Alea Winslow (22th), melanjutkan pendidikan S2-nya di salah satu kampus ternama di Belanda.
Hidupnya yang awalnya dia pikir akan bebas, malah hancur lebur karena harus berhadapan dengan Damon Alvaro. Dokter tampan 39 tahun, kadang hangat kadang dingin, yang tiba-tiba mulai terlibat dalam hidupnya.
Damon selalu menjadi saksi Alea melakukan hal-hal konyol. Bahkan mencuri di salah satu pertokoan di Belanda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bandara dan copet
"Indahnya hidup ini!"
Seorang gadis asia dengan paras yang sangat manis merentangkan tangannya lebar-lebar sambil tersenyum ceria.
Alea Winslow. Nama gadis itu. 22 tahun. Motto hidupnya adalah:
Hidup itu seperti main game. Kadang menang, kadang kalah, yang penting jangan game over.
Alea baru turun dari dari pesawat. Kopernya yang super duper besar itu agak kesulitan dia bawah, tapi itu tidak menyurutkan semangatnya. Gadis itu justru terlihat sangat menikmati setiap detik yang berlalu. Matanya berbinar-binar memandang langit kota Amsterdam yang cerah, seolah dunia ini adalah tempat bermain raksasa yang baru saja dibuka untuknya.
Baru saja dia hendak melangkah, tiba-tiba seseorang berlari kencang bahkan menyambarnya hingga koper yang dia pegang ...terlepas dan berguling jauh di lantai.
Bruk!
"Aduh!" Alea tersentak kaget, tubuhnya ikut oleng hampir jatuh kalau tidak cepat menyeimbangkan diri.
Wajah cerianya seketika berubah menjadi bingung campur kesal. Ia mendongak, ingin memarahi orang yang tak tahu etika itu. Tapi orang itu sudah lari secepat kilat seperti sedang di kejar-kejar setan.
"Ya ampun, belum genap 30 menit loh gue di sini, udah di kasih cobaan aja. Belum jadi perempuan harapan bangsa ini!"
Dia ngomel-ngomel sendiri. Baru saja dia hendak meraih kopernya yang tadi terlempar, lagi-lagi ada dia di sambar. Kali ini bukan di sambar laki-laki tinggi besar kayak yang tadi. Tapi seorang wanita tua. Wajah Belandanya kental sekali.
"Astagaa! Cobaan apa lagi ini ya ampuun!"
"Toloongg! Copet!"
Wanita paruh baya itu berlari sambil berteriak dengan panik menggunakan bahasa Belanda. Tentu saja Alea ngerti. Bahasa itu sudah kayak bahasa keduanya dia.
"Copet?"
Nalar Alea langsung jalan. Berarti yang nabrak dia duluan tadi itu copet. Kasian si ibu-ibu. Kalo anak muda bakal dia biarin. Tapi ini ibu-ibu. Tanpa pikir panjang dia ninggalin kopernya begitu saja dan berlari menyusul si ibu-ibu. Larinya kenceng sekali. Memberantas copet termasuk salah satu yang dia suka.
"Minggir! Minggir! Calon anggota BIN lagi beraksi memberantas yang perlu di berantas!" Teriaknya pake bahasa Indonesia. Seketika dia lupa kalau dirinya ada di Belanda.
Alea tertawa dengan gaya lebaynya. Tapi dia tetap antusias. Yang begini-begini dia suka. Larinya cepat sekali, bahkan mendahului si ibu-ibu yang kena copet barusan.
"Sabar bu, sabar. Kalo yang namanya Alea beraksi semuanya bakal beres. Putrinya daddy Damian ini, jangan main-main wuhuuu!"
Masih sempat-sempatnya Alea melompat merasa hebat. Tapi begitu lompat, dia malah jatoh tiba-tiba.
BRAKK!
Jatohnya lucu pula. Karena lantainya licin, baru saja di pel sama tukang bersih-bersih bandara. Waktu seolah terhenti sejenak dan semua orang di sekitar situ menatapi Alea yang sedang dalam posisi telungkup sempurna di lantai, dengan kedua tangan terentang ke depan dan kaki sedikit terangkat.
Sunyi. Benar-benar sunyi. Beberapa detik kemudian,
"HAHAHAHA!"
Tawa pecah di berbagai sudut. Ada yang menutup mulut, ada yang terang-terangan ngakak, bahkan ada yang diam-diam merekam. Alea mengerang pelan.
"Ya Tuhan… harga diri gue… baru landing langsung check out…"
gumamnya lirih sambil masih menempel di lantai dingin itu. Dengan gerakan super pelan dan penuh drama, ia mengangkat kepalanya. Rambutnya sedikit berantakan, pipinya memerah, entah karena malu atau karena sakit.
Orang-orang tadi masih ada yang tertawa tapi kebanyakan sudah pergi seolah tak peduli lagi. Alea mengurut-urut pinggangnya lalu teringat akan copet tadi. Ketika matanya melirik ke arah si copet tadi kabur, ia melihat seseorang yang dia kenal sedang berjalan ke arahnya bersama seseorang yang laki-laki itu pegang.
"Demi apa?! Om Damon lagi? Hari pertama sampe di negara ini, kenapa wajah pertama yang gue lihat harus laki-laki itu?!" Serunya heboh sendiri. Dia cepat-cepat bersembunyi di sebelah tong sampah besar.
Damon Alvaro, laki-laki dewasa 39 tahun, seorang dokter bedah terkenal yang di kejar-kejar oleh saudari ipar sekaligus sahabatnya sendiri.
Mata Alea menyipit, menatap ke depan dengan ekspresi antara kesal dan tidak terima dirinya terjatuh tadi sambil sesekali menatap Damon yang menarik seorang laki-laki Belanda tinggi besar. Tinggi mereka hampir sama, tapi si pria bule lebih besar badannya. Anehnya, dia nggak ada kekuatan sama sekali. Malah si om Damon yang kayak dominan sekali. Pinggang Alea masih sakit, dia mengusap lagi dengan kesal.
"Siapa yang barusan ngepel di sini sih?! Gak tahu apa gue tamu dari luar negeri!" gerutunya pelan, tapi cukup terdengar oleh beberapa orang di sekitar. Alea tidak peduli. Toh, mereka gak ngerti bahasanya.
Lalu ia melihat seorang petugas kebersihan yang berdiri tak jauh dari situ mulai bersih-bersih lagi. Alea menatapnya beberapa detik… lalu menghela napas panjang.
"Yaudah… bukan salah bapak juga sih. Ini takdir, anggap aja ucapan selamat datang." ucapnya pasrah.
Tak lama kemudian ia melihat ibu-ibu tadi mendekati Damon dan laki-laki yang dia pegang kuat itu. Alea baru sadar sesuatu.
"Oh, itu copetnya toh? Boleh juga si om Damon. Termasuk membanggakan negara." ia manggut-manggut dari tempatnya bersembunyi. Matanya tetap ke sana. Ke arah Damon yang menyerahkan tas yang dia pegang ke si ibu-ibu, lalu menatap tajam ke sang pencopet. Laki-laki copet itu membungkuk seperti meminta maaf.
Awalnya Alea pikir masalah sudah selesai, lalu ia melihat si pencopet itu mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya.
"Pisau?"
Tanpa pikir panjang, dengan kekuatan penuh, Alea keluar dari persembunyiannya dan berlari secepat kilat ke arah mereka.
"AWASSS!" teriaknya nyaring tanpa mikir panjang.
Semua orang menoleh. Dalam hitungan detik, Alea sudah berada cukup dekat. Tanpa strategi, tanpa rencana matang, murni refleks dan keberanian nekat, ia langsung melompat.
"HYAAAT!"
Bukannya mendarat dengan elegan, Alea justru menabrak tubuh si copet dari samping.
BRAKK!
Pisau di tangan pria itu terlepas dan meluncur jauh di lantai. Tubuh mereka berdua jatuh berguling, nyaris menabrak kaki Damon.
"Ugh!" Alea meringis, pinggangnya yang tadi sakit langsung protes keras. Namun, kali ini, dia berhasil.
Si copet terkunci di bawahnya, walau posisinya agak aneh, lebih mirip orang lagi rebutan remote TV daripada adegan heroik.
Damon menatap pemandangan itu beberapa detik, alisnya terangkat tipis. Tatapannya lalu beralih ke Alea yang masih berusaha menahan si pria.
Tentu saja dia langsung mengenali Alea.
"Om, kok diem aja?! dia bawah pisau ini. Cepet ambil sebelum leher aku di gorok!"
Seru Alea menatap Damon. Mendengar itu Damon langsung bergerak dengan langkah tenang tapi cepat, Damon menendang pisau itu menjauh menggunakan ujung sepatunya. Gerakannya terlatih, seolah itu hal biasa baginya. Dalam satu tarikan, ia menarik tangan si copet dan membalikkan posisi pria itu hingga terkunci sempurna.
"Aman," ucapnya singkat.
Petugas keamanan yang tadi sempat terpencar kini datang berlari dan langsung mengambil alih. Si copet diborgol tanpa banyak perlawanan. Situasi yang tadi tegang mendadak mereda.
Alea yang masih terbaring di lantai dengan gaya randomnya menghembuskan nafas lega.
"Tugas negara selesai. Huffttt ... Gila, lo hebat Alea, hebat."
Tingkahnya itu tak luput dari pandangan Damon yang melihatnya malah seperti gadis aneh.
Witing Tresno Jalaran Soko Kulino,,,,
semoga mereka berdua berjodoh 🤣
kocak bget alea el,buat pusing anthony..selama 3 ntar jd pcr pak anthony el🤣🤣
Alea jodohnya om damon, dan pak anthony dosen killer jodohnya elora😃
elora kena hukuman selama 3 bulan kasian, pastinya pak dosen anthony pusing, menghadapi alea dan elora...
thankyou mae dah update 2x
yang di gibahin muncul kaya jalangkung.....😂