NovelToon NovelToon
Luka, Dendam, Dan Cinta Yang Tak Direncanakan

Luka, Dendam, Dan Cinta Yang Tak Direncanakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Romansa
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Adrianne Hana kehilangan ayahnya akibat kesalahan operasi yang ditutupi keluarganya sendiri. Alih-alih mendapat keadilan, ia dan ibunya justru disalahkan, membuat hubungan Hana dengan keluarga Soediro dipenuhi kebencian—terlebih karena ia memilih jalan hidup berbeda sebagai aktris dan pengusaha.

Dipaksa menghadiri perjodohan dengan Reiga Reishard, Hana berencana menggagalkannya. Namun, pertemuan mereka justru menghadirkan hal tak terduga yang perlahan mengikat dua hati dengan prinsip bertolak belakang—antara luka, penolakan, dan kemungkinan cinta yang tak pernah direncanakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LDCYTD

Hana sulit mempercayai apa yang tengah dilakukannya sekarang. Berkomplot dengan Eyang Uti-nya untuk mengerjai Reiga. Astaga!

Bisa-bisanya mereka kompakan setelah sembilan tahun lamanya bersitegang. Sampai sekarang pun masih. Karena itu Hana merasa yang dilakukannya adalah sebuah kejahatan sih. Agak keterlaluan.

Meski faktanya, Hana tetap mengikuti suruhan Eyang untuk mengirim foto itu pada Reiga hanya untuk melihat reaksi pria itu. Benar-benar deh! Handphone sudah diletakkan di atas kasur. Mereka menunggu reaksi Reiga. Bagai dukun tengah melihat air dalam baskom, sehabis dijampi dan ditaburi bunga.

"Eyang," panggilnya.

"Apa?"

"Ini nggak benar tau! Kenapa harus ngerjain Reiga sih?" protes Hana.

Walau sebenarnya ia juga bingung, kok bisa, ditengah amarahnya karena Reiga ketemu Cyila dan nggak lapor, Hana masih membela pria itu bagai fans berat yang tidak mau idolanya dikerjai.

Ditambah lagi, logikanya yang sekarang tengah 'ngenye' pada dirinya yang sangat tidak patut mencemburui foto yang sangat amat biasa itu.

"Kenapa emangnya? Nggak terima? Jadi perempuan itu jangan buta-buta banget, Han," ujar Eyang sinis.

Hana berdecak.

"Hana nggak buta seperti yang Eyang bilang ya," sebal Hana cepat.

Eyang mencibir.

"Bukannya kamu bilang perempuan ini mantannya. Cinta pertamanya!? Kamu sadar nggak sih, yang kamu hadapi ini apa?? Jangan naif!"

Hana merengut dengan muka masam.

Ini kenapa dia malah terintimidasi karakter superior Eyang Uti yang memang selalu kuat dan menakutkan.

"MA-SA LA-LU!" tukas Hana seraya bersidekap.

"Kamu tahu nggak, kehebatan masa lalu???"

"Cieee ... Pengalaman dari Akung ya???" sindir Hana sekaligus meledek Eyang Uti-nya.

Mbok Minjo terkekeh.

Eyang Uti terperangah. Sikap dan sifat Hana ini membuktikan bahwa darahnya memang mengalir, deras, pekat, di dalam tubuh cucunya ini. Sekaligus menyentil akan betapa menyebalkannya ia ternyata.

"Eyang tabok ya," tukas Eyang Uti.

"Hana sekarang juga ban hitam loh, Yang,"

bangga Hana dengan muka menyebalkan.

Eyang Uti mendesis sebal. Dengan mata melirik sewot.

"Seenggaknya, Eyang sudah membuktikan kalau Eyang menang atas masa lalu Akung. Kamu mana??" angkuh Eyang.

Hana berdecak.

Ia mengangkat jemari tangan kirinya menunjukkan cincin berlian di jari manis tangan kirinya. Eyang Uti terpana. "Pinter juga tuh anak pilihnya, "puji Eyang pada pilihan cincin Reiga.

"Hana udah dilamar loh, Yang!" bangga Hana.

Eyang Uti mencibir dengan muka menyebalkan.

"Apa hebatnya dilamar secara pribadi??

Pacarmu itu orang kaya raya, Hana. Cincin berlian seperti ini sih nggak ada artinya buat dia. Bukan hal besar. Kalau Reiga berani dan memang serius, suruh dia datangi Eyang. Itu juga kalau dia benar-benar cinta kamu," ujar Eyang menyebalkan dengan maksud tersembunyi yang dengan mudah dicium Hana. Hanya saja, sikap Eyang Uti yang selalu bertentangan dengannya, membuat Hana memilih tak percaya instingnya itu.

Dalam adu tatapnya dengan cucu paling hobi mendebatnya itu, Eyang Uti kaget juga, seserius itu Reiga Reishard pada Hana-nya. Pria dengan gelar anti cinta sejati. Putranya Rahardian, teman main para putranya. Beberapa kali ditemuinya, sosok Reiga yang memang berpendar bagai batu mulia. Bahkan hanya dari cara anak itu tersenyum menyapa manusia lain. Namun Eyang Uti, tetap bisa melihat, Reiga membuat batas antara dirinya dan orang luar, menjaga batas itu dengan ketat. "Tidak mudah mendapatkan hati anak ini. Jangankan mendapat hati, dekat pun mungkin nyaris mencapai mustahil."

Begitulah kesimpulan Eyang Uti atas Reiga Reishard.

Konyolnya, semalam, saat Hana menungguinya secara terpaksa, ditemani Reiga. Eyang Uti menyaksikan sendiri betapa Reiga Reishard tunduk takluk setengah mati pada cucunya ini. Cinta yang jelas bukan main-main. Sungguh seperti orang gila. Persis seperti cara almarhum suaminya menatapnya dulu. Penuh cinta dan hasrat. Persis seperti ekspresi Denis yang berkata dan mengaku kalau ia menemukan Sara yang dipanggilnya 'rumah'.

Seperti itulah Reiga terlihat di mata Eyang Uti.

"Hana... Hana Anak orang kamu apain?"

Kurang dari waktu dua bulan, Hana bahkan sudah dikasih cincin berlian sebesar itu. Bertolak belakang dengan pernyataan Eyang Uti pada Hana barusan untuk menguji keyakinan cucunya pada Reiga. Eyang Uti sadar betul bahwa cincin itu adalah penanda jelas bagi Hana, bukti kalau Reiga tak ingin Hana kemana-mana. Simbol jelas bahwa cucunya ini milik Reiga Reishard dan siapapun yang berani mendekat dengan niat jahat akan langsung mati ditembak.

"Emangnya Eyang setuju Hana sama Reiga???

Bukannya Eyang tuh sengaja merancang perjodohan konyol itu karena ingin menjodohkan cucu kesayangan Eyang sama Reiga??" ujar Hana.

Cucu-nya ini memang pintar. Bertanya pada poin inti karena dengan mudah mencium maksud tujuannya. "Ah, Han. Sayang banget kamu berhenti jadi dokter. Nggak kebayang se-brillian apa kamu kalau tetap memilih jadi dokter, "gumam Eyang dalam hati.

"Memangnya Eyang pernah bilang nggak setuju?"

Hana terperangah mendengarnya. Aksi tanya balik yang diucapkan Eyang adalah sinyal kalau Eyang merestui hubungannya dengan Reiga.

"Kalau Hana beneran bawa Reiga ke depan Eyang gimana? Sanggup liat cucu dan anak kesayangan merana?" sinis Hana.

Eyang terdiam.

Bukan karena tak sanggup melihat Lana dan Devan merana. Toh, sesungguhnya tidak pernah ada yang bergelar kesayangan dalam hatinya. Semuanya sama. Hanya saja, Eyang Uti tetap mengakui salahnya, ia memang telah memilih memihak Devan, lalu menutupi kebenaran kematian Denis dari semua orang luar.

Namun detik ini juga, Eyang Uti menyadari, sekalipun sejak tadi dirinya dan Hana saling lempar pernyataan, begitu akrab, seakan dekat. Namun faktanya, Hana tetap menjaga jarak. Jurang dengan diameter ratusan kilometer dan kedalaman ribuan kilometer itu masih nyata adanya. Hana tetap masih kecewa dengannya. Dan Eyang Uti memahaminya. Walau hatinya tak mampu berjibaku untuk tidak jatuh sedih.

Akibat yang harus ditanggungnya.

Eyang Uti berdecak. Tak mau kalah. Sungguh kekanakkan. Namun hatinya ini kadung menikmati interaksinya dengan Hana. Yang ternyata begitu dirindukannya. Yang ternyata, jiwanya begitu butuh interaksi saling sindir dan ejek ala nenek dan cucu ini.

"Mau dibawa?? Telepon kamu aja dari tadi belum diangk..."

"Sayang, aku bisa jelasin semuanya. Aku nggak ada apa-apa sama Cyla. Aku nggak macam-macam sama Cyla! Aku berani sumpah!!! Ada anak-anak juga, Syein, Rama, Brandon, dan Tristan. Kamu bisa tanya mereka. Atau liat cctv sekalian. Aku nggak bohong, Hana. Itu cuma senyum refleks tanpa maksud apapun!!! Just don't angry with me, please, my dear," Pernyataan panjang Reiga yang cepat, panik, namun runtut, jelas nan lugas, memotong kalimat menyebalkan Eyang Uti yang kadung tak bisa menyembunyikan ekspresi kagetnya.

Hana berdecak. Tersenyum bangga penuh kemenangan atas dugaan invalid Eyang Uti-nya. Kalau Eyang Uti, temannya, mungkin sekarang lidahnya sudah memelet dengan muka ngenye sejadi-jadinya. Untunglah, Hana masih cukup waras untuk tetap menjaga tata krama agar tidak sampai ditoyor Sara nantinya.

Lalu, Hana mematikan telepon sepihak. Kasihan Reiga. Jadi korban perang nenek-cucu dengan gen menolak kalah ini. Pasti pria itu langsung overthinking. Buktinya, handphone Hana kembali menyala dan berdering. Mas Ayang, sebagai peneleponnya. Eyang Uti terhenyak dalam dianya sendiri. "Anak itu bahkan mau dipanggil dengan panggilan alay begitu sama kamu, Han?"

Hana sekali lagi tersenyum bangga. Eyang Uti kalah telak. "Liat kan, Yang?" angkuhnya.

Eyang Uti berdecak.

Handphone itu terus berdering. Lama.

Berulang. Seakan yang menelepon tak sabaran dan memang tak sabaran. Hana hanya tidak tahu bahwa sekarang Reiga tengah senewen setengah mati.

Hingga rasanya bisa meledak kapan saja.

"Ketemu dulu aja sama Mas Ayang kamu itu.

Kita lihat reaksinya. Berani nggak dia ketemu Eyang?" Eyang Uti tetap sinis, tidak mau kalah.

"Ow tentu aja! Eyang silahkan tunggu! Hana akan bawa Reiga di arisan keluarga akhir bulan ini. Jangan nyesel ya, Yang!" ucap Hana begitu percaya diri.

"Ya ampun, Han. Sikap menyebalkan dan nggak mau kalahnya kamu ini beneran mirip Eyang. Nggak ngebuang sama sekali," runtuk Eyang Uti dalam hati.

Telepon itu terus berdering. Reiga terus meneleponnya.

TUNG!

Mas Ayang

Sayang, please angkat teleponnya.

Aku udah mau gila di sini.

TUNG!

Mas Ayang

Adrianne Hana, angkat, Sayangku.

Jangan giniin aku.

Tuhannn!!

Aku beneran nggak ngapa-ngapain sama Cyila.

TUNG!

Mas Ayang

Kamu di mana???

Aku ke sana sekarang juga!!

Reiga menelepon Hana kembali. Berulang. Lagi dan lagi. Hana tetap tidak mengangkatnya. Antara memang ingin mengerjai cowok kesayangannya itu. Hana juga ingin menunjukkan pada Eyang bahwa Reiga-nya bukan cowok remeh yang lemah sama mantan, sama cinta pertama. Reiga Rahardian Reishard mencintainya, hanya dia. Tanpa tapi.

TUNG!

Mas Ayang

Hana sayangggg

Aku gila beneran ini!!!

Astaga!

Dan rasanya itu cukup untuk membuat Hana akhirnya memutuskan membalas rentetan pesan frustasi yang dikirimkan padanya sejak tadi. Serta menjawab tantangan Eyang Uti.

Hana ditantang?

Maka jawabannya adalah Ya!

*

"Bangsat!" umpat Reiga kesal.

Rasanya ia ingin melempar handphone miliknya agar hancur karena sejak tadi Hana tidak mengangkat teleponnya.

Empat sahabatnya yang berdiri dibelakangnya dalam lift ini sampai saling adu pandang dan berakhir saling angkat bahu, tak mengerti apa yang terjadi.

"Kenapa, Nyet?" tanya Rama seraya berjalan satu langkah dengan tangan kiri menepuk bahu kanan Reiga.

"Ada anjing yang motret gue sama Cyilla dan dikirim ke Hana," marah Reiga.

"Nah kan! Apa gue bilang," celetuk Tristan dari pojok kanan lift.

Syein menyenggol siku kiri Tristan. Si empunya siku langsung menoleh. Tanpa suara, Syein memberitahu Tristan kalau komentarnya tadi sungguh sangat memperkeruh suasana hati Reiga yang buruk. Tristan menghela napas panjang. Syein memang benar.

"Gue tuntut juga nih gym!!" pekik Reiga.

"Buset! Lu mau tuntut gue, Rei!???" ujar Brandon dengan muka kaget. Ia menatap muka bengong Reiga.

"Ha?" gumam Reiga.

"Ha heh hoh. Ha heh hoh. Ini gym gue, Nyet! Saking paniknya ketahuan selingkuh, jadi amnesia lu!?" seloroh Brandon yang menimbulkan senyum di wajah semua sahabatnya kecuali Reiga.

Ia mendelik menatap Brandon.

"Anjing!! Gue nggak selingkuh ya, Ndon!! Yang jelas-jelas cipok tangan Cyila dengan muka cabul tuh elu!! Bukan gue!! Jangan sembarangan ngomong lu! Gue beneran tuntut nih gym, kampret!" Reiga murka.

Brandon ciut.

Meledaklah tawa Rama, Syein, dan Tristan.

"Mampus lu, Ndon! Singa lagi kelaparan malah lu ajak main lempar tangkap bola," ledek Tristan.

Brandon merengut.

"Ya sorry, Nyet. Lu mah bawa perasaan banget sih!! Relax, Nyet. Relax ...," ucap Brandon takut-takut.

"Playboy kelas berat kayak lu nggak akan tau rasanya di ambang kehancuran, takut ditinggal, hanya karena salah langkah, Ndon. Rasanya sungguh anjing, nggak bisa ditanggulangi, dan sangat menyiksa," ujar Rama dengan sempurna menggambarkan perasaan Reiga sekarang.

Kening Tristan mengerut. Ditangkapnya pernyataan bijaksana Rama barusan bukan karena Rama memang bijak apalagi peka terhadap rangsangan, eh salah... lingkungan. Posisi si bijak sudah ditempati Niyo.

Tristan menyenggol siku kanan Syein.

Sahabatnya cuma nyengir. Dengan tanpa suara lagi, Syein berkata, "Nanti gue kasih tau," pada Tristan yang langsung paham.

"Dihhhh, lu kenapa, Ram? Jadi ikutan angker. Selingkuh juga lu?" ucap Brandon dengan mulut isengnya yang langsung diganjar tatapan mata predator yang menempati posisi puncak rantai makanan, yang kini siap menelannya hidup-hidup.

"Si Anjing!" kompak Rama dan Reiga mengumpat Brandon yang refleks mundur satu langkah ke belakang, saking takutnya, diiringi backsound tawa puas Tristan dan Syein.

"Jaga mulut kampret lu itu ya, Ndon! Gue nggak selingkuh, Jing!" Reiga murka.

"Anjing emang lu, Ndon!" tambah Rama sama murkanya.

Sungguh ia tidak diterima dengan ucapan selingkuh asal dari mulut Brandon.

"Buset dah! Ampunnn, Bang Rama, Mas Ayang," Brandon masih membumbui sekuali kemurkaan Reiga yang bercampur dengan sepanci murkanya Rama.

Reiga berdecak sebal bersama Rama.

"Magic apaan ya, yang dipakai Hana sama Krisa, sampai bisa jinakin T-rex sama Megalodon kayak lu berdua," celetuk Tristan.

Reiga dan Rama menoleh cepat. Tatapan mereka sama sekali tak bersahabat. Tristan mengkeret. Syein tertawa tanpa suara.

"Diem lu, Tan!" seru mereka bersamaan.

"Ampunnnn, Bang DJ," refleks Tristan berkata dengan wajah tercengang.

Dering handphone Reiga menyita perhatian mereka semua. Reiga begitu cepat melihat siapa peneleponnya. "Love of my life?" gumam Syein menyuarakan nama si penelepon.

Siapa lagi kalau bukan Adrianne Hana?

Love of My Life-nya seorang Reiga Reishard.

Reiga tanpa ba bi bu lagi, langsung mengangkat telepon itu, dan tanpa menunggu Hana bersuara, kalimat panjang itu diucapkannya. Sungguh takut dirinya, apabila Hana sampai marah dan berpaling seperti yang dilihatnya di bilik mandi wash room gym ini.

"Sayang, aku bisa jelasin semuanya. Aku nggak ada apa-apa sama Cyla. Aku nggak macam-macam sama Cyla! Aku berani sumpah!!! Ada anak-anak juga, Syein, Rama, Brandon, dan Tristan. Kamu bisa tanya mereka. Atau liat cctv sekalian. Aku nggak bohong, Hana. Itu cuma senyum refleks tanpa maksud apapun!!! Just don't angry with me, please, my dear."

Tapi bukannya mendapatkan jawaban.

Sambungan telepon itu diputus Hana sepihak. Jantung Reiga serasa nyelos dan berhenti detik juga.

"Anjing!" umpatnya.

Muka murkanya itu bahkan menakuti Rama sekarang. Empat temannya hanya saling lihat. Siapapun yang melakukan ini. Jelas akan mati di tangan Reiga. Dibantai tanpa ampun. Taste the hell even when they do not dead yet.

Reiga terus menghubungi Hana. Lagi dan lagi. Terus dan terus. Tanpa henti. Berulang. Sampai ride or die-nya itu mengangkat kembali teleponnya.

Hasilnya nihil!

Usaha Reiga tak putus di sana. Ia mengirim pesan beruntun pada Hana. Lalu meneleponnya lagi. Lalu mengirim pesan lagi. Begitu saja, terus, dan berulang. Tentu dengan wajah frustasinya yang begitu kentara. Kelakuan Reiga sekarang persis seperti lirik lagu bagian chorus Taylor Swift di album Reputation berjudul Don't Blame me.

Reiga sudah tidak peduli yang lainnya. Masa bodo! RIP rasa malu, gengsi, harga diri. Reiga sungguh sangat amat sudah tak peduli. Demi Tuhan, ia tidak ingin kehilangan Hana. Tidak akan kehilangan Hana.

TUNG!

Dering notifikasi pesan masuk itu membuat mata Reiga membuka seakan menemukan harta karun satu goa yang tak ternilai. Ia membukanya.

Love of My Life

Aku tunggu penjelasan kamu di townhouse.

Sekarang juga, Reishard!

TING!

Pintu lift terbuka. Tepat di basement, parkiran gedung gym.

Reiga berjalan keluar secepat kilat. Isi pesan Hana bagaikan titah yang harus segera ditunaikannya. "Buset! Cepet amat," tukas Brandon takjub.

"Jangan ngenye lagi deh lu, Ndon!" ucap Syein menghentikan mulut resek Brandon sebelum bernasib jadi bual-bualan Reiga malam ini.

Langkah Reiga terhenti. Ia berbalik dengan mata tajam.

"Serem amat," desau Brandon.

Memang seseram itu tatapan Reiga sekarang.

"Kalau lu nggak bisa tangkap pelakunya, beneran gue tuntut nih gym, Ndon!" ucap Reiga tanpa tendeng aling-aling.

Brandon terhenyak dengan mulut membuka.

"Mampusss!" kompak Tristan dan Syein.

"Yaelah, Rei. Tega amat sih lu, Nyet. Kita masih sahabatan kan??? Jahat lu!"

"Bodo amat! Gue balik duluan. Hana lagi nungguin gue," ujar Reiga berjalan menuju pintu keluar yang langsung menuju basement, yang mengarah langsung ke parkiran khusus Ferrari-nya berada. Brandon memang menyiapkan pakaian khusus sahabatnya.

Brandon mendesis sebal. Ia langsung menghubungi seseorang dan ganti marah-marah.

"Gue cabut juga ya," ucap Rama lesu.

"Ngapa lu? Nggak mau ikut ke townhouse-nya Reiga?" tanya Syein yang takjub lihat muka kucel dan lesu Rama. Tahu sekali ia, siapa pelaku dibalik kucel dan lesunya Rama ini.

"Tau lu, Nyet. Ayo bantuin Reiga jelasin ke Hana," tambah Tristan.

Rama menghela napas.

"Nggak sanggup gue," tukas Rama frustasi.

Dahi Tristan mengerut dalam.

"Maksudnya nggak sanggup apaan sih, Ram???" bingung Tristan.

Syein menatap Rama kasian. Lalu, membiarkan Rama pulang tanpa meninggalkan penjelasan untuk Tristan yang merengut karena dicuekkin.

Masalah yang dihadapi Rama pun tengah pelik. Ia kehilangan Krisa bahkan sebelum memulai apapun. Tidak seberuntung Reiga. Hanya Syein yang baru tahu fakta durjana ini.

Baiklah, selesai masalah ini, Syein bertekad akan berkoalisi dengan Hana untuk menyatukan dua sutet tegangan tinggi bernama Rama dan Krisa. Kasihan dengan Rama! Si paling kaku ngomong i love you, tapi kalau udah cinta, bego-nya bisa nggak tertolong.

"Hai, Rei," sapa Cyila sumringah begitu langkahnya berpapasan dengan Reiga di depan pintu keluar gedung menuju basement.

Bukannya menjawab, Reiga hanya memberikan sebuah lirikan tak ramah yang mengatupkan bibir Cyila yang tadinya tersenyum lebar itu.

Mungkin gadis itu sudah lama tak bersua dengan Reiga. Tapi ia masih ingat betul ciri khas manusia kalem ini jika sudah murka.

Murka ya ...

Cyila mengkeret. "Menjauh dari gue!" sinis Reiga dengan low tone kearah Cyila. Bahkan tanpa menghentikan langkahnya.

Cyila terhenyak.

Reiga sukses membuatnya merasa seperti serangga pengganggu yang harus disingkirkan. Belum pernah harga dirinya seterluka ini! Apa ini manusia yang sama, yang dulu sampai berkelahi dengan sahabat sendiri demi membelanya?

Sehebat itukah Adrianne Hana????

Sampai bukan hanya membuat Reiga atheis akan perempuan lain. Tapi, menghapus pasal satu legenda cinta pertama, serta mengecualikan Reiga pada belenggu kutukan cinta pertama yang biasanya selalu berhasil merusak hubungan baru seindah apapun itu.

Dan Cyila tahu sekali, kemarahan ini pasti berasal dari foto yang diambil oleh orang suruhannya.

Iya.

Orang suruhannya.

"Menjauh dari gue," ledek Tristan dan Syein bersamaan, menirukan Reiga, begitu melewati Cyila yang langsung memberikan tatapan tajam.

Cyila mendesis.

"Udah, Cyil, jangan ambil pusing," ujar Brandon sudah merangkul Cyila seenaknya.

"Gile! Luwes banget tuh tangan lu, Ndon," tukas Tristan takjub.

Cyila menghempaskan tangan kiri Brandon.

Syein dan Tristan mentertawainya. "Jangan sembarangan pegang-pegang ya lu, Ndon!" galak Cyila.

Brandon nyengir.

"Santai, Cyil," ujar Brandon.

"Perbuatan lu barusan bisa gue laporin!" ancam Cyila.

Brandon berdecak.

"Kayaknya lu duluan deh yang gue laporin," ujar Brandon menghentikan cengar-cengirnya. Berganti wajah serius yang jarang diperlihatkannya. Syein dan Tristan sampai memasang ekspresi wow.

"Maksud lu apa!?"

"Elu kan yang motret. Ralat! Orang suruhan lu yang motret," tebak Brandon meski ia masih menunggu laporan cctv dari karyawannya. Serta buku tamu hari ini.

Cyila tertegun.

Namun ia tidak akan semudah itu mengakuinya.

Dia adalah Cyila Adigunawan. Si yang tak pernah kalah dan tak mau mengaku kalah dengan siapapun.

"Jangan asal tuduh lu, Ndon!"

"Gue emang belum punya bukti, tapi gue kenal lu, Cyil," tukas Brandon.

"Tau lu, Cyil! Ngapain sih lu balik ke Jakarta!?

Dan se-enggak tau malu itu nyapa Reiga. Urat malu lu udah putus atau emang dari awal nggak punya sih???" Tristan sudah nimbrung.

Cyila mendesis sebal.

Tristan si paling nyinyir. Kalimat pedasnya belum berubah sama sekali.

"Bukan urusan lo semua!" tandas Cyila.

Syein berdecak.

"Reiga itu urusan kita," ujar Syein mulai ikut emosi.

Cyila terkekeh mengejek.

"Hana udah kasih kalian semua apa sih? Sampai segitunya mendukung dia?? Bergilir atau gimana?"

Tiga orang itu sontak berwajah merah padam mendengar hinaan Cyila untuk Hana. Tak terima sedikitpun Hana dipandang rendah begitu.

"Anjing! Untung lu cewek! Kalau enggak, udah abis gue tabokin tuh mulut!" ucap Syein naik pitam.

"Hati lu nggak secantik muka lu ya, Cyil.

Busuk!" ucap Tristan sungguh nyelekit, membuat Cyila berwajah masam.

"Tadinya gue mau kasih lu kehormatan bergabung masuk ke barisan mantan gue. Tapi dengar omongan lo yang nggak punya otak itu tentang Hana. Jelas, level gue terlalu ketinggian buat cewek parasit kayak lu," ujar Brandon yang sungguh tidak ikhlas, bestie huru hara, tandem ngeledekin Zidane itu disebut cewek nggak benar.

Syein dan Tristan spontan bertepuk tangan pada narsisnya kalimat Brandon yang jelas menampar Cyila begitu keras bak ajian tenaga dalam di film kolosal.

"Inilah mengapa dari dulu gue nggak suka sama kalian," tandas Cyila.

Mereka bertiga berdecak dengan kompak.

"Lah, lu kira kita semua suka sama lu, Cyila cilung???!!" pekik mereka bersamaan membungkam Cyila.

"Kalau nggak karena Reiga, najis banget gue ramah sama Nyi Pelet kayak lu!" ucap Tristan emosi.

"Setujuuuuu!" kompak Brandon dan Syein sambil mengangguk.

"Balik sono ke Sydney! Merusak pemandangan tau nggak lu!!" tambah Tristan dengan muka sebal.

"Setujuuuu!" Brandon dan Syein sekali lagi kompak.

"Belum aja kalo Reiga sampai tau lu pelakunya! Abis lu nanti!!" ujar Tristan.

"Oh ya??? Masa siii?" sahut Cyila menyebalkan. Tiga pria itu tercengang dengan kepercayaan diri Cyila yang menyentuh tidak tahu malu itu.

"Dulu gue pernah kalahin kalian. Sekarang pun gue yakin gue bisa," tukas Cyila bersidekap dan menatap Tristan, Syein, dan Brandon bergantian dengan mimik mengejek.

Sungguh tidak habis pikir!

"Liat aja nanti. Pertunjukkan ini baru akan dimulai, dan gue... adalah pemeran utamanya. Bukan Adrianne Hana!" tandas Cyila dengan mata mendelik nyaris keluar.

Tiga orang pria itu sungguh tak mampu berkata-kata menandingi ketidak tahu maluan milik Cyila yang kini sudah masuk ke lift.

Trista berdecak. Syein tertawa canggung.

"Baru pertama kali gue se-eneg ini sama cewek. Biasanya doyan-doyan aja," ucap Brandon bagai habis menonton film fiksi ilmiah yang menghempaskan akal sehatnya.

"Nggak habis fikri sih tuh Lampir satu. Kok bisa ya, si Reiga, dulu demen banget sama tuh manusia," tukas Tristan tak percaya.

"Namanya juga zaman jahiliyah, Tan," timpal Syein yang membuat mereka tertawa bersama.

Hana sengaja duduk di bagian sofa yang menghadap pintu ruangan di lantai dua townhouse. Jadi, ketika Reiga masuk, semua akan sedramatis alur cerita yang dibuat Eyang Uti sebelum ia pergi ke sini. Namun lantas ia berdiri.

"Ngapain coba gue ikutin maunya Eyang?? Udah sinting kali ya gue!" gumam Hana sendirian.

Ucapan Eyang Uti sebelum ia kemari kembali bergaung di telinga Hana.

"Kalau kamu memang lebih kuat daripada masa lalu Reiga, pasti Reiga akan melakukan apapun yang kamu minta. Tapi kalau enggak, terimalah kalau Eyang memang benar, "tukas Eyang Uti.

Hana mendengus. "Sifat nggak bisa menolak tantangan ini udah jelas banget diturunin sama Eyang," ujarnya. "Herannn, kenapa bisa semudah itu gue ngobrol sama Eyang," tambah Hana.

Ya.

Hana kira, ia tidak akan pernah bisa lagi bicara se-hilarius, begitu hidup, dan ekspresif seperti yang baru saja dilakukannya dengan Eyang Uti tadi. Bibirnya menolak untuk tidak menyunggingkan senyum tipis yang kini terpasang diwajahnya.

"You do love her, pretty," gumam Denis tersenyum melihat Hana dan Mama-nya perlahan mulai menemukan value kedekatan mereka yang terkubur sembilu.

KRETT!

Itu Reiga. Datang dengan napas terengah. Masih memegang panel pintu. Tadi ia memang lari begitu keluar mobil, apalagi setelah melihat mobil Hana sudah ada. Menunggu pintu lift terbuka saja, Reiga tak sanggup. Ia kadung lari, menaiki tangga menuju lantai 2. Ekspresi panik, cemas, dan takut yang campur aduk terpampang nyata diwajahnya.

"Han," lirihnya dengan suara tercekat, peluh yang mulai membasahi pelipis kanan kirinya. Entah itu karena adrenalin yang tengah berpacu ditubuhnya atau manuver lari menaiki tangga yang dia lakukan, atau mungkin keduanya. Yang jelas. Yang Reiga tahu, ia tidak mau Hana salah paham.

Ah, tidak!!!

Hana terperanjat sendiri melihat kedatangan Reiga. Muka memelas, lelah, dan takut Reiga membuat Hana kasian sekaligus ingin menjahili Reiga. Jujur, ia pun sangat ingin tahu posisi dirinya dalam hidup CEO Reishard Corporation ini.

Apa posisinya jauh lebih tinggi ketimbang masa lalu Reiga bersama cinta pertamanya yang bernama Cyila?

Hana duduk bersidekap. Dengan muka datar, samar tampak marah. Kaki kanan disilangkannya ke atas kaki kiri. Menatap lurus kearah Reiga yang jelas 100% sudah kemakan akting brilian peraih 3 piala citra itu.

"Hana, Sayang, aku berani sumpah! Aku nggak macam-macam sama Cyila. Dia sapa aku. Aku refleks senyum. Nggak lebih. Nggak kurang. Aku sayangnya kamu, Han, sayangku, cintaku," Reiga mulai memborbardir Hana dengan bujukan agar pacarnya itu tidak marah.

Pria itu mendekat.

Hana tak menjawab apapun. Suasana sungguh mencekam bagi Reiga.

"Gimana rasanya ketemu mantan terindah?" sinis Hana.

"Mampus lu, Rei!" maki Reiga untuk dirinya sendiri dalam hati.

"Dia itu cuma mantan, Sayang. Nggak ada kata terindahnya. Demi Tuhan, cuma kamu yang paling indah di hidup aku, Adrianne Hana!!"

Reiga mengatakannya begitu memelas.

Hana terpana akan betapa terpampang nyatanya cinta Reiga untuknya. Sampai silau sendiri dan hampir meracau dalam pikiran. Untung dia orangnya fokus. Kalau tidak, mungkin Reiga sudah membaca semuanya.

Reiga kembali mendekat.

"Berhenti di situ, Rei!" dingin Hana menghentikan langkah Reiga dengan muka terhenyak. Ngilu hatinya ini. Reiga hanya bisa terdiam dengan hati was-was.

"Okay, aku berhenti. But don't push me away, okay, please. Aku mohon sama kamu, Hana. Aku cinta kamu. Cinta banget. Aku nggak bisa kehilangan kamu. Hana, percaya sama aku!" tukasnya sungguh putus asa.

Kedua mata Reiga rasanya sudah berkaca. Pria itu mengusap wajahnya dua kali. Menatap Hana dengan ekspresi memohon seperti ini adalah perihal hidup dan matinya, dan hanya Hana yang bisa menolongnya.

"Aku nggak bisa kayak gini, Rei. Aku mau kamu utuh tanpa tapi," Line kalimat Hana sungguh bagai tiupan sangkakala yang mematikan segala macam jenis kehidupan di dunia milik Reiga.

Pria itu termenung. Kakinya spontan melangkah sendiri, mendekati Hana.

"Aku memang buat kamu, Adrianne Hana. U-T-U-H!!! Jiwa raga aku. Semua yang aku punya. Hati aku. Jiwa aku. Semuanya punya kamu. Aku cinta kamu, Hana. Dan aku nggak main-main. Aku serius."

Reiga benar-benar frustasi dibuatnya.

"Buktiin!"

"Kamu mau bukti apa!?"

Hana berdiri. Kedua tangannya masih bersidekap. Ia menatap Reiga tanpa rasa kasihan.

"Berlutut di kaki aku, sekarang!" tandas Hana.

Reiga terhenyak.

"Berlutut?"

Hana berdecak.

"Tukang bohong!" cemooh Hana dengan ekspresi sempurna yang ditelan Reiga mentah-mentah.

Apa Reiga menolak?

Apa Reiga merasa terhina?

Oh tentu tidak!

Reiga lebih memilih berlutut seharian daripada kehilangan Hana.

Karena itu, tanpa berpikir lagi, setelah satu helaan napas panjang, kedua matanya yang mulai terasa perih karena pelupuk matanya yang mulai terisi airmata. Reiga membuang jauh harga dirinya, ia menjatuhkan kedua kakinya dan berlutut di depan Hana.

Benar-benar berlutut di depan Hana.

Hana?

Sungguh ia terkejut bukan main. Sangat merasa

bersalah pada perbuatan iseng kurang kerjaan suruhan Eyang Uti ini.

Hana pun tidak pakai pikir dua kali untuk menghampiri Reiga dan berlutut bersama.

"Reishard, ihh!! Kok mau-maunya sih ikutin maunya aku!!!" ujar Hana nggak enak.

Kedua tangannya menangkup wajah kuyu Reiga.

Reiga bengong dengan raut wajah Hana yang sekarang dipandangnya, tepat berada di depan wajahnya.

"I'm just kidding, Rei. Maafin ya, Sayangku," ucap Hana cengar-cengir.

Sebuah pengakuan paling mencengangkan yang didengar Reiga tahun ini.

CUP!

Hana mengecup bibir Reiga cepat setelah menarik pelan wajah Reiga yang ditangkupnya lembut, penuh sayang dengan dua tangannya.

Reiga tertawa canggung. Marah bercampur gemas mendadak membanjiri setiap relung tubuh pria itu.

"Resek ya!!" sewotnya pada Hana yang sudah tertawa terpingkal.

Reiga meraih Hana, yang langsung digelitiknya tanpa ampun. Hana yang paling tidak tahan kelitikan. Tidak tahan geli. Ambruk, di karpet ruang TV.

"Reisharddd, udah ahhh, ampunnn. Iya, maaf. Aku ngaku salah! Udah kelitikinnya," pinta Hana sambil tertawa karena geli.

"Kamu tuh benar-benar ya, Han!! Kamu tahu nggak, aku tadi nyetir udah kayak Max Verstappen!" curhat Reiga seraya menyebut nama pembalap F1 dari tim Oracle Red Bull yang tengah memimpin klasemen sementara.

Hana malah makin mengikik.

"Iya, maafin aku, Mas Ayang. Ampun. Stop!" ujar Hana.

Mereka berguling di karpet berdua, sampai di titik di mana Hana tak tahan lalu sengaja menggunakan salah satu teknik taekwondo miliknya untuk mengunci Reiga di bawah.

"Udah ah. Aku capek ketawa mulu," keluh Hana tepat di depan wajah Reiga yang ada dibawahnya. Wajah sumringah Hana terpampang sempurna.

Reiga berdecak. Meski ia tersenyum sekarang. Sungguh lega dirinya. Hana hanya bercanda. Itu sudah cukup bagi Reiga. Amat sangat cukup.

Lantas tawa Hana hilang, berganti senyum. Ia menumpu kedua tangannya di atas dada Reiga. "Ingat ini ya, Rei! Jangan gampang ikutin maunya orang kayak tadi. Kalau aku orang jahat gimana?" ujar Hana malah menasehati Reiga.

Yang dinasehati malah tersenyum. Reiga menyelipkan helaian rambut Hana yang jatuh ke depan wajah kesayangannya ini ke belakang telinga kiri. Serta menyangga kepalanya sendiri dengan tangan kiri. Menatap sayang Hana. "Lo benar-benar nggak tertolong sih, Rei," ucapnya akan keadaannya yang sangat amat mencintai Hana ini.

"Ada ya, orang yang abis menjahili aku habis-habisan, sekarang malah sok nasehatin aku untuk jaga diri," sindir Reiga.

Hana tertawa malu.

Cantik sekali. Secantik saat Reiga melihatnya untuk pertama kali.

"Maafin aku ya, Reishard. It just a joke. Disuruh Eyang," ucap Hana jujur.

Kening Reiga mengerut.

"Sejak kapan akur sama Eyang?"

"Dih! Belum akur! Kita cuma ..."

"Terbawa suasana?" potong Reiga atas kecanggungan Hana dalam membicarakan kecanggungan hubungan nenek dan cucu itu.

"Mungkin," gumam Hana malas-malasan.

Tanda bahwa ia tidak ingin membahasnya lebih lanjut.

CUP!

Hana mengecup kening Reiga lembut, perlahan, dan penuh sayang.

"Jadi ini rasanya menang," racau Hana.

"Maksudnya??"

Reiga bertanya karena ia tidak menemukan apapun di kepala Hana.

Hana malah cengengesan.

"Ditanya malah cengengesan," ucap Reiga lalu menarik pipi kiri Hana gemas.

"Sakit, Reishard! Ihh!" omel Hana sambil mengelus pipi kirinya.

Reiga terkekeh.

"Ini sampai kapan mau di atas aku? Takut ada yang bangun sebelum kaki aku yang berdiri," ledek Reiga.

Hana sontak mendelikkan mata.

"Heh!" pekik Hana dengan pipi merah merona.

KRETTT!

"Astagfirullah al adzimmmmmmmm!" Koor Tristan, Syein, dan Brandon melihat posisi Hana dan Reiga yang memang mengundang salah paham.

Di atas karpet, tindih-tindihan.

"Dari sekian banyak kamar di rumah ini, malah pilih di ruang TV. Di atas karpet pula. Sebagai seorang pro, sungguh gue Insecure jadinya," komen Brandon.

Hana sontak berdiri. Reiga tertawa renyah. Jin, setan yang tadi merasukinya di tempat gym milik Brandon, entah sudah pergi kemana tahu. Ketiga temannya cuma bisa tertawa masam melihat tantrum si bucin satu itu.

"Jangan sembarangan ngomong ya lo, Ndon!" sebal Hana.

"Tadi mah kita nggak usah ke sini," ujar Tristan menyesal, malah besok praktek pagi.

"Udahhhhh, lanjutin aja. Kita pulang ya. Pelan-pelan aja Rei, nggak usah diburu-buru, dinikmatin," ledek Syein dengan muka cabulnya.

Mereka semua tertawa. Bahkan Reiga yang masih telentang di karpet.

Hana mendengus sebal. Ia bertolak pinggang.

"Diem nggak lo, Syein!!" runtuk Hana dengan mata menyipit.

1
𝐀⃝🥀Weny
wiiih... kira² mau ngomongin apa ya🤔apa mau kasih surprise ke Hana ya🤔
𝐀⃝🥀Weny
tumben up dikit thor😁
𝐀⃝🥀Weny
yang perlu dibuang ke tong sampah itu kamu chil😤
𝐀⃝🥀Weny
ohhh.. so sweet banget sih kamu Rei😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!