Mungkin kebanyakan orang bilang menjadi orang kaya adalah hal paling gampang dilakukan. Tapi tidak jika dikaitkan dengan Some, ditengah terkaan dia malah diberi harapan panjang untuk menikah. Hal itulah menjadi awal - awal Some mengenal cowok - cowok yang lahir dengan keluarga sama darinya. Hanya cowok itu yang menerima seornag wanita mempunyai penyakit, namanya Dinner. Dari Dinner, Some dapat menerima segala sesuatu yang menimpanya. Meski bukan hal mudah ketika harus operasi beberapa kali, tapi Dinner menemaninya seperti seorang pacar. Pacaran bahakn menjalani hubungan dengan Dinner, seperti dijodohkan ini, menjadi pertanyaan besar apakah Dinner akan sanggup ?
•untuk kisahnya sudah tamat dari tahun lalu. dan masih bisa dinikmati dengan dukungan like, dan komentar kecil kalau ada kesalahan. thanf for one.
•karya original dari Nita Juwita
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NitaLa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Between 19
Mama dan Papa Bingung - Kanker ?
**
Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini semua akan terasa mungkin kalau emang itu garis telah ditetapkan untuk pemiliknya. Begitupun dengan cinta, bisa datang di mana saja dan kapan saja. Cinta bisa datang hari ini, atau lusa, esok, bahkan saat ini. Tapi Some tidak yakin, ketika melihat senyum tulusnya di bibir manis itu, Some banyak berpikir. Mungkinkah dia adalah benar sosok suaminya di masa depan nanti. Atau melainkan ada pria lain yang menjadi suaminya, atau semua itu tak pernah terjadi dalam hidupnya.
Melihat ada seorang cowok di belakang punggungnya dan sepertinya masih seumuran dengan Some membuat dada gadis itu berdebar. Sebenarnya ia juga tidak yakin apakah papa masih merencanakan hal yang belum disetujui itu.
"Kemari lah Dinner," ucap papa pada pria itu berusaha menyunggingkan senyum, padahal sesungguhnya ia hanya merasa bangga bukan kagum bisa.
"Om saya duduk di kursi biasa saja," ucap pria itu sambil berusaha mengalihkan perhatian papa yang mungkin cenderung membuat pria itu tak nyaman. Tapi senyum kecil mama dan Ranu seolah mendukung cowok itu untuk maju. Hanya saja Dinner bisa membatalkan apapun di dunia ini, termasuk hal memalukan ini.
"Kenapa begitu Dinner, memangnya ada alasan lain untuk kesini," ucap papa sambil mengangkat alisnya. Jadi kalau sendirian yang ada hanya terlihat lajang yang tidak punya pasangan.
"Saya kesini memang untuk itu om, tapi saya bisa pesan meja lain," jawab Dinner sambil tersenyum kikuk. Ia mengalihkan pandangan pada penjuru resto yang terlihat romantis, ia juga yakin kalau di meja sendirian ia akan merasa lebih tenang. Dan memerhatikan, tapi untuknya perjodohan ini bisa putus, ia tak dapat berhubungan lagi dengan anak om -- rekan papa.
Dinner tahu om tidak merencanakan ini dan menjodohkan langsung kepada anaknya. Dia bahkan bilang Some itu nggak cocok sama dirinya, bahkan butuh banyak pertanyaan kalau emang Some dan Dinner sama - sama tertarik. Well tidak ada yang merasa tertarik kalau bentuknya saja hanya kamuflase orang tua.
"Memangnya papa kamu nggak bilang dulu, kalau ada pertemuan bisnis di sini?" tanya papa sambil melihat mata Dinner tajam. Ia mencari petunjuk dan mungkinkah pria yang sempat ia gadang itu punya tunangan lain di sini.
"Bisnis?" heran Some sambil berbatuk, karena tekanan kecil dari paru - parunya. Yang juga mengingatkan kalau ternyata cowok itu sudah berumur, sudah jadi rekan bisnis papa.
"Iya maaf om, saya hanya lupa juga tidak yakin apakah saya akan diterima di keluarga om," ucap Dinner sambil terkekeh kecil nampaknya mulai mengerti. Ia lalu menghampiri meja Some dan keluarganya. Dan duduk di kursi yang sepertinya disiapkan untuknya, ada namanya.
Ia nampak canggung, dan menyalami Ghina dan Ranu juga Some dengan begitu sopan. Some tahu pria ini dari kalangan atas, karena sikap dermawan dan ramahnya tak dapat dipungkiri. Juka tangan halus dan kekar tapi masih terlihat muda itu membuat Some yakin kalau sebenarnya cowok ini masih muda - setidaknya bukan rekan bisnis papa.
"Kenalin keluarga papa ini Dinner, ayahnya merupakan teman kuliah papa dulu di Jogja. Kami pernah ke German untuk kepentingan skripsi, papanya pernah bantu bimbing, sekalian partner bisnis," ujar papa dengan santai. Teringat betapa dia juga pernah muda, dan Dinner pasti bukan cowok biasa ketika ia dewasa nanti. Melihat dia punya keluarga yang mapan, juga kepribadian yang membuat ia kagum. Hal tanggung jawab suami pasti dijalaninya seperti orang - orang sukses di luar sana. Itulah poin penting untuk Dinner.
"Hi Dinner kamu beneran anaknya mas Bruto, dia juga pernah kerja di kantor saya. Sekalipun cuma partner tapi kami jadi teman," ucap mama sambil terkekeh kecil. Rasnya kebahagian kecil bisa melihat anak dari temannya ini.
"Iya tante," jawab Dinner seadanya.
"Kenalin ini Ranu, dan disebelahnya kakaknya yang sempat diceritakan om kamu. Gimana apa kamu suka?" tanya mama to the point hal yang membuat Some memutar bola matanya. Benar tebakannya kalau ini hanya hadiah random papa.
"Suka tan, kan anak baik - baik seperti kata om dia anak yang pendiam," ucap Dinner sambil memerhatikan Some meski sekilas. Tawaran yang di berikan om dan papanya mungkin belum sanggup ia tampik. Tapi mungkinkah itu hanya sebuah pertemuan.
"Kakakku emang agak nakal, tapi dia baik kok hatinya. Bahkan kadang suka memendam rasa sakitnya sendirian, kurang baik apa lagi," ucap Ranu berniat becanda tapi ia sendiri yang malah terkekeh.
"Saya kadang cuma mencari orang yang mau menemani saya saja kok, Ran. Kita nggak tahu kan, nantinya," balas Dinner dengan jujur dan sepenuh hati. Bahkan kehadirannya ke sini sudah menunjukan awal niatnya.
"Maksudnya menemani, apa mungkin saya?" tanya Some merasa heran yang dimaksud Dinner. Lantas pria itu hanya berdehem karena di dera gugup, berhadapan dengan cewek yang menurutnya manis dengan gaun yang terkesan simpel. Menunjukan betapa berkelas dan baiknya gadis itu. Sekalipun penampilannya tak dijelaskan oleh om.
"Some papa dan Dinner udah bersepakatan, dan dia sendiri nggak merasa terganggu malah menerima. Jadi dia itu salah satu cowok yang mau papa kenalkan, papa harap sih kamu nggak ada alasan lagi," jelas papa membuat sesudahnya dahu Some melorot tapi itu hanya bayangan Some.
"Memangnya aku dan dia setuju?" heran Some memang dia bakalan berkenalan sama siapa lagi. Bahkan untuk cowok ini saja kayaknya Some udah lelah sendiri.
"Apakah itu keputusan finalnya, tenang saja papa menyiapkan untuk kehidupan kalian di depan," ujar papa sambil mengangkat bahu.
"Maksudnya papa meminta aku menikah?" tanya Some lebih ke mana mungkin dipersiapkan bukannya dia masih sekolah dan pria itu hanya membuatnya bosan.
"Tidak tapi kamu akan menikah dengan tunangan kamu saat ini, itu tidak dapat di bantah," ucap papa dengan penekanan. Perlahan Some mengerti dan hanya diam ketika makanan datang. Bertepatan dengan dirinya paham apa maksud semua ini.
Mereka melanjutkan makan dengan tentram seolah tidak terjadi apa - apa. Some bersikap biasa saja pada Dinner. Mengingat cowok itu juga belum memastikan apa maksud perkataannya. Satu yanh pasti sama seperti cowok kebanyakan, mereka butuh banyak alasan sampai di titik final.
**
Semalam nampak suntuk, tapi Some tidur dengan nyenyak seperti ada alasan mengapa ia tidur seperti itu. Mungkin karena harapan - harapannya kembali datang. Tapi mana mungkin cowok bernama Dinner itu membawa harapan. Cih memikirkan pertunangan aneh itu saja sudah merasa mual.
"Some kok melamun?" tanya Cassie melihat sahabatnya yang sedang duduk di bangku itu. Baru saja tadi bel istirahat berbunyi, dan some nampak melamun seolah lupa kalau Cassie dan Dina pasti ingin tahu sesuatu. Some kan punya banyak cerita random.
Tersadar Some langsung merapikan rambutnya yang terurai dengan rapih. "Enggak apa -apa, baru lihat orang melamun ya?" tanya Some lalu terkekeh kecil.
"Baru kan Some jarang banget melamun, ada apa ya?" penasaran Cassie yang membuat Some seketika salah tingkah. Semalam seharusnya Some menceritakan hanya saja ia sudah ngantuk jadi tidak sempat mengabari sahabatnya.
"Emang iya gue sebahagia itu?" heran Some melihat Cassie dan Dina ingin tahu. Untuk sekarang kalau sedih emang keadaannya berbeda, tapi sebelumnya memang iya Some jarang sedih.
"Iya Some hidup loe itu penuh sama kegiatan dan rasa suka loe," ujar Dina sambil menggelengkan kepala. "Loe hebat Some loe gadis yang ceria dan bikin kita tertawa," lanjut Dina mengingat momen pas pertama kali mengenal Something. Suatu hal yang membuatnya tersenyum kecil.
"Maafkan gue tapi ingat ya nggak semua kebahagiaan itu bertahan lama, pada dasarnya Allah mengaturnya secara sama," ujar Some sambil menundukkan kepala, melihat jari - jarinya yang menggunakan kutek pink muda di atas rok seragam SMA-nya.
"Some gue tahu loe suka jadi diri loe sendiri," ucap Dina sambil menatap Cassie. Lalu keduanya degan sepakat berpelukan satu - sama lain. Lalu sama - sama berdiri, berjalan perlahan meninggalkan kelas IPA 1 ke kantin. Tapi sebelum sampai pintu seseorang menghalangi arah pandang mereka. Cowok yang ditunggu kepastiannya, Setyo.
"Guys kalian abis ngapain sih, yuuk buruan kita ngegosip terbaru lagi, kesal banget nungguin jalan kalian," ucap Setyo dengan raut kesal. Baru saja datang sudah buat keributan, tapi Dina Cassie dan Some tak peduli. Mereka mengejar Setyo sambil tertawa - tawa.
**