Lin Chen dulunya adalah jenius nomor satu di Kota Awan Merah. Namun, pada usia 12 tahun, Meridiannya dihancurkan oleh musuh misterius, membuatnya menjadi "Sampah" yang tidak bisa mengumpulkan Qi. Dihina oleh klannya dan tunangannya dibatalkan, Lin Chen jatuh ke titik terendah. Suatu malam, darahnya secara tidak sengaja membangunkan sebuah relik kuno peninggalan ibunya: Sisik Naga Primordial. Relik ini tidak hanya memulihkan meridiannya, tetapi juga memberinya Teknik Kultivasi terlarang: Seni Pemakan Surga Sembilan Naga. Dimulailah perjalanan Lin Chen dari kota kecil yang terpencil menuju puncak semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Keseimbangan Yin dan Yang
ROAARRRRR!
Raungan Kera Iblis Bersisik Api menggetarkan tebing-tebing curam di sekeliling Lembah Api Penyucian. Merasa ditantang oleh semut manusia yang ukurannya bahkan tak mencapai lututnya, monster raksasa itu mengamuk.
Dua lengannya yang setebal pilar kuil diayunkan menghantam tanah, membangkitkan gelombang kejut berupa ombak lahar panas yang menyapu lurus ke arah Lin Chen.
Lin Chen tertawa keras, tawanya dipenuhi kegilaan pertempuran. Ia tidak mundur, melainkan menjejakkan kakinya dengan kuat dan melesat menyongsong ombak lahar tersebut.
Qi Emas menyelimuti tubuhnya bak zirah ilahi. Saat ombak lahar itu menerjangnya, energi panas ekstrem tersebut seolah menabrak batu karang yang tak bisa dihancurkan, terbelah menjadi dua di sisi tubuh Lin Chen tanpa menghanguskan satu helai pun jubah abu-abunya.
"Kekuatan fisikmu mungkin setara dengan Bintang 9, tapi otakmu hanyalah otak binatang buas!"
Lin Chen melompat menembus uap panas. Ia berada sejajar dengan wajah kera raksasa itu di udara. Tangan kanannya ditarik ke belakang, menyerap seluruh Qi Emas dari Meridian Naganya, lalu dilepaskan dalam satu pukulan lurus yang membelah udara.
Tapak Guntur Pecah: Hantaman Guntur Pembelah Langit!
BOOOOM!
Tinjunya bersarang telak di rahang Kera Iblis. Suara gemuruh tulang rahang raksasa yang retak terdengar mengerikan. Kera setinggi empat meter dengan berat ribuan pon itu terangkat dari tanah dan terpelanting mundur sejauh puluhan meter, menabrak dinding tebing hingga memicu longsor batu.
Di atas tebing, dua pembunuh bayaran Bintang 8 yang sedang mengintip membelalakkan mata mereka hingga nyaris robek. Keringat dingin sebesar biji jagung mengucur deras dari dahi mereka.
"A-Apa aku tidak salah lihat?! Anak itu melempar Kera Iblis hanya dengan satu pukulan?!" bisik salah satu pembunuh dengan suara bergetar.
"Dia baru berada di Bintang 5! Ini tidak masuk akal! Monster macam apa yang Kakak Senior Meng'er suruh kita bunuh?!"
Di dasar lembah, Kera Iblis itu bangkit dengan marah. Darah hitam mendidih menetes dari mulutnya. Menyadari bahwa pertarungan fisik tidak menguntungkannya, monster itu membuka rahangnya lebar-lebar. Inti Spiritual di tenggorokannya menyala terang, mengumpulkan energi api paling murni di seluruh lembah.
Semburan Api Neraka Penyucian!
Sebuah pilar api raksasa bersuhu ribuan derajat Celsius menyembur keluar, menelan seluruh area tempat Lin Chen berdiri. Panasnya begitu ekstrem hingga bebatuan di sekitarnya seketika meleleh menjadi genangan kaca cair.
Namun, dari dalam lautan api yang membakar itu, tidak terdengar jeritan kematian. Yang terdengar justru adalah suara dengusan puas.
"Panas ini... tepat seperti yang kubutuhkan!"
Seni Pemakan Surga Sembilan Naga: Telan Mutlak!
Seketika, sebuah pusaran lubang hitam bermanifestasi di dada Lin Chen. Pilar api raksasa yang menelannya tidak membakarnya, melainkan tersedot masuk ke dalam pusaran tersebut dengan kecepatan yang gila! Energi Yang (Panas) ekstrem itu mengalir masuk ke dalam Meridian Naganya.
"Bagus! Arahkan energi panas itu ke Dantianmu! Tabrakkan dengan sisa-sisa energi Yin dari Teratai Surgawi!" instruksi Mo Xuan menggema.
Di dalam tubuh Lin Chen, energi es absolut dan energi api neraka bertabrakan. Layaknya peleburan sebuah planet, tabrakan itu menciptakan ledakan energi murni dalam jumlah masif yang langsung diserap habis oleh Qi Emas miliknya.
Bum!
Penghalang kultivasi hancur seketika.
Ranah Pengumpulan Qi Bintang 6!
Melihat api kebanggaannya justru diserap oleh sang manusia, Kera Iblis itu panik. Ia berbalik dan berniat melarikan diri. Naluri binatangnya memperingatkannya bahwa pemuda ini bukanlah mangsa, melainkan iblis yang sesungguhnya.
"Mau lari ke mana?!"
Lin Chen melesat dari dalam sisa-sisa api, mendarat tepat di punggung Kera Iblis. Tangannya yang berlapis Qi Emas menusuk menembus sisik baja di tengkuk monster tersebut, merobek dagingnya, dan mencengkeram tulang belakangnya.
"Serahkan Inti Spiritualmu!"
Daya hisap yang luar biasa brutal kembali meledak. Kera Iblis menjerit histeris saat esensi kehidupannya ditarik keluar secara paksa. Tubuh raksasa berlapis otot itu menyusut dengan kecepatan yang mengerikan. Kulitnya mengering, sisik apinya meredup dan rontok.
Hanya dalam sepuluh tarikan napas, Kera Iblis Tingkat 3 Puncak itu berubah menjadi mumi kering, lalu hancur menjadi debu abu tertiup angin lembah. Di telapak tangan Lin Chen yang berlumuran darah, tersisa sebuah Inti Spiritual berwarna merah menyala sebesar kepalan tangan, memancarkan panas yang menyengat.
Lin Chen tidak langsung menyerap inti itu, melainkan menyimpannya ke dalam cincin. Ia membutuhkannya sebagai bukti misi. Namun, sisa energi dari tubuh Kera Iblis tadi sudah lebih dari cukup untuk memantapkan pondasinya.
Bum!
Suara retakan terdengar lagi dari Dantian Lin Chen. Energi Yin dan Yang di dalam tubuhnya akhirnya mencapai keseimbangan sempurna, membentuk pusaran Taiji Emas yang kokoh.
Ranah Pengumpulan Qi Bintang 7!
Lin Chen menghembuskan napas panjang, uap putih kemerahan meluncur dari mulutnya layaknya anak panah, melubangi batu karang di depannya. Matanya memancarkan ketajaman absolut. Meski berada di Bintang 7, ia yakin dengan kekuatan Mandi Darah Naganya, ia bisa mencabik-cabik ahli Bintang 9 dengan tangan kosong.
Ia mendongak, menatap ke arah tebing karang di ufuk barat lembah.
"Pertunjukan utamanya sudah selesai," suara Lin Chen bergema, dilapisi Qi Emas yang berat. "Kalian berdua tikus got, mau turun sendiri atau aku yang menyeret kalian turun?"
Di atas tebing, kedua pembunuh bayaran Bintang 8 itu tersentak. Niat membunuh Lin Chen telah mengunci posisi mereka dengan presisi mutlak.
"Sial! Dia menyadari keberadaan kita!" salah satu pembunuh mencabut pedang kembarnya. "Jangan takut! Dia baru saja menerobos, energinya pasti belum stabil! Kita berdua berada di Bintang 8! Maju, serang bersama!"
Wusss! Wusss!
Dua sosok berpakaian hitam melesat turun dari tebing seperti dua sambaran petir gelap. Mereka melepaskan Qi Bintang 8 mereka secara maksimal, menciptakan jaring-jaring energi pedang yang mematikan, menyegel semua rute pelarian Lin Chen.
"Mati kau, Lin Chen! Tebasan Bayangan Membelah Jiwa!"
Puluhan bayangan pedang tajam menghujani Lin Chen dari segala arah. Ini adalah serangan gabungan yang bisa membunuh ahli Bintang 9 tahap awal sekalipun.
Namun, Lin Chen bahkan tidak mencabut pedangnya. Ia tertawa pelan, tawa yang meremehkan langit dan bumi.
"Bintang 8 milik sekte... ternyata hanya sekumpulan sampah."
Lin Chen melangkah maju. Tidak ada teknik bela diri yang rumit, hanya Qi Emas murni yang dipadatkan di tinju kanannya. Ia meninju kekosongan di depannya.
BOOOOOOM!
Ledakan Qi Emas meletus layaknya matahari kecil di dasar lembah. Seluruh bayangan pedang yang turun menghujaninya hancur berkeping-keping sebelum sempat menyentuh bajunya.
Gelombang kejut yang mengerikan menyapu kedua pembunuh itu di udara. Mereka memuntahkan darah secara bersamaan. Pedang kembar di tangan mereka hancur, tulang-tulang lengan mereka patah berkeping-keping karena menahan daya tolak yang tak masuk akal.
Bruk! Bruk!
Keduanya jatuh menghantam tanah karang dengan keras, berguling-guling seperti anjing cacat.
Lin Chen berjalan perlahan mendekati mereka, langkahnya tenang namun memancarkan aura tiran yang membuat kedua pembunuh itu gemetar hebat.
"I-Ini tidak mungkin... Kau hanya Bintang 7... Bagaimana Qi-mu bisa lebih berat dari Tetua Inti Emas..." salah satu pembunuh merintih ngeri, menatap Lin Chen seolah menatap hantu.
Lin Chen menginjak dada pembunuh yang berbicara itu, mematahkan tulang rusuknya perlahan. Pembunuh itu menjerit histeris.
"Beritahu Liu Meng'er," bisik Lin Chen dingin. "Kirim orang yang lebih kuat. Mengirim serangga seperti kalian hanya membuatku merasa dihina."
KRAK!
Lin Chen menekan kakinya, menghancurkan jantung pembunuh pertama tanpa belas kasihan.
Pembunuh kedua yang melihat rekannya tewas begitu saja nyaris mengompol karena teror. Ia merangkak mundur, air mata dan ingus bercampur di wajahnya. "Ampuni aku! Aku hanya menerima perintah! Aku—"
ZRAASH!
Lin Chen mengibaskan jarinya, melepaskan sebilah Qi Emas setajam pedang yang langsung memenggal kepala pembunuh kedua dengan rapi.
"Aku tidak butuh dua kurir untuk satu pesan," gumam Lin Chen santai.
Ia berjongkok, menggeledah tubuh kedua pembunuh tersebut dan mengambil lencana identitas sekte mereka yang berlumuran darah. Ia menyimpannya ke dalam cincin bersama Inti Spiritual Kera Iblis.
"Sekarang... mari kita lihat bagaimana ekspresi wajah Sun Li saat aku melempar benda ini ke mejanya."