NovelToon NovelToon
Young Master & Secret Wife

Young Master & Secret Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:440
Nilai: 5
Nama Author: Karamellatee

Theodore, sang Kakak, memberikan tantangan kepada Celestine untuk mencari calon suamimu sendiri dalam satu bulan, atau dia yang akan memilihkan.

Celestine setuju.

Baginya, pangeran-pangeran di ibu kota terlalu "lembut" karena dia ingin seseorang yang bau mesiu, darah, dan sihir kuat. Dia berangkat sebagai utusan diplomasi ke Kekaisaran Heavenorth, wilayah yang dikenal paling keras.

Demi menemukan pria impian yang memenuhi standar kejam namun ajaib nya, Putri Celestine melakukan perjalanan ke perbatasan Kekaisaran yang paling berbahaya, hanya untuk menemukan bahwa pria yang ia cari adalah seorang monster di medan perang dan penyihir dingin yang menjaga gerbang kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Bab 11: Pergi untuk menyelamatkan

Suara kepakan sayap mahluk-mahluk kegelapan terdengar seperti robekan kain di udara yang sunyi. Elara berdiri di ambang pintu kuil, menatap ke arah kabut hitam yang mulai mengepung danau. Ia kemudian menoleh ke arah Celestine dan George dengan tatapan yang dalam, penuh rasa hormat namun juga sebuah salam perpisahan.

"Tugasku berakhir di sini," ujar Elara sambil menyarungkan busurnya. "Bangsa Elf tidak diizinkan melangkah lebih jauh ke dalam inti kuil ini. Ini adalah tanah suci bagi manusia pembawa cahaya dan pelindung es. Jika aku ikut, keberadaanku justru akan merusak keseimbangan mana yang baru saja kalian bangun."

Celestine terkejut, ia sempat meraih lengan Elara. "Tapi Elara, di luar sana ada ribuan mahluk itu! Bagaimana kau bisa kembali sendirian?"

Elara tersenyum tipis, sebuah senyuman yang jarang ia tunjukkan. "Jangan remehkan penjaga hutan, Putri. Aku memiliki jalan rahasia di bawah akar-akar ini. Sekarang, fokuslah pada apa yang ada di depanmu. Hanya kalian berdua yang bisa menutup celah kegelapan ini. Aku akan menunggu kabar kemenangan kalian di perbatasan hutan perak."

Dengan satu gerakan cepat, Elara menghilang ke dalam bayangan pilar kuil, meninggalkan George dan Celestine berdiri berdua saja di depan altar yang kini meredup cahayanya.

"Hanya kita berdua lagi," bisik Celestine, beralih menatap George yang sudah memasang kuda-kuda bertarung.

"Seperti seharusnya," sahut George. Ia melirik tangan kristalnya yang kini tidak lagi terasa nyeri. "Celestine, air danau ini adalah sekutu kita sekarang. Gunakan manamu untuk menggerakkan airnya, dan aku akan membekukannya menjadi senjata. Jangan biarkan satu pun bayangan itu menyentuh lantai kuil."

Gelombang pertama mahluk kegelapan, yang berbentuk seperti gagak raksasa dengan mata merah menyala, menukik tajam dari langit. Celestine memejamkan mata, merasakan aliran mana platinum yang kini berdenyut di dalam nadinya. Ia tidak lagi memikirkan mantra atau teknik; ia hanya membayangkan air danau sebagai perpanjangan dari tangannya.

"Sekarang!" teriak Celestine.

Ia menghentakkan kakinya, dan seketika itu juga sepuluh pilar air raksasa melesat dari permukaan danau, menangkap gerombolan gagak hitam itu di udara. George tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia menebaskan pedang hitamnya ke arah udara kosong, mengirimkan gelombang pembeku yang seketika mengubah pilar air itu menjadi tombak-tombak es raksasa.

Suara hancurnya kristal es memenuhi ruangan saat gagak-gagak itu pecah menjadi debu hitam. Namun, kegelapan tidak berhenti di situ. Dari dasar danau, mahluk-mahluk yang menyerupai ksatria tanpa kepala mulai merayap naik. Mereka adalah sisa-sisa jiwa ksatria masa lalu yang telah tercemar oleh meteor hitam.

"Mereka terlalu banyak, George!" seru Celestine saat melihat permukaan danau mulai tertutup oleh bayangan hitam.

"Gunakan kekuatan inti yang kau dapatkan tadi! Jangan hanya menggerakkan air, murnikan mereka!" George melompat ke tengah-tengah kerumunan ksatria itu, menebas dan membekukan dengan kecepatan yang sulit diikuti oleh mata telanjang. Setiap gerakannya kini meninggalkan jejak cahaya platinum, tanda bahwa mana Celestine sedang mendukung setiap serangan yang ia buat.

Celestine menarik napas dalam-dalam. Ia mengangkat kedua tangannya ke langit. Cahaya platinum meledak dari tubuhnya, membentuk kubah raksasa yang menyelimuti seluruh kuil dan sebagian danau. Saat cahaya itu menyentuh para ksatria bayangan, mereka tidak hancur dengan kekerasan, melainkan meluruh seperti asap yang tertiup angin, menyisakan percikan cahaya putih yang kembali ke dasar danau.

"Teruslah bertahan, Celestine!" teriak George sambil membelah ksatria terakhir yang mencoba mendekati altar.

Pertempuran itu berlangsung berjam-jam. Celestine mulai merasa tubuhnya sangat berat, dan penglihatannya mulai kabur. Namun, setiap kali ia merasa akan jatuh, ia merasakan sebuah dorongan energi dingin yang menyegarkan dari arah George—ikatan mana mereka sedang bekerja sebagai sistem pendukung kehidupan.

Setelah mahluk terakhir lenyap, keheningan yang luar biasa kembali menyelimuti danau. Kabut hitam mundur jauh ke luar lembah, seolah-olah takut pada cahaya baru yang terpancar dari kuil tersebut.

George berjalan mendekati Celestine, ia sendiri tampak kelelahan dengan zirah yang penuh goresan. Ia tidak mengatakan apa-apa, hanya langsung menarik Celestine ke dalam pelukannya, membiarkan kepala sang putri bersandar di dadanya yang kini terasa hangat.

"Kita berhasil," bisik George. "Mereka pergi."

"Apakah ini akan terjadi selamanya?" tanya Celestine pelan. "Bertarung tanpa henti?"

George mengelus rambut Celestine dengan tangannya yang masih bersarung tangan. "Tidak selamanya. Begitu kita sampai di pusat meteor itu dan menghancurkannya, kegelapan ini akan kehilangan sumbernya. Kita baru saja membersihkan pintu masuknya, Celestine. Perjalanan yang sebenarnya dimulai dari sini."

Celestine mendongak, menatap mata George yang kini kembali ke warna kelabu aslinya, namun dengan binar yang lebih hidup. "Aku tidak menyangka kehidupan pelarianku akan menjadi seperti ini. Theodore pasti sedang memakan kue cokelatnya di istana sekarang, sementara adiknya bertarung dengan hantu di tengah danau."

George terkekeh pelan. "Setidaknya kau punya cerita yang lebih menarik untuk diceritakan padanya nanti. Dan kau punya ksatria paling tangguh di Heavenorth untuk menjagamu."

"Paling sombong, maksudmu?" goda Celestine.

"Mungkin keduanya," sahut George sambil tersenyum miring.

Mereka duduk di tepi altar, beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan keluar dari lembah hijau tersebut. Tanpa Elara, mereka kini benar-benar hanya berdua di wilayah yang belum terpetakan. Namun, bagi Celestine, selama ada tangan George yang menggenggamnya, utara yang paling dingin sekalipun akan terasa seperti rumah.

"George," panggil Celestine saat mereka bersiap berangkat.

"Ya?"

"Terima kasih telah memilih untuk tidak membeku sendirian."

George terdiam sejenak, menatap pintu keluar kuil yang kini menunjukkan jalan setapak baru yang bersinar. "Terima kasih telah menjadi alasan bagiku untuk tetap hangat, Celestine."

Mereka melangkah keluar dari kuil, meninggalkan danau keemasan di belakang mereka. Di hadapan mereka, pegunungan es yang paling tinggi di seluruh benua berdiri tegak, menyembunyikan rahasia terakhir yang harus mereka pecahkan.

Angin dingin bertiup masuk melalui pintu kuil yang kini tak lagi tertutup, membawa serpihan salju yang langsung mencair begitu menyentuh lantai marmer yang masih hangat oleh sisa mana platinum.

Celestine mencoba berdiri, namun kakinya terasa lemas. Seluruh persendiannya seperti diisi oleh cairan timah yang berat.

George segera menangkap sikunya, memandu Celestine untuk duduk kembali di undakan altar. Ia tidak melepaskan tangannya, seolah sadar bahwa jika ia menjauh, suhu tubuh Celestine akan merosot tajam.

"Istirahatlah dulu. Kau memaksakan diri melakukan pemurnian skala besar tanpa persiapan. Jika Elara masih di sini, dia pasti akan menceramahimu tentang penggunaan mana yang ceroboh," ujar George sambil membuka sumbat botol air kecil dan memberikannya pada Celestine.

Celestine meminumnya dengan rakus, lalu menghela napas panjang. "Dia mungkin benar, tapi mahluk-mahluk itu tidak memberi kita waktu untuk menyiapkan teh dan mendiskusikan strategi, George. Kau sendiri, lihat lenganmu. Kristalnya... warnanya berubah lagi."

George mengangkat lengan kanannya. Pola kristal yang tadinya berwarna biru pucat kini memiliki gari-garis putih perak yang berkilau, menyerupai serat-serat cahaya yang halus. "Ini efek dari manamu. Rasanya bukan lagi seperti beban yang membeku, tapi seperti zirah yang hidup. Aku merasa lebih kuat, tapi di saat yang sama, aku merasa... terikat padamu."

Celestine menaikkan sebelah alisnya, mencoba mengembalikan suasana cerianya meskipun wajahnya masih pucat. "Terikat? Apakah itu cara ksatria kaku sepertimu mengatakan bahwa kau tidak bisa hidup tanpaku sekarang?"

George mengalihkan pandangannya ke arah danau yang kini kembali tenang. "Aku bicara secara teknis, Celestine. Jika sesuatu terjadi padamu, mana di dalam diriku mungkin akan menjadi tidak stabil dan meledak. Jadi, demi keselamatan benua ini, kau harus tetap hidup."

"Alasan yang sangat diplomatis," gumam Celestine sambil tersenyum tipis. "Theodore pasti akan menyukai caramu bicara. Dia selalu bilang pria yang terlalu jujur itu membosankan, tapi pria yang berbelit-belit itu menantang."

George menoleh kembali saat mendengar nama kakak Celestine disebut lagi. "Kau sangat menyayangi kakakmu, ya? Padahal kalian sangat berbeda. Dia adalah matahari yang tenang di Valley, sementara kau... kau adalah badai yang membawa api."

"Theodore adalah segalanya bagiku. Sejak ibu meninggal, dialah yang memastikan aku tidak merasa kesepian di istana yang luas itu. Dia mungkin terlihat hanya peduli pada buku dan politik, tapi dia orang yang paling baik yang pernah kukenal. Dia pasti sedang cemas sekarang, bertanya-tanya apakah adiknya sudah berubah menjadi es krim di utara."

George terkekeh pelan, suara yang kini mulai terdengar lebih sering keluar dari bibirnya. "Dia akan terkejut melihatmu saat kita pulang nanti. Kau bukan lagi putri yang butuh dilindungi. Kau adalah penyihir yang baru saja menghancurkan pasukan bayangan."

"Kita, George. Kita yang menghancurkannya," ralat Celestine. Ia menyentuh tangan George yang masih memegang botol air. "Aku tidak akan bisa melakukannya tanpa perisai esmu."

Keheningan kembali menyelimuti mereka berdua, namun kali ini terasa hangat. Di luar sana, langit utara mulai berubah warna menjadi ungu kemerahan, menandakan senja yang panjang di tanah abadi ini. Bunga-bunga kristal di tepi danau mulai bercahaya lembut, menciptakan pemandangan yang begitu indah hingga membuat mereka lupa sejenak bahwa mereka adalah buronan.

"George," panggil Celestine setelah beberapa saat.

"Hmm?"

"Apa yang akan kita lakukan setelah semua ini selesai? Maksudku, jika kita benar-benar berhasil menghancurkan meteor hitam itu dan menyelamatkan Heavenorth?"

George terdiam, seolah pertanyaan itu adalah sesuatu yang belum pernah berani ia bayangkan sebelumnya. "Aku tidak tahu. Gelarku sudah dicabut oleh ayahku. Aku tidak punya rumah untuk kembali, kecuali jika ayahku bisa memaafkan pengkhianatanku. Tapi aku ragu dia akan melakukannya dengan mudah."

"Kau bisa ikut denganku ke Valley," tawar Celestine dengan mata yang berbinar. "Theodore akan menyambutmu. Kita bisa tinggal di paviliun mawar, dan kau tidak perlu lagi berurusan dengan salju setiap hari."

George menatap Celestine dengan tatapan yang sulit diartikan. "Seorang ksatria es di tengah kebun mawar? Itu terdengar seperti awal dari sebuah komedi tragis, Celestine. Aku akan mencair dalam seminggu."

"Aku tidak akan membiarkanmu mencair. Aku punya sihir pemurnian, ingat? Aku akan membuatkanmu kamar dengan suhu yang sempurna," balas Celestine sambil tertawa.

"Kau benar-benar sudah merencanakan semuanya, ya?"

"Tentu saja. Seorang putri harus selalu memiliki rencana cadangan."

George berdiri, lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Celestine bangkit. "Mari kita selesaikan misi ini dulu sebelum kau memesan kamar untukku di istanamu. Kabut di luar sana sudah mulai menipis, tapi itu artinya jalan menuju puncak gunung akan semakin terlihat oleh para penjejak ayahku."

Celestine menerima tangan itu dan berdiri dengan tegak. Rasa lelahnya belum hilang sepenuhnya, tapi tekadnya sudah kembali pulih. Ia merapikan jubahnya dan menatap ke arah pintu keluar kuil.

"Setelah ini adalah Puncak Kesunyian, bukan?" tanya Celestine.

"Ya. Tempat di mana udara sangat tipis hingga sihir pun sulit untuk bernapas. Kita harus benar-benar mengandalkan kekuatan fisik dan ikatan mana kita di sana. Tidak ada lagi danau ajaib atau bantuan dari Elf," George menjelaskan sambil memeriksa perbekalan mereka yang tersisa.

"Hanya kau dan aku," ujar Celestine mantap.

"Hanya kita berdua," sahut George.

Mereka melangkah keluar dari kuil, meninggalkan kedamaian sementara itu di belakang. Saat kaki mereka menyentuh salju di luar lembah hijau, rasa dingin kembali menyergap, namun kali ini tidak lagi terasa mengancam. Ada kehangatan platinum yang mengalir di antara jemari mereka yang bertautan, sebuah kekuatan yang tidak dimiliki oleh meteor hitam maupun pasukan ksatria mana pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!