Setelah kepergian Ayahnya, hidup Keysa begitu menyedihkan. Di mana perlakuan Ibu dan Adiknya yang semakin menjadi-jadi, bahkan mereka sampai menjual Keysa ke salah satu klub untuk dilelang.
Saat pelelangan, seorang pria menawar Keysa dengan harga dua miliar dan membuat Keysa menjadi milik pria itu. Keysa pikir hidupnya akan hancur setelah dibeli pria asing itu, namun justru sebaliknya. Keysa diperlakukan dengan penuh kasih sayang dan pria itu tidak membiarkan siapapun menyakiti Keysa, pria itu memanjakan Keysa hingga membuat banyak orang merasa iri dengan hidup Keysa.
Bagaimana kelanjutannya? Siapa pria yang membeli Keysa? Apa alasan pria itu membeli Keysa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa Kamu Suka Aku?
Keysa memejamkan mata, tangannya merambat naik ke leher Lucas untuk mencari pegangan. Di bawah guyuran air, semua beban yang Lucas rasakan sepanjang hari seolah luruh dan hanya ada dirinya dan juga Keysa. Lucas menc**m Keysa, bukan c**m*n lembut yang biasa, melainkan c**m*n yang menuntut, penuh dengan rasa syukur karena memiliki Keysa sebagai rumah untuknya pulang.
Satu jam kemudian, mereka keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang lebih segar. Lucas hanya mengenakan celana kain hitam dan kemeja putih yang dibiarkan terbuka, sementara Keysa mengenakan jubah mandi sutra berwarna krem.
"Kuenya... nanti cokelatnya bisa mengeras kalau tidak segera dimakan," ucap Keysa saat mereka menuruni tangga menuju ruang makan.
Di atas meja, dark chocolate fondant buatan Keysa sudah tersaji lalu Keysa mengambil sendok dan memotong bagian tengah kue kecil itu. Seketika, lelehan cokelat pekat mengalir keluar, persis seperti yang ia harapkan.
"Kamu coba," ucap Keysa menyuapkan satu sendok kecil ke mulut Lucas.
Lucas mengunyahnya perlahan, rasa pahit dari dark chocolate berpadu dengan rasa manis yang pas. "Enak, jauh lebih baik daripada buatan koki restoran manapun," puji Lucas tulus.
Kemudian, Lucas menarik Keysa untuk duduk di pangkuannya dan mengabaikan kursi kosong di sampingnya.
"Lucas, nanti kalau ada yang lihat gimana?" tanya Keysa gugup.
"Semuanya sudah aku suruh pergi, mereka tidak akan mengganggu kita. Ayo suapi aku lagi," ucap Lucas.
Lucas melingkarkan lengannya dengan protektif di pinggang Keysa, memastikan istrinya benar-benar merasa aman dalam dekapannya. Keysa. Meski pipinya masih terasa panas, akhirnya menyerah dan menyendokkan kembali potongan kue yang masih hangat itu ke arah Lucas.
"Kamu terlalu banyak memuji, aku jadi takut rasa aslinya tidak sebanding dengan bicaramu," ucap Keysa malu-malu.
Lucas menerima suapan itu, namun matanya tidak lepas dari wajah Keysa. "Aku tidak bicara soal rasa cokelatnya, Keysa. Aku bicara tentangmu," ucap Lucas.
Keheningan yang nyaman menyelimuti ruang makan yang mewah itu, hanya terdengar denting halus sendok yang beradu dengan piring. Namun, di balik ketenangan itu, tiba-tiba Keysa penasaran akan satu hal dan Keysa pun memberanikan diri untuk menanyakannya pada Lucas.
"Lucas," panggil Keysa lembut sambil meletakkan sendoknya, ia memberanikan diri untuk mengusap garis rahang Lucas yang tegas.
"Iya?" tanya Lucas dengan menatap lekat wajah Keysa.
"I-itu... apa kamu suka aku?" tanya Keysa gugup.
'Gapapa Keysa, setidaknya kamu tanya dulu. Kalau Lucas bilang nggak suka, kamu bisa pelan-pelan buat dia suka sama kamu,' batin Keysa, ia sudah menyiapkan hatinya jika Lucas mengatakan tidak.
Pertanyaan Keysa yang terdengar begitu polos namun penuh keraguan seolah memicu sesuatu yang jauh lebih dalam di dalam diri Lucas. Tatapan mata Lucas menggelap, bukan karena amarah, melainkan karena hasrat dan rasa posesif yang selama ini ia tekan di balik topeng ketenangannya.
Tanpa peringatan, tangan Lucas yang berada di pinggang Keysa mengencang dan menarik tubuh Keysa hingga tidak ada lagi jarak di antara mereka. Ia mencengkeram tengkuk Keysa dengan jemari kokohnya, memaksa Keysa untuk mendongak dan menatap langsung ke dalam manik matanya yang berkilat tajam.
"Kamu masih bertanya soal itu setelah semua yang aku lakukan?" bisik Lucas, suaranya parau dan bergetar rendah, menciptakan getaran yang merambat hingga ke tulang belakang Keysa.
Sebelum Keysa sempat menjawab, Lucas menyambar bibir istrinya dengan c**m*n yang begitu ganas dan menuntut. Ini bukan lagi c**m*n lembut yang menenangkan seperti sebelumnya, ini adalah c**m*n seorang pria yang akhirnya mengklaim wanitanya, sebuah jawaban bisu yang jauh lebih lantang daripada sekadar kata suka.
Keysa tersentak, tangannya yang semula berada di dada Lucas kini meremas kemeja putih pria itu hingga kusut. Ia merasa oksigen di sekitarnya mendadak menipis saat lidah Lucas mulai menjelajahi rongga mulutnya dengan begitu mendominasi dan rasa manis sisa cokelat masih tertinggal di sana, namun kini bercampur dengan aroma maskulin Lucas yang memabukkan.
"Mmhh... Lu-Lucas... " Keysa mengerang tertahan di sela-sela pagutan mereka, tubuhnya terasa lemas seolah seluruh kekuatannya telah diserap habis oleh c**m*n yang membara itu.
Lucas tidak membiarkan Keysa mengambil napas, ia memiringkan kepalanya dan memperdalam c**m*n itu hingga Keysa merasa dunianya berputar. Lucas seolah ingin menunjukkan betapa besar rasa frustasi dan gairah yang ia pendam setiap kali melihat Keysa tersenyum, merona atau bahkan saat Keysa hanya diam.
C**m*n itu turun ke rahang lalu ke leher jenjang Keysa dan meninggalkan jejak kemerahan di sana, sebuah tanda kepemilikan yang tidak akan bisa dibantah oleh siapa pun.
"Aku tidak hanya menyukaimu, Keysa," bisik Lucas di sela napasnya yang memburu, bibirnya masih menempel di kulit leher Keysa.
"Aku menginginkanmu lebih dari apa pun yang pernah aku miliki di dunia ini, kamu adalah satu-satunya kelemahan sekaligus kekuatanku," lanjut Lucas.
Keysa terengah-engah, matanya berkaca-kaca karena luapan emosi yang begitu besar. Rasa takut yang tadi sempat menyelimuti hatinya kini menguap sepenuhnya, digantikan oleh kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuh. Ia merasa sangat dicintai, sangat diinginkan dan sangat dihargai.
Lucas menjauhkan wajahnya sedikit, hanya untuk menatap wajah Keysa yang tampak kacau namun sangat cantik di matanya. Bibir Keysa bengkak dan memerah, matanya sayu karena gairah dan napasnya pendek-pendek.
"Jangan pernah tanyakan itu lagi, karena jawabannya akan selalu sama dan aku akan membuktikannya padamu setiap hari jika perlu," ucap Lucas sambil mengusap bibir bawah Keysa dengan ibu jarinya.
Keysa menyembunyikan wajahnya yang merah padam di ceruk leher Lucas dan menghirup aroma tubuh suaminya yang menenangkan.
"Maaf... aku hanya ingin mendengarnya langsung," gumam Keysa lirih.
"Aku juga yang salah, karena aku tidak mengatakannya dan membuat kamu ragu denganku," ucap Lucas.
Setelah itu, tanpa mengatakan apapun Lucas menggendong Keysa dan kali ini dengan tujuan yang jelas, meja makan dan sisa kue cokelat itu dibiarkan begitu saja. Bagi Lucas, hidangan penutup yang sebenarnya ada di dalam pelukannya saat ini.
"Kalau begitu, mari kita lanjutkan pembuktiannya di kamar," ucap Lucas dengan nada nakal yang membuat Keysa semakin erat memeluk lehernya.
Pintu kamar tertutup dengan dentuman halus yang seolah memutus dunia luar dari realitas yang sedang mereka bangun. Lucas tidak menurunkan Keysa di lantai, ia membawanya langsung ke tengah ranjang king size yang luas.
Ketika tubuh lembut Keysa menyentuh sprei yang dingin, kontras dengan panas tubuh Lucas yang menekannya, Keysa merasakan sensasi yang asing namun mendebarkan. Cahaya remang dari lampu tidur berwarna kuning keemasan memberikan siluet tajam pada garis otot punggung Lucas saat pria itu melepaskan kemejanya dan membuangnya ke sembarang arah.
.
.
.
Bersambung.....
jadi pengen 🤣🤣🤣🤣
Masak ya nunggu sampe Berjam jam gak konfirmasi ke asisten Lucas...