NovelToon NovelToon
Jauh Di Hati, Dekat Di Ranjang

Jauh Di Hati, Dekat Di Ranjang

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / One Night Stand / Trauma masa lalu
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: phiiiew

Malam itu di hotel, Vandini melihat sosok suaminya bersama wanita lain.

Apa yang lebih menyakitkan daripada pengkhianatan?

Apa lagi kalau bukan kenyataan bahwa pria yang ia cintai selama bertahun-tahun sama sekali tidak merasa bersalah. Satura bahkan berani bilang itu hal biasa dan mencoba menutupi semua luka itu dengan uang.

"Ambil transferannya. Itu bukti kalau aku masih bertanggung jawab," begitu katanya santai.

Seakan cinta, kepercayaan, dan janji setia yang dulu dia ucapkan bisa dibeli dengan lembaran rupiah.

Kini, Vandini harus menanggung segalanya sendirian. Menghadapi tatapan iba dan bisikan jahat tetangga yang menggunjingnya habis-habisan, menahan air mata demi anak-anaknya, serta berjuang memulihkan harga diri yang terinjak-injak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjalanan Dinas

Vandini mencondongkan tubuh ke atas meja untuk menyerahkan krayon kepada Cia. Senyumnya terlihat lebih dipaksakan dari sebelumnya.

Suasana restoran sangat ramai, penuh suara tawa keluarga bahagia dan tangisan anak kecil. Biasanya pemandangan seperti ini membuatnya merasa hangat. Namun sekarang, beban pengkhianatan Satura membuat segalanya terasa sumbang dan perih.

Ia melihat kedekatan Dannur dan Marria. Hubungan mereka terlihat begitu penuh cinta, rasa hormat, dan kokoh. Itu adalah kehidupan yang dulu Vandini bayangkan akan ia jalani bersama Satura.

Selama bertahun-tahun Vandini mengagumi keluarga ini. Ia merasa sangat beruntung bisa menjadi bagian dari kedamaian mereka.

"Tapi apa bener semuanya sempurna?" tanyanya dalam hati.

Tiba-tiba ponsel Dannur bergetar. Pria itu melirik layar, berusaha tetap tersenyum sebelum mematikan suaranya dan membalikkan ponsel itu.

Mata Vandini terpaku pada benda itu, lalu beralih ke Marria. Wanita itu tetap tersenyum tenang sambil menyuapi Cia, namun sudut bibirnya tampak sedikit menegang.

Sebuah kesadaran tiba-tiba menyergah pikiran Vandini. Ia mulai menyusun potongan kejadian yang dulu tak ia sadari. Panggilan bisnis di tengah makan malam, keramahan berlebih pada wanita lain, hingga kebiasaan sering menghilang sebentar dengan alasan sepele.

Dan Marria ... Ekspresi yang tenang itu, sikapnya yang selalu sempurna sebagai istri, tak pernah bertanya, tak pernah membuat masalah.

Untuk pertama kalinya Vandini melihatnya jelas, kepahitan yang ditelan sendiri, kepasrahan yang menyakitkan.

"Jadi Satura sadar melihat semua ini?" batinnya merinding.

Satura menyaksikan drama sunyi ini seumur hidupnya. Ia melihat kehidupan ganda itu berjalan seolah-olah itu hal yang wajar. Seolah baru sekarang ia melihat akar dari semua perilaku pria yang pernah ia cintai itu.

Pikiran Vandini buyar saat Connan mendorong piringnya dengan kesal, keningnya berkerut. "Ada saus di nuggetku!" gerutu anak itu dengan kecewa.

Dannur mencondongkan badan, terkekeh pelan lalu menepuk bahu cucunya.

"Yah, jangan gitu dong. Masalah kecil kayak gini nggak perlu dipermasalahkan, kan?" ucapnya lembut tapi tegas. "Itu cuma masalah sepele. Kamu kan cowok kuat."

Vandini merasa perih melihat perubahan raut wajah Connan. Anak itu mencoba menahan emosinya, memasang wajah datar lalu mengangguk patuh.

Vandini menoleh ke Cia, gadis kecil itu menyimak dengan alis terangkat, seolah mulai paham posisinya dalam aturan main keluarga ini. Vandini segera memeluk bahu Connan, mengusap rambutnya dan mengecup pelipis anak itu dengan lembut.

"Nggak apa-apa kok, sayang," bisiknya dengan suara tegas namun lembut. "Kamu berhak merasa apa pun itu. Mama di sini, dan bakal selalu ada buat bantuin kamu ngatasi semuanya."

Connan langsung menyandar ke pelukannya, merasa lebih tenang. Vandini mengeratkan pelukan. Api kemarahan kembali membara di dada Vandini.

Aturan tak tertulis, penindasan, dan budaya saling diam. Selama bertahun-tahun ia menyerap semua itu, dan sekarang anak-anaknya pun duduk di sana, menerima warisan yang sama.

Saat melihat Dannur tersenyum bangga pada Connan, dada Vandini terasa sesak oleh kesedihan. Kesedihan akan hal-hal yang tak bisa ia ubah, untuk dirinya, untuk Satura, dan kini untuk anak-anak mereka.

...***...

Hari demi hari berlalu, tiba saatnya perjalanan dinas Vandini, dan ia harus menitipkan anak-anak pada Satura.

"Hei," sapa Satura sambil mendongak dan mengangguk singkat. "Udah siap semuanya?"

Vandini mengangguk, lalu menatap anak-anaknya yang wajahnya berseri-seri penuh semangat.

"Iya, udah siap."

Ia berusaha bicara dengan nada santai, berusaha meyakinkan diri bahwa ini hanyalah perjalanan dinas biasa dan anak-anaknya akan baik-baik saja.

Koper sudah siap di dekat pintu dan tertata rapi. Ini perjalanan dinas pertamanya yang menginap.

Ia bangun jauh sebelum subuh, mengecek jadwal berulang kali, dan berusaha fokus. Tapi sekarang, saat keberangkatannya makin dekat, rasa berat hati meninggalkan anak-anak mulai terasa.

Satura baru datang beberapa menit lalu. Kehadirannya sedikit mengganggu konsentrasi Connan yang sedang menyiapkan sarapan.

Connan masih menyisakan setengah mangkuk sereal. Ia sesekali melirik ayahnya, seperti ingin bertanya soal rencana malam nanti.

Di kursi bayinya, Cia sibuk mencolok telur orak-arik dengan sendok plastik. Matanya bergantian menatap Vandini dan Satura, sadar kalau suasana pagi ini terasa berbeda.

"Mama, kenapa Mama harus pergi lagi?" tanya Cia dengan kening berkerut. Ada kekhawatiran jelas di matanya.

Vandini mencondongkan tubuh, mengusap rambut keriting anak itu pelan. "Mama ada urusan kerja, sayang. Mama pulang besok malam. Kamu pasti seru banget main sama Papa di rumah, nanti Mama telepon kalau ada waktu, ya?"

Cia mengangguk, jawaban itu cukup membuatnya tenang untuk saat ini. Connan yang menyimak sejak tadi kini ikut mencondongkan tubuh dari balik mangkuknya.

"Nanti baik-baik saja kok, Ma. Mama nggak perlu khawatir," ucapnya berusaha tersenyum menenangkan. Senyum itu terlihat terlalu dewasa untuk wajah kecilnya.

Vandini terkekeh pelan lalu mengacak rambut anak laki-lakinya itu. "Makasih ya, Sayang. Rasanya jadi lebih tenang dengarnya."

Ia melirik jam dinding. Waktu menyeretnya untuk segera pergi. Vandini berdiri, menepuk-nepuk celananya yang sedikit berdebu. Jantungnya berdegup lebih kencang saat berbalik menghadap Satura.

"Begini," katanya berusaha menjaga suara tetap stabil. "Aku udah taruh catatan di kulkas, buat pengingat jadwal mereka. Makan malam juga udah siap di situ, pasta sama sayur kesukaan Connan."

Satura mendongak, wajahnya tenang dan tersenyum. Meski begitu, ada sorot mata yang terlihat waspada.

"Vandini, aku bisa kok ngurusin mereka," jawabnya santai. "Kan aku juga pernah lakuin ini sebelumnya, ingat?"

Vandini menarik napas panjang, menahan kata-kata yang hampir meluncur. Ia tahu suaminya benar, ini bukan pertama kalinya.

Tapi segalanya terasa berbeda sekarang. Kehidupan mereka tak lagi utuh seperti dulu. Segalanya terbelah, dan ia tak bisa lagi begitu saja mengandalkan kehadiran Satura sepenuhnya.

"Ya, benar," ucapnya sambil memaksakan senyum tipis. Ia bertekad tetap tenang demi anak-anak. "Tentu saja bisa."

Cia mengulurkan kedua tangannya minta gendong. Vandini mengangkat tubuh mungil dan hangat itu, lalu mengecup pipi lembut anaknya.

"Jangan nakal sama Papa, ya?"

Cia mengangguk sungguh-sungguh, lalu memeluk leher Vandini erat-erat. "Aku sayang kamu, Ma."

"Aku juga sayang kamu, sayangku," bisik Vandini nyaris tak terdengar.

Ia beralih ke Connan yang masih duduk di meja dengan tatapan serius. Sebelum sempat bicara, anak itu langsung berlari dan memeluk pinggangnya dengan kuat.

"Kami tunggu di sini sampai Mama pulang," gumam Connan, suaranya terdengar sedikit gugup. "Di sini aja."

Vandini berjongkok, menatap manik mata anaknya sambil menaruh kedua tangan di bahu kecil itu. "Sebentar lagi Mama balik kok. Kamu tolong jaga semuanya di sini ya, Nak?"

Connan mengangguk mantap, seolah baru saja mendapat tugas paling penting di dunia. Ia memeluk Vandini sekali lagi lalu kembali ke kursinya, fokus pada sarapannya sekuat tenaga agar terlihat biasa saja.

Vandini menegakkan badan, mengumpulkan keberanian lalu menatap Satura yang sedang memperhatikannya dengan ekspresi yang sulit diterka. Ia mengambil koper dan melangkah menuju pintu. Dadanya terasa sesak menanggung momen perpisahan ini.

"Makasih ya ... udah mau ada di sini, Satura," ucapnya berusaha tak terdengar kesal.

Satura mengangguk, ada kilatan tak terbaca di matanya. "Kamu pasti bisa," jawabnya singkat dengan nada tenang.

Vandini memaksakan senyum lalu melambaikan tangan pada anak-anak.

Perasaan tak enak menyelinap di dadanya, rasa kesal muncul begitu saja. Betapa mudahnya mereka melupakan, betapa gampangnya Satura datang lalu berperan menjadi pahlawan bagi mereka.

Seharusnya perjalanan dinas pertamanya ini terasa membanggakan, sebuah pencapaian yang patut dirayakan. Namun, pengkhianatan Satura terus membebani hatinya.

Vandini menelan rasa sakit itu, menegakkan bahu, lalu melangkah pergi.

1
Yuni Ngsih
Authoooot ceritramu bgs bangeeeet ,tp bikin ku sediiiih kasian yg punya ceritra Vandini disakiti sm susmi yg dzolim ....smg suaminya cepat cepat karmanya kasihan Vandini smg setelah badai akan muncul pelangi buat Vandini ....semangat .....lanjut Thor
Fifi: yampun, ada yg baca rupanya, makasi kak🙏
total 1 replies
Anonim
wanjay
Anonim
betul itu ...BUNUH DIA
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!