Naufal hanyalah seorang sales smartphone miskin yang sering diremehkan karena tidak pernah mencapai target. Ditekan oleh target yang mustahil, dikhianati oleh rekan kerja, dan dianggap remeh oleh pelanggan sombong adalah makanan sehari-harinya.
Namun, segalanya berubah saat sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem Analisis Nilai Aktif!]
[Menganalisis Target...]
[Budget: Rp150.000.000 ]
[ Keinginan: memboron 50 unit untuk yayasan pendidikan |
[Tingkat Kepercayaan: 15%]
[Misi Terbuka! Closing produk!]
[Hadiah misi pembukaan RP 10.000.000!]
Dengan bantuan Sistem Analisis Nilai, Naufal tidak hanya bisa melihat isi dompet pelanggan, tapi juga titik lemah kompetitor dan tren pasar masa depan. Dari seorang sales yang hampir dipecat, ia merangkak naik menjadi raja industri teknologi.
Satu per satu wanita hebat mulai masuk ke dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8--Ketertarikan Sang Trainer Dingin
Begitu rapat selesai, Naufal segera ditarik oleh Zulfa keluar ruangan. Zulfa masih tampak syok namun sekaligus girang bukan main.
"Fal, lo beneran beruntung banget, bisa jualan 50 unit dalam semalam! Nyela pesugih darimana?” Zulfa menggeleng-gelengkan kepala.
“Pesugihan palalo peyang,” ucap Naufal. Ya memang sistem milik dia bisa dibilang pesugih juga.
"Udah, yuk cabut! Kita sarapan dulu. Gue tau tempat soto enak dekat sini sebelum kita gas ke toko masing-masing jam sembilan. Gue yang traktir—eh, maksud gue lo yang traktir deng, kan lo sekarang jadi juragan! Insentif lo cair banyak itu mah!”
Naufal tertawa kecil. "Iya, tenang aja, Mas Zul. Soto daging pake babat, ya?"
Keduanya berjalan menuju sebuah warung soto pinggir jalan yang sudah mulai ramai. Di sana, mereka duduk di bangku kayu panjang, menikmati uap panas dari kuah soto yang gurih di tengah udara pagi Yogyakarta yang masih terasa dingin.
"Gila, lo liat nggak muka si Rendi tadi? Merah padam kayak udang rebus!" Zulfa menyuap nasi dengan semangat. "Dia pasti panas banget. Senioritas dia kayak nggak ada harganya di depan 150 juta lo itu."
Naufal hanya tersenyum tipis sembari mengaduk sotonya. "Gue cuma lagi beruntung, Zul. Tapi emang bener jangan pernah ngeremehin orang dari casing-nya."
Saat mereka sedang asyik berbincang, tiba-tiba suasana di warung soto yang sederhana itu mendadak sunyi sesaat. Beberapa sales yang ngarit kesini untuk istirahat makan melirik kaget…bajingan mereka ketahuan sedang kabur!
Seorang wanita dengan seragam OMNI yang sangat rapi dan pas di tubuhnya melangkah masuk. Rambutnya diikat kuda dengan sangat elegan, wajahnya cantik namun memancarkan otoritas yang kuat. Dia adalah Nadila, sang Trainer tim Yogyakarta yang terkenal dingin, profesional, dan sangat sulit untuk didekati. Jangankan diajak makan, diajak bercanda saat training saja dia jarang merespon.
“K-kak nadila .. ngapain ya kaka kesini, hehe jangan laporin pak eko plis, toko kita-kita buka jam 9, kita gak kabur kok cuma makan bentar.”
“Gue masuk shift siang lo kak!”
Nadila tidak merespon, dingin.Nadila berjalan lurus, mengabaikan tatapan memuja sales-sales di warung itu, lalu berhenti tepat di depan meja Naufal dan Zulfa.
Zulfa hampir tersedak potongan paru gorengnya. "M-Mbak Nadila? A-ada yang bisa dibantu!?
Nadila tidak menoleh ke Zulfa. Matanya yang tajam menatap Naufal lekat-lekat, seolah sedang membedah isi kepala pemuda di depannya.
"Naufal," panggilnya dengan suara yang tenang namun tegas.
Naufal mendongak, jantungnya langsung meletos. Pasalnya trainer itu juga suka oyak-oyak target. “I-iya kak!?”
[Ding!]
[Target Terdeteksi: Nadila Valentina (Trainer Senior)]
[Tingkat ketertarikan 40% (penasaran)
[Saran: Jaga ketenangan. Karakter ini sangat menghargai profesionalisme dan kepercayaan diri.]
'Tingkat ketertarikan apa pula itu?’ batin Naufal.
[Ding!]
[Menjawab pertanyaan tuan rumah!]
[Tingkat Ketertarikan adalah indikator psikologis target terhadap subjek.]
Beberapa tingkat ketertarikan
[40% ; penasaran]
[50% : ketertarikan ringan]
[70% : ketertarikan jelas]
[80% ; Menaruh benis cinta]
[90% : perasaan mendalam]
[Dalam kasus nadila dia tertarik 40% artinya penasaran, saya memberikan saran untuk bersikap pro]
Naufal berdehem, melihat Nadila yang masih menatapnya tajam "Ya, Kak Nadila? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Naufal sopan.
Nadila menarik kursi di depan Naufal tanpa permintaan izin, membuat semua orang di warung itu—termasuk Rendi yang ternyata juga sarapan di sudut lain—langsung melongo tak percaya. Nadila si "Ratu Es" duduk satu meja dengan anak baru?
"Transaksi semalam... itu strategi *probing* tipe apa yang kamu pakai?" tanya Nadila langsung to the point.
“Kakak berlebihan banget, saya cuma hoki—”
“Hoki pun tidak akan membuat orang mau borong 50 unit dengan seseorang kalau cara bicara buruk … udah bilang aja,” ucap nadila ia pun merogoh cacatan. “Ini juga berguna buat materi tambahan training besok.”
Naufal meletakkan sendoknya. Sungguh trainer yang niat. Sementara itu semua orang terkejut, seorang trainer ingin menulis materi dari ucapan anak baru!?
"Bukan strategi khusus, Mbak. Saya hanya memberikan apa yang dia butuhkan, bukan apa yang ingin saya jual. Dia butuh solusi untuk panti asuhan, bukan spesifikasi kamera yang berlebihan."
Nadila terdiam sejenak, lalu sudut bibirnya terangkat tipis—sebuah senyum yang sangat langka. Senyuman jenis yang amat manis untuk cewe ratu es kaya dia, semua orang tersentak. Anjing lucu banget! Jeritan dan tatapan iri menusuk Naufal.
"Jawaban yang menarik. Banyak sales senior di sini yang sudah kehilangan indra pendengarannya karena terlalu banyak bicara."
Ia kemudian meletakkan sebuah buku catatan kecil di atas meja. "Bulan ini saya akan lebih sering mampir ke toko tempat kamu jaga. Saya ingin lihat, apakah 50 unit itu murni keberuntungan, atau kamu memang aset yang selama ini saya cari."
Nadila berdiri, menepuk bahu Naufal sekilas yang membuat sales-sales di seberang sana ingin pingsan karena iri. "Habiskan sarapanmu. Jangan telat masuk toko."
Setelah Nadila pergi, Zulfa baru bisa bernapas lega. "Fal... lo beneran pake pelet ya? kak Nadila barusan senyum ke lo? SENYUM, FAL! Gue tiga bulan di sini, dilihat dia aja kayak dilihat kecoa!"
Naufal hanya menggelengkan kepala, namun matanya melirik ke arah Rendi di sudut warung yang kini sedang meremas tisu dengan wajah penuh kebencian.
[Ding!]
[Tingkat ketertarikan nadila naik 45% ).]
[Pertahanka terus untuk mendapatkan hati sang trainer dingin]
Naufal terkekeh, mendapatkan hati sungguh ucapan berlebihan. Dia tidak tertarik menjalin hubungan dengan siapapun untuk kondisi keuangannya sekarang. Paling tidak dia harus kembali dan membenarkan keluarga baru mikir gituan.
"Mas Zul, yuk cabut. Udah jam setengah sembilan," ajak Naufal santai.
DAYA KHALYAL MEMBAGINGKAN