NovelToon NovelToon
The Price Of Power

The Price Of Power

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Penyelamat
Popularitas:408
Nilai: 5
Nama Author: Kharisa Patasiki

Di balik kemegahan istana presiden, cinta hanyalah sebuah bidak yang dikorbankan demi takhta.

Adrian (Ian) menggunakan Rhea, seorang mahasiswi kedokteran, sebagai tunangan kontrak untuk membalas dendam pada ibu tirinya, Cansu. Namun, di balik kebencian itu tersimpan rahasia kelam tentang pengkhianatan dan pengorbanan yang dipaksakan oleh ambisi politik sang Perdana Menteri.
​Saat rahasia masa lalu terbongkar dan nyawa menjadi taruhan, mereka harus menyadari satu kenyataan pahit: di puncak kekuasaan, setiap kemenangan selalu meminta tumbal.
​Kekuasaan memiliki harga, dan mereka harus membayarnya dengan air mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kharisa Patasiki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: SANDIWARA DI AMBANG AIR MANCUR

​Pasca ketegangan di Galeri Nasional, atmosfer di mansion pegunungan milik Ian berubah menjadi sunyi yang menyesakkan. Rhea menarik diri, mengunci pintu kamarnya, dan membiarkan amplop cokelat berisi dokumen monitor keluarga itu tergeletak di meja samping tempat tidur. Di sisi lain, Ian tenggelam dalam tumpukan dokumen di kantor pusat Diningrat Grub, mencoba memutus rantai logistik Pradikta yang semakin menggila.

​Pagi itu, Ian harus menghadiri rapat darurat dengan para pemegang saham asing. Ia meninggalkan mansion dengan pengawalan ketat, namun ia melakukan satu kesalahan fatal: ia menganggap rumah pribadinya adalah benteng yang tak tertembus oleh Cansu.

​Sekitar pukul sepuluh pagi, tiga mobil sedan hitam tanpa plat nomor resmi kepresidenan berhenti di depan gerbang mansion. Enam ajudan wanita bersetelan jas hitam turun dengan langkah militer yang sinkron. Mereka dipimpin oleh seorang asisten senior yang baru, menggantikan posisi yang sempat kosong di lingkaran Cansu alias menggantikan maya.

​Mbok Yem dan Pak Totok, pelayan setia Ian, segera menghadang di depan pintu utama.

​"Mohon maaf, Nyonya Besar meminta Nona Rhea untuk hadir di kediaman utama sekarang," ucap pemimpin ajudan itu dengan nada datar namun menuntut.

​"Tuan Muda Ian tidak ada di rumah. Tidak ada yang boleh membawa Nona Rhea tanpa seizin beliau," tegas Pak Totok, tangannya sudah bersiap menekan tombol darurat.

​"Ini adalah perintah Ibu Negara. Menghalangi kami berarti menghalangi perintah negara," balas ajudan itu dingin. Di belakang mereka, Rhea muncul di ambang pintu, wajahnya tampak lelah namun matanya memancarkan keberanian yang nekat.

​"Tidak apa-apa, Mbok. Pak Totok. Saya akan pergi," ucap Rhea. Ia merasa perlu menyelesaikan apa yang dimulai di galeri kemarin. Ia perlu tahu di mana posisi Cansu sebenarnya.

​Mbok Yem segera berlari ke arah telepon rahasia begitu mobil-mobil itu melesat pergi. "Pak Ian! Pak Ian! Nona Rhea dibawa paksa oleh orang-orang Ibu Negara!"

​Rapat di kantor pusat Diningrat Grub mendadak berhenti ketika Ian membanting tabletnya ke meja. Yusuf yang berdiri di sampingnya langsung mengangguk paham. Tanpa kata pamit kepada para investor yang melongo, Ian melangkah lebar menuju lift.

​"Ke kediaman utama. Sekarang. Jika ada yang menghalangi, tabrak saja," perintah Ian pada Yusuf, suaranya terdengar seperti gemuruh sebelum badai.

​Sementara itu, di taman belakang kediaman utama, di dekat air mancur marmer yang megah, Cansu berdiri dengan gaun sutra berwarna abu-abu asap. Ia tampak seperti ratu yang sedang menunggu eksekusi seorang tawanan. Rhea berdiri lima langkah di depannya, menantang tatapan intimidasi sang Ibu Negara.

​"Kamu punya nyali yang besar untuk datang ke sini sendirian, Rhea," ucap Cansu. Suaranya bergema di antara gemericik air mancur.

​"Anda yang mengundang saya, Nyonya. Dan saya bukan orang yang suka berutang kehadiran," balas Rhea tajam.

​Tepat saat suasana mencapai titik didih, suara langkah sepatu kulit yang berat menghentak lantai pualam di lorong taman. Ian muncul dengan aura yang begitu gelap hingga para ajudan Cansu tanpa sadar mundur satu langkah. Yusuf mengikuti di belakang dengan wajah tegang, sementara Mbok Yem—yang entah bagaimana sudah sampai di sana dengan menumpang mobil Yusuf—berlari kecil dengan napas terengah-engah.

​Ian langsung berdiri di samping Rhea, menatap Cansu dengan mata yang menyipit berbahaya.

​"Atas izin siapa Anda membawa tunangan saya ke sini tanpa sepengetahuan saya, Cansu?" tanya Ian. Suaranya rendah, namun penuh ancaman.

​Cansu menyunggingkan senyum tipis yang dingin. Ia merapikan ujung gaunnya dengan tenang. "Aku hanya ingin memastikan bahwa gadis ini siap menjadi menantu keluarga Diningrat. Aku tidak ingin keluarga kita dipermalukan oleh seseorang yang... rapuh."

​Ian melangkah maju satu tindak, memperkecil jarak antara dirinya dan Ibu tirinya. Terjadilah adu mekanik tatapan yang mematikan. Ian dengan kemarahan yang dingin, dan Cansu dengan kecemburuan yang membeku. Keduanya saling mengunci mata, seolah sedang melakukan tarian pedang yang tak terlihat. Udara di sekitar air mancur itu terasa begitu berat, membuat para bawahan merinding ketakutan.

​Namun, di tengah ketegangan yang nyaris meledak itu, Yusuf melirik ke arah Mbok Yem. Mereka berdua menyadari bahwa jika ini terus berlanjut, Ian mungkin akan melakukan hal yang gegabah dan merusak reputasi politiknya.

​Dalam sebuah koordinasi rahasia yang hanya dimengerti oleh orang-orang terdekat Ian, tiba-tiba...

​Srett!

​Yusuf dan Mbok Yem—secara bersamaan dan nampak sangat disengaja—menarik ujung rambut Rhea ke belakang.

​"Aaaaa!" Rhea berteriak karena terkejut dan rasa sakit yang tiba-tiba. Tubuhnya limbung, terdorong ke belakang dengan posisi yang canggung.

​Ian, yang sedang fokus melakukan staring contest dengan Cansu, langsung terkejut. Refleksnya sebagai pria yang waspada bekerja; ia segera menangkap tubuh Rhea sebelum menghantam lantai. Namun, Ian tampak linglung. Ia menatap Rhea, lalu menatap Yusuf dan Mbok Yem dengan ekspresi bingung yang hampir terlihat konyol.

​"Kenapa... kenapa tiba-tiba jatuh?" gumam Ian gagap.

​Yusuf, melihat tuannya yang cerdas mendadak blank, segera mengambil tindakan ekstrem. Ia melangkah maju sedikit dan menendang pelan pantat Ian dengan ujung sepatunya.

​Duk!

​Sentakan itu membuat Ian tersadar. Ia menatap Yusuf yang memberikan kode lewat mata. Ian, yang otaknya secepat kilat dalam bisnis namun kaku dalam drama, langsung menangkap sinyal itu. Ia menoleh ke arah Rhea yang masih dalam dekapannya, lalu dengan gerakan cepat, Ian mengedipkan satu matanya pada Rhea.

​Rhea yang sedang meringis kesakitan karena rambutnya dijambak, mendadak linglung. Apa-apaan kedipan itu? pikirnya. Namun, ia melihat wajah Ian yang kini berubah menjadi ekspresi panik yang sangat dramatis.

​"Rhea! Rhea! Ada apa denganmu?!" teriak Ian dengan nada yang dibuat-buat, namun tetap terdengar berwibawa bagi telinga orang luar.

​Ian langsung menggendong Rhea ala bridal style. Ia menatap Mbok Yem dengan wajah serius yang sangat meyakinkan. "Mbok Yem! Panggil dokter pribadi saya sekarang juga! Rhea pingsan karena tekanan mental yang luar biasa di rumah ini!"

​Rhea, yang awalnya hanya bingung, kini sadar bahwa ini adalah sandiwara untuk membebaskannya dari Cansu. Tanpa menunggu lama, ia memejamkan mata erat-alih, melemaskan seluruh tubuhnya di pelukan Ian. Ia pura-pura pingsan dengan sempurna.

​"Cepat! Siapkan mobil!" teriak Yusuf sambil menahan tawa yang hampir meledak di tenggorokannya.

​Ian membawa Rhea pergi dari hadapan Cansu dengan langkah lebar dan terburu-buru, meninggalkan taman air mancur itu seolah-olah sedang terjadi keadaan darurat medis nasional.

​Cansu berdiri mematung di tempatnya. Ia tidak bodoh. Ia melihat adegan tarik rambut yang dilakukan Yusuf dan Mbok Yem. Ia juga melihat tendangan kecil di pantat Ian. Namun, melihat Ian begitu sigap menggendong Rhea—bahkan jika itu hanya pura-pura—membuat sesuatu di dalam dadanya terasa perih dan terbakar.

​"Sandiwara konyol," desis Cansu pelan.

​Ia menghela napas panjang, mencoba menahan emosi yang bergejolak. Cansu berbalik, berjalan cepat menuju kamarnya di lantai atas. Begitu pintu kamar tertutup rapat, ia membanting vas bunga kecil di meja riasnya.

​Cansu menatap pantulan dirinya di cermin. Ia membenci kenyataan bahwa ia cemburu pada seorang gadis yang hanya menjadi pion. Ia membenci kenyataan bahwa Ian, pria yang dulu menatapnya dengan penuh cinta, kini lebih memilih melakukan akting konyol bersama pelayannya demi melindungi wanita lain dari dirinya.

​"Kamu menang kali ini, Adrian," gumam Cansu dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Tapi jangan harap sandiwara ini akan berakhir bahagia."

​Di dalam mobil yang melaju menjauh, Rhea perlahan membuka satu matanya. Ia melihat Ian yang masih menatap lurus ke depan dengan wajah serius, namun telinga pria itu tampak sedikit memerah.

​"Rambutku sakit sekali, Ian," bisik Rhea.

​Ian meliriknya sekilas, lalu kembali menatap jalan. "Anggap saja itu biaya administrasi untuk kebebasanmu hari ini. Dan ingatkan aku untuk memotong bonus Yusuf bulan depan."

​Yusuf yang menyetir hanya bisa nyengir di spion tengah. "Setidaknya itu berhasil, Tuan Muda. Wajah Ibu Negara tadi tidak ternilai harganya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!