Arga, seorang pemuda yatim piatu miskin yang berjuang hidup sebagai nelayan sampan, harus menelan pil pahit saat dihina habis-habisan oleh mantan teman-teman sekolahnya di sebuah acara reuni.
Merasa putus asa dan tidak terima dengan ketidakadilan takdir, ia melampiaskan emosinya dengan memancing di tengah malam, namun kailnya justru menarik sebuah umpan logam berkarat misterius yang menyerap darahnya dan membangkitkan Sistem Mancing Mania Mantap.
Berbekal sistem aneh yang menggunakan emosi sebagai umpan dan menunjukkan lokasi pancing yang tidak masuk akal, Arga tidak lagi sekadar memancing ikan biasa, melainkan menarik harta karun dimensi lain, pusaka kuno, hingga kekuatan gaib yang akan memutarbalikkan nasibnya dari pemuda rendahan menjadi sosok kaya raya yang ditakuti semua orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Sinar mentari pagi menerangi lantai marmer ruko PT Arga Antik Nusantara di kawasan Menteng.
Arga duduk bersandar di sofa kulit ruang tamunya sambil meminum secangkir teh hangat.
Peti besi karatan yang menjadi sumber bencana itu tergeletak diam di sudut ruangan.
Ponsel satelit di atas meja bergetar pelan menandakan ada panggilan masuk dari jalur aman.
"Halo, tim penjemputan saya udah sampai di depan gerbang kompleks ruko anda Saudara Arga," lapor Baskara dari seberang telepon.
"Masuk aja langsung Baskara, pintu depan udah saya buka kuncinya," jawab Arga meletakkan cangkir tehnya.
Tiga buah truk lapis baja berwarna hitam legam berhenti berjejer di depan ruko Arga.
Baskara turun dari mobil sedan di belakang truk itu dan berjalan masuk diikuti empat orang berjas pelindung tebal.
"Pagi Saudara Arga, saya lihat ruko ini sudah mulai terlihat seperti markas besar yang sangat layak," sapa Baskara melihat sekeliling ruangan.
"Pagi Baskara, ruko ini masih kosong melompong belum ada barang pajangannya sama sekali," balas Arga berdiri menyambut tamunya.
"Itu urusan gampang, saya bisa mengirimkan beberapa artefak tingkat rendah untuk mengisi etalase Anda nanti," tawar Baskara ramah.
"Gak perlu repot-repot, saya lebih suka nyari barang jualan saya pakai tenaga saya sendiri," tolak Arga halus sambil menunjuk ke arah peti besi.
"Bawa peti bencana itu sekarang sebelum aura negatifnya bikin rusak perabotan baru saya."
Baskara mengangguk dan memberikan isyarat tangan kepada empat orang petugas berjas pelindung tersebut.
Mereka maju membawa sebuah jaring baja yang dialiri oleh energi listrik gaib berwarna biru muda.
Peti karatan itu dibungkus rapat menggunakan jaring baja tersebut dan diangkat perlahan menggunakan alat troli hidrolik.
"Asosiasi berutang nyawa yang sangat besar kepada Anda atas pengamanan peti tingkat bencana ini," ucap Baskara menatap Arga dengan pandangan sangat serius.
"Sesuai kesepakatan dewan pimpinan semalam, ini adalah tanda terima kasih tambahan dari kami."
Baskara mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil berukir lambang teratai perak dan meletakkannya di atas meja kaca.
"Apa lagi ini isinya Baskara? Komisi sepuluh miliar kemarin rasanya udah cukup buat bayar jasa saya," tanya Arga mengerutkan dahinya.
"Uang tunai tidak akan ada artinya jika kiamat kelaparan benar-benar terjadi di kota ini," jawab Baskara membuka tutup kotak kayu itu.
Di dalam kotak tersebut terdapat sebuah medali emas murni yang memiliki cip elektronik di bagian tengahnya.
"Itu adalah Medali Akses Prioritas Asosiasi Pusaka Nusantara tingkat tertinggi," jelas Baskara menunjuk medali tersebut.
"Dengan medali itu, Anda memiliki kekebalan hukum di pasar gelap dan bisa mengakses informasi lelang rahasia di seluruh Asia."
Arga mengambil medali emas itu dan merasakan bobotnya yang cukup berat di telapak tangannya.
"Saya terima medali ini, lumayan buat modal koneksi kalau saya mau main ke pasar luar negeri nanti," kata Arga menyimpan medali itu ke dalam saku.
"Saya permisi dulu membawa peti ini ke fasilitas karantina bawah tanah asosiasi," pamit Baskara menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Hati-hati di jalan, jangan sampai ada mutan nyasar lagi yang ngebajak truk kalian di lampu merah," pesan Arga dengan nada setengah bercanda.
Baskara hanya tersenyum kecut dan segera melangkah keluar mengikuti rombongan truk lapis bajanya.
Setelah rombongan asosiasi itu pergi jauh, Arga kembali mengunci pintu rukonya dengan rapat.
Suara mekanis sistem tiba-tiba meledak dengan sangat jernih dan nyaring di dalam kepala Arga.
Ding.
"Misi pengamanan objek tingkat bencana berhasil diselesaikan tanpa cacat sedikit pun," lapor sistem memunculkan layar biru transparan berukuran besar.
"Sistem memberikan penghargaan khusus berupa tambahan lima ribu Poin Sistem ke dalam saldo Host."
Arga langsung melompat kegirangan dan mengepalkan tangan kanannya ke udara.
Tambahan lima ribu poin ini adalah jumlah kekayaan gaib terbesar yang pernah dia pegang selama ini.
"Bukan hanya itu Host, penyelesaian misi ini juga membuka fitur fasilitas permanen untuk markas Anda," lanjut suara mekanis sistem.
"Membuka kunci fasilitas Akuarium Ekosistem Gaib Tingkat Dasar sekarang juga."
Lantai ruko Arga tiba-tiba bergetar pelan seperti sedang terjadi gempa bumi berskala sangat kecil.
Dinding marmer di sisi kiri ruangan yang awalnya polos seketika mencair dan berubah wujud menjadi sebuah kaca transparan raksasa.
Kaca raksasa itu membentang sepanjang sepuluh meter dengan ketinggian mencapai langit-langit lantai dasar.
Di balik kaca tebal tersebut terdapat sebuah ekosistem air laut yang sangat jernih lengkap dengan terumbu karang menyala dan pasir putih bersih.
Arga berjalan perlahan mendekati dinding kaca itu dengan mulut sedikit terbuka karena takjub luar biasa.
'Sistem, ini akuarium asalnya dari mana bisa tiba-tiba nempel di dalam tembok ruko gue?' tanya Arga menyentuh permukaan kaca yang terasa dingin.
"Akuarium ini terhubung langsung dengan dimensi air saku yang diciptakan oleh energi sistem," jelas sistem memberikan informasi.
"Fasilitas ini dikhususkan untuk menampung hasil tangkapan makhluk mitos dan ikan gaib dari perburuan Anda ke depannya."
"Ikan mitos apaan? Makhluk laut yang ukurannya segede kapal mana muat masuk ke dalam akuarium pajangan begini," protes Arga membayangkan besarnya monster laut.
"Akuarium ini memiliki fungsi penyusutan ukuran secara otomatis tanpa mengurangi kekuatan asli makhluk tersebut," terang sistem mematahkan keraguan Arga.
"Setiap makhluk mitos yang dimasukkan ke sini akan menyusut menjadi seukuran ikan hias biasa."
Penjelasan dari sistem membuat Arga tersenyum sangat lebar membayangkan rukonya akan dipenuhi oleh monster laut berukuran mini.
"Apa ada keuntungan lain buat gue selain punya pajangan ikan hias mahal di ruang tamu?" tanya Arga mencari fungsi taktis dari fasilitas ini.
"Tentu saja Host, setiap ikan mitos yang hidup di akuarium ini akan memberikan efek resonansi pasif kepada tubuh Anda," jawab sistem memunculkan daftar kosong di layarnya.
"Misalnya, seekor arwana gaib bisa memberikan peningkatan keberuntungan permanen selama ikan itu hidup di dalam akuarium ini."
Mata Arga langsung berbinar terang mendengar fitur luar biasa yang bisa meningkatkan kemampuannya tanpa perlu berlatih keras.
Ini berarti dia harus kembali ke rencana awalnya saat pertama kali mendapatkan sistem ini.
Dia harus kembali memancing di lautan lepas untuk berburu ikan-ikan gaib dan makhluk mitologi.
Pertarungan darah dan mafia pasar gelap kemarin hanyalah gangguan kecil yang menyimpang dari jalan ninjanya sebagai seorang pemancing sejati.
"Gue harus segera mancing ikan mitos pertama gue hari ini juga," tekad Arga membalikkan badannya menghadap ruang tengah.
Arga langsung memanggil menu Toko Sistem Gaib dan melihat saldo poinnya yang sekarang berada di angka lima ribu seratus empat puluh.
"Sistem, tampilkan umpan yang paling cocok buat narik ikan mitos tingkat awal di perairan laut dalam," perintah Arga menelusuri katalog.
Layar biru sistem menampilkan sebuah barang bernama Umpan Mutiara Pemanggil Mitos.
Harga umpan bercahaya pelangi itu dibanderol cukup mahal yaitu seribu Poin Sistem untuk satu kali pemakaian.
Deskripsi umpan itu menyebutkan bahwa aromanya bisa menembus dinding palung laut dan menarik perhatian ikan purba yang bersembunyi di kegelapan.
"Beli umpan mutiara ini satu buah sekarang juga," putus Arga tanpa berpikir panjang karena dia punya banyak modal poin.
"Transaksi berhasil, umpan telah dimasukkan ke dalam inventaris dan saldo Anda dipotong seribu poin," lapor sistem.
Arga segera berlari naik ke lantai tiga untuk mengambil tas olahraga hitamnya.
Dia memasukkan pakaian ganti dan beberapa perlengkapan darurat ke dalam tas tersebut.
Joran karbon elit miliknya masih berada di dalam inventaris dalam kondisi yang sangat prima.
Namun Arga sadar bahwa joran karbon biasa mungkin tidak akan sanggup menahan tarikan dari ikan mitos sungguhan.
"Gue bakal pakai joran ini sampai batas maksimalnya dulu, kalau patah baru gue pikirin cara bikin joran gaib baru," gumam Arga menuruni tangga.