NovelToon NovelToon
All About Love (Love Story)

All About Love (Love Story)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Terlarang / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: wanudya dahayu

Dari: Renata]
_Malam, Pak. Ini CV calon asisten pengganti saya. Anaknya pinter, cekatan, dan bisa langsung mulai Senin depan. Namanya Harumi Nara. Saya jamin, Bapak nggak akan kecewa.

Devan mengangkat satu alisnya, merasa tidak asing dengan nama yang disebutkan oleh Renata. Tanpa ekspektasi apa pun, ia mengklik lampiran file dan kembali memindahkan pandangannya ke layar laptop.

Detik berikutnya, napasnya tercekat.

Matanya terbelalak, menatap foto 3x4 di pojok kanan CV itu. Jantungnya yang lima tahun ini berdetak datar seperti mesin yang teratur ritmenya, tiba-tiba bergejolak hebat menghantam sampai tulang rusuknya keras-keras.

Tangannya mengepal di atas meja, buku-buku jarinya memutih. Dia mengerjap, sekali, dua kali, mencoba meyakinkan bahwa matanya tidak salah lihat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wanudya dahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

you're mine 12

*Tiga jam setelah Mama dan Sandra pergi dari rumah Nara.*

Nara masih duduk di lantai yang dingin, punggungnya bersandar di pintu yang tertutup rapat. Hening. Tapi kepalanya berisik.

_Pergi atau bertahan?_

Logikanya teriak: _Pergi, Ra. Kamu lihat sendiri kan tadi? Kamu tidak pernah diterima di sini. Dulu tanpa adanya Sandra pun Mama-nya Devan tidak merestui hubungan kalian, apalagi sekarang. Lebih tidak mungkin lagi. Kamu cuma akan menjadi duri di keluarga mereka. Devan sebentar lagi menikah, dan Nathan sudah menata hidupnya kembali. Jadi bukankah kehadiran kamu hanya akan merusak segalanya?_

Nara semakin terisak. Tangannya meremas dada yang rasanya hampir meledak. Sakit sekali.

Tapi hatinya... hatinya tidak pernah mau tahu. Selalu membisikkan nama Devan setiap detik, setiap waktu, Ingatannya hanya berputar pada Devan. Sekeras apa pun dia mencoba melupakan, tetap saja hatinya selalu punya cara untuk kembali pada Devan.

Nara memeluk lututnya erat. Air matanya sudah terkuras habis. Dia merasa lelah dengan semuanya. Semua sudah terlanjur terjadi. Toh bukan dia yang meminta, bukan dia yang memilih kembali di kehidupan Devan. Takdir yang membawanya kembali ke sini. Kalau boleh memilih, biarlah dia tetap menjadi orang dengan hati yang mati rasa—seperti mayat hidup yang tidak lagi punya keinginan dan gairah—asal semua baik-baik saja.

"Kalau aku pergi sekarang, rasanya tidak adil untuk Devan dan untuk diriku sendiri. Kalau aku bertahan, aku jahat. Aku secara tidak langsung akan menyakiti Sandra, dan mungkin juga Nathan," ucapnya dalam hati. Dia kemudian tertawa hampa.

*Malam harinya.*

Nara merebahkan tubuhnya yang luar biasa lelah. Akhir-akhir ini dia kehilangan nafsu makan dan juga kurang tidur.

Ponsel yang dari tadi dia diamkan saja bergetar. Notifikasi berita. Dari grup WA kantor.

Jantungnya berdetak, terlalu kencang seolah akan terlepas dari tempatnya.

*[EKSKLUSIF] Skandal Ardiansyah Group: Harumi Nara, Asisten Baru, Diduga Rebut Tunangan Bos yang Seorang Supermodel.*

Foto blur dirinya dan Devan kemarin. Narasi busuk. Namanya disebut lengkap: _Harumi Nara_. Narasumber: _anonim, dekat dengan keluarga._ Entah dari mana mereka mendapatkan foto-foto tersebut.

Tiba-tiba saja Nara tidak bisa bernapas. "Kenapa jadi seperti ini?"

Tangannya gemetar mematikan HP. Nara tidak sanggup melihat komentar-komentar jahat dan hujatan yang tertuju padanya. Semua menyebutnya "pelakor". Semua menyimpulkan sendiri tanpa tahu kebenarannya.

Kemudian notifikasi lain masuk. Telepon dari Devan.

Dengan sisa tenaga, dia mengangkat panggilan itu. "Halo... Pak..."

"Ra, kamu baik-baik saja?" Suara Devan rendah. Dingin. Tapi bukan ke Nara, melainkan ke dunia. "Kamu sudah baca berita yang tersebar? Jangan panik. Jangan hiraukan. Dan jangan terima telepon atau baca pesan selain dariku. Kamu dengar?"

Nara hanya diam. Tak terdengar satu kata pun. Hanya suara isak tangis yang Devan tangkap dari balik ponselnya.

"Aku ke sana sekarang!" ucapnya, langsung mematikan panggilan.

Devan bergegas ingin menemui Narai. Dia yakin sekali saat ini Nara tengah merasa ketakutan dan tertekan. Devan ingin menenangkannya dan memastikan bahwa apa pun yang terjadi, Devan berjanji akan ada untuk melindunginya.

*Setengah jam kemudian.*

"Ra, buka pintunya." Devan mengetuk tidak sabar.

Nara keluar membuka pintu, matanya sembab dan wajahnya pucat. Devan yang melihatnya langsung menarik Nara dalam pelukannya. "Jangan menangis lagi. Jangan takut. Aku di sini."

"Pak... Devan tidak seharusnya ke sini. Ini salah," ucap Harumi akhirnya.

"Kenapa kamu masih membuat jarak di antara kita? Kita tidak sedang di kantor. Jangan panggil Pak. Aku tidak suka mendengarnya."

"Bukankah hubungan kita seharusnya seperti itu? Atasan dan karyawan?" jawab Nara pelan sambil menunduk. Tatapan mata Devan terlalu tajam dan mendominasi membuatnya gugup.

Devan mengangkat pelan dagu Nara, memaksanya beradu pandang. "Jangan keras kepala lagi, Ra. Sudah seperti ini, jangan lagi bersikap dingin padaku. Setidaknya beri aku sedikit kekuatan dengan keberadaan kamu yang nyata. Aku butuh kamu."

Hening.

"Aku takut, Pak... Devan... maksudku Kak. Aku tidak seharusnya kembali. Aku membuat semua menjadi kacau," ucapnya datar.

Devan sebenarnya mengerti betul apa yang dirasakan Nara saat ini. Dia pasti sangat tertekan dan menyalahkan dirinya sendiri.

Devan memeluk kembali Nara, erat sekali. "Aku tidak akan membiarkan kamu tersakiti lagi. Aku janji."

"Biarkan aku pergi, Kak... semua akan kembali baik seperti semula. Seperti sebelum aku kembali."

"Baik yang bagaimana menurut kamu?"

"Kak, kamu tetap menikah dengan Sandra. Bukankah Mama kamu menginginkan itu? Aku hanya tidak ingin merusaknya. Aku tidak bisa menanggung rasa bersalah yang sangat besar terhadap kalian."

"Tidak ada yang baik-baik saja, Ra. Kamu hanya melihatnya dari permukaan. Apa yang kamu pikir baik-baik saja, semua itu bohong. Di balik semua itu aku hancur. Selama ini aku hanya berusaha menjalani skenario yang dibuat Mama tanpa aku benar-benar hidup di dalamnya. Sekarang ada kamu di sini. Apa kamu pikir aku akan membiarkanmu pergi lagi?"

"Bagaimana kalau aku tetap memilih pergi?" tanya Nara, mencoba menatap kembali kedua mata Devan.

"Satu kata lagi kamu bilang mau pergi, aku ikat kamu sekarang juga. Aku borgol, lalu aku bawa ke apartemenku biar kamu tidak bisa ke mana-mana."

Nara tercekat. Itu bukan ancaman. Itu janji.

"Aku selama ini selalu menyesali diriku sendiri karena tidak cukup punya keberanian untuk mempertahankan kamu dulu. Tapi sekarang beda, Ra. Aku yang sekarang punya kekuasaan. Aku punya _power_ yang kuat untuk melindungi kamu dari apa pun. Kamu hanya perlu percaya kepadaku."

Nara perlahan melunak. Kali ini Devan mungkin benar. Seharusnya dia percaya kepada laki-laki itu.

*Di kantor pusat Ardiansyah Group.*

Kabar tentang perselingkuhan bos dan asisten pribadinya menjadi berita panas di seluruh jajaran direksi dan karyawan. Gosip sudah terlanjur tersebar. Semua orang seolah merasa bebas membicarakan dan memberi komentar. Tentu saja di cerita ini Nara lah yang menjadi tokoh jahatnya, Sandra sebagai korban, dan Devan—dia tidak lepas dari komentar buruk. Semua orang mengira Devan lelaki _playboy_ yang tidak cukup dengan satu perempuan. Padahal mereka semua tidak tahu kebenarannya.

Hari ini pun Nara tetap berangkat ke kantor, meski Devan semalam sudah memberi perintah agar dia tetap diam di rumah. Tapi Nara menolaknya. Dia tetap akan bekerja dan menjalankan tugasnya sebagai karyawan seperti biasa. Soal gosip di kantor, meski sempat membuat mentalnya _down_ dan nyalinya menciut, dia bertekad akan menghadapinya. Sembunyi bukan pilihan yang terbaik.

Pandangan mata julid dan memojokkan dari semua orang yang mengenalnya Nara terima ketika dia masuk ke kantor. Semua orang berbisik-bisik tepat di hadapannya. Nara tahu mereka sedang membicarakannya, terlihat dari tatapan mata mereka yang merendahkan.

"Pantes, baru masuk sudah dapat posisi paling tinggi. Ternyata ada main sama Bos..." ucap salah satu karyawan yang sengaja mengeraskan nada bicaranya. Lalu disahut dengan perkataan-perkataan lain yang tidak kalah membuat telinga Nara semakin panas.

Narai berusaha tidak memperdulikan komentar-komentar pedas itu. Ia lanjut berjalan menuju meja kerjanya. Meski hatinya bergemuruh, dia tetap berusaha fokus dengan pekerjaannya.

*Tidak lama kemudian.*

Devan datang ke kantor. Dia tahu semua orang tengah membicarakannya, tapi dia tidak peduli. Toh siapa yang berani berkomentar di hadapannya.

Devan melihat Nara yang tengah fokus menatap layar laptopnya, kemudian berkata, "Ke ruangan saya." Perintahnya tegas.

Nara yang mendengar suara Devan langsung mendongak, menatap laki-laki itu dengan raut muka penuh tanda tanya. Menyadari itu, Devan kemudian berkata lagi, "Sekarang."

Dalam hati Nara mengutuk perlakuan Devan yang seenaknya. Apa dia tidak berpikir bagaimana pandangan karyawan lain terhadapnya? Di tengah gosip panas begini, dia malah menyuruhnya masuk ke ruangannya sendirian. Apa dikira orang-orang tidak akan tambah berpikir macam-macam?

Nara sedikit cemberut, tapi tetap menuruti perintah Devan. Sudahlah, toh namanya memang sudah jelek dan tidak bisa diselamatkannya lagi.

Nara masuk ke ruangan Devan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Dia tidak berkata apa-apa. Dia menunggu Devan memulai pembicaraan.

Devan menghampiri Nara yang berdiri di depan meja kerjanya. "Kamu tidak apa-apa?" tanyanya.

"Aku memilih untuk tidak peduli..." jawab Nara tenang. Dia sudah terlalu lelah dan kehabisan energi hingga akhirnya memilih untuk tidak peduli agar tetap waras.

Devan tersenyum. Dipikirnya dari mana Nara tiba-tiba mendapat keberanian seperti ini. Dia ingat baru semalam gadisnya itu menangis sesenggukan di pelukannya, tapi hari ini berbeda sekali.

"Aku senang mendengarnya. Kemari lah, aku ingin memelukmu," kata-kata yang tidak Nara duga keluar mulus dari mulut Devan.

"Ini di kantor, Pak."

"Iya, aku tahu. Tapi kantor ini milikku."

Tanpa persetujuan, Devan langsung menarik Nara dalam pelukannya...

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!