Nasib istri kuli bangunan :menceritakan tentang bahwa hidup yang penuh perjuangan seorang laki- laki yang bertanggung jawab dan istri yang punya kesabaran. dan keteguhan yang hebat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 17 Nasib Derita Istri kuli bangunan
Burhan melangkah masuk ke warung, membuat suasana seketika hening. "Kopi satu, Pak," ucap Burhan tenang, menatap satu per satu wajah orang di ruangan itu.
"Eh, Burhan. Baru selesai kerja?" sapa Pak Karno agak canggung.
Iya, Pak. Mencari rezeki halal untuk istri saya di rumah," jawab Burhan dengan suara berat namun tertata. "Istri saya tidak pemalas, Pak. Dialah yang mengurus seluruh hidup saya sampai saya bisa berdiri tegar bekerja hari ini. Tugas mencari nafkah itu kewajiban saya sebagai suami, bukan beban dia."
Pak Karno terdiam, mengangguk perlahan tanpa berani menatap mata Burhan. Burhan membayar kopinya, menyiram sisa amarahnya dengan tegukan hangat, lalu beranjak pulang untuk menemui satu-satunya alasan ia bertahan
Sore harinya, hujan deras mengguyur desa, menciptakan alunan nada temaram di atas atap seng rumah Burhan dan Anisa. Di dalam rumah yang sederhana itu, aroma teh hangat membumbung tipis dari meja kayu. Burhan duduk menatap jendela, sementara Anisa mengoleskan minyak hangat ke bahu suaminya yang pegal setelah seharian bekerja keras.
"Mas... tadi di sumur Bu Salmah dan Bu Sumi bicara lagi," bisik Anisa pelan, mencoba menetralkan getar di suaranya.
Burhan memegang tangan istrinya, menghentikan usapan di bahunya. "Mereka membandingkan kita lagi dengan keluarga lain?"
Anisa mengangguk lambat. "Mereka bilang aku tidak seberuntung istri Pak RT atau istri Pak Yanti. Kadang rasanya sesak, Mas. Lain kali rasanya aku ingin bersembunyi saja supaya tidak perlu mendengar omongan mereka."
"Maafkan aku ya, Nis," ucap Burhan dengan pandangan teduh namun penuh penyesalan. "Belum bisa memberikan hidup yang bergelimang harta seperti yang mereka pamerkan. Aku tahu kamu harus menanggung malu karena keterbatasanku."
"Bukan begitu, Mas!" potong Anisa cepat, matanya berkaca-kaca. "Aku tidak pernah malu jadi istrimu. Yang membuatku sedih adalah ketika mereka menilai perjuanganmu hanya dari materi. Mereka tidak tahu betapa kerasnya Mas Burhan bekerja."
Burhan tersenyum getir lalu mengusap usapan lembut di pipi istrinya. "Di warung kopi tadi pun sama, Nis. Ada yang bilang kamu pemalas karena tidak ikut jualan atau kerja di luar. Mereka pikir kamu cuma duduk diam di rumah."
Anisa tertegun. "Mereka bilang begitu tentang aku?"
"Iya," jawab Burhan lembut. "Tapi aku katakan pada mereka dengan tegas: Anisa harus memelihara hatinya dari cibiran tetangga yang selalu membandingkan nasibnya dengan istri-istri pengusaha atau PNS begitu pun Burhan harus tahan dengan gosib kalau istrinya itu pemalas.
Aku tegaskan kalau kamu adalah tiang rumah tangga kita. Kamu yang mengurus rumah, menghemat uang, dan menjaga kehormatanku. Itu jauh lebih berharga daripada apa pun."
Mata Anisa menerawang, menangkap ketulusan murni di wajah suaminya. Kata-kata tetangga yang tadinya terasa seperti racun seketika menawarkan diri menjadi angin lalu.
"Terima kasih sudah membela aku, Mas," tutur Anisa tulus. "Mulai hari ini, aku tidak mau lagi ambil pusing dengan ucapan orang. Rezeki kita mungkin tidak selimpah mereka, tapi ketenangan rumah tangga kita tidak bisa dibeli dengan uang mereka."
"Betul, Nis," sahut Burhan sambil menggenggam kedua tangan Anisa erat-erat. "Biarlah orang berkata apa.
Selama kita saling menguatkan, pintu rumah ini akan selalu jadi tempat paling aman buat kita berdua. Kita buktikan bahwa kebahagiaan itu diciptakan di dalam rumah, bukan dicari dari pujian orang luar."
"Janji ya, Mas? Kita hadapi semuanya sama-sama," kata Anisa dengan senyuman terbaiknya.
"Janji, Nis. Apapun angin yang bertiup di luar sana, rumah ini akan tetap hangat," balas Burhan mantap.
Lampu tempel bergetar pelan ditiup angin sore, namun di dalam ruangan kecil itu, dua hati telah mantap bersatu.
Mereka menyadari bahwa badai cibiran tak akan pernah mampu merubuhkan rumah tangga yang dibangun di atas pondasi rasa syukur, kesetiaan, dan saling pengertian yang mendalam.