NovelToon NovelToon
One Night Stand

One Night Stand

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Elvara Naysha kembali ke kota setelah lima tahun, membawa rahasia terbesar dalam hidupnya yaitu seorang putra bernama Rheon.

Ia ingin memulai hidup baru, sampai takdir mempertemukannya lagi dengan Zayden Alvero, CEO dingin yang pernah menghabiskan satu malam bersamanya.

Zayden tak mengingat masa lalu itu, tetapi ia tak bisa mengabaikan wajah Rheon yang terlalu mirip dengannya.

Saat Zayden mulai mengejar kebenaran, Elvara harus memilih antara lterus menyembunyikan rahasia itu, atau menghadapi pria yang mungkin masih memiliki hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14 Pertemuan Kedua Dengan Rheon

Hari itu berjalan buruk sejak pagi bagi Elvara. Presentasi untuk klien luar negeri mundur dua kali karena perbedaan zona waktu, revisi kampanye datang mendadak dari tim regional, dan tiga kali pula interkom di mejanya menyala karena Zayden memanggil ke ruang CEO untuk urusan yang sebenarnya bisa selesai lewat satu email singkat. Kadang ia hanya diminta mencetak ulang file yang sudah ada di sistem, kadang diminta mengubah urutan jadwal yang bahkan belum final, kadang sekadar menjelaskan hal yang tertulis jelas di halaman pertama laporan.

Ia tahu pria itu sengaja melakukannya. Bukan karena pekerjaan benar-benar mendesak, melainkan karena ingin melihat reaksinya dari dekat. Zayden sedang menekan pelan, menguji batas sabar, dan menunggu celah sekecil apa pun.

Menjelang sore, Elvara berkali-kali melirik jam di sudut layar laptop. Pukul lima lewat lima belas. Biasanya pada jam seperti itu ia sudah menghubungi Nira agar Rheon disiapkan pulang, lalu berangkat tanpa perlu terburu-buru. Hari ini Nira izin pulang lebih awal karena ibunya sakit, jadi ia harus menjemput sendiri ke daycare.

Pukul lima lewat tiga puluh, ia akhirnya merapikan dokumen di meja dengan rasa lega yang nyaris manis. Tas sudah ia tarik mendekat, laptop hampir dimatikan, dan bahunya baru saja turun sedikit.

Lalu interkom berbunyi.

"Bu Elvara, masuk."

Suara Arsen terdengar netral seperti biasa. Itulah yang membuatnya makin menyebalkan, karena pria itu selalu terdengar tenang saat membawa kabar buruk.

Elvara menutup mata sejenak sebelum berdiri. Ia merapikan blazer, menarik napas panjang, lalu masuk ke ruang CEO dengan langkah yang dipaksa stabil.

Zayden berdiri di dekat meja rapat kecil sambil memegang beberapa lembar proposal. Jasnya sudah dikenakan kembali, tetapi dasinya sedikit longgar, seolah ia sendiri sedang bersiap pulang. Wajahnya datar, sulit dibaca seperti biasa.

"Saya harus menjemput anak saya, Pak," kata Elvara lebih dulu, memilih menyerang sebelum ditahan.

Zayden mengangkat kepala perlahan. "Bagus. Berarti Anda tahu apa yang penting."

"Jadi saya bisa pergi?"

"Satu hal dulu."

Ia menahan diri agar tidak mendesah keras. Kalau boleh jujur, ia ingin merampas map di tangan pria itu dan membuangnya ke luar jendela.

Zayden menyodorkan map tipis. "Baca dua halaman ini dan beri catatan. Lima menit."

"Lima menit Bapak sering berubah jadi tiga puluh."

"Hari ini saya sedang murah hati."

Elvara menerima map itu dengan tatapan tajam. Ia membaca cepat sambil berdiri, menandai poin lemah proposal, menuliskan tiga catatan inti, lalu mengembalikannya tepat tujuh menit kemudian.

"Sudah."

Zayden melihat sekilas isi halaman. "Cepat."

"Saya punya motivasi."

"Ayah yang menunggu?"

Elvara menatap lurus tanpa berkedip. "Anak saya."

Ia berbalik dan keluar sebelum pria itu menambahkan hal lain. Kalau ia bertahan satu menit lagi, ia khawatir kesabarannya habis di sana.

Begitu sampai parkiran, ia langsung masuk mobil dan memeriksa ponsel. Ada dua panggilan tak terjawab dari daycare. Jantungnya menegang seketika.

Ia menelepon balik sambil menyalakan mesin.

"Bu Elvara, maaf mengganggu," suara pengasuh terdengar sopan namun cemas. "Kami hampir tutup. Rheon masih menunggu."

"Saya di jalan. Lima belas menit."

"Baik, Bu. Kami temani."

Kemacetan kota jelas tak peduli pada kepanikan siapa pun. Lampu merah terasa lebih lama dari biasanya, kendaraan bergerak tersendat seperti sengaja mengejek, dan setiap menit di dashboard terasa seperti tuduhan. Elvara menggigit bibir sambil memegang setir lebih erat.

Di sisi lain kota, daycare kecil dekat kawasan bisnis mulai sepi. Rak mainan sudah dirapikan, sebagian lampu dimatikan, dan suara anak-anak yang biasanya riuh berganti keheningan sore.

Rheon duduk di bangku kayu dekat pintu sambil memainkan robot Sentinel. Kakinya bergoyang-goyang kecil, wajahnya serius seperti komandan yang sedang memeriksa pasukan.

Bu Siska duduk di sampingnya sambil melipat kain lap.

"Mommy telat ya?" tanya Rheon.

"Sedikit. Mommy masih kerja."

"Mommy kerja terus."

"Iya. Kamu marah?"

Rheon berpikir beberapa detik. "Sedikit. Tapi kalau Mommy kerja, aku bisa beli ayam goreng."

Bu Siska tertawa pelan. "Kamu pintar sekali."

"Aku realistis."

Wanita itu tertawa lagi, kali ini lebih keras.

Pintu kaca depan terbuka. Seseorang masuk dengan langkah tenang dan penampilan yang membuat ruangan kecil mendadak terasa resmi. Setelan mahal, postur tegap, dan aura dingin yang sulit diabaikan.

Zayden Alvero berhenti beberapa langkah dari pintu. Ia baru keluar dari makan malam bisnis di restoran sebelah ketika matanya menangkap papan daycare ini. Lalu ia melihat kepala kecil yang dikenalnya duduk di dalam.

Kakinya berhenti sebelum pikirannya sempat memberi alasan.

Bu Siska langsung berdiri. "Selamat sore, Pak. Ada yang bisa dibantu?"

Zayden menoleh singkat. "Saya hanya..."

Kalimatnya terputus karena Rheon sudah melihatnya lebih dulu.

Wajah bocah itu langsung cerah.

"Om dingin!"

Ruangan hening satu detik. Dua staf di belakang menoleh serempak. Bu Siska berkedip bingung.

Zayden sendiri diam sejenak, lalu tawa rendah keluar dari bibirnya. Singkat, hangat, dan begitu alami sampai ia sendiri tampak sedikit terkejut.

Rheon berlari mendekat sambil membawa robot.

"Aku tahu Om pasti lewat sini."

"Kenapa saya dipanggil Om dingin?" tanya Zayden.

"Karena waktu pertama ketemu, wajah Om kayak kulkas."

Bu Siska menutup mulut menahan senyum. Salah satu staf lain pura-pura sibuk menyusun buku gambar.

"Dan sekarang?" tanya Zayden lagi.

Rheon memandang serius. "Sekarang kayak AC."

"Masih dingin."

"Tapi lebih mahal."

Tawa itu keluar lagi. Kali ini lebih jelas.

Zayden menatap anak itu cukup lama. Ada hiburan yang jujur di matanya, sesuatu yang jarang dilihat orang lain.

"Kamu menunggu ibumu?"

"Iya. Mommy telat."

"Kesal?"

"Sedikit. Tapi Mommy capek kerja."

Ia berjongkok agar sejajar dengan tinggi Rheon. "Kamu tahu ibumu kerja keras?"

"Tahu. Makanya aku enggak boleh rewel."

Kalimat sederhana itu menghantam bagian dada yang tidak ia siapkan. Bocah ini bicara seperti seseorang yang terlalu cepat belajar memahami keadaan.

Rheon mengangkat robotnya. "Sentinel juga nunggu."

"Masih hidup?"

"Jelas. Dia penjaga kota."

"Nama yang saya kasih bagus."

"Banget."

Bu Siska tersenyum. "Pak, silakan duduk kalau mau menunggu."

Zayden justru menurut. Ia duduk di bangku plastik kecil dekat pintu. Pemandangan seorang CEO terkenal duduk di kursi anak-anak akan membuat satu gedung heboh bila ada yang melihat.

Rheon duduk di sebelahnya tanpa ragu.

"Om kerja apa?"

"Saya urus perusahaan."

"Masih jadi bos besar?"

"Masih."

"Capek ya."

"Kadang."

"Kalau capek, makan es krim."

"Itu solusi semua masalah?"

"Enggak. Kalau robot rusak, pakai obeng."

Zayden mengangguk seolah sedang menerima nasihat penting.

Beberapa menit berikutnya berlalu aneh cepat. Rheon bercerita tentang teman daycare yang suka menangis kalau kalah main puzzle, tentang gambar roket yang dibuatnya siang tadi, tentang brokoli yang menurutnya sengaja diciptakan untuk mengetes kesabaran manusia.

Zayden mendengarkan sungguh-sungguh.

Ia juga mengamati tanpa bisa dicegah. Mata anak itu saat fokus, garis senyum di pipi, cara mengerutkan dahi saat berpikir, kebiasaan mengangkat alis ketika bertanya. Semakin lama, semakin banyak hal yang terasa akrab.

Pintu kaca terbuka keras.

Elvara masuk dengan napas memburu dan wajah cemas.

"Rheon!"

Bocah itu meloncat turun. "Mommy!"

Ia berlari memeluk kaki ibunya. Elvara langsung jongkok, memeriksa wajah, tangan, dan tas anaknya seolah memastikan semuanya utuh.

"Maaf telat."

"Aku tahu Mommy kerja."

Baru setelah itu ia mengangkat kepala.

Dan membeku.

Zayden berdiri dua langkah dari mereka dengan tangan di saku celana, tenang seolah ini pertemuan biasa.

"Pak..."

Suara Elvara hampir habis.

"Sore."

"Apa yang Bapak lakukan di sini?"

"Masuk lewat pintu depan."

Rheon tertawa. "Om dingin lucu, Mom."

Elvara ingin pingsan saat itu juga.

"Terima kasih sudah menemani anak saya," katanya cepat sambil berdiri.

"Sama-sama."

Tatapan Zayden turun ke tangan Elvara yang masih memegang bahu Rheon, lalu naik lagi ke wajahnya.

"Anda sering terlambat menjemput?"

"Tidak."

"Bohong."

Bu Siska menunduk ke buku absen, terlalu sibuk agar tampak tidak mendengar.

"Hari ini pekerjaan banyak," kata Elvara menahan emosi.

"Karena saya."

Ia tak menyangka pria itu akan mengakuinya setenang itu.

"Kalau Bapak sadar, seharusnya saya bisa pulang tepat waktu."

"Besok pulang jam lima."

"Saya tidak minta."

"Tapi saya memberi."

Rheon menatap keduanya bergantian dengan rasa ingin tahu besar.

"Mommy kenal Om dingin dari kantor?"

"Iya," jawab Elvara cepat.

"Om sering bikin Mommy marah?"

"Rheon."

"Aku cuma tanya."

Zayden justru menjawab santai, "Kadang."

"Jahat."

Salah satu staf di belakang berbalik agar bisa tertawa diam-diam.

Zayden menatap Rheon. "Saya juga sering dibuat kesal ibumu."

"Berarti impas."

Sudut bibir pria itu terangkat lagi.

Elvara sudah tak sanggup lebih lama. "Kami pulang dulu."

Ia menggenggam tangan Rheon dan menariknya lembut ke arah pintu.

Bocah itu melambaikan robotnya tinggi-tinggi.

"Bye, Om dingin."

"Nama saya Zayden."

"Masih terlalu serius. Om dingin lebih cocok."

Tawa kecil itu keluar lagi dari Zayden. Hangat dan tanpa beban.

Elvara terdiam sepersekian detik karena pemandangan itu terasa asing. Ia pernah melihat pria itu tersenyum sopan di acara bisnis, pernah melihatnya dingin di ruang rapat, pernah melihatnya sinis saat marah.

Tapi tawa seperti ini tidak pernah.

Dan penyebabnya adalah anak mereka.

Pikiran itu membuat dadanya sesak.

Ia cepat membawa Rheon keluar menuju mobil. Namun sebelum masuk, ia menoleh tanpa sengaja.

Zayden masih berdiri di dalam daycare, memandang mereka lewat kaca. Wajahnya tenang, tetapi tatapannya jauh lebih lembut dari biasanya.

Dan jauh lebih berbahaya.

Di perjalanan pulang, Rheon sibuk bercerita tanpa henti dari kursi belakang.

"Mom, Om dingin ternyata bisa ketawa."

"Hm."

"Dia duduk di kursi kecil. Kakinya panjang banget."

"Hm."

"Dia bilang aku pintar."

Elvara menggenggam setir lebih erat sambil menatap jalan.

"Mom?"

"Iya?"

"Kenapa Mom kelihatan mau marah sama lampu merah?"

Ia hampir tertawa kalau tidak terlalu lelah.

Di sisi lain kota, Zayden masuk ke mobil dengan pikiran yang sama sekali tak tenang. Ia masih bisa mendengar suara kecil memanggil Om dingin dan melihat wajah anak itu saat tertawa.

Satu hal kini makin jelas baginya. Ia tak hanya penasaran pada Rheon, dan itu masalah besar.

Ia mulai menyayangi anak itu bahkan sebelum tahu kebenaran.

1
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
terlalu n makin mbuleeddd, n heran nya masih aq baca🤣🤣🤣🤣
Wiewi Maulana
kenapa jadi mutar mutar thor,dari awal cerita nya menarik padahal
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Lisa
Akhirnya Zayden menanyakan hal itu..ayo Elvara jawablah dgn jujur..
Lisa
Koq Elvara kabur sih..mestinya dihadapi toh Zayden mau bertanggungjawab sebagai papanya Rheon...kembali Elvara kasihan Rheon..
Lisa
Cepat sembuh y Rheon..
Lisa
Kapan y Elvara mengakui bahwa Rheon adalah putranya Zayden
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
masih mbulleeedd
Nindy bantar
mampir thor seperti nya seru👍
Nindy bantar
💪💪💪
𝐀⃝🥀Weny
ikatan darah gak bisa dibohongi😊
Lisa
Kapan y Elvara mengatakan yg sebenarnya pada Zayden bahwa Rheon adalah putranya
Lisa
Nah ini saatnya Elvara mengakui semuanya..kalau Rheon adalah putra dari Zayden.
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
pusing thor, berulang-ulang terus dgn fakta yg itu2 aja😒
Lisa
Akhirnya Zayden tahu bahwa Rheon adalah putranya
Lisa
Nah udh keliatan sekrg klo Zayden emg mencintai Elvara
Hennyy exo
di bab ini penasaran banget sama masa lalu mereka🤭
Hennyy exo
suka banget alurnya
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
gasskeun lah bang zay.. selidiki rheon anak mu apa bukan.. biar makin jelas posisi mu saat membela n mempertahankan keberadaannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!