NovelToon NovelToon
GADIS PANTI VS PLAYBOY BUCIN

GADIS PANTI VS PLAYBOY BUCIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: phiiiew

Siapa sangka, Playboy yang paling ditakuti di sekolah itu ternyata hanyalah pria patah hati. Pria yang menyimpan dendam selama tujuh tahun karena ditinggal pergi oleh sahabat masa kecilnya bernama Melody.

Selama bertahun-tahun ia sangat membenci wanita, dan menjadikan mereka hanya sebagai pelampiasan.

Hingga takdir mempertemukannya kembali dengan gadis yang selama ini ia benci sekaligus rindukan. Gadis itu kembali dengan membawa cerita pahit dari panti asuhan dan kehidupan jalanan.

Dan sialnya ... gadis itu ternyata saudara tiri dari sahabatnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Punya Segalanya, Melody!

Adden menarik tubuh gadis itu hingga punggungnya menempel sempurna di dada bidangnya. Tangannya menyibakkan rambut Melody ke samping dan menurunkan tudung jaket yang dikenakannya. Melody bisa merasakan hangatnya hembusan napas pria itu yang menyapu kulit lehernya. Seluruh tubuhnya merinding karena sensasi yang begitu kuat menyelimuti kulitnya.

Hangatnya tubuh Adden adalah satu-satunya hal yang ia rasakan saat ini. Di dalam hatinya, Adden tetap miliknya, walau pria itu tak menginginkannya. Walau Adden terus menjauh, melukainya dengan kata-kata tajam, dan menghancurkan semua kenangan indah mereka. Melody tahu, sebelum semua orang lain datang, mereka berdua pernah menjadi segalanya bagi satu sama lain.

Melody memaksakan pandangannya terpaku pada satu titik di dinding. Ia berusaha mengabaikan suara ciuman dan erangan yang terdengar dari arah Mihoy dan Luccy. Ia tidak merasakan gairah yang berlebihan dari tubuh pria di belakangnya, tapi ia bisa merasakan setiap gerakan dan napas Adden dengan jelas.

"Kamu lihat itu, Melody?"

Melody menelan ludah dengan susah payah. Ia tak ingin menoleh, tak ingin menjawab. Karena baginya, keberadaan gadis-gadis itu tidak penting. Yang penting hanyalah pria yang sedang memeluknya dari belakang ini.

Ia tetap diam, tak bergerak sedikit pun. Namun aroma tubuh Adden dan napasnya yang menerpa daun telinganya membuatnya semakin sadar betapa dekatnya jarak mereka.

Pemandangan itu membawanya kembali ke masa lalu, saat mereka masih kecil. Adden pernah mengajarinya menanam bunga.

Melody begitu mencintai kelopak putih bunga aster itu hingga ingin memilikinya selamanya. Tapi ia tak tahu cara menanam benihnya, apalagi membelinya. Karena itulah ia menato nama Adden di lengannya dengan huruf hitam tebal.

Ia selalu menyembunyikannya di balik lengan baju panjang, dan bahkan menempelkan plester di atasnya saat hari pertama masuk sekolah. Hanya dua huruf, namun cukup mengingatkannya pada anak laki-laki yang juga menyimpan kesedihan di hatinya, sama sepertinya. Saat jaketnya basah kuyup, plester itulah yang menjadi pelindung terakhirnya.

"Kamu lihat, kan?" tanya Adden lagi.

Melody hanya mengangguk pelan, berharap pria itu tidak menyadari bahwa matanya sebenarnya hanya menatap kosong ke sebuah noda kecil di dekat lemari. Tapi Adden terlalu mengenalnya.

"Pembohong," bisik pria itu tepat di telinganya.

Otot tubuh Melody menegang kaku saat ia merasakan jari-jari hangat Adden menyusup ke pinggang celana jeans-nya, masuk di balik jaketnya. Dengan cekatan, jari itu membuka kancing teratas celananya. Melody menahan napas saat terdengar suara gesekan resleting yang terbuka.

Ia seharusnya menjauh, seharusnya memberontak, tapi tubuhnya membeku. Ia tidak bisa. Dan ia tidak mau.

Tangan Adden masuk lebih dalam, menyentuh kulit perutnya yang tiba-tiba terasa panas. Jari itu bergerak perlahan menyentuh area sensitifnya di balik celana dalam, membuat Melody mendongak tak sengaja.

"Tahu kenapa mereka semua lakuin apa pun yang aku mau, Melody? Karena manusia itu makhluk yang posesif dan teritorial. Mereka berusaha mengklaim wilayah yang mereka rasa berhak mereka miliki hanya karena orang lain bilang mereka cantik," ucap Adden pelan namun tegas.

Napas Melody memburu. Sensasi di antara kakinya semakin meningkat, membuatnya sulit bernapas. Ia menelan ludah, berusaha sekuat tenaga menahan erangan yang ingin lolos dari tenggorokannya.

"Enak, kan? Gimana aku perlahan menghancurkanmu. Akui aja. Akui kamu pingin tidur sama aku. Akui kalau kamu menginginkan hal yang sama seperti yang mereka inginkan," desis pria itu.

Melody menggeleng dalam hati. Ia ingin mengakui, sangat ingin bahkan. Tapi ia tahu ini semua hanyalah permainan bagi Adden.

Tanpa sadar, tubuh Melody justru semakin mendekap, menggesekkan pinggulnya mencari lebih banyak sentuhan. Adden tertawa kecil di dekat telinganya, suara yang terdengar sinis namun memikat.

"Hmm ... kamu suka, kan??"

Melody merasa malu, panas, dan basah karena membiarkan dirinya dimanipulasi seperti ini. Baginya ini adalah hukuman karena pernah meninggalkan pria itu. Adden ingin menyakitinya, tapi pria itu tak pernah mengerti alasan Melody pergi. Ia tak punya pilihan.

Tak ada yang mengerti kenapa Melody bisa bertahan selama itu, menahan rasa sakit, diam dan menerima semua perlakuan. Semua itu demi Adden. Ibunya adalah wanita yang kejam yang sudah menganggapnya sebagai kesalahan sejak ia lahir.

Wanita itu selalu mengingatkannya betapa tidak berharganya dirinya, dan membiarkan semua orang memperlakukannya seperti sampah. Ayah tirinya pun tak kalah jahat, selalu marah jika Melody tidak ada di rumah saat ia pulang kerja.

Sementara ibunya sendiri sering pergi entah ke mana demi mencari obat terlarang kesukaannya, metamfetamin. Ibunya rela melakukan apa saja demi barang haram itu. ia tak pernah benar-benar bisa melepaskan Adden. Hari demi hari berlalu, dan Melody sadar ia kecanduan. Adden adalah obatnya, candunya.

Melody bisa merasakan ketegangan di batang Adden yang semakin jelas menekan punggungnya saat jari-jarinya bergerak semakin dalam dan cepat. Ia menggigit bibirnya sendiri, hanya untuk menahan jeritan yang hampir pecah. Suara Mihoy dan Luccy kini terdengar jauh seperti suara latar yang tak penting.

"Kamu basah, Melody. Kamu gak mau ngomong? Baiklah, biar aku buat tubuhmu yang bicara," ucap Adden, lalu jarinya menusuk tepat pada titik paling sensitif di dalamnya.

Tubuh Melody melengkung tinggi, puncak kenikmatan sudah di depan mata. "Aku tunggu sampai kamu teriak."

Di sudut ruangan, erangan mereka semakin keras, namun Adden tampak sama sekali tak terganggu. Wajahnya menempel di leher Melody, bibirnya sesekali menyapu kulit gadis itu. Ketegangan di selangkangan pria itu terasa keras dan padat menekan bokongnya.

Melody tanpa sadar mendorong pinggulnya ke belakang, memberitahu pria itu bahwa ia bisa merasakannya.

"Nikmatin, Melody. Tunjukin seberapa besar kamu mau sama aku," desak Adden.

Melody tak sanggup lagi menahan diri. Puncak itu datang begitu dahsyat. Tubuhnya menegang, otot-otot di dalam rahimnya pun mengepal kuat memeluk jari Adden, dan dalam hati ia berharap itu adalah batang pria itu yang menyentuhnya.

Cahaya terang seakan meledak di depan matanya, membuat segalanya terasa putih dan buta sesaat. Suara erangan memenuhi ruangan, dan saat kesadarannya kembali, Melody sadar bahwa suara itu bukan hanya darinya.

Luccy juga tampak mencapai puncaknya, namun yang aneh, mata gadis itu justru tertuju pada Adden dengan tatapan bingung. Adden bahkan tak melirik sedikit pun ke arahnya.

Pria itu menarik tangannya keluar dari celana Melody, lalu mengangkat tangannya tepat di depan wajah gadis itu, memperlihatkan jari-jarinya yang basah dengan cairan kental.

"Nah, Melody. Ini bukti rasa malumu," katanya dingin.

Adden lalu menggigit leher Melody, bukan dengan lembut, melainkan cukup keras hingga membuat gadis itu tersentak seakan baru saja ditampar. Melody langsung bangkit dari duduknya, mundur dan menatap pria itu dengan mata berkobar.

Mata Adden yang hitam pekat kini terlihat dingin dan menakutkan.

Adden tersenyum miring.

"Kamu gak beda jauh dengan mereka." Ia menunjuk ke arah Mihoy yang sedang menjilat bibirnya setelah membuat Luccy puas. "Cuma aja mereka lebih baik. Setidaknya mereka berjuang dan memohon untuk apa yang mereka mau."

"Kamu pikir itu bikin kamu hebat? Cuma berdiri di sini lihatin mereka merengek dan bertengkar? Terus kamu merasa benar memerintah mereka sesuka hati?" bentak Melody melalui gigi yang bergemeretak.

Adden benar. Melody memang merasa malu telah membiarkan dirinya diperlakukan seperti itu. Ia juga marah karena disepelekan dan dianggap lebih rendah dari gadis-gadis itu. Tapi Adden pun tak lebih baik dari mereka ... atau mungkin justru jauh lebih buruk.

"Setidaknya aku bisa nikmatin," jawab Adden santai.

Tak tahan melihat wajah itu atau mendengar ocehan bodohnya lagi, Melody berbalik dan berjalan keluar kamar dengan langkah lebar dan penuh amarah. Ia menuruni tangga dengan cepat dan menemukan Messy sedang asyik mengobrol dengan seorang gadis berambut cokelat.

Lengan Messy disandarkan di dinding di atas kepala gadis itu, membuat posisi mereka terlihat sangat akrab. Mata Messy terangkat saat melihat kedatangan Melody.

"Hei, aku nyariin kamu. Giggi bilang dia lihat kamu datang."

Gadis di depannya itu memutar matanya dengan malas. Melody bisa menebak apa yang dipikirkan wanita itu. Pasti ia mendengar rumor bahwa Melody adalah anak yatim piatu miskin yang berusaha menghancurkan kehidupan sempurna Messy, atau pencuri yang ingin hidup enak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!