NovelToon NovelToon
Tahta Darah Sembilan Cakrawala 2

Tahta Darah Sembilan Cakrawala 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

(SEASON 2)

Dengan Inti Emas Iblis di Dantian-nya, Shen Yuan kini meninggalkan benua kelahirannya. Ia melangkah menembus Gerbang Lintas Benua menuju jantung peradaban Sembilan Cakrawala, siap membawa badai darah mematikan bagi para dewa palsu yang pernah merenggut segalanya darinya. Perburuan yang sesungguhnya baru saja dimulai!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lembah Gema Abadi

Malam di Benua Pusat tidak pernah sepi dari tipu daya dan pertumpahan darah. Namun, jauh di ujung utara benua ini, tersembunyi sebuah tempat yang menolak segala bentuk hukum alam fana.

Lembah Gema Abadi.

Tempat ini tidak memiliki badai salju seperti di Ngarai Angin Membeku, tidak pula memiliki hawa panas seperti Gurun Pasir Kematian. Lembah ini berbentuk seperti kawah raksasa yang seluruh permukaannya terbuat dari batu kristal putih tanpa cela. Tidak ada satu pun tumbuhan yang hidup di sini. Tidak ada angin yang berhembus. Waktu seolah membeku; setiap suara yang tercipta di tempat ini akan terus memantul selamanya, menciptakan gema abadi yang bisa meruntuhkan kewarasan manusia.

Wussshhh!

Keheningan mutlak yang telah bertahan selama puluhan tahun itu mendadak dirobek oleh sebuah pilar cahaya hitam pekat yang melesat turun dari langit.

Shen Yuan mendarat di tengah-tengah hamparan kristal putih tersebut. Pendaratan kakinya tidak menimbulkan suara ledakan berkat kendali hawa murninya yang kini berada di Puncak Ranah Pembentukan Inti Emas. Zirah Hawa Murni yang menyelimuti tubuhnya memancarkan percikan petir perak—sisa-sisa dari Petir Hukuman Ilahi yang telah ia telan dan satukan dengan Dantian-nya.

Ia mendongak, matanya yang segelap obsidian menyapu seluruh lembah.

"Tempat yang menjemukan," gumam Shen Yuan. Gema suaranya memantul berulang kali di dinding kristal, '...menjemukan... menjemukan... menjemukan...'

Di pusat lembah tersebut, terdapat sebuah altar batu giok biru yang melayang beberapa jengkal di atas tanah. Di atas altar itu, sesosok pria berambut putih keperakan berbaring dengan tangan bersilang di dada. Ia mengenakan jubah putih suci yang memancarkan cahaya surgawi. Kulitnya sehalus pualam, dan wajahnya memancarkan keagungan yang tidak mungkin dimiliki oleh makhluk fana.

Hawa murni di sekitar tubuh pria itu begitu padat hingga ruang di sekitarnya melengkung, menciptakan lengkungan ruang yang membelokkan cahaya.

Inilah Tuan Surgawi Tian Chen. Utusan dari Alam Spiritual, dalang di balik perburuan Peta Makam Tuan Tanah Hantu, dan orang yang secara tidak langsung memerintahkan pembunuhan ayah Shen Yuan sepuluh tahun yang lalu.

"Bocah... auranya benar-benar menekan hukum alam fana," suara Leluhur Darah terdengar berat di dalam batin Shen Yuan. "Dia memang berada di Puncak Peleburan Jiwa, tapi pemahamannya tentang kaidah ruang sudah menyentuh batas Pemisahan Duniawi. Bahkan saat ia tertidur, tubuh fananya dilindungi oleh perisai ruang. Senjata fana biasa akan menembus ruang kosong jika mencoba menebasnya."

"Kalau begitu, mari kita bangunkan dia dengan sesuatu yang tidak biasa," Shen Yuan menyeringai buas.

Ia tidak repot-repot menyusup atau menggunakan Langkah Bayangan Hantu. Shen Yuan melangkah maju dengan mantap. Tangan kanannya merentang ke punggung, menggenggam gagang Pecahan Gigi Naga.

Begitu pedang pusaka purbakala itu ditarik, aura kematian dari Tuan Tanah Hantu menyebar, berbenturan secara brutal dengan aura suci di lembah tersebut.

Langkah Shen Yuan terhenti pada jarak seratus tombak dari altar giok biru. Ia mengangkat pedang patahnya tinggi-tinggi. Hawa murni Puncak Inti Emas yang telah disempurnakan oleh petir ilahi meledak dari Dantian-nya!

"Tian Chen! Waktu tidurmu sudah habis!" raung Shen Yuan.

"Gulungan Pedang Penelan Langit: Belah Cakrawala!"

Shen Yuan mengayunkan pedangnya dengan kekuatan penuh. Pusaran sabit hitam raksasa yang dihiasi oleh kilatan petir perak melesat membelah ruang hampa, memotong lengkungan ruang di sekitar altar, dan menghantam lurus ke arah tubuh sang utusan yang sedang tertidur!

Blaaarrr!

Bentrokan antara tebasan iblis dan perisai ruang utusan surga menghasilkan ledakan suara yang meremukkan telinga. Gema dari ledakan itu memantul jutaan kali di dinding lembah, menciptakan badai suara yang sanggup membuat telinga pendekar Inti Emas biasa berdarah.

Namun, di tengah kepulan cahaya yang meledak, altar giok biru itu tidak hancur.

Tebasan pusaran hitam Shen Yuan tertahan tepat satu inci dari dahi pria berambut putih tersebut, dihentikan oleh sebuah perisai cahaya emas keputihan yang perlahan muncul.

Kelopak mata pria di atas altar itu perlahan terbuka.

Sepasang mata yang tidak memiliki pupil, murni berupa cahaya putih keperakan, menatap kosong ke arah langit sebelum akhirnya turun menatap Shen Yuan.

Seketika itu juga, tekanan berat bumi di seluruh Lembah Gema Abadi meningkat sepuluh ribu kali lipat! Udara berubah menjadi batu. Tekanan yang turun dari tatapan mata itu bukanlah tekanan hawa murni, melainkan Kehendak Surga!

"Siapa yang berani mengusik tidur panjangku... dengan aura menjijikkan dari sang pemberontak itu?" Suara Tian Chen tidak keluar dari mulutnya, melainkan bergema langsung dari seluruh penjuru lembah, menembus jiwa Shen Yuan.

Pria itu bangkit duduk secara perlahan. Saat ia berdiri, seluruh lembah bergetar seolah menyembah kedatangannya. Ia melirik sisa tebasan hitam yang perlahan memudar di depan perisainya, lalu menatap lekat-lekat pada pedang di tangan Shen Yuan.

"Pecahan Gigi Naga... dan seni pedang dari Tuan Tanah Hantu," Tian Chen memiringkan kepalanya, matanya yang bercahaya menatap Shen Yuan tanpa emosi. "Aku menyuruh anjing-anjing di Kuil Dewa Perak untuk membawakan petanya, tetapi mereka malah membiarkan seekor semut alam bawah mewarisi kekuatan kotor ini."

Tian Chen melayang turun dari altarnya. Jubah sucinya berkibar perlahan.

"Katakan padaku, Semut Tanah. Di mana Bai Luo dan anjing-anjing dari Kuil Dewa Perak? Mengapa mereka membiarkan hama sepertimu mengotori tempat peristirahatanku?"

Shen Yuan menyarungkan kembali Pecahan Gigi Naga ke punggungnya. Ia berdiri tegak menentang tekanan mutlak tersebut. Tubuh Emas Gelap-nya berderit pelan, namun tidak ada satu pun tulang yang melengkung.

"Anjing-anjingmu sudah kusembelih," jawab Shen Yuan santai, mengusap lehernya. "Bai Luo, Kuil Dewa Perak, dan seluruh pelindungmu di alam bawah telah menjadi abu. Aku menelan jiwa mereka."

Mendengar hal itu, cahaya putih di mata Tian Chen sedikit berkedip, menunjukkan kilatan ketidakpercayaan dan amarah yang dingin.

"Kau... menghancurkan bidak-bidak yang kutanam di alam fana?" Tian Chen melangkah maju. Setiap langkahnya membuat lantai kristal di bawahnya retak. "Hanya karena kau menemukan secuil warisan dari buronan Alam Spiritual, kau berpikir kau bisa menantang seorang utusan surga? Sepuluh tahun yang lalu, aku memerintahkan mereka untuk memusnahkan garis keturunan fana yang berani menyentuh peta itu. Rupanya mereka melewatkan satu hama."

Mendengar pengakuan langsung dari mulut Tian Chen, darah di dalam Nadi Iblis Penelan Surga Shen Yuan mendidih hingga ke titik mutlak. Dendam yang selama sepuluh tahun membakar rongga dadanya kini menemukan muaranya.

"Sepuluh tahun yang lalu, kau mengambil nyawa seorang ayah demi ambisi serakahmu," suara Shen Yuan merendah, menjadi sangat gelap dan mematikan. "Hari ini, putra dari fana yang kau remehkan itu berdiri di sini untuk merobek jantungmu."

Tian Chen tertawa. Tawa yang hampa, tanpa belas kasihan, seperti dewa yang melihat seekor serangga menantangnya berduel.

"Nyawa manusia fana hanyalah embun di pagi hari. Menghancurkan mereka adalah hukum alam. Kau pikir kemarahanmu memiliki arti di mataku?"

Tian Chen mengangkat tangan kanannya. Cahaya putih suci memadat di atas telapak tangannya, membentuk sebuah stempel energi raksasa sebesar bukit yang dipenuhi oleh ukiran kaidah alam atas.

"Tangan Dewa Penghukum!"

Stempel cahaya suci itu melesat turun dari langit, mengunci seluruh ruang di atas Shen Yuan. Tekanan dari Puncak Peleburan Jiwa ini benar-benar menutup seluruh jalur pelarian. Serangan ini tidak bertujuan untuk melukai, melainkan untuk menghancurkan jiwa, daging, dan tulang Shen Yuan secara bersamaan ke dalam ketiadaan!

Shen Yuan mendongak. Di hadapan serangan yang mewakili kehendak surga itu, ia tidak merasa takut. Sebaliknya, Inti Emas Iblis di dalam Dantian-nya bergemuruh liar, memancarkan kegembiraan yang gila.

Ia telah menelan petir kesengsaraan langit. Apa bedanya dengan serangan dewa palsu ini?!

"Jika ini adalah kehendak surga..." raung Shen Yuan. "...maka aku adalah Iblis yang akan menelannya!"

Sutra Penelan Surga, Putaran Puncak Langit!

Shen Yuan tidak menghindar. Ia mengayunkan kedua tangannya ke atas. Hawa murni merah kehitaman yang dipenuhi oleh kilatan petir perak meledak dari dalam tubuhnya!

Pusaran hisapan yang ukurannya sepuluh kali lipat lebih besar dari sebelumnya membelah langit Lembah Gema Abadi. Rahang naga iblis tak kasat mata terbuka lebar, menyongsong jatuhnya Tangan Dewa Penghukum.

Bummmmm!

Bentrokan antara kemurkaan Iblis Penelan Surga dan keangkuhan Utusan Alam Spiritual meledak! Gelombang kejut dari tabrakan itu menghancurkan altar giok biru di tengah lembah menjadi debu kristal. Dinding-dinding lembah yang diklaim abadi mulai retak dan runtuh!

Pusaran hitam Shen Yuan menggigit stempel cahaya suci itu dengan rakus. Suara desisan mengerikan terdengar saat hawa murni iblis dan petir hukuman ilahi yang menyatu dalam Dantian Shen Yuan mulai menggiling dan menelan energi dari Alam Spiritual tersebut!

Mata tanpa pupil milik Tian Chen terbelalak lebar. Wajah tenangnya akhirnya hancur digantikan oleh kengerian mutlak.

"K-Kaidah Penelanan...?! K-Kau bukan sekadar pewaris... Kau benar-benar mengubah Inti Emasmu menjadi Iblis Penelan Surga?!" teriak Tian Chen, merasakan hawa murninya tersedot keluar dari kendalinya.

Di bawah bayang-bayang pusaran yang mengamuk, Shen Yuan berdiri dengan mata menyala merah darah. Darah segar menetes dari sudut bibir dan pori-pori tangannya karena menahan tekanan luar biasa, namun ia menyeringai layaknya kaisar pembantaian.

"Dewa fana, selamat datang di nerakaku."

1
black swan
...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!