NovelToon NovelToon
WARISAN PEMIKAT JANDA

WARISAN PEMIKAT JANDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Romansa Fantasi / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: StarBlues

Seorang pria miskin harus menelan pahitnya dikhianati dan ditinggalkan kekasihnya di saat yang sama. Sempat hancur dan hampir menyerah, dia akhirnya memilih bangkit demi membalas semuanya. Sampai suatu hari, dia menemukan liontin misterius warisan keluarga yang mulai mengubah hidupnya. Dengan cara yang tak biasa, dia perlahan membalikkan nasib lewat hubungan dengan para janda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon StarBlues, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8

Keluar dari toko berlian, Heri dan Tarjo seperti orang yang baru saja memenangkan lotre nasional. Senyum mereka tak pernah surut, wajah mereka memerah oleh euforia yang meluap-luap.

Di saku Juan kini tersimpan kekuatan miliaran rupiah, dan bagi dua sahabatnya itu, uang adalah bahan bakar untuk rencana gila yang selama ini hanya jadi angan-angan di pinggir sawah.

Ada satu tempat yang menghantui kepala mereka sejak tadi. Sebuah tempat di sudut kota yang hanya dikunjungi oleh pria-pria berdompet tebal untuk melepas dahaga biologis.

Malam ini, bagi mereka, adalah malam penobatan Juan sebagai "Raja Baru", dan sang raja butuh selir.

Heri menepuk bahu Juan dengan keras, tawanya pecah di antara bising jalanan.

“Wan, kamu itu terlalu baik untuk terus hidup seperti orang suci. Sekarang saatnya kamu mencicipi dunia nyata yang sesungguhnya!”

Juan mengerutkan kening, belum sepenuhnya menangkap arah pembicaraan Heri yang mulai melantur.

“Dunia nyata apa maksudmu? Kita baru saja dari sana.”

Tarjo menyambar dengan mata berbinar penuh gairah.

“Ya lokalisasi kelas kota, Wan! Kami sudah mengatur segalanya lewat aplikasi hijau. Dua gadis cantik nan menggoda sudah menunggu di kamar. Tinggal gas!”

Juan tertegun. “Kalian benar-benar sudah memesan?”

“Serius, Wan!” jawab Heri mantap. “Kami sudah bayar DP. Tenang saja, mereka ini pilihan. Bukan barang rongsokan pasar malam.”

Juan terdiam sesaat. Sebenarnya, memori tentang sentuhan Tante Hena yang matang dan liar masih membekas kuat di syarafnya. Namun, melihat semangat kedua sahabatnya, ia tak tega memutus rantai kegembiraan mereka.

“Ya sudahlah… aku ikut. Tapi ingat, jangan bikin masalah. Kita datang untuk senang-senang, bukan untuk cari ribut.”

“Siap, Bos Besar!” sahut Tarjo sembari memberi hormat kocak.

Mereka bertiga melangkah menuju barisan bangunan tua di pinggir kota yang mulai diselimuti kabut tipis.

Lampu neon warna-warni berkedip murahan, memantulkan bayangan pada genangan air hujan semalam.

Pintu-pintu masuknya sempit, menyebarkan aroma alkohol, asap rokok kretek, dan parfum menyengat yang bercampur aduk.

Heri dan Tarjo berjalan dengan dada membusung, seolah-olah mereka adalah penguasa tempat itu.

Sementara Juan, ia hanya menatap sekeliling dengan pandangan datar. Baginya, tempat ini terasa kotor dan tidak sebanding dengan pesona tubuh bohay Alisa atau desahan maut Tante Hena yang baru saja ia nikmati.

Mereka berhenti di depan bangunan dua lantai dengan cat yang sudah mengelupas.

“Inilah tempatnya,” bisik Heri bangga. “Kelas menengah ke bawah, tapi katanya layanannya maut.”

Mereka naik ke lantai dua melalui lorong sempit yang remang. Dari balik pintu-pintu kayu tipis, terdengar suara desahan tertahan dan tawa cekikikan wanita. Bau keringat dan kelembapan ruangan itu menyerang indra penciuman Juan.

Di ujung lorong, dua perempuan sudah menunggu dengan pakaian yang sangat minim. Yang satu mengenakan tanktop macan tutul yang sangat ketat, menonjolkan perut yang sedikit bergelambir, sementara yang satunya lagi memakai rok mini yang nyaris tidak menutupi pangkal paha.

Namun, begitu jarak mereka dekat, wajah Heri dan Tarjo mendadak berubah drastis. Senyum mesum mereka lenyap, berganti dengan raut wajah kaget yang bercampur jijik.

“Lah…”

“Ini?”

“Ini bukan yang di foto aplikasi!” geram Heri.

Heri menunjuk wanita pertama dengan kasar.

“Di foto kamu rambutnya lurus, kulit putih mulus, dan langsing. Tapi ini… kenapa kulitmu kusam begitu? Wajahmu beda semua!”

Wanita itu tidak tinggal diam. Ia mengunyah permen karet dengan gaya menantang, matanya yang dilapisi eyeliner tebal menatap Heri dengan sinis.

“Itu foto aku lima tahun lalu, Sayang! Masalah? Semua orang juga pakai filter!”

Tarjo tak mau kalah. Ia menunjuk wanita kedua yang wajahnya terlihat jauh lebih tua dari profil aplikasinya.

“Kamu juga! Di foto manis kayak mahasiswi, aslinya kok galak begini? Kalian ini sindikat penipu ya?”

Wanita kedua melipat tangan di bawah buah dadanya yang mulai melorot, menatap Tarjo dengan tatapan tajam yang mematikan.

“Yang nipu itu kalian! Sudah nawar harga paling murah, tapi mau kualitas model catwalk? Mimpi sana di siang bolong!”

Suaranya tajam, membelah keheningan lorong. Kalimat itu terasa seperti tamparan bagi harga diri Heri dan Tarjo yang baru saja merasa jadi orang kaya.

Heri memuncak. “Hei, mulut dijaga! Kami bayar pakai uang asli, jadi kami berhak dapat barang yang sesuai deskripsi!”

Wanita pertama mendengus menghina. “Bayar berapa sih? Uang kalian itu cuma cukup buat beli bedak aku. Kalian pikir dengan duit segitu bisa dapet bidadari?”

Beberapa orang di kamar sebelah mulai melongokkan kepala. Terdengar tawa kecil yang mengejek dari arah kegelapan lorong. Juan mencoba melerai sebelum situasi menjadi lebih memalukan.

“Sudahlah, kalau memang tidak sesuai, kita batalkan saja. Ayo pulang.”

Namun, wanita kedua justru maju selangkah, menantang Juan.

“Batal atau tidak, kalian tetap harus bayar penuh! Kami sudah menunggu di sini sejam, menolak pelanggan lain yang lebih ganteng dan berduit dari kalian!”

Heri membelalak. “Bayar apa?! Kami belum menyentuh kalian sama sekali!”

Wanita itu tertawa sinis, menunjukkan deretan giginya yang sedikit kuning.

“Kami jual waktu, Goblok! Waktu kami sudah kalian sewa. Mau kalian pakai buat main atau cuma buat bengong, tarifnya tetap jalan!”

Heri semakin gelap mata. “Waktu apaan? Kalian yang bohong dari awal! Foto editan semua, mana ada yang mau sama barang sisa begini!”

“Kalian pikir kami mau melayani pelanggan murahan seperti kalian?” balas wanita pertama dengan nada yang semakin tinggi. “Datang sok kaya, pakai gaya-gayaan segala, padahal muka kalian itu muka kampung, bau matahari!”

Kata ‘kere’ dan ‘kampung’ itu menyulut api di kepala Tarjo.

“Hei! Jaga mulutmu, ya! Siapa yang kalian sebut kampung? Lihat diri kalian sendiri! Badan sudah longgar, muka tebal make-up seperti ondel-ondel, sok cantik pula! Harga murah ya karena memang kualitas kalian itu sampah!”

Wanita pertama membelalak marah. “Kualitas sampah? Kamu lihat diri kamu di cermin dulu! Celana saja sudah pudar warna begitu mau menghina kami!”

Perdebatan pecah menjadi ajang saling hina yang sangat kotor.

Gadis Penghibur.

“Kalau kalian punya uang beneran, kalian tidak akan mengemis di tempat murah seperti ini! Pergi sana ke hotel bintang lima!”

Heri & Tarjo, “Kami tidak sudi menyentuh kalian! Kalian itu penipu kelas teri!”

Gadis Penghibur, “Banyak bicara! Bayar dulu kompensasinya!”

Heri, “Uang DP tadi sudah lebih dari cukup untuk membayar waktu kalian yang tak berharga itu!”

Wanita kedua mengangkat suara, suaranya melengking hingga ke lantai bawah.

“Kalian itu seharusnya bersyukur kami masih mau terima pesanan kalian! Banyak pelanggan yang kami tolak karena tampang kalian itu menyedihkan! Ingat ya, ada harga ada rupa. Kalau bayar recehan, jangan harap dapat layanan ratu!”

Komentar itu membuat penonton di sekitar semakin riuh. Seorang pria mabuk di sudut lorong berseru, “Bener tuh! Kalau miskin jangan banyak gaya! Bayar saja susah!”

Heri mendengus kasar. “Wah, kalian semua memang sudah gila. Kami tidak jadi pakai jasa mereka, jadi tidak ada alasan untuk bayar lagi!”

Wanita pertama melipat tangan, menantang maut. “Kalian tidak bisa kabur begitu saja. Kalian pesan, kami sedia, kalian bayar! Titik!”

Tarjo menunjuk wajah wanita itu tepat di depan hidungnya. “Kami TIDAK AKAN BAYAR!”

“Oh ya? Kamu pikir kami main-main?” tantang wanita itu. “Kalau kalian tidak bayar sekarang juga, aku panggil penanggung jawab tempat ini. Biar kaki kalian patah sebelum keluar dari sini!”

Heri menyilangkan tangan, menantang balik. “Panggil saja! Panggil sekalian semua temanmu! Biar semua tahu kalau tempat ini isinya penipu!”

Keheningan sesaat menyergap lorong itu. Namun, suasana mendadak berubah mencekam ketika derap langkah kaki berat terdengar menaiki tangga kayu. Suaranya mantap, berwibawa, dan dingin.

Seorang pria berbadan besar dengan otot yang menyembul di balik jaket gelap muncul di ujung tangga. Rambutnya tersisir rapi ke belakang, wajahnya keras dengan bekas luka tipis di pelipis. Dialah sang penanggung jawab, orang yang ditakuti di wilayah remang-remang itu.

Semua orang di lorong langsung bungkam. Nyali Heri dan Tarjo menciut seketika.

Sorot matanya yang tajam mengunci Heri dan Tarjo.

“Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut sampai mengganggu pelanggan lain?”

Wanita kedua langsung menghambur, memasang wajah terzalimi.

“Pak, dua orang ini memesan kami lewat aplikasi. Kami sudah menunggu hampir satu jam, menolak pelanggan lain yang mau bayar lebih. Tapi begitu sampai, mereka membatalkan seenaknya dan menolak membayar kompensasi waktu!”

Wanita pertama menambahi dengan nada memanas-manasi.

“Mereka juga menghina kami, Pak! Katanya kami barang bekas, penipu, dan kualitas rendah. Mereka pikir mereka siapa bisa menghina kami di tempat kami sendiri?”

Heri mencoba memotong dengan suara gemetar. “Pak, kami batal karena foto di aplikasi itu bohong. Mereka tidak sesuai kenyataan!”

Penanggung jawab itu diam, menatap Heri dan Tarjo bergantian dengan wajah tanpa ekspresi, seolah sedang menilai seberapa kuat tulang rusuk mereka jika dihantam. Lalu, ia bicara dengan nada pelan namun menusuk hingga ke tulang.

“Kalian sudah memesan. Mereka sudah datang dan menyediakan diri. Kalian membatalkan di tempat. Aturannya sederhana, kalian tetap harus membayar penuh sebagai ganti rugi waktu mereka.”

Tarjo mendengus, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya. “Apa-apaan, Pak? Kami belum menggunakan jasa mereka satu detik pun, kenapa harus bayar penuh? Itu tidak adil!”

Pria besar itu melangkah mendekat, mengikis jarak hingga aroma tembakau darinya menusuk hidung Tarjo.

“Di sini, kata-kataku adalah keadilan. Bayar sekarang, atau kalian tidak akan pernah bisa berjalan keluar dari lorong ini dengan kaki yang utuh.”

Juan, yang sejak tadi hanya diam mengamati kebodohan sahabatnya, akhirnya maju selangkah. Matanya yang kini menyimpan kekuatan liontin biru menatap pria besar itu tanpa rasa takut sedikit pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!