Langit Jakarta sore itu tidak berwarna biru, melainkan abu-abu pekat, tertekan oleh lapisan polusi yang bercampur dengan awan mendung pembawa hujan. Di lantai empat puluh gedung perkantoran kaca di kawasan Sudirman, AC berdengung halus, menciptakan suhu dingin yang artifisial, kontras dengan panasnya kemacetan yang terlihat jelas dari balik jendela floor-to-ceiling.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jesa Cristian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Di Antara Langit Jakarta dan Debu Tanah
Langit Jakarta sore itu tidak berwarna biru, melainkan abu-abu pekat, tertekan oleh lapisan polusi yang bercampur dengan awan mendung pembawa hujan. Di lantai empat puluh gedung perkantoran kaca di kawasan Sudirman, AC berdengung halus, menciptakan suhu dingin yang artifisial, kontras dengan panasnya kemacetan yang terlihat jelas dari balik jendela floor-to-ceiling.
Arya Wiguna berdiri mematung di depan kaca tersebut. Pria berusia tiga puluh dua tahun itu mengenakan kemeja putih lengan panjang yang digulung rapi hingga siku, tanpa dasi, membiarkan kerah terbuka sedikit. Wajahnya teduh, dengan jenggot tipis yang terawat, namun sorot matanya menyiratkan kelelahan yang dalam—bukan sekadar lelah fisik, melainkan lelah spiritual seorang pejalan yang terlalu lama tersesat di lorong-lorong materialisme.
Sebagai Direktur Utama Wiguna Cipta Nusantara, sebuah perusahaan pengembang properti syariah yang sedang naik daun, Arya adalah sosok yang dihormati. Namanya sering muncul di majalah bisnis sebagai simbol keberhasilan generasi muda Muslim yang mampu menggabungkan profitabilitas dengan prinsip halal. Namun, di balik sorotan kamera dan tepuk tangan para investor, Arya merasa seperti berdiri di tepi jurang.
"Mas Arya," suara sekretarisnya, Rina, memecah keheningan ruangan. Wanita itu mengetuk pintu kaca dengan ragu. "Rapat dengan konsultan dari Singapura sudah dimulai sejak sepuluh menit lalu. Mereka menunggu keputusan Mas soal proyek Green Valley di Bogor. Apakah kita akan ambil skema bunga mengambang atau tetap pada bagi hasil murni?"
Arya menoleh perlahan. Tatapannya menembus Rina, seolah melihat sesuatu yang jauh di belakang wanita itu. "Skema bagi hasil murni, Rin. Tidak ada tawar-menawar lagi."
"Tapi Mas," Rina melangkah maju, wajahnya cemas. "Tim keuangan bilang, jika kita menolak skema bunga mengambang yang ditawarkan bank mitra, margin keuntungan kita akan turun drastis. Kompetitor kita, PT Megah Jaya, sudah mengambil tawaran itu. Mereka bisa menjual unit lebih murah. Kita bisa kehilangan pasar, Mas. Saham kita..."
"Saham bisa naik turun, Rin," potong Arya lembut namun tegas. Ia berjalan menuju meja kerjanya, mengambil sebuah Al-Qur'an saku berbalut kulit cokelat tua yang selalu ia bawa ke mana-mana. "Tapi keberkahan? Itu tidak bisa diperdagangkan di bursa efek. Jika proyek ini dibangun di atas riba, seindah apa pun rumahnya, sehirau apa pun tamannya, itu bukan rumah bagi kami. Itu hanya tumpukan bata yang mengundang murka."
Rina terdiam. Ia mengenal Arya sejak lima tahun lalu, saat perusahaan ini masih berupa ide di atas kertas. Ia tahu prinsip Arya tidak bisa digoyahkan, meski kadang logika bisnis konvensional menyebutnya bunuh diri. "Baik, Mas. Saya akan sampaikan penolakan kita pada mereka."
"Tunggu," kata Arya tiba-tiba. Ia melihat jam tangannya. Pukul 17.45. Waktu Maghrib hampir tiba. "Batalkan sisa rapat hari ini. Suruh semua tim pulang. Saya tidak ingin ada yang lembur hari Jumat. Biarkan mereka segera berkumpul dengan keluarga atau bersiap ke masjid."
Rina mengangguk patuh, meski sedikit terkejut dengan keputusan mendadak itu. Biasanya, Jumat sore adalah waktu paling krusial untuk menutup kesepakatan. Namun, ia tidak berani membantah.
Setelah Rina keluar, Arya menghela napas panjang. Ia meraih tas kerjanya yang sederhana, bukan tas bermerek mahal seperti milik rekan-rekannya, lalu mematikan lampu ruang kerjanya. Ruangan yang tadi dipenuhi cahaya lampu neon kini remang-remang, hanya diterangi sisa cahaya senja yang masuk dari jendela.
Perjalanan pulang hari itu terasa lebih berat dari biasanya. Mobil SUV hitam yang dikemudikan sopir pribadinya, Pak Ujang, terjebak macet total di Jalan Gatot Subroto. Klakson kendaraan bersahut-sahutan, menciptakan simfoni kebisingan yang memusingkan. Di dalam mobil yang kedap suara itu, Arya mencoba membaca buku kecil tentang sirah nabawiyah, namun pikirannya terus melayang.
Ia teringat percakapan dengan ayahnya, almarhum Haji Wiguna, seminggu sebelum sang ayah meninggal dua tahun lalu.
"Arya, nak," suara parau ayahnya terngiang-ngiang. "Dunia ini seperti air hujan. Ia bisa menyuburkan tanaman jika jatuh di tanah yang baik, tapi bisa menjadi banjir bandang yang menghancurkan jika jatuh di tempat yang salah. Jadilah kau tanah yang baik itu. Jangan sampai hartamu membuatmu lupa pada Siapa yang memberimu harta."
Saat itu, Arya hanya mengangguk, merasa yakin dirinya sudah berada di jalur yang benar. Ia membangun perumahan syariah, menolak proyek-proyek yang melibatkan judi atau alkohol, dan rutin menyisihkan sebagian besar pendapatannya untuk wakaf. Tapi hari ini, tekanan dari dewan komisaris yang ingin ekspansi cepat dengan cara-cara "instan" membuatnya goyah. Apakah ia sudah cukup kuat? Ataukah ia hanya topeng yang suatu hari akan retak?
Mobil berhenti di sebuah lampu merah. Arya menatap ke luar jendela. Di sebelah mobilnya, seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun, berpakaian lusuh, sedang mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil mewah di depannya, menawarkan bungkus tisu murah. Hujan mulai turun rintik-rintik, membasahi wajah anak itu yang pucat. Pengemudi mobil mewah itu mengusir anak tersebut dengan gesture tangan yang kasar, lalu kaca jendela tertutup rapat.
Hati Arya tersentak. Ia segera menekan tombol untuk menurunkan kacanya. "Pak Ujang, tunggu sebentar."
Arya membuka pintu, menerobos gerimis yang mulai deras. Ia menghampiri anak itu yang kini mundur ketakutan melihat orang dewasa berpakaian rapi mendekat.
"Dek, namanya siapa?" tanya Arya lembut, berjongkok agar sejajar dengan mata anak itu.
"A... Asep, Pak," jawab anak itu gagap, memegang erat bungkusan tisunya yang basah.
"Asep, hujan deras nih. Kamu belum buka puasa?" tanya Arya, menyadari bahwa matahari sudah hampir tenggelam.
Anak itu menggeleng lemah. "Ibu sakit, Pak. Asep cari uang buat beli obat sama beras."
Arya merogoh saku celananya, mengeluarkan dompetnya. Bukan sekadar memberi recehan, ia menarik beberapa lembar uang ratusan ribu rupiah. "Ini, Dek. Beli obat untuk Ibu, beli makanan yang layak, dan sisanya simpan untuk sekolah. Jangan habiskan untuk jajan sembarangan."
Mata Asep membelalak tak percaya. "Pak... ini kebanyakan. Saya cuma jual tisu dua ribu."
"Anggap saja sedekah Jumat berkah dari saya," senyum Arya tulus, kali ini mencapai matanya. "Dan satu syaratnya: kalau Ibu sudah sembuh, kamu harus janji rajin sekolah dan salat tepat waktu. Bisa?"
Air mata mengalir di pipi kotor anak itu. Ia mengangguk kuat-kuat, lalu mencium tangan Arya sebelum berlari kecil menuju warung terdekat.
Pak Ujang yang sempat turun payung untuk Arya, tersenyum tipis melihat adegan itu. "Masya Allah, Mas Arya. Tadi di kantor tegang banget soal rugi miliaran, eh di sini rela kasih rezeki segitu mudahnya."
Arya kembali masuk ke mobil, tubuhnya sedikit basah, tapi hatinya terasa ringan, seolah beban berat di pundaknya terangkat sebagian. "Itulah dia, Pak Ujang. Di kantor, kita bicara soal angka yang mungkin hilang besok. Tapi di sini, kita bicara soal manusia yang mungkin selamat hari ini. Mana yang lebih nyata menurut Akal sehat dan Agama
Mobil kembali melaju saat lampu hijau menyala. Hujan semakin deras, membasuh debu-debu Jakarta. Arya memandang langit yang kelabu, namun kali ini ia merasa ada celah cahaya di sana.
"Ke rumah, Pak. Tapi mampir dulu ke Masjid Agung Al-Azhar. Saya butuh salat Maghrib berjamaah sebelum sampai rumah. Jiwa saya perlu disiram, bukan cuma badan," perintah Arya.
"Siap, Mas," jawab Pak Ujang mantap.
Di tengah kemacetan yang tak kunjung usai, di antara gemuruh mesin dan klakson yang memekakkan telinga, Arya Wiguna menemukan kembali kompasnya. Ia sadar, menjadi CEO Muslim di Indonesia bukan sekadar label marketing atau strategi bisnis. Itu adalah medan perang sehari-hari. Perang antara ego dan ikhlas, antara keuntungan sesaat dan keberkahan abadi, antara mengikuti arus dunia yang liar atau berpegang teguh pada tali yang kuat.
Perjalanan pulang malam itu bukan sekadar perpindahan lokasi dari kantor ke rumah. Itu adalah awal dari sebuah kesadaran baru bagi Arya. Bahwa tantangan sesungguhnya baru saja dimulai. Proyek Green Valley mungkin akan sulit, kompetitor mungkin akan menyerang, dan dewan komisaris mungkin akan memberontak. Tapi Arya tahu, selama ia memegang prinsip Islam yang lurus dan menggunakan akal sehatnya untuk membedakan hak dan batil, ia tidak akan berjalan sendirian.
Langit Jakarta semakin gelap, tetapi di dalam hati Arya Wiguna, fajar harapan baru saja mulai menyingsing.
[BERSAMBUNG]