ruang untuk bernapas.

Siang ini, rutinitas favorit kami kembali berjalan. Aku, Fika, dan Mbak Dian duduk bertiga di sudut kantin, sedang menikmati semangkuk mi ayam hangat yang kuah kaldunya gurih.

Mbak Dian yang baru saja mengelap mulutnya dengan tisu, tiba-tiba menatapku dengan pandangan selidik.

"Aruna," panggil Mbak Dian, membuat sumpit mi ayamku terhenti di udara. "Gue perhatiin beberapa hari ini lo kok adem ayem banget ya? Nggak pernah lagi denger lo ngeluh atau ngedumel tentang Pak Adrian, tuh. Gak kayak minggu kemaren, tiap balik dari lantai atas muka lo udah kayak keset diperas."

Fika ikut mengangguk setuju, mulutnya masih penuh mengunyah bakso. "Iya bener, Mbak. Gue juga merasa ada yang aneh. Biasanya kan lo paling semangat ngatain Si Bos Sableng itu."

Aku langsung merasa deg-degan. Tentu saja aku tidak mungkin cerita ke mereka kalau malam pas aku menangis habis mutusin Raka, Pak Adrian mendatangiku di minimarket, memberi susu pisang, bahkan mengantarku pulang sampai ke depan gang rumah. Bisa heboh satu kantor kalau hal itu sampai bocor.

Untuk menyembunyikan rahasia itu, aku cepat-cepat memasang wajah biasa saja dan kembali mengunyah mi ayamku.

"Ah enggak kok, Mbak, Fik. Nggak ada yang aneh," kilahku sambil tersenyum kaku. "Si bos sableng itu lagi sibuk sama kerjaannya aja beberapa hari ini. Makanya dia gak ada waktu buat nyari kesalahan aku lagi. Bagus kan kalau dia sibuk? hidup aku jadi tenang…"

Mbak Dian hanya manggut-manggut menerima alasanku, sementara aku menghembuskan napas lega dalam hati karena berhasil membuat mereka percaya.

Ketenangan hidupku di kantor ternyata hanya bertahan sampai hari Kamis.

Pagi-pagi sekali, sebuah panggilan dari bagian personalia sukses membuat dahiku berkerut heran. Langkah kakiku membawaku masuk ke ruangan HRD dengan perasaan duga-duga yang tak menentu. Begitu aku duduk, sebuah map putih diletakkan di atas meja.

"Ini surat resmi pemindahan penugasan dan kenaikan jabatan untuk kamu, Aruna," ujar staf HRD tersebut sambil tersenyum ramah.

Aku membuka map itu dengan tangan agak gemetar. Begitu mataku membaca baris demi baris kalimat di dalamnya, aku melotot sempurna. Jantungku rasanya mau copot.

"Sekretaris... sekaligus asisten pribadi Pak Adrian?" cicitku, hampir kehilangan suara. "Bu, ini gak salah nama? Aku baru sebulan kerja di sini. Kenapa tiba-tiba aku yang dipindahkan?"

"Suratnya sudah ditandatangani oleh direksi, jadi tidak ada yang salah nama, Aruna."

"Tapi, Bu, yang lain kan masih banyak senior yang kerjanya jauh lebih lama dan berpengalaman dari saya," protesku, mencoba bernegosiasi karena mendadak dilingkupi rasa ngeri. Membayangkan harus berhadapan dengan Bos Sableng itu setiap jam dan setiap hari adalah definisi nyata dari mimpi buruk. "Kenapa gak tawarkan ke mereka saja?"

Staf HRD itu menggelengkan kepala pelan. "Gak bisa, Aruna. Ini bukan kebijakan umum dari kami, dan Pak Adrian sendiri yang menunjuk kamu secara langsung. Kami hanya memproses administrasinya saja."

Jawaban itu telak menutup semua ruang debat. Aku keluar dari ruangan HRD dengan langkah mengentak kesal. Sumpah, rasanya aku ingin mendatangi lantai atas saat ini juga dan melemparkan map ini ke wajah tampan bos menyebalkan itu. Ternyata, ketenanganku beberapa hari ini adalah jebakan! Dia sengaja diam hanya untuk menyiapkan bom waktu ini.

Aku kembali ke kubikelku dengan wajah ditekuk sedalam-dalamnya. Aku menghempaskan tubuh ke kursi kerja dengan kasar, membuat Fika yang sedang mengetik langsung menoleh kaget.

"Kenapa lo, Runa? Pagi-pagi mukanya udah ditekuk kusut begitu kayak cucian belum disetrika?" tanya Fika heran melihat aura gelap yang menguar dari tubuhku.

Tanpa suara, aku melempar map putih tadi ke atas meja Fika. "Lihat aja sendiri."

Fika membuka map itu dengan malas, namun sedetik kemudian mata sahabatku itu melebar bulat. "Hah?! Demi apa?! Lo dipindahin jadi sekretaris Pak Adrian?!"

Mbak Dian yang baru saja kembali dari pantri sambil membawa segelas air hangat langsung memasang telinga lebar-lebar. Jiwa gosipnya mendadak meronta. "Ada apa nih? Siapa yang pindah?" tanya Mbak Dian kepo, langsung ikut nimbrung dan merebut kertas itu dari tangan Fika.

"Astaga, Aruna!" Mbak Dian ikut memekik tertahan setelah membaca isinya. "Ini serius? Lo baru sebulan di sini, kok bisa langsung lompat jabatan yang gak main-main begini? Ini posisi dambaan sejuta umat di gedung ini tahu, meskipun bosnya agak aneh."

"Gue gak mau, Mbak, Fik! Gue diculik paksa ini namanya!" bisikku frustrasi, menjambak rambutku sendiri dengan kesal.

"Tapi aneh banget. Kok bisa Pak Adrian langsung milih lo? Jangan-jangan lo ada main belakang ya?" selidik Fika dengan tatapan penuh curiga.

Kami tidak bisa melanjutkan obrolan seru itu lebih lama lagi. Pintu lift di dekat divisi kami mendadak berdenting terbuka, dan sosok Pak Danu, kepala divisi kami yang terkenal galak, melangkah keluar dengan dahi berkerut menatap ke arah kubikel kami.

Seketika, kami bertiga langsung membubarkan diri dan pura-pura sibuk menatap layar monitor masing-masing, menelan bulat-bulat semua rasa penasaran yang masih menggantung di udara.

Aku menahan napas, bersiap menerima omelan. Namun, bukannya bentakan yang kudengar, Pak Danu justru menghela napas panjang dan menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Aruna," panggil Pak Danu, suaranya terdengar lebih pelan dari biasanya, membuat Fika dan Mbak Dian diam-diam mencuri pandang lewat sekat kubikel. "Saya sudah terima informasi dari HRD. Hari ini adalah hari terakhir kamu bekerja di divisi ini. Jadi, setelah semua pekerjaan hari ini selesai, langsung bereskan barang-barang kamu, ya. Pindah ke lantai atas, ke ruangan Pak Adrian," lanjut Pak Danu tegas, seolah tidak mau dibantah. "Mengerti, Aruna?"

"I-iya, mengerti, Pak," jawabku terbata-bata.

Satu jam kemudian, aku harus naik ke lantai atas untuk meminta tanda tangan berkas anggaran terakhir ke ruangan Adrian. Ini kesempatan bagus. Aku tidak bisa diam saja menerima keputusan sepihak ini. Persetan dengan jabatan bos besar, aku harus protes!

Tok! Tok!

"Masuk," terdengar suara berat dan berwibawa dari dalam.

Aku membuka pintu kayu tebal itu dan melangkah masuk. Adrian sedang duduk di balik meja kerjanya yang luas, fokus menatap layar laptop dengan kacamata bertengger di hidungnya. Sial, wajahnya yang sok ganteng dan menyebalkan itu membuat darahku makin mendidih.

Aku berjalan mendekat, meletakkan dokumen di mejanya agak keras. Plak.

Adrian mengangkat wajahnya, menatap dokumen itu, lalu beralih menatapku dengan alis sebelah terangkat. "Ada apa, Aruna? Sopan santun kamu ke mana?"

"Maaf, Pak. Tapi saya mau protes," ujarku blak-blakan, tidak peduli lagi pada tata krama. Masa bodoh kalau dipecat, itu malah bagus. "Kenapa Pak Adrian memindahkan saya jadi sekretaris bahkan asistennya bapak? Saya ini cuma lulusan SMA, baru kerja sebulan di sini. Masih banyak orang lain yang lebih kompeten di luar sana. Bapak sengaja mau ngerjain saya, ya?"

Adrian sama sekali tidak terkejut mendengar rentetan protesku. Dia malah menghela napas, melepas kacamatanya dengan santai, lalu menarik dokumen yang kubawa dan menandatanganinya dengan cepat tanpa membaca lagi.

"Besok saja protesnya. Saya sedang sibuk," jawabnya datar, lalu menyodorkan kembali dokumen itu kepadaku tanpa ekspresi.

"Tapi, Pak—"

"Saya bilang besok, Aruna. Sekarang silahkan keluar, atau saya kurangi gaji pertama kamu di posisi baru nanti."

Aku mengatupkan bibir rapat-rapat. Dengan sentakan kasar, aku menyambar dokumen yang sudah ditandatangani itu, berbalik, dan melangkah pergi dari ruangannya sambil menghentak-hentakkan kaki dengan kesal.

1
Alia Chans
Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat thor nulisnya😍
Agatha soul: terima kasih 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!