NovelToon NovelToon
MILIARDER JALUR DEWA BALAS DENDAM SANG PEWARIS NAGA

MILIARDER JALUR DEWA BALAS DENDAM SANG PEWARIS NAGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Selama tiga tahun menjadi menantu yang numpang hidup, Arya Permana dianggap tak lebih dari sampah. Ia dihina oleh ibu mertuanya, dipandang rendah oleh saingan bisnis istrinya, dan menjadi bahan tertawaan seisi kota Metropolitan. Arya diam dan menanggung semua penghinaan itu demi melindungi wanita yang dicintainya.
​Namun, kesabarannya memiliki batas. Ketika keluarganya didorong ke ambang kehancuran, setetes darah Arya tanpa sengaja jatuh ke atas cincin usang warisan mendiang ibunya.
​Ding! [Sistem Naga Leluhur Berhasil Diaktifkan!]
​Dalam semalam, takdirnya berbalik 180 derajat. Tabir masa lalunya terbongkar; Arya ternyata bukan anak yatim piatu miskin, melainkan pewaris tunggal dari keluarga konglomerat paling berkuasa di dunia yang sedang disembunyikan.
​Berbekal kartu hitam dengan saldo triliunan dolar, keterampilan medis tingkat dewa yang bisa menghidupkan orang mati, dan teknik kultivasi kuno pembelah langit, Arya mulai menunjukkan taring aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Benturan Dua Paradigma dan Gugurnya Sang Dewa Palsu

​Udara di ketinggian tiga puluh ribu kaki di atas Kunlun tidak lagi berbentuk gas, melainkan berwujud gelombang energi yang saling bergesekan. Avatar Tempur Dewa Naga Darah yang memiliki tinggi empat meter melayang dengan arogansi ilahi, memancarkan fluktuasi Ranah Nirwana yang membengkokkan cahaya di sekitarnya.

​Di hadapannya, Arya Permana melesat naik dengan kecepatan konstan, kemeja putihnya tak sedikit pun bergetar menahan hambatan udara. Kepadatan Qi Inti Emas Naga Leluhur Tahap 2 menciptakan domain vakum mutlak beradius setengah meter di sekujur tubuhnya.

​"MATI KAU, ANOMALI!" raung Avatar itu. Suaranya menciptakan gelombang sonik yang cukup kuat untuk meratakan pegunungan.

​Tombak bercabang dua yang berlumuran darah dewa itu diayunkan ke bawah. Ayunan itu membelah ruang hampa, menciptakan celah dimensi sempit yang menyedot segala hal di sekitarnya. Serangan pamungkas dari entitas setingkat Nirwana yang tidak memedulikan kerusakan pada planet yang dipijaknya.

​Arya menatap mata tombak raksasa yang mendekat. Matanya yang menyala keemasan melakukan kalkulasi lintasan dalam waktu kurang dari seperseribu detik.

​"Energi kinetik yang masif, namun distribusi massanya terpusat secara tidak seimbang di bagian ujung senjata," Arya bergumam dengan nada analitis yang merendahkan.

​Alih-alih menghindar, Arya mengangkat lengan kirinya yang kini samar-samar dilapisi oleh proyeksi sisik naga emas murni. Ia menempatkan lengan bawahnya tepat di jalur lintasan tombak tersebut.

​TRANGGGGGGG!

​Bunyi logam beradu memekakkan telinga. Ruang dimensi di titik benturan itu retak layaknya cermin yang dipukul palu dewa.

​Namun, pemandangan yang tersaji benar-benar menghancurkan akal sehat kultivasi. Tombak kutukan yang diklaim mampu membunuh dewa itu terhenti total, tertahan hanya oleh lengan kiri seorang pemuda fana. Tidak ada darah. Tidak ada tulang yang patah.

​Lengan Arya menyerap seluruh gaya kinetik tersebut menggunakan getaran mikroskopis tingkat sub-atomik, mendistribusikan beban seratus juta ton itu langsung ke udara kosong di sekelilingnya, menciptakan cincin gelombang kejut yang membuyarkan awan darah di langit.

​"B-Bagaimana mungkin?!" Avatar Dewa Naga Darah membelalakkan matanya yang menyala merah. "Tubuh manusia fana tidak mungkin bisa menahan tekanan Nirwana! Itu pelanggaran hukum alam!"

​"Hukum alam yang kau pahami terlalu usang," jawab Arya datar. Tangan kanannya perlahan mengepal. "Kepadatan materi selalu mengalahkan volume. Kau mungkin besar, tapi struktur molekul dimensimu berongga seperti spons."

​Tanpa membuang waktu satu milidetik pun, Arya melancarkan serangan balasan.

​Menggunakan gaya tolak dari benturan tombak musuhnya, Arya memutar tubuhnya di udara. Tinjunya yang dilapisi Qi Naga Leluhur memancarkan pendaran cahaya absolut. Ia tidak membidik kepala atau jantung, melainkan persendian bahu kanan Avatar yang memegang tombak.

​"Pemutusan Rantai Pasokan," bisik Arya dingin.

​BAMMM!

​Pukulan Arya menghantam bahu Avatar itu. Armor emas tua yang dipenuhi rune ilahi hancur berkeping-keping seolah terbuat dari keramik murahan. Tulang dan otot energi Avatar itu meledak. Lengan raksasa yang memegang tombak tersebut putus seketika, terlempar melayang ke udara bersama cipratan darah emas kehitaman.

​"AARRRGGGHHH!" Avatar Dewa Naga Darah meraung kesakitan. Nyeri kosmik menggerogoti kesadarannya. Ia adalah dewa! Ia tidak pernah berdarah oleh makhluk dimensi bawah!

​"KAU AKAN MEMBAYAR KELANCANGAN INI! LAUTAN DARAH KESENGSARAAN!" Dengan sisa lengannya, Avatar itu merobek dadanya sendiri. Energi hitam dan merah memancar keluar, membentuk lautan darah raksasa di udara yang menyelimuti area seluas sepuluh kilometer persegi. Lautan itu mengandung kutukan pelebur jiwa; sentuhan sekecil apa pun akan menghapus eksistensi makhluk dari siklus reinkarnasi.

​Lautan kutukan itu menggulung Arya bagaikan tsunami terbalik, menelannya ke dalam pusat badai dimensi.

​Di bawah sana, Elena dan Nona Feng menahan napas dengan teror absolut. "T-Tuan Arya tertelan kutukan Nirwana..."

​Namun, di dalam lautan darah kutukan itu, Arya sama sekali tidak panik. Kemejanya bahkan tidak basah. Domain vakum dari Tahap 2 Fisik Naga Leluhur dengan sempurna mengisolasi tubuhnya dari cairan beracun tersebut.

​"Menggunakan serangan berbasis cairan yang memakan ruang besar di area tanpa gravitasi stabil," Arya menggelengkan kepalanya. "Manajemen sumber daya yang sangat bodoh."

​[Ding! Mengaktifkan Fungsi Singularity: Pusat Gravitasi Nol.]

​Arya menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada. Ia memutar Qi Inti Emasnya dengan rotasi terbalik, menciptakan sebuah titik singularitas—lubang hitam mini buatan di antara kedua telapak tangannya.

​"Tarik," ucap Arya singkat.

​Lubang hitam mini itu seketika memutar ruang. Daya hisapnya yang tak terbatas mulai menyedot lautan darah kutukan raksasa itu ke dalam satu titik kecil di tangan Arya. Tsunami darah yang tampak menakutkan itu tersedot bagaikan air pusaran di wastafel yang bocor.

​Hanya dalam waktu tiga detik, lautan kutukan seluas sepuluh kilometer persegi itu menghilang tanpa sisa, dikompresi menjadi sebuah kelereng padat berwarna merah kehitaman yang melayang di atas telapak tangan Arya.

​Avatar Dewa Naga Darah, yang kini kehilangan lengan dan serangan pamungkasnya, menatap kelereng itu dengan wajah pucat pasi. Kewarasannya mulai runtuh. Dewa palsu itu akhirnya merasakan teror yang sering ia berikan kepada manusia fana.

​"K-Kau bukan Naga Leluhur yang bereinkarnasi... kau adalah monster..." rintih Avatar itu, merangkak mundur di udara mendekati retakan dimensi, berniat melarikan diri kembali ke Alam Atas.

​"Menarik pernyataan perang lalu mencoba kabur setelah strategi bisnismu gagal? Di duniaku, kami menyebutnya pengecut yang melarikan diri dari hutang," Arya melangkah santai di udara, kecepatannya meningkat secara eksponensial.

​Dalam satu kedipan mata, Arya telah berada tepat di depan dada Avatar raksasa tersebut.

​Arya melemparkan kelereng kompresi lautan darah tadi dengan jentikan jarinya, menembuskannya langsung ke dada Avatar yang sebelumnya terkoyak.

​"TIDAAAAK!"

​"Pengembalian investasi dengan bunga majemuk," ucap Arya rasional.

​Kelereng itu masuk ke dalam Dantian Avatar dan kehilangan penahan gravitasinya. Lautan kutukan yang sebelumnya disedot Arya kini meledak dari dalam tubuh penciptanya sendiri.

​KABUMMMMMMMMM!

​Tubuh setinggi empat meter milik Avatar Dewa Naga Darah itu menggembung, lalu meledak dari dalam. Zirah, daging spiritual, dan tulang naganya hancur berkeping-keping, lenyap ditelan oleh kutukannya sendiri. Cahaya ledakannya menerangi seluruh Dimensi Kunlun seperti matahari kedua yang terbit di senja hari.

​Seiring dengan hancurnya sang Avatar, retakan dimensi raksasa yang menghubungkan Kunlun dengan Alam Atas kehilangan penopangnya. Retakan itu mulai menutup dengan sendirinya.

​Dari balik celah sempit sebelum retakan itu sepenuhnya tertutup, terdengar lolongan penderitaan dari wujud asli Dewa Naga Darah di dimensi atas—lolongan dewa yang baru saja kehilangan sebagian besar esensi jiwanya dan nyaris turun takhta akibat backlash kehancuran avatarnya.

​Langit mereda. Awan kabut darah menghilang. Dua bulan kembar Kunlun kembali bersinar dengan tenang.

​Arya Permana melayang turun dari langit bagaikan kaisar sejati. Kemeja putihnya masih bersih, rambutnya bahkan tidak berantakan. Ia mendarat di pelataran Menara Naga di bawah tatapan tiga ratus ribu pasukannya yang kini berlutut hingga mencium tanah.

​Tidak ada satu pun yang berani bersuara. Mereka baru saja menyaksikan sejarah: seorang manusia menaklukkan surga dan membunuh dewa.

​Elena bergegas maju, membawakan jas trench coat hitam milik Arya dan memakaikannya ke pundak tuannya dengan tangan gemetar penuh rasa hormat tingkat dewa.

​"Pembersihan area selesai," ucap Arya datar, menyesuaikan kerah jasnya.

​Ia berbalik, menatap lautan pasukan, para komandan yang menyerah, Nona Feng, dan Menara Naga yang menjulang tinggi.

​[Ding! Ancaman Eksternal Dieliminasi.]

[Status Monopoli Dimensi: Kunlun 100% Tercapai.]

[Misi Baru Terbuka: Membangun Jembatan Dimensi. Target Invasi: Alam Atas.]

​"Nona Feng," panggil Arya.

​"S-Siap, Tuan CEO!" Nona Feng menyahut, masih dalam posisi setengah berlutut.

​"Kalkulasi total kerugian infrastruktur akibat serangan barusan. Lalu, mulai mobilisasi seratus persen sumber daya tambang spiritual dan pabrik alkemi. Kita butuh kapal udara yang lebih besar, perisai yang lebih tebal, dan meriam resonansi berskala planet," Arya memberikan instruksi seolah ia baru saja memenangkan tender kecil, bukan perang kosmik.

​Arya mendongak, menatap ke arah langit malam Kunlun yang kini terlihat sangat damai. Mata naga keemasannya menyipit tipis, penuh dengan perhitungan efisiensi untuk penaklukan selanjutnya.

​"Mereka yang di atas sana telah membuka jalur perdagangan darah," Arya menyeringai dingin. "Dan Dragon Global Corp akan segera naik ke sana untuk menguasai saham mayoritas mereka."

1
T28J
hadiir 👍
Aisyah Suyuti
menarik
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!