NovelToon NovelToon
Aku Diculik Mafia Tampan

Aku Diculik Mafia Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Sinopsis – Aku Diculik Mafia Tampan

Alya, gadis sederhana yang bekerja keras demi menghidupi ibunya, tak pernah menyangka hidupnya berubah hanya karena satu kecelakaan kecil. Saat menabrak mobil mewah di tengah hujan, ia justru diculik oleh pemilik mobil itu—Kael Lorenzo, pria tampan, kaya raya, dan pemimpin mafia paling ditakuti di kota.

Dibawa ke mansion megah bak penjara emas, Alya dipaksa tinggal bersama pria berbahaya yang dingin dan kejam itu. Kael seharusnya menyingkirkannya, tetapi ada sesuatu pada Alya yang membuatnya tak mampu melepaskan.

Semakin Alya melawan, semakin Kael terobsesi.

Ia melarang Alya pergi.
Ia menghancurkan siapa pun yang mendekat.
Ia rela menumpahkan darah demi menjaga gadis itu tetap di sisinya.

Namun saat rahasia masa lalu Kael mulai terbongkar dan musuh-musuh mafia mengincar Alya, keduanya terjebak dalam permainan cinta yang berbahaya.

Bisakah Alya kabur dari pria yang menculiknya…
atau justru jatuh cinta pada mafia tampan yang menganggapnya milikny

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Memilih Kabur

Bab 21 – Aku Memilih Kabur

“Pilih sekarang. Ikut aku… atau jadi tahanan keluarga Lorenzo selamanya.”

Tangan Serena mencengkeram lengan Alya erat sekali, seolah takut gadis itu berubah pikiran di detik terakhir.

Suara langkah kaki berat dan tergesa terdengar semakin dekat dari arah lorong taman.

“ALYA!!!”

Terakan Kael menggema di udara malam.

Jantung Alya berdegup kencang tak karuan, rasanya mau meledak.

Di satu sisi, seluruh jiwa dan raganya ingin berlari kembali ke arah suara itu. Ke arah pria menyebalkan yang selalu memerintah, selalu posesif, tapi juga selalu siap menampung dan melindunginya apa pun yang terjadi.

Tapi di sisi lain… ingatan tentang semua rahasia yang baru terbongkar membuat dadanya sesak dan sakit.

Keluarga Lorenzo.

Darah mafia.

Kebohongan bertahun-tahun.

Dan kemungkinan bahwa mereka terlarang.

Alya butuh pergi.

Butuh menjauh sejenak.

Butuh udara segar untuk berpikir jernih.

Ia menatap tajam ke mata Serena.

“Kalau aku ikut kamu… janji kamu bawa aku ketemu Ibu?”

Serena menjawab tanpa ragu sedikit pun. “Aku tahu persis ke mana mereka membawanya.”

“Kau bohong?”

“Aku terlalu sibuk membencimu untuk punya waktu berbohong, Alya,” jawab Serena sinis.

Alya mendelik. “Jujur juga ya.”

Suara langkah kaki itu kini terdengar sangat dekat. Bayangan tinggi besar sudah terlihat di ujung jalan setapak taman.

“ALYA!!!”

Tanpa berpikir dua kali lagi, tanpa menimbang untung ruginya, Alya menarik napas panjang.

“Aku ikut.”

Serena langsung menarik tangan Alya sekuat tenaga menuju gerbang belakang yang terbuka. Mereka berlari sekencang-kencangnya menuju mobil hitam kecil yang sudah menunggu dengan mesin menyala.

Begitu mereka masuk dan pintu mobil hampir tertutup rapat—

“ALYA!!! JANGAN!!!”

Kael muncul tepat di ujung pagar taman. Napasnya memburu, rambutnya agak berantakan, dan wajahnya…

Wajah Kael berubah gelap gulita saat melihat tangan Serena yang sedang menggenggam pergelangan tangan Alya.

Dunia seakan berhenti berputar untuk sesaat.

“Alya… turun dari mobil itu sekarang,” ucap Kael pelan. Suaranya rendah, tenang, tapi justru terdengan jauh lebih menakutkan daripada saat ia berteriak.

Napas Alya tercekat di tenggorokan.

Serena langsung menginjak kopling dan tangan nya siap memutar gas.

“Cepat pilih lagi, Alya. Mau mati di sini atau hidup?”

Kael berjalan mendekat perlahan. Setiap langkah kakinya terasa berat menekan udara di sekitarnya.

“Aku bilang… turun.”

Alya menggenggam erat kain celana jeansnya, tangannya basah keringat dingin.

“Aku… aku butuh waktu, Kael. Aku butuh waktu untuk berpikir!” teriaknya dari dalam mobil.

“Berpikir bisa dilakukan di sampingku. Di tempat yang aman.”

“AKU NGGAK BISA BERPIKIR JIKA TERUS DIKURUNG DAN DIATUR!!!” balas Alya menangis.

Kael berhenti berjalan tepat di samping jendela mobil. Jaraknya hanya beberapa sentimeter dari wajah Alya.

Tatapan matanya tajam menusuk jiwa, penuh dengan amarah, kecewa, dan rasa posesif yang membara.

“Kalau kau nekat pergi sekarang bersamanya…”

Ia berhenti sejenak, menelan ludah keras-keras.

Suara rendahnya terdengar berbahaya dan mengancam nyawa.

“Aku akan mengejarmu.”

Alya menelan ludah dengan susah payah. “Kael…”

“Dan saat aku berhasil menemukanmu nanti…” Jantung Alya berdetak makin kencang mendengar kalimat selanjutnya. “…kau tidak akan pernah bisa kabur lagi dariku. Selamanya.”

Serena memutar bola matanya kesal melihat adegan drama itu.

“Wah, romantis sekali. Pegangan sabuk ya, Nona.”

BRUMMMMM!!!

Tanpa aba-aba, Serena menginjak gas sekuat tenaga!

Mobil itu melesat kencang bagaikan anak panah, meninggalkan Kael yang berdiri terpaku di tengah jalan.

Kael sempat berlari mengejar beberapa langkah, tapi akhirnya berhenti. Ia hanya berdiri diam mematung di dalam kegelapan malam, menatap mobil yang menjauh hingga hilang dari pandangan.

Jas hitamnya berkibar tertiup angin. Tatapannya yang terkunci pada mobil itu… terlihat jauh lebih menyeramkan daripada jika ia saat ini sedang menghancurkan segalanya.

 

Di dalam mobil yang melaju kencang, Alya masih gemetar hebat. Keringat dingin membasahi punggungnya.

“Kamu gila,” gumam Alya pelan.

Serena mendengus sinis sambil tetap fokus menyetir dan membelokkan mobil ke jalan tikus.

“Aku sering dengar pujian itu.”

“Bukan kamu. Aku. Aku yang gila,” koreksi Alya sambil memijat pelipisnya yang pusing. “Baru saja kabur dari mafia posesif… malah lari sama mantan pacarnya yang hobi nampar orang.”

Serena tersenyum miring. “Kalau kau bikin aku kesal di jalan, aku bisa nampar lagi kok. Jangan ragukan kemampuanku.”

“Aku loncat dari mobil kalau kamu berani!” ancam Alya.

Anehnya, Serena justru tertawa kecil. Itu pertama kalinya Alya melihat wanita itu tertawa tulus, bukan tawa sinis atau jahat.

Alya melirik sekilas. “Kamu… sebenernya nggak sejahat itu kan?”

Serena langsung mengubah ekspresinya kembali jadi datar dan dingin. “Jangan sok kenal dan sok akrab denganku. Kita belum teman.”

Hening beberapa saat.

Lalu Serena berkata pelan, memecah kesunyian.

“Kael itu… dia tak pernah benar-benar mencintai wanita mana pun selama ini. Dia dingin. Dia mesin pembunuh.”

Alya menoleh, mendengarkan.

“Dan?”

“Tapi sekarang… dia mencintaimu. Gila. Buta. Dan posesif. Seluruh kota tahu itu sekarang,” kata Serena pelan.

Jantung Alya berdesir aneh. Pipinya terasa panas mendengarnya.

“Itu… bukan urusanku lagi,” jawabnya memberanikan diri, meski suaranya sedikit gemetar.

“Sayang sekali. Sayang sekali karena perasaan itu yang sekarang jadi bahaya terbesar buat hidupmu.”

Alya memalingkan wajah ke arah jendela, menatap lampu jalan yang lewat bergantian.

Kenapa ya… kalimat itu malah bikin aku senang sendiri? batinnya bingung.

 

Sementara itu di Mansion Lorenzo.

Suasana di dalam rumah besar itu mencekam sekali. Suasana lebih dingin dari biasanya.

Tak satu pun bodyguard atau pelayan yang berani bergerak sembarangan atau mengeluarkan suara. Mereka semua tahu Tuan Muda Kael sedang dalam mode murka level dewa.

Kael berdiri di ruang utama, menatap layar monitor besar yang menampilkan rekaman CCTV terakhir saat Alya masuk ke mobil Serena.

Riko berdiri beberapa meter di belakangnya, menelan ludah dengan gugup.

“Tuan…” panggilnya pelan.

Kael bicara tanpa menoleh sedikit pun, matanya tetap terpaku pada layar.

“Tutup semua akses keluar kota. Segala arah.”

“Siap, Tuan. Sudah diperintahkan.”

“Bandara. Periksa setiap penumpang.”

“Siap, Tuan.”

“Pelabuhan. Cek setiap kapal.”

“Siap, Tuan.”

“Stasiun kereta. Poskan orang di setiap gerbang.”

“Siap, Tuan.”

Kael akhirnya perlahan menoleh ke arah Riko.

Wajahnya datar, tapi matanya memancarkan aura membunuh yang sangat pekat dan menakutkan.

“Dan dengar baik-baik… siapa pun yang ketahuan membantu Serena menyembunyikan sesuatu…”

Riko menegang kaku.

“...mereka adalah musuhku. Dan musuhku… tidak ada yang hidup lama.”

 

Kembali ke dalam mobil.

Tiba-tiba ponsel milik Serena bergetar kencang. Ia melirik layar dan wajahnya langsung berubah masam.

“Apa?” tanya Alya waspada.

“Brengsek,” umpat Serena pelan. “Kael sudah mengerahkan semua orang. Dia memblokir semua jalan utama keluar kota. Kita dikepung.”

Alya membelalakkan mata. “Secepat itu?! Dia robot apa sih?!”

“Itu baru pemanasan, Alya. Kalau dia sudah gila mencari sesuatu… tidak ada tempat yang aman di dunia ini,” jawab Serena serius. Ia segera membelokkan mobil ke jalan setapak kecil dan berbatu menuju arah pinggiran kota yang lebih sepi.

“Kita mau ke mana?”

“Ke tempat persembunyian darurat. Sepi. Tidak ada yang tahu.”

“Aku harap di sana ada kasur empuk dan makan enak,” keluh Alya lelah.

“Jangan manja. Bersyukur masih bisa napas.”

“AKU DICULIK BERKALI-KALI MINGGU INI! Wajar dong aku capek!” seru Alya kesal.

Serena hampir tersenyum lagi mendengarnya.

Akhirnya mobil berhenti di depan sebuah motel tua yang sangat terpencil dan kumuh. Lampu neon depannya berkedip-kedip redup, terlihat angker sekali.

Alya menatap bangunan itu tak percaya.

“Kamu serius? Ini tempat apa? Rumah hantu?”

“Kau mau hotel bintang lima dengan buffet sarapan? Ini yang ada. Bersyukur,” jawab Serena santai sambil turun dari mobil.

“Aku mau hidup normal…” gumam Alya pasrah.

“Menu itu habis stok, Nona.”

Mereka masuk dan mengambil kunci kamar nomor 7. Begitu pintu kamar dibuka, isinya sangat sederhana. Kecil, pengap, ada satu ranjang besar di tengah, dan jendela kecil menghadap tembok bangunan lain.

Alya membeku menatap ranjang itu.

“Satu ranjang?!”

Serena melempar tasnya ke kursi kayu yang reyot. “Tenang saja. Kau tidur di lantai. Aku yang pakai kasur.”

“APA?! KEUJELAN! AKU TAMU! HARUSNYA DIPERLAKUKAN BAIK!”

“Dasar manja—”

Belum sempat mereka berdebat lebih jauh, tiba-tiba terdengar suara mesin mobil besar yang berhenti tepat di depan pintu motel.

Suaranya berat… dan sangat dikenal.

Alya dan Serena langsung saling pandang, wajah keduanya berubah pucat.

Langkah kaki berat, perlahan, dan pasti terdengar mendekat menuju pintu kamar mereka.

Tok…

Tok…

Tok…

Tiga ketukan pelan namun tegas.

Dan kemudian… suara rendah, berat, dan penuh aura dominan yang sangat dikenali Alya terdengar jelas dari balik pintu kayu tipis itu.

“Buka pintunya, Alya. Kita perlu bicara.”

1
Erna sujana Erna sujana
lanjut Thor,suka dgn CRT nya
wiwi: tunggu update bsok yah kak😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!