Salwa Azzahra, gadis berusia 22 tahun, menikah dengan orang yang sangat dia cintai , dan berharap Salwa bisa keluar dari rumah yang membuathya terluka . namun harapannya hancur seketika di malam pertama pernikahan .
Baru saja akad dilaksanakan, Yogie, suaminya, langsung menjatuhkan talak tiga tepat di malam itu juga, tanpa penjelasan yang masuk akal. Ia mengembalikan Salwa ke rumah orang tuanya seolah gadis itu barang yang tidak berguna. Salwa hancur, merasa harga dirinya diinjak-injak, dan kini harus menanggung malu serta fitnah masyarakat yang menuduhnya bersalah hingga diceraikan secepat itu.
Di balik sikap dingin Yogie, ternyata ada rahasia besar dan alasan tersembunyi yang membuatnya terpaksa melakukan hal menyakitkan itu, meski sebenarnya ia menyimpan rasa peduli. Takdir mempertemukan mereka kembali bertahun-tahun kemudian, saat luka keduanya belum sembuh , apakah Salwa akan kembali pada Yogie?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Malam itu, langit tampak cerah namun hawa udara terasa dingin, seolah alam pun ikut merasakan ketidaksukaan atas apa yang sedang terjadi. Sebuah mobil mewah berwarna hitam mengkilap berhenti tepat di halaman depan kediaman keluarga Pratama yang megah. Pintu mobil terbuka perlahan, dan keluarlah Sania dengan penampilan yang mempesona.
Ia mengenakan gaun malam berwarna merah muda lembut yang pas di badan, menonjolkan lekuk tubuhnya yang indah. Rambut hitam panjangnya ditata bergelombang rapi, jatuh terurai indah di bahu. Wajahnya yang cantik sudah dibalut riasan tipis namun memikat, menonjolkan mata indah dan bibir merahnya. Aura kecantikan dan keanggunan ia pancarkan sepenuhnya, seolah ia adalah putri bangsawan yang sedang berkunjung.
Dengan langkah yang berjalan sangat anggun dan penuh percaya diri, Sania melangkah menuju pintu utama yang sudah terbuka. Ia tersenyum manis, senyum yang sudah ia latih sedemikian rupa agar terlihat tulus, sopan, dan menawan.
Beberapa hari terakhir ini, Sania memang sudah gencar mendekati Yogie. Ia melakukan segalanya dengan sangat cerdik. Ia selalu ada saat Yogie butuh teman bicara, ia selalu memuji segala hal tentang Yogie dan keluarganya, ia bersikap lemah lembut, penurut, dan sangat perhatian. Berbeda sekali dengan gambaran kakaknya, Salwa, yang selalu diceritakan sebagai gadis kasar, polos, kaku, dan tidak tahu adat.
Yogie yang awalnya merasa sedikit canggung, lama-kelamaan mulai merasa nyaman. Sania sangat menyenangkan diajak bicara, cerdas, mengerti gaya hidupnya, dan yang paling penting menurut Yogie Sania berasal dari keluarga yang baik-baik, berpendidikan, dan berkelas.
Begitu Sania masuk ke ruang tamu yang luas dan mewah itu, seluruh anggota keluarga Pratama yang sedang berkumpul langsung menoleh dan menyambutnya dengan wajah yang sangat gembira dan hangat.
"Aduh, Sania sayang... masuklah, Nak. Kemari saja duduk dekat Ibu," sapa Nyonya Pratama dengan nada suara yang sangat ramah, bahkan terasa lebih manja daripada saat ia berbicara pada siapa pun sebelumnya. Ia langsung bangkit dan menyambut Sania layaknya anak kandungnya sendiri.
Yogie yang duduk di sofa pun tersenyum lebar, matanya tak lepas menatap sosok Sania yang tampak semakin cantik malam itu. "Kau datang tepat waktu, Sania. Kami baru saja membicarakan hal penting, dan kebetulan sekali kau ada di sini."
Sania tersenyum malu-malu namun penuh kemenangan. Ia mencium punggung tangan Nyonya Pratama dan Tuan Pratama dengan sangat sopan, lalu duduk di samping Yogie.
"Selamat malam, Tuan, Nyonya... Mas Yogie. Maaf jika saya mengganggu waktu istirahat kalian," ucap Sania lembut, suaranya terdengar merdu dan menenangkan.
"Tidak mengganggu sama sekali, Nak. Justru kehadiranmu membuat suasana rumah ini makin hidup dan indah," sahut Tuan Pratama sambil mengangguk puas. Ia menatap Sania lekat-lekat, lalu menatap putra tunggalnya.
Suasana di ruang tamu itu sangat kontras jika dibandingkan saat Salwa masih ada di sana dulu. Dulu, saat Salwa datang, wajah keluarga Pratama selalu dipenuhi kerutan jijik, tatapan merendahkan, dan kata-kata tajam. Salwa selalu dianggap kurang, selalu dianggap salah, selalu dianggap tidak pantas duduk di sana. Mereka selalu mencari-cari kesalahan kecil Salwa untuk dijadikan bahan cemoohan.
Tapi sekarang? Di hadapan Sania, semuanya berubah 180 derajat. Tidak ada lagi tatapan sinis, tidak ada lagi kata-kata pedas. Yang ada hanyalah senyum lebar, pujian bertubi-tubi, dan sambutan hangat bak tamu kehormatan. Padahal, bagi mereka berdua, asal-usul keluarga mereka sama saja. Namun, karena persepsi yang sudah dibangun sedemikian rupa oleh Pak Joko dan sikap manis Sania sendiri, mereka memandang keduanya di kasta yang berbeda jauh.
"Yogie," buka Tuan Pratama dengan suara serius namun tenang. "Beberapa hari ini kami melihat betapa dekatnya kau dengan Sania. Dan kami juga sudah menilai gadis ini. Sania... dia sangat berbeda jauh dengan kakaknya dulu."
Nyonya Pratama langsung menyahut dengan antusias. "Benar sekali, Yah! Sania itu sopan, pandai bergaul, berpendidikan tinggi, dan sangat tahu adat istiadat. Dia cantik, berkelas, dan asal-usul keluarganya pun sangat jelas dan baik-baik. Ayah dan Ibunya orang terpandang, berpendidikan, dan mapan. Sangat sepadan dengan kita."
Yogie tersenyum malu namun mengangguk setuju. "Iya, Yah, Bu. Saya juga merasakannya. Sania itu... dia mengerti saya. Dia mengerti dunia saya. Dia tidak kaku, dia tidak polos dan 'berbeda' seperti Salwa. Sania berasal dari lingkungan yang sama dengan kami. Kami sehaluan, satu frekuensi."
Sania hanya menundukkan wajahnya sambil tersenyum simpul, berpura-pura malu namun di dalam hatinya ia tertawa puas. Ia tahu betul cara memainkan peran ini. Ia tahu betul bagaimana memanfaatkan ajaran ayahnya untuk terlihat sempurna di mata orang-orang sombong ini.
"Kalau dulu kami setuju kau menikahi Salwa, itu semata-mata karena satu alasan saja: kami pikir itu bisa menguntungkan, dan kami ingin kau memberi pelajaran pada gadis itu. Lagipula, saat itu kami belum tahu betapa buruknya sifat dan masa lalu Salwa," ucap Tuan Pratama dengan nada meremehkan, seolah melupakan sepenuhnya bahwa Salwa dan Sania adalah saudara kandung.
"Tapi untuk Sania..." lanjutnya sambil menatap gadis itu penuh persetujuan. "Kami setuju, Yogie. Kami sangat setuju jika kau menjadikan Sania pendamping hidupmu yang sesungguhnya. Kalian berdua sama-sama berasal dari keluarga baik-baik, sama-sama berpendidikan, sama-sama memiliki derajat yang setara. Kalian pasangan yang sempurna. Perkawinan kalian akan sangat membanggakan nama besar keluarga Pratama."
Mendengar keputusan itu, hati Sania melonjak kegirangan. Inilah yang ia inginkan. Inilah puncak rencananya. Ia akan menggantikan posisi kakaknya, bukan hanya sebagai istri Yogie, tapi sebagai Nyonya Pratama yang dihormati, disayang, dan dimanja. Posisi yang seharusnya tidak pantas didapatkan oleh Salwa yang "rusak" dan "tidak berharga" menurut mereka.
"Benar, Mas Yogie," tambah Nyonya Pratama sambil menggenggam tangan Sania dengan penuh kasih sayang. "Ibu sangat berharap Sanialah yang akan menjadi menantu kami. Dia akan menjaga nama baik keluarga ini, dia akan mendampingimu dengan sempurna, dan dia akan melahirkan cucu-cucu yang pintar dan berkelas. Beda dengan kakaknya yang... ah, sudahlah, lupakan saja gadis itu. Dia sudah bukan bagian dari hidup kita lagi."
Yogie menoleh ke arah Sania, menatap mata gadis itu dalam-dalam. Wajahnya tampak penuh kekaguman dan keputusan yang bulat.
"Terima kasih, Ayah, Ibu. Saya juga berpikir begitu. Sania adalah wanita yang tepat untuk saya. Dan kebetulan sekali... acara besar di perusahaan Laksana Group sebentar lagi tiba. Mungkin... momen itu akan sangat tepat untuk kami. Kami bisa hadir bersama, dan memperkenalkan Sania sebagai calon istri saya di depan orang-orang penting," kata Yogie dengan penuh ambisi.
Sania mengangkat wajahnya, menatap Yogie dengan tatapan penuh cinta palsu namun sangat meyakinkan.
"Saya siap menunggu kapan pun Mas Yogie memintanya. Bagi saya, menjadi pendamping Mas Yogie adalah kebahagiaan terbesar. Dan saya akan berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakan Ayah, Ibu, dan Mas Yogie. Saya pastikan, saya tidak akan pernah mengecewakan kalian, tidak seperti kakak saya dulu..." ucap Sania pelan, menyisipkan sedikit penghinaan terhadap Salwa untuk semakin menguatkan posisinya sendiri.
Tentu saja kata-kata itu diterima dengan sangat baik oleh keluarga Pratama. Semakin Sania merendahkan kakaknya, semakin mereka merasa Sania jauh lebih berharga.
Mereka semua tertawa gembira, tenggelam dalam rasa puas dan kesombongan mereka. Mereka merasa segalanya berjalan sesuai rencana. Mereka merasa telah membuang sampah, dan kini menemukan permata asli. Mereka tidak sadar bahwa "permata" yang ada di depan mereka ini sebenarnya sama beracunnya dengan orang tua kandungnya, dan mereka sedang berjalan lurus menuju perangkap yang sudah disiapkan oleh kekuatan yang jauh lebih besar dan kuat daripada mereka.
Di malam itu, kesepakatan itu terjalin. Pernikahan antara Yogie Pratama dan Sania sudah tinggal menunggu waktu dan momen yang tepat. Dan momen itu, tanpa mereka sadari, adalah momen di mana kehancuran mereka akan dimulai. Di acara ulang tahun perusahaan raksasa Laksana Group nanti, mereka berharap akan bersinar terang, namun sesungguhnya di sanalah kejatuhan mereka akan diperlihatkan kepada seluruh dunia.
bersambung ,,,