NovelToon NovelToon
Anomali Rasa

Anomali Rasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Romantis
Popularitas:669
Nilai: 5
Nama Author: USR

Pertemuan kembali di koridor universitas seharusnya menjadi momen nostalgia yang manis, namun bagi Wahyu dan Riani, itu adalah awal dari sebuah interaksi yang panjang dan penuh tembok penghalang.
Namun, hubungan mereka tidak berjalan semudah bayangan. Ada penyangkalan yang kuat, kecanggungan yang berlarut-larut, hingga cara berkomunikasi yang sering kali menemui jalan buntu.

Nantikan Perjalanan Kedua nya.....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21

POV: RIANI

Rabu sore, Riani sedang di kamar kostnya ketika Karin mengirim pesan.

Karin: "Ri, aku baru lihat Wahyu di perpus tadi. Kita ngobrol sebentar. Dia... berbeda."

Riani langsung duduk tegak dari posisi rebahan.

Riani: "Berbeda gimana?"

Karin: "Nggak tahu gimana jelasinnya. Dia masih pendiam, masih hati-hati. Tapi waktu aku sapa, dia nggak langsung kabur. Dia berhenti. Ngobrol sebentar. Bahkan tanya tentang proyek skripsi aku."

Riani: "Wahyu yang tanya duluan?"

Karin: "Iya!!! Ri, ini Wahyu yang sama kan? Yang biasanya cuma angguk-angguk terus pergi?"

Riani tersenyum lebar sendirian di kamarnya.

Riani: "Wahyu yang sama. Dia sedang... belajar lagi."

Karin: "Belajar apa?"

Riani: "Belajar percaya."

Hening beberapa detik. Lalu:

Karin: "Ri... terima kasih. Aku serius."

Riani: "Bukan aku yang lakuin. Wahyu sendiri yang memilih."

Riani meletakkan ponsel, bersandar ke tembok di belakang kasurnya.

Tiga minggu.

Sudah tiga minggu sejak pertemuan pertama mereka di kampus satu. Dan dalam tiga minggu itu, banyak hal yang berubah—perlahan, tidak dramatis, tapi nyata.

Wahyu mulai membalas pesan lebih dari satu kata. Wahyu membiarkan Riani duduk di mejanya. Wahyu meminta bantuan untuk belajar sebelum ujian. Wahyu menceritakan tentang sidang ayahnya.

Kecil-kecil. Tapi setiap hal kecil itu terasa seperti batu yang diangkat dari punggung seseorang yang sudah terlalu lama membungkuk.

Riani menarik napas panjang.

Tapi ada satu hal yang belakangan ini mengganggu pikirannya.

Perasaan.

Riani tidak bodoh. Dia tahu apa yang dirasakannya terhadap Wahyu sudah bukan sekadar kepedulian teman atau empati terhadap seseorang yang kesepian.

Ada lebih dari itu.

Ketika Wahyu setengah tersenyum di kantin Jumat lalu, dada Riani rasanya seperti ada yang hangat meledak di dalamnya. Ketika Wahyu mengirim link jurnal tengah malam untuk membantunya, Riani tertidur dengan senyum di wajahnya. Ketika Wahyu menceritakan tentang sidang lewat pesan singkat, Riani merasa seperti dia diberi kepercayaan yang nilainya jauh melebihi hal-hal biasa.

Ini sudah masuk kategori suka.

Dan itu... rumit.

Riani menarik napas panjang sambil menatap langit-langit kamarnya.

Wahyu baru saja mulai belajar percaya lagi. Dia baru saja mulai membuka sedikit celah. Kalau Riani sekarang membawa perasaan itu ke dalam dinamika mereka—kalau dia salah langkah—seluruh progress yang sudah dibangun dengan sangat susah payah itu bisa runtuh.

Dan yang lebih penting: Wahyu belum tentu merasakan hal yang sama.

Mungkin bagi Wahyu, Riani cuma seseorang yang kebetulan ada dan cukup gigih untuk tidak pergi. Tidak lebih dari itu.

Riani memeluk bantal gulingnya.

"Bodohnya kamu, Ri," gumamnya pelan.

Ponselnya bergetar. Pesan dari Amel.

Amel: "Ri, besok lu ada waktu nggak? Gue mau ke mall, cari baju buat acara ulang tahun tante gue."

Riani: "Bisa. Jam berapa?"

Amel: "Jam 3 sore? Habis kelas."

Riani: "Oke."

Riani meletakkan ponsel, membuka laptop. Ada dua tugas yang harus diselesaikan sebelum Kamis—review artikel untuk mata kuliah Manajemen Pemasaran dan presentasi mini untuk kelas Kewirausahaan.

Dia mulai mengerjakan yang pertama.

Tapi konsentrasinya tidak penuh.

Setengah dari pikirannya masih di Wahyu.

Kamis sore, meeting kelompok yang keempat.

Mereka sudah hampir di ujung—proposal hampir final, tinggal polish bagian presentasi dan memastikan semua argumen terhubung dengan kohesif. Presentasi kepada dosen dijadwalkan Rabu depan.

Kali ini Wahyu datang tepat waktu. Bukan hanya datang—dia datang dengan satu file baru yang sudah dia siapkan: simulasi pertanyaan yang mungkin diajukan dosen beserta jawaban idealnya.

Arman langsung takjub. "Wahyu, ini... lo bikin ini semalam?"

"Iya. Biar kita nggak kelabakan kalau dosen tanya sesuatu yang tidak ada di proposal."

"Gue hampir nggak percaya kamu semester satu," Dinda berkomentar sambil membaca file itu. "Ini kayak kerja mahasiswa semester atas."

Wahyu tidak bereaksi terhadap pujian itu. Tapi Riani—yang duduk di sampingnya hari ini, karena secara tidak sengaja duduk bersebelahan sebelum menyadarinya—bisa melihat bahwa rahangnya tidak semengeras biasanya saat menerima pujian.

Progress kecil.

Mereka menghabiskan dua jam memoles proposal—memperbaiki flow presentasi, memastikan setiap bagian terhubung dengan logis, latihan menjawab pertanyaan simulasi yang Wahyu buat.

Di pertengahan sesi, Arman mengusulkan pembagian tugas presentasi.

"Kayaknya paling efektif kalau Wahyu yang handle bagian analisis hukum dan edukasi. Dia paling bisa jelasinnya. Dinda bagian keuangan. Aku bagian strategi. Riani yang buka dan tutup presentasi, plus bagian model bisnis."

Semua setuju.

Tapi kemudian Arman melirik Wahyu. "Wahyu, lo nyaman nggak buat presentasi? Lo kan biasanya... nggak terlalu suka public speaking."

Wahyu diam sebentar. Riani melirik ke arahnya.

"Bisa," jawab Wahyu akhirnya. "Selama materinya sudah dikuasai, public speaking bisa dikelola."

"Yakin?"

"Iya."

Riani menahan diri untuk tidak tersenyum terlalu lebar. Tiga minggu lalu, Wahyu mungkin akan langsung bilang "itu bukan bidang saya" atau mencari alasan untuk menghindari presentasi. Tapi sekarang dia bilang bisa.

Setelah meeting selesai dan Arman serta Dinda pergi, Riani mengemas laptopnya. Wahyu masih duduk, membaca ulang dokumen di layar laptopnya.

"Wahyu," Riani memanggil.

"Hmm."

"Kamu tadi bilang bisa presentasi. Itu... kamu serius?"

Wahyu mengangkat kepala. "Iya. Kenapa?"

"Nggak apa. Cuma... aku senang dengarnya."

Wahyu menatap Riani dengan ekspresi yang tidak mudah dibaca. "Kamu senang dengan hal-hal kecil."

"Hal-hal kecil itu yang biasanya paling bermakna."

Wahyu melihat ke samping sebentar. "Mau latihan besok? Sebelum presentasi Rabu."

Riani terkejut. "Latihan presentasi?"

"Lebih baik latihan satu atau dua kali. Supaya timing terkontrol dan transisi antar bagian lancar."

"Oh! Iya, bagus banget idenya. Aku hubungi Arman dan Dinda ya buat tentuin jadwal."

"Sabtu sore mungkin. Mereka nggak ada kelas."

Riani mengetik pesan ke grup WhatsApp kelompok. Arman dan Dinda langsung setuju: Sabtu sore jam tiga, di perpustakaan.

"Beres," ujar Riani sambil menyimpan ponsel. Lalu dia menatap Wahyu. "Wahyu, mau nemenin aku ke minimarket sebentar nggak? Aku mau beli sesuatu tapi... sebenarnya alasannya agak konyol."

Wahyu mengerutkan kening. "Alasannya apa?"

Riani tertawa kecil, sedikit malu. "Aku takut sama kucing yang biasanya duduk di depan minimarket deket sini. Yang belang itu. Dia pernah melompat ke arahku dan aku hampir jatuh."

Wahyu menatap Riani dengan tatapan yang... sulit diidentifikasi. Antara tidak percaya dan geli.

"Kamu takut kucing?"

"Bukan takut. Lebih ke... waspada berlebihan."

"Itu definisi takut."

"Wahyu—"

"Kamu mau minta aku pergi ke minimarket karena takut sama kucing."

"Aku minta teman, bukan bodyguard dari kucing." Riani cemberut. "Lupa aja kalau aku bilang."

Wahyu diam sebentar.

Lalu dia menutup laptopnya. Menyimpannya ke dalam tas. Berdiri.

"Ayo."

Riani berhenti bergerak. "Hah?"

"Ke minimarketnya."

"Kamu mau ikut?"

"Kamu yang minta kan?"

Riani menatap Wahyu sebentar, tidak percaya. Lalu tersenyum lebar—senyum yang dia coba tahan supaya tidak terlihat terlalu senang.

"Oke! Yuk."

Mereka berjalan berdua keluar dari cafe, menyusuri trotoar menuju minimarket yang berjarak tiga menit jalan kaki. Langit sore itu keemasan, suhu udara menyenangkan—tidak terlalu panas, tidak terlalu dingin.

Di depan minimarket, si kucing belang memang ada—duduk santai di depan pintu geser dengan ekspresi puas seekor kucing yang tahu dia memiliki tempat itu.

Riani berjalan sedikit lebih lambat.

Wahyu melirik ke samping. "Itu kucingnya?"

"Iya." Riani menurunkan suaranya seolah kucing itu bisa mendengar. "Dia sering tiba-tiba loncat."

Wahyu menatap kucing itu beberapa detik. Lalu berjalan mendekati—membungkuk sedikit, menjulurkan tangannya.

Kucing belang itu mengendus tangan Wahyu, lalu dengan santai menggesekkan kepalanya ke telapak tangan Wahyu.

"Dia jinak," ujar Wahyu datar.

Riani melangkah maju hati-hati. "Kamu nggak takut?"

"Tidak."

"Kamu suka kucing?"

Wahyu tidak langsung menjawab. Dia mengusap kepala kucing itu beberapa kali sebelum berdiri lagi. "Dulu pernah punya."

"Oh? Namanya siapa?"

"Kacang."

Riani hampir tertawa. "Kacang?"

"Adikku yang kasih nama. Waktu itu dia baru umur empat tahun. Kesukaannya kacang goreng, jadi kucingnya dia kasih nama itu."

Riani berhasil menahan tawa, tapi matanya berbinar. "Dan kucing itu ikut makan kacang?"

Sudut bibir Wahyu terangkat sangat sedikit. "Tidak. Tapi setiap kali ada yang makan kacang goreng di rumah, dia langsung datang."

Mereka masuk ke minimarket bersama. Riani mengambil beberapa kebutuhan—sabun cuci muka, sampo mini, dan dua cokelat batang. Wahyu mengikuti di belakangnya tanpa banyak bicara, tapi juga tidak memisahkan diri.

Di kasir, Riani membayar. Lalu mereka keluar.

Si kucing belang masih di depan pintu. Kali ini Riani berani sedikit—dia berjongkok, menjulurkan tangan seperti yang Wahyu lakukan tadi.

Kucing itu mengendus tangannya.

Lalu menggesekkan kepala ke tangannya juga.

Riani tertawa kecil, geli. "Bulu-bulunya halus banget."

"Karena dipelihara orang minimarket mungkin," ujar Wahyu di sampingnya—juga sedang berjongkok, juga mengusap kucing itu.

Mereka berdua berjongkok bersama di depan minimarket, mengusap kucing belang yang sekarang mengeluarkan suara mendengkur puas.

Dan Riani menyadari sesuatu.

Ini adalah momen pertama di mana mereka berdua melakukan sesuatu yang benar-benar santai, benar-benar tidak ada hubungannya dengan tugas atau BEM atau hal-hal serius. Hanya dua orang berjongkok di depan minimarket, mengusap kucing.

Dan Wahyu ada di sini. Memilih untuk ada. Bukan karena terpaksa.

Riani melirik ke samping. Wahyu sedang fokus pada kucing itu, wajahnya rileks dengan cara yang jarang Riani lihat. Tidak ada tegangan di sudut matanya, tidak ada garis kewaspadaan di rahangnya.

Hanya... rileks.

Wahyu merasakan ditatap. Dia menoleh.

Mata mereka bertemu dari jarak yang cukup dekat—karena mereka berdua berjongkok di ruang yang sama.

Riani tidak segera mengalihkan pandangan.

Wahyu juga tidak.

Tiga detik. Mungkin empat.

Lalu Wahyu berdiri duluan. "Aku harus balik."

Riani berdiri juga, merasakan pipinya hangat. "Oh—iya. Terima kasih ya, sudah nemenin."

"Tidak masalah." Wahyu sudah meraih tas ranselnya. Tapi sebelum berbalik, dia berkata pelan, "Kucingnya jinak. Tidak perlu takut lagi."

Riani mengangguk. "Iya. Aku tahu sekarang."

Wahyu mengangguk balik. Lalu berbalik, berjalan menjauh di trotoar yang mulai remang-remang di bawah cahaya lampu jalan yang baru menyala.

Riani berdiri di depan minimarket, memandangi punggungnya.

Dan kucing belang di sampingnya, seolah mengerti situasi, menggesekkan tubuhnya ke kaki Riani sekali lagi sebelum berlari masuk ke dalam minimarket.

Malam harinya, Riani berbaring di kasur dengan ponsel di dada.

Dia sudah tiga kali mengetik pesan ke Wahyu dan tiga kali menghapusnya.

Yang pertama: "Tadi menyenangkan." Dihapus karena terasa terlalu... something.

Yang kedua: "Semoga Kacang baik-baik saja di mana pun dia sekarang." Dihapus karena mungkin menyentuh topik yang sensitif.

Yang ketiga: "Wahyu, aku—" Dihapus karena dia sendiri tidak tahu kalimatnya mau dilanjutkan ke mana.

Riani meletakkan ponsel, menutup matanya.

Aku suka kamu.

Tiga kata yang sederhana. Tapi mengandung risiko yang, untuk kondisi ini, terasa seperti melompat dari tebing.

Karena Wahyu baru belajar percaya.

Karena Wahyu masih rapuh di balik lapisan kekerasannya.

Karena salah langkah bisa menghancurkan segalanya.

Jadi Riani tidak akan bilang apa-apa.

Belum.

Mungkin tidak akan pernah.

Atau mungkin suatu hari nanti, ketika semuanya sudah lebih solid.

Tapi bukan sekarang.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari Wahyu.

Wahyu: "Terima kasih sudah ikut rapat kelompok dengan serius. Presentasi Rabu harusnya lancar."

Kalimat yang sangat Wahyu. Formal. Tentang tugas.

Tapi dia yang mengirim duluan. Lagi.

Riani tersenyum, mengetik balasan.

Riani: "Kita sudah kerja keras. Pasti bagus. Oh iya, Wahyu—tadi di depan minimarket itu momen pertama aku lihat kamu terlihat... ringan. Aku suka lihatnya."

Send. Sebelum dia sempat menghapusnya.

Jantung Riani berdegup menunggu.

Balasan datang dua menit kemudian.

Wahyu: "Ringan?"

Riani: "Iya. Seperti bebannya nggak seberat biasanya. Itu bagus, Wahyu."

Tiga titik muncul. Menghilang. Muncul lagi.

Lalu:

Wahyu: "Mungkin karena tidak ada yang perlu dipikirkan saat mengusap kucing."

Riani membaca itu dan tertawa kecil di kamar kostnya yang sunyi.

Riani: "Itu teori bagus. Terapi kucing."

Wahyu: "Mungkin efektif."

Riani: "Besok kalau kamu stress, cari si kucing belang."

Wahyu: "Aku akan pertimbangkan."

Riani meletakkan ponsel dengan senyum yang tidak bisa dia sembunyikan, bahkan dari dirinya sendiri.

Berbahaya.

Perasaan ini berbahaya.

Tapi untuk malam ini, dia membiarkannya ada.

Bersambung.....

1
YoMi
Lanjut kan kak
DemSat
Nice Story /Kiss/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!