NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Pernikahan Palsu Kita

Rahasia Di Balik Pernikahan Palsu Kita

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Penyelamat / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Candra Arista

Pernikahan tanpa cinta adalah impian Alya, atau setidaknya itu yang dia pikirkan. Namun, apa yang akan terjadi jika suaminya menyimpan rahasia tentang dirinya sejak awal? Alya tidak terduga bahwa suaminya, Raka Pratama, adalah seorang yang dingin, berkuasa, dan tidak terlalu terbuka. Mereka menikah dengan kontrak, tapi dengan satu syarat yang tidak biasa: jangan pernah jatuh cinta. Apakah Alya dapat memenuhi syarat itu, ataukah cinta akan menghancurkan kontrak pernikahan mereka?
Ketika kebohongan berlangsung terus-menerus, batas antara apa yang palsu dan apa yang nyata mulai kabur. Alya harus menghadapi keputusan sulit: mempertahankan kebohongan yang telah ia jalankan atau meninggalkan pria yang telah berhasil memenangkan hatinya. Pernikahan ini tampaknya telah terjadwal dengan baik, tetapi ada satu hal yang tidak termasuk dalam kontrak: perasaan yang sebenarnya. Sekarang, Alya harus memilih antara kebenaran dan kebahagiaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candra Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 – Pengakuan di Depan Keluarga

Ruangan itu mendadak terasa begitu sunyi.

Kata-kata Alya masih menggantung di udara.

*Aku tetap tinggal karena aku benar-benar peduli padanya.*

Selama beberapa detik—

Tak ada yang bersuara.

Tatapan ayah Raka tetap tajam dan sulit ditebak, sementara beberapa anggota keluarga lain tampak saling berpandangan pelan.

Namun, Raka adalah orang yang paling terdiam.

Alya bisa merasakan tatapan pria itu kini.

Terlalu dalam.

Terlalu fokus.

Seolah ia tak menyangka Alya akan mengatakannya secara langsung.

“Alya.”

Suara berat ayah Raka akhirnya memecah kesunyian.

“Kamu sadar keluarga kami bukan tempat yang mudah?”

Alya menelan ludahnya pelan.

“Ya.”

“Kalau begitu kenapa tetap bertahan?”

Pertanyaan itu terdengar lebih serius kini.

Dan untuk pertama kalinya—

Alya merasa pria paruh baya itu sungguh ingin tahu jawabannya.

Ia terdiam sejenak.

Lalu perlahan berkata—

“Karena Raka tidak seburuk yang semua orang pikir.”

Senyap.

Pandangan Raka langsung berubah sedikit.

Sementara salah satu wanita paruh baya di sudut ruangan justru terlihat seperti hampir tersedak minumannya.

Ayah Raka menyandarkan tubuhnya perlahan ke sofa.

“Tidak seburuk yang semua orang pikir?”

“Aku tahu dia tampak dingin,” lanjut Alya pelan, “dan kadang terlalu keras kepala.”

Ujung bibir Raka bergerak tipis.

Sangat tipis.

Namun Alya melihatnya.

“Tapi dia selalu melindungiku.”

Pandangan pria paruh baya itu belum berubah.

Namun suasana ruangan terasa sedikit berbeda kini.

“Ayah.” Suara Raka akhirnya terdengar. “Jika tujuan pertemuan ini untuk menginterogasi istri saya, saya rasa sudah cukup.”

Nada suaranya dingin.

Protektif.

Dan tanpa sadar, tangan pria itu sudah menggenggam tangan Alya yang berada di sampingnya.

Hangat.

Menenangkan.

Gerakan kecil itu langsung disadari semua orang di ruangan itu.

Dan Alya bisa melihat jelas—

Beberapa ekspresi keluarga Han berubah menjadi terkejut.

Mungkin karena mereka belum pernah melihat Raka bersikap seperti ini sebelumnya.

Ayah Raka memperhatikan tangan mereka selama beberapa detik.

Lalu perlahan menghela napas.

“Kamu benar-benar serius dengan wanita ini?”

Pertanyaan itu kini ditujukan langsung pada Raka.

Suasana kembali senyap.

Alya refleks menatap pria yang berada di sampingnya.

Dan jantungnya langsung mulai tidak keruan.

Karena untuk pertama kalinya—

Pertanyaan itu terasa begitu nyata.

Bukan tentang kontrak.

Bukan tentang pura-pura.

Melainkan tentang perasaan yang sebenarnya.

Raka tidak langsung menjawab.

Pandangannya turun sebentar pada Alya.

Lalu kembali ke ayahnya.

“Ya.”

Satu kata.

Pendek.

Namun cukup membuat dada Alya terasa sesak.

Karena cara pria itu mengatakannya begitu pasti.

Begitu serius.

Dan ayah Raka langsung menyipitkan matanya tipis.

“Padahal dulu kamu bilang tidak akan menikah karena cinta.”

Pandangan Raka berubah sedikit lebih dingin.

“Orang bisa berubah.”

Kalimat itu terasa begitu penuh makna hingga Alya harus menahan napasnya pelan.

Dan entah mengapa—

Ia merasa dirinya sungguh ingin menangis kini.

Bukan karena sedih.

Melainkan karena akhirnya menyadari sesuatu.

Raka sungguh-sungguh.

Pria itu sungguh-sungguh serius padanya.

---

Makan malam keluarga berlangsung jauh lebih tenang setelahnya.

Meski tetap terasa kikuk.

Beberapa anggota keluarga mulai mencoba berbicara dengan Alya lebih sopan dibandingkan sebelumnya.

Walau Alya tahu—

Sebagian besar karena mereka melihat bagaimana Raka memperlakukannya.

Dan jujur saja—

Pria itu sungguh-sungguh terlalu terang-terangan kini.

“Alya tidak makan udang,” kata Raka datar saat seseorang mencoba menyajikan hidangan tersebut.

Alya langsung menoleh cepat.

“Kamu ingat?”

Pandangan Raka santai.

“Anda alergi.”

Jantung Alya langsung melemah sedikit.

Karena bahkan dirinya sendiri kadang lupa memberi tahu orang perihal itu.

Sementara pria ini mengingatnya.

Wanita paruh baya di ujung meja langsung tersenyum tipis.

“Kamu berubah sekali, Raka.”

Pria itu tidak menjawab.

Namun, tangannya tetap sesekali menyentuh punggung Alya pelan setiap kali wanita itu tampak gugup.

Gerakan kecil.

Tapi cukup membuat Alya terus menyadari bahwa dirinya tidak sendirian di tempat ini.

Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.

“Aku dengar kamu dulu bekerja biasa sebelum menikah dengan Raka?”

Suara seorang wanita muda terdengar tiba-tiba.

Nada bicaranya terdengar manis.

Terlalu manis.

Alya langsung tahu pertanyaan itu bukan sekadar basa-basi.

“Iya,” jawabnya tenang.

“Pasti hidupmu berubah drastis kini.”

Kesunyian kecil muncul.

Dan Alya bisa merasakan arah pembicaraan ini mulai terasa tidak nyaman.

“Lumayan.”

Wanita itu tersenyum kecil.

“Beruntung sekali ya.”

Nah.

Itu dia.

Kalimat yang sebenarnya ingin disampaikan sejak awal.

Beruntung menikahi pria kaya.

Beruntung masuk keluarga Han.

Beruntung naik status.

Pandangan Alya sedikit menunduk.

Namun sebelum suasana makin memburuk—

“Jika bicara soal keberuntungan,” suara Raka tiba-tiba terdengar dingin, “justru saya yang lebih beruntung.”

Seluruh meja langsung hening.

Alya bahkan langsung menoleh tak percaya.

Sementara Raka tetap tampak santai.

Pria itu mengambil minumannya lalu berkata tenang—

“Karena tidak semua orang cukup sabar menghadapi saya.”

Beberapa orang tertawa kecil dengan kikuk.

Namun Alya tahu—

Raka baru saja sedang membelanya.

Secara terang-terangan.

Dan jantungnya sungguh-sungguh tidak sanggup tetap normal lagi malam ini.

---

Dalam perjalanan pulang, suasana mobil terasa jauh lebih ringan dibandingkan saat berangkat.

Alya menyandarkan kepala ke kursi sambil menghela napas panjang.

“Aku selamat.”

Ujung bibir Raka bergerak tipis.

“Lumayan.”

Alya langsung menoleh dengan sedikit kesal.

“Kamu bahkan tidak kasihan melihatku tegang tadi?”

“Saya kasihan.”

“Bohong.”

“Kali ini tidak.”

Pandangan pria itu akhirnya beralih sebentar padanya saat lampu merah.

Dan Alya langsung salah tingkah lagi.

Karena cara Raka melihatnya kini sungguh-sungguh berbeda dibandingkan dulu.

Lebih hangat.

Lebih terbuka.

“Alya.”

“Hm?”

“Terima kasih.”

Alya sedikit terkejut.

“Untuk apa?”

Pandangan Raka kembali lurus ke jalan.

“Karena tetap tinggal di sisi saya.”

Kalimat sederhana itu justru membuat dada Alya terasa penuh.

Dan untuk beberapa detik—

Ia hanya bisa diam.

Karena pria ini mungkin tidak pandai mengucapkan hal-hal romantis.

Namun setiap kata yang keluar darinya selalu terasa nyata.

“Aku juga harus berterima kasih.”

“Kepada saya?”

Alya mengangguk pelan.

“Kamu terus melindungiku hari ini.”

Hening sejenak.

Lalu Raka berkata pelan—

“Saya akan selalu begitu.”

Jantung Alya langsung kembali kacau.

Dan sebelum dirinya sempat malu sendiri—

Mobil tiba-tiba berhenti mendadak.

Alya refleks sedikit terdorong ke depan.

“Apa yang—”

Namun, kalimatnya langsung terpotong saat melihat seseorang berdiri di depan mobil mereka.

Seorang pria muda dengan wajah yang akrab.

Dan begitu Raka melihat pria itu—

Ekspresinya langsung berubah dingin total.

“Astaga…” bisik Alya pelan.

Karena ia baru menyadari siapa pria itu.

Arga.

Kakak tirinya.

Dan dari pandangan penuh amarah pria itu—

Alya tahu masalah baru saja datang menghampiri mereka.

1
Mtch🍃
Tiba tibaaa bngt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!