NovelToon NovelToon
Kehidupan Ke 2 Legenda Raja Pembunuh

Kehidupan Ke 2 Legenda Raja Pembunuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Reinkarnasi
Popularitas:879
Nilai: 5
Nama Author: Iqbal Pertha

black hole yang menjadi legenda pembunuhan di masanya kini sedang berbaring lemah menahan rasa sakit karena penyakit yang menggerogoti tubuhnya.

" dalam hidup ini aku sudah banyak melakukan dosa, dan sudah tidak terhitung berapa nyawa yang aku hilangkan."

" jika sakit ini menjadi menjadi penebus atas dosaku, maka aku bersumpah di kehidupan keduaku aku akan menjadi seorang yang lebih baik dan tidak akan menghilangkan nya orang lagi kecuali itu terpaksa. "

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iqbal Pertha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

mengarang cerita

Wira sudah pulang dari rumah sakit saat ini dia sedang duduk di ruang tamu melihat Sasa yang tengah asik bermain bersama boneka beruang yang Wira belikan di kota S.

" minum obat dulu...." ucap ayu datang dari arah dapur.

" makasih ya ay...." ucap Wira mengambil obat dan air yang sudah ayu siapkan. Tapi kemudian Wira mengingat sesuatu.

" Ay aku membawa oleh oleh untuk mu juga dari kota S ntah firman sudah memberikannya pada mu atau belum." ujar Wira.

" firman memang memberikan beberapa barang tapi aku tidak sempat untuk memeriksanya, barang itu ada di kamar." ujar ayu.

" coba kamu lihat apakah kamu suka...." ucap Wira.

" um.... " angguk ayu kemudian pergi ke kamar.

Suasana mereka masih canggung ayu walau sudah mau berbicara tapi masih terkesan ketus, Sasa walau seperti sedang asik sebenarnya anak itu tampak masih takut.

" Sasa....." panggil lembut Wira, Sasa yang asik bermain sedikit terkejut.

" ya ayah...." jawab Sasa.

" ayah lihat rambut Sasa begitu panjang, apa Sasa mau ayah bantu untuk mengikatnya agar Sasa lebih leluasa bermain." ujar Wira.

" apa ayah bisa mengikat rambut." tanya Sasa.

" bisa dong, apa Sasa mau mencoba." tanya Wira.

" mau mau....." jawab sasa.

Wira mendekat dan mulai mengambil sisir lalu menyisir lembut rambut Sasa.

" rambut Sasa sehat sekali pasti rajin pakai shampo ya...." ujar Wira.

" iya ayah... Mama bilang rambut adalah mahkota bagi seorang wanita, jadi harus merawatnya dengan baik." ujar Sasa.

" wah Sasa belajar begitu baik dari mama ya.... Apa Sasa mau sekolah." tanya Wira.

" sekolah Sasa mau, tapi kata mama saat uang mama masih belum ada." jawab Sasa.

" Sasa tinggal sekolah saja masalah uang biarkan ayah yang pikirkan untuk mendapatkan bagai mana." ujar Wira.

" apa ayah sudah bekerja." tanya Sasa.

" ayah akan segera bekerja." jawab Wira.

" Wira ini ponsel yang kamu berikan untukku...." tanya ayu dari dalam kamar.

" ya apa kamu suka." tanya Wira

" kamu tidak mungkin membeli ponsel seperti ini sekarang jelaskan apa firman kamu manfaatkan lagi, Wira aku tidak tau kamu masih tidak berubah apa tidak cukup semua pengorbanan ku, apa kamu akan selalu menyusahkan orang lain." ayu marah semarah nya , Wira tidak menjelaskan apapun sampai ayu mulai tenang baru dia membuka suara.

" kembalikan semua ini pada firman aku tidak menerima ini, aku lebih suka kamu membawa sebungkus roti tapi itu dari hasil kerja keras mu." ucap ayu.

" Wira kamu dengar gak sih, kok malah diam saja, apa kamu memang tidak mau menjelaskan." ucap ayu.

" Sasa sayang, ayah mau mengobrol berdua Dangan mama Sasa bisa bermanfaat dikamar dulu ya." ucap Wira.

" ayah tidak akan memarahi mama kan ayah tidak akan pukul mama kan,...." ucap Sasa.

" tidak ayah hanya akan mengobrol." ucap Wira.

" ayah janji." Sasa.

" ayah janji." ucap Wira.

Sasa pun perlahan pergi ke arah kamar berat langkanya meninggalkan ayah dan bundanya hanya berdua untuk mengobrol karena yang terjadi sebelumnya tidak pernah baik.

Setelah Sasa benar benar sudah masuk ke kamar wira meminta ayu untuk duduk dan Wira akan menjelaskan semuanya.

" duduk dulu." ujar Wira.

Ayu pun duduk dengan kasar wajahnya tidak menatap Wira, amarahnya seperti akan meledak tiap kali menatap Wira.

" aku datang ke kota S kemarin menemui seorang teman, dulu aku pernah membantunya sedikit, dan sekarang dia sukses dan juga memiliki sebuah toko ponsel di mall terbesar di kota S." jelas Wira mengarang saja.

" aku datang bermaksud meminjam uang padanya, tapi ternyata bantuan yang aku berikan dulu itu dia memasukkan aku kedalam salah satu penanam modal, dimana setiap keuntungan dari hasil penjualan produknya aku akan mendapatkan 2,5%. Lihat selain memberiku ponsel dia juga memberiku kartu bank. aku tidak tau berapa jumlah di dalamnya tapi kata firman jumlah didalamnya bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta." jelas Wira

" apa kamu tidak sedang menipuku, untuk menutupi, sesuatu seperti kamu meminjam, atau melakukan kejahatan." ujar Ayu.

" aku tidak menipu mu sungguh, kamu bisa melihat dan menatap mataku, aku sama sekali tidak bohong." ucap Wira.

" ah ya dan asal kamu tau firman juga mendapatkan satu ponsel, kamu bisa bertanya padanya nanti jika bertemu." ucap Wira.

" lagi pula di negara S siapa yang akan memberikan pinjaman tanpa jaminan, walau ada mereka akan mencari tau latar belakang peminjam, itu butuh waktu yang lama, dan jika aku melakukan kejahatan kejahatan seperti apa yang akan aku lakukan." ujar Wira.

" baik lah kali ini aku akan coba percaya padamu tapi ketika aku tau kamu berbohong aku tidak peduli alasan apapun saat itu juga aku akan meninggalkanmu." ucap Ayu.

" iya...." jawab wira.

" oh ya apa Sasa sudah cukup usia untuk masuk sekolah, jika ya sebaiknya sekolahkan saja Sasa, agar dia memiliki teman dan leluasa bermain." ujar Wira.

" kamu asal bicara uang dari mana kita saat ini benar benar tidak punya uang." ucap ayu.

" apa uang di dalam kartu itu tidak cukup." tanya Wira.

" ini bukan milikku aku tidak menggunakan sesuatu yang bukan milikku." ucap Ayu.

" itu aku berikan padamu, aku benar benar ingin berubah dan ingin hidup lebih baik." ucap Wira.

" aku masih tidak bisa percaya jika orang sepertimu bisa berubah." ujar ayu.

" kamu boleh tidak percaya aku, tapi apa kamu percaya kematian, hari itu saat kak yoga datang bersama kelompoknya, aku di pukuli hingga mati, dan pada hari itu aku mati." ucap Wira

" kau berbohong ya jika kau mati bagai mana hari ini kamu bisa berbicara denganku." ujar ayu masih sulit untuk percaya.

" aku tidak tau untuk menjelaskannya, hanya saja saat itu aku, aku bisa melihat masa depan setelah kematian ku, aku melihat kau di gilir sebagai pemuas nafsu bejat mereka dan kemudian kamu di jual oleh kak yoga, yang lebih parahnya lagi Sasa menyaksikan kekejaman itu, tapi karena terlalu berat beban yang kamu tanggung kamu memutuskan bunuh diri, dan Sasa dia hidup dijalan bertarung dengan anjing liar untuk berebut makanan." ucap Wira mengarang cerita.

" aku melihat itu menangis menjerit menyesal dan aku menolak mati aku memohon untuk hidup dan melindungi kalian semua, entah karena tuhan kasihan, atau karena aku mati belum pada waktunya aku kembali hidup." ujar Wira mendramatisir cerita nya.

" kamu sedang mengarang, sudah aku tidak mau mendengar cerita karanganmu aku akan ke dapur untuk memasak, jika orang lain mungkin akan percaya tapi aku tidak....." ucap ayu. Wira gemetar merasa ayu ini bukanlah wanita sembarangan dia bisa tau mana karangan dan kenyataan.

Hanya saja yang Wira tidak tau ayu sebenar benar benar memikirkan ceritanya, dia memikirkan tentang dirinya yang bunuh diri dan Sasa yang hidup di jalan. Rasanya itu benar terjadi jika Wira mati pada saat itu, karena kak yoga saat itu sudah tinggal sedikit lagi untuk bisa mendobrak pintu kamar ayu saat itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!