Arga Baskara hidup dalam bayang-bayang janji masa kecil yang ia genggam selama delapan tahun. Ketika Nala Anindita kembali ke kehidupannya sebagai teman sekelas, ia berharap waktu akan menyatukan kembali keduanya. Namun, Nala telah berubah—ia tak lagi mengingat masa lalu yang begitu berarti bagi Arga.
Di tengah realitas baru, Arga harus menghadapi cinta yang tak berbalas, diperparah oleh kehadiran Satria yang semakin dekat dengan Nala. Terjebak antara kenangan dan kenyataan, Arga dihadapkan pada pilihan: terus bertahan pada perasaan lama, atau belajar melepaskan.
Kisah ini menggambarkan tentang cinta yang tertinggal oleh waktu, dan perjuangan seseorang untuk menerima bahwa tidak semua janji akan kembali utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Debu-debu halus menari di bawah sorot lampu neon yang berkedip di gudang peralatan SMA Tunas Bangsa. Arga memindahkan sebuah kardus berat berisi kabel-kabel pengeras suara ke sudut ruangan. Napasnya sedikit terengah, namun pikirannya masih tertinggal pada percakapan di warung tenda kemarin malam. Kata-kata Nala tentang lelaki idealnya masih terngiang, menciptakan lubang kecil di hatinya yang enggan menutup.
Tania Larasati berdiri tidak jauh darinya, sibuk menyusun tumpukan kain dekorasi di rak besi yang berkarat. Gadis itu berkali-kali menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan. Rambutnya yang diikat ekor kuda tampak sedikit berantakan, namun senyumnya tetap terjaga saat dia menoleh ke arah Arga.
"Mau aku bantu yang itu, Arga?" tanya Tania sambil menunjuk tumpukan papan kayu di dekat kaki Arga.
Arga menggeleng pelan sambil mencoba mengatur napasnya. "Enggak usah, Tan. Ini berat. Biar aku saja yang pindahkan ke sana," jawabnya singkat.
Tania berjalan mendekat, membawa sebotol air mineral yang masih tersegel. Dia menyodorkannya kepada Arga dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada gurat kekhawatiran yang terpancar jelas dari kedua matanya yang jernih.
"Minum dulu. Kamu sudah bekerja dari tadi tanpa istirahat. Jangan sampai sakit sebelum festival dimulai," ujarnya lembut.
Arga menerima botol itu. Dinginnya air di balik plastik terasa kontras dengan suhu gudang yang pengap dan gerah. "Terima kasih," gumamnya sebelum meneguk air itu dengan cepat.
Mereka terdiam sejenak di tengah tumpukan barang-barang lama yang sudah tidak terpakai. Suara keriuhan siswa lain di lapangan sekolah terdengar sayup-sayup dari balik dinding beton, membuat suasana di dalam gudang terasa terisolasi dari dunia luar. Tania menundukkan kepala, jemarinya memainkan ujung kemeja seragam yang sedikit kotor karena debu.
"Arga, apa kamu selalu begini?" tanya Tania tiba-tiba. Suaranya terdengar lebih pelan dari biasanya.
Arga yang baru saja meletakkan kembali botol airnya mengerutkan kening. "Begini bagaimana maksudmu?"
"Selalu memikul semuanya sendiri. Selalu melihat ke satu arah, sampai tidak sadar kalau ada orang lain yang berdiri tepat di dekatmu," ucap Tania dengan nada yang sedikit bergetar.
Jantung Arga berdegup sedikit lebih cepat. Dia bukan remaja yang tidak peka. Selama ini dia menyadari bagaimana Tania selalu berusaha ada di sekitarnya, memberinya perhatian-perhatian kecil yang sering kali dia abaikan. Namun, hatinya sudah terlalu penuh oleh bayang-bayang Nala selama delapan tahun terakhir.
"Aku tahu kamu sedang memikirkan siapa, Arga," lanjut Tania lagi. Dia kini memberanikan diri untuk mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata Arga. "Melihatmu terus-menerus mengejar sesuatu yang mungkin tidak ingin dikejar, rasanya menyesakkan bagi yang melihat. Aku hanya ingin kamu tahu, kalau kamu tidak perlu melakukannya sendirian."
Arga terpaku di tempatnya berdiri. Dia bisa merasakan ketulusan dalam nada bicara Tania. Gadis di depannya ini adalah definisi dari ketenangan dan kebaikan yang selama ini dia cari, namun ironisnya, dia tidak bisa memberikan apa yang diinginkan gadis itu.
"Tania, aku ...." Arga menggantung kalimatnya, berusaha mencari diksi yang paling tepat agar tidak melukai perasaan lawan bicaranya.
"Aku tidak minta kamu membalas perasaanku sekarang," potong Tania dengan cepat, seolah takut mendengar jawaban yang sudah dia duga. "Aku hanya ingin kamu tahu kalau aku ada di sini. Bahwa aku menyukaimu lebih dari sekadar teman sekelas. Aku ingin menjadi alasan kamu tersenyum, bukan alasan kamu terlihat sesedih ini."
Arga menarik napas panjang, membiarkan udara gudang yang berat memenuhi paru-parunya. Dia menatap Tania dengan tatapan penuh rasa bersalah. Baginya, kejujuran adalah bentuk penghormatan tertinggi, meskipun itu akan terasa sangat menyakitkan.
"Tania, kamu adalah orang yang sangat baik. Kamu manis, perhatian, dan jujur saja, aku merasa sangat dihargai karena ada orang sehebat kamu yang memperhatikanku," ujar Arga dengan suara rendah namun mantap.
Tania menunggu kelanjutan kalimat itu dengan tangan yang mengepal di sisi tubuhnya.
"Tapi aku tidak bisa berbohong padamu, atau pada diriku sendiri. Hatiku masih tertinggal di masa lalu. Ada seseorang yang sudah mengisi ruang itu sejak lama sekali, dan meskipun semuanya terasa sulit sekarang, aku belum bisa membiarkan orang lain masuk," lanjut Arga dengan tulus.
Senyum getir tersungging di bibir Tania. Dia mengangguk pelan, mencoba mempertahankan sisa keberaniannya. Matanya mulai berkaca-kaca, namun dia menolak untuk membiarkan air mata itu jatuh di depan Arga.
"Nala, kan?" tanya Tania pendek.
Arga tidak memberikan jawaban verbal, namun keheningan yang menyusul sudah menjadi konfirmasi yang sangat jelas bagi Tania.
"Setidaknya aku sudah mengatakannya. Aku tidak mau memendam ini sendirian lagi sementara aku melihatmu juga menderita karena perasaanmu sendiri," bisik Tania. Dia mengambil satu langkah mundur, menciptakan jarak yang terasa begitu lebar di antara mereka.
"Maaf kalau aku membuatmu tidak nyaman setelah ini," tambah Tania lagi sambil mencoba mengatur suaranya agar tidak pecah.
"Jangan minta maaf, Tan. Justru aku yang harus berterima kasih karena kamu sudah sejujur itu. Kamu pantas mendapatkan seseorang yang bisa memberikan seluruh hatinya untukmu, tanpa ada bayang-bayang orang lain di dalamnya," sahut Arga.
Tania hanya bisa tersenyum lemah. Dia berbalik, kembali menyibukkan diri dengan kain-kain dekorasi yang tadi sempat dia tinggalkan. Arga tetap berdiri di sana, menatap punggung Tania sejenak sebelum kembali mengangkat kardus-kardus berat di sekitarnya.
Gudang itu kembali hening, hanya menyisakan suara gesekan kardus dan helaan napas yang sarat akan beban masing-masing. Di antara tumpukan barang lama dan memori masa lalu, Arga baru saja menutup satu kemungkinan untuk tetap setia pada sebuah ketidakpastian yang bernama Nala.