NovelToon NovelToon
- Believe In Magic -

- Believe In Magic -

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Akademi Sihir / Reinkarnasi
Popularitas:226
Nilai: 5
Nama Author: bidadari

Sihirnya tajam, hampir terlalu sempurna untuk usianya. Mantra yang lain pelajari selama bertahun-tahun, ia pahami hanya dalam hitungan detik. Namun, setiap kilau kekuatan yang ia tunjukkan justru menjadi bayangan yang menjauhkannya dari yang lain.

Mereka menyebutnya dingin.
Mereka menyebutnya sombong.

Padahal, yang tak pernah mereka lihat adalah badai sunyi yang ia peluk sendirian.

Evelyn tidak pernah memilih untuk menjadi berbeda. Tapi sihir di dalam dirinya… terasa seperti sesuatu yang hidup—berdenyut, berbisik, seolah menyimpan rahasia yang bahkan ia sendiri takut untuk sentuh.

Dan di balik tatapan tenangnya, tersembunyi pertanyaan yang terus mengendap:

Apakah ia mengendalikan sihir itu… atau justru sedang perlahan dikuasai olehnya?


- Believe in magic -

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 — Langkah yang Tidak Bisa Mundur

Waktu di Sekolah Sihir Everton tidak berjalan seperti waktu pada umumnya. Ia tidak terasa lambat, tidak juga cepat. Ia hanya… mengikis.

Mengikis rasa ragu.

Mengikis rasa takut.

Dan bagi sebagian orang… mengikis keberadaan mereka.

Tahun-tahun berlalu tanpa benar-benar terasa.

Dari kelas E yang penuh ketidakpastian, Evelyn Edison kini berdiri di kelas C.

Bukan lagi murid yang baru belajar mengendalikan sihir.

Bukan lagi gadis yang hanya diam mendengar bisikan orang lain.

Ia telah berubah.

Lebih tajam.

Lebih dingin.

Lebih… kuat.

Namun perubahan itu tidak datang tanpa harga.

Kelas demi kelas ia lalui, dan setiap kenaikan bukan hanya tentang keberhasilan—tetapi juga tentang siapa yang tertinggal.

Atau… siapa yang tidak lagi ada.

Hari itu, aula terasa lebih sunyi dari biasanya.

Bukan karena tidak ada murid.

Tapi karena jumlah mereka… berkurang.

Evelyn berdiri di tempatnya, tongkat sihir di tangan, tatapannya lurus ke depan.

“Fokus,” suara pengawas terdengar dingin. “Kesalahan kecil bisa berakibat besar.”

Seorang murid di sampingnya menarik napas gugup. Tangannya gemetar saat mencoba mengangkat tongkat.

“Aku… aku bisa…”

Evelyn tidak menoleh.

Ia tidak perlu melihat untuk tahu bagaimana itu akan berakhir.

Mantra dilafalkan.

Cahaya muncul—

Lalu pecah.

Tidak stabil.

Berantakan.

Dan dalam sekejap—

Hilang.

Sunyi jatuh seperti tirai berat.

Evelyn memejamkan mata sesaat.

Bukan karena takut.

Tapi karena… sudah terbiasa.

Setelah latihan selesai, murid-murid mulai berkumpul dalam kelompok kecil. Namun seperti biasa, tidak ada yang benar-benar mendekati Evelyn.

Sebaliknya—

Bisikan itu kembali muncul.

“Kamu lihat? Lagi-lagi dia selamat.”

“Semua orang di kelas sebelumnya… hilang. Tinggal dia sendiri.”

“Sialan, kenapa dia yang terus hidup?”

Evelyn berjalan melewati mereka tanpa berhenti.

Namun suara itu semakin keras.

“Memang ya, yang dingin kayak dia pasti nggak punya perasaan.”

“Iya, wanita murahan.”

Langkah Evelyn terhenti.

Hanya sebentar.

Ia tidak menoleh.

Tidak marah.

Tidak membalas.

Namun tangannya mengepal pelan.

“Kalau aku mati,” katanya tiba-tiba, suaranya tenang namun jelas, “kalian akan lebih baik?”

Mereka terdiam.

Tidak menyangka ia akan bicara.

Evelyn melanjutkan, masih tanpa menoleh, “Atau… kalian hanya butuh seseorang untuk disalahkan karena kalian takut gagal?”

Sunyi.

Tidak ada yang menjawab.

Evelyn berjalan lagi.

Langkahnya tetap stabil.

Namun kali ini—

Tidak ada lagi bisikan yang berani mengikuti.

---

Sore harinya, langit di atas halaman sekolah mulai berubah warna. Angin berhembus lembut, membawa suasana yang lebih tenang dibanding pagi yang penuh tekanan.

Di bawah pohon yang sama seperti dulu, Wiliam Elbert berdiri, kini dengan aura yang sedikit berbeda.

Lebih matang.

Lebih… jauh.

Evelyn mendekat.

“Kak Wiliam.”

Wiliam menoleh, lalu tersenyum tipis. “Sudah lama.”

“Kamu sudah di kelas A.”

“Dan kamu di kelas C,” balasnya. “Cepat juga.”

Evelyn tidak terlihat bangga. “Masih jauh.”

Wiliam mengangguk pelan. “Masih.”

Sunyi sejenak.

Namun tidak canggung.

“Masih ingin ke bumi?” tanya Wiliam santai.

Evelyn langsung menjawab, “Ya.”

Tidak ada ragu.

Tidak ada jeda.

Wiliam tersenyum kecil. “Kali ini tidak pakai ‘penasaran’ lagi?”

Evelyn menatapnya lurus. “Aku sudah tahu apa yang aku mau.”

Wiliam memperhatikannya lebih serius.

“Dan kamu siap dengan konsekuensinya?”

“Aku sudah melihat konsekuensinya setiap hari.”

Wiliam tidak langsung menjawab.

Ia tahu apa yang dimaksud.

“Banyak yang tidak sampai ke sini,” katanya pelan.

Evelyn mengangguk. “Aku tahu.”

“Dan kamu tetap memilih jalan ini?”

“Aku tidak punya alasan untuk berhenti.”

Wiliam tersenyum tipis. “Atau… kamu tidak memberi dirimu pilihan untuk berhenti?”

Evelyn terdiam sejenak.

Lalu berkata pelan, “Kalau aku berhenti… semua ini tidak ada artinya.”

Wiliam menatapnya dalam.

“Kamu berubah, Evelyn.”

“Semua orang berubah.”

“Tidak seperti ini.”

Evelyn memalingkan wajah sedikit. “Kalau tidak berubah, aku sudah hilang.”

Sunyi.

Angin sore berhembus pelan.

“Jadi…” Wiliam melanjutkan, “tujuanmu sekarang jelas?”

Evelyn mengangguk.

“Aku akan naik ke kelas A.”

“Lalu?”

“Aku akan memilih.”

“Menjadi manusia?”

Evelyn menatap langit.

“Ya.”

Wiliam menghela napas kecil.

“Dunia manusia tidak seindah yang kamu bayangkan.”

“Aku tidak bilang aku mencari keindahan.”

“Lalu apa?”

Evelyn terdiam.

Untuk beberapa detik—

Ia tidak menjawab.

Lalu akhirnya berkata pelan, “Aku ingin hidup… tanpa harus takut dihapus.”

Wiliam tidak langsung menanggapi.

Namun ekspresinya berubah.

Lebih serius.

Lebih memahami.

“Itu alasan yang lebih jujur,” katanya pelan.

Evelyn menatapnya sekilas.

“Apakah itu cukup?”

Wiliam tersenyum tipis. “Untuk terus berjalan? Ya.”

Sunyi kembali hadir.

Namun kali ini—

Bukan sunyi yang menekan.

Melainkan sunyi yang… menguatkan.

Evelyn mengepalkan tangannya pelan.

“Aku tidak akan berhenti.”

Wiliam mengangguk. “Aku tahu.”

“Aku tidak akan disingkirkan.”

“Aku juga tahu.”

Evelyn menarik napas dalam.

Matanya tajam.

“Aku akan sampai ke sana.”

Wiliam tersenyum kecil.

“Kalau begitu… pastikan kamu masih menjadi dirimu sendiri saat kamu sampai.”

Evelyn sedikit mengernyit. “Maksudnya?”

Wiliam tidak langsung menjawab.

Ia hanya berkata, “Jangan sampai tujuanmu menghapus siapa kamu.”

Evelyn terdiam.

Kalimat itu… terasa aneh.

Namun ia tidak menolaknya.

Karena jauh di dalam dirinya—

Ia juga mulai merasakannya.

Bahwa dalam perjalanannya menuju tujuan…

Ada bagian dari dirinya yang perlahan hilang.

Namun ia tidak berhenti.

Karena ia tahu—

Di dunia ini, yang berhenti… akan hilang.

Dan ia—

Tidak akan pernah membiarkan itu terjadi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!