Mati di puncak gunung Goma justru terbangun di dasar neraka sebagai tengkorak rapuh tanpa daging. Demi kembali ke panti asuhan tempat ia dibesarkan Goma mulai membantai iblis dan memangsa tubuh mereka. Setiap nyawa yang ia telan menumbuhkan otot serta kulit baru di atas tulangnya. Ini bukan hanya tentang bertahan hidup namun tentang pendakian berdarah dari dasar jurang menuju singgasana para dewa yang telah menghina takdirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelarian Didinding Maut
Episode 26
Angin malam Gehenna yang sangat dingin menghantam wajahku dengan kekuatan yang luar biasa saat aku bergantung pada satu tangan di dinding tebing tulang yang sangat curam. Di bawah kakiku jurang limbah esensi yang mendidih masih mengeluarkan uap merah yang mencekam seolah olah ia sedang menunggu tubuhku terjatuh untuk melumatnya hingga tidak bersisa. Aku merasakan bagaimana otot lengan kananku yang sangat kuat menegang hingga ke batas maksimal untuk menahan beban tubuhku yang kini jauh lebih berat karena adanya integrasi logam Black Iron. Jari jemariku mencengkeram erat tonjolan kalsium yang kasar hingga kuku kuku hitamku menusuk masuk ke dalam material tulang tersebut menciptakan pegangan yang sangat kokoh.
Dug... dug... dug...
Jantung esensi ku berdetak dengan ritme yang sangat cepat akibat lonjakan adrenalin yang meluap di seluruh pembuluh darah hitamku. Aku tidak bisa membuang waktu meskipun hanya satu detik saja. Di atas sana dari arah jendela yang tadi ku lewati aku bisa mendengar suara raungan mahluk Ember Stalker yang sangat murka. Cahaya api merah dari tubuh kucing api itu menyinari sebagian dinding tebing menciptakan bayangan bayangan panjang yang bergerak liar di sekelilingku. Aku tahu Lord Valos tidak akan membiarkan pencuri sepertiku pergi begitu saja dengan membawa rahasia dimensi Terra yang sangat berharga.
"Goma cepat turun ke arah celah batu di bawah sana! Aku merasakan ada sekelompok mahluk terbang yang mulai keluar dari menara pengawas istana!" teriak Kharis yang kini mencengkeram erat kerah jubahku agar tidak terbang tertiup angin kencang.
Aku tidak membalas ucapan Kharis karena seluruh fokusku sekarang tertuju pada koordinasi antara otot dan syaraf perasa ku. Aku mulai melakukan gerakan turun yang sangat cepat menggunakan teknik down climbing yang sangat ekstrem. Aku melepaskan tangan kananku kemudian meluncur jatuh sejauh dua meter sebelum tangan kiriku yang sekeras baja menangkap celah horizontal di bawahnya.
Sret!
Gesekan antara kulit metalik ku dengan permukaan tulang tebing menimbulkan percikan api ungu yang kecil di tengah kegelapan malam. Aku merasakan panas yang menyengat di telapak tanganku namun syaraf perasa ku segera meredam rasa sakit tersebut agar tidak mengganggu konsentrasi ku. Aku menggunakan kaki kakiku untuk mencari pijakan pada lubang lubang kecil di dinding tebing menggunakan teknik smearing atau menekan permukaan datar dengan telapak kaki untuk mendapatkan gaya gesek maksimal.
[ SISTEM: MEMINDAI POSISI MUSUH DI ATAS ]
[ SISTEM: OBJEK TERDETEKSI: 5 UNIT BLOOD VULTURE DAN 2 SHADOW WINGS ]
[ SISTEM: JARAK KE TARGET PENGEJAR: 50 METER DAN TERUS BERKURANG ]
[ SISTEM: REKOMENDASI: GUNAKAN KEMAMPUAN SHADOW VEIL SAAT MEREKA MENDEKAT ]
Lima puluh meter. Mereka jauh lebih cepat dariku karena mereka memiliki sayap. Aku harus segera menemukan tempat perlindungan sebelum mereka sempat meluncurkan serangan jarak jauh.
Aku terus merayap turun dengan kelincahan seorang predator tebing. Aku berpindah dari satu titik tumpu ke titik tumpu lainnya dengan gerakan yang sangat terukur. Setiap inci pergerakanku dihitung secara otomatis oleh sistem di dalam kepalaku memastikan bahwa aku selalu berada di jalur yang paling tidak terlihat oleh cahaya api dari atas. Aku melihat sebuah gua kecil yang tersembunyi di balik tumpukan tulang naga yang menonjol sekitar sepuluh meter di bawah posisiku sekarang.
"Aku akan masuk ke dalam celah itu Kharis. Bersiaplah untuk menahan napas esensi ku."
Tiba tiba sebuah serangan bola api berwarna ungu melesat dari arah atas menghantam dinding tebing tepat di samping kepalaku. BOOM! Ledakan energi itu menghancurkan sebagian permukaan tulang tebing menciptakan hujan debu dan serpihan tajam yang menyayat jubah pelayanku. Aku merasakan hawa panas yang luar biasa menyambar bahu kiriku namun berkat jubah isolasi yang kupakai kerusakan pada kulitku tidak terlalu parah.
"Itu serangan dari Shadow Wings Goma! Mereka bisa menembakkan api esensi dari bulu sayap mereka!" seru Kharis dengan nada yang sangat ketakutan.
Aku tidak membiarkan serangan itu meruntuhkan mentalitas pendaki ku. Aku justru menggunakan momentum getaran dari ledakan tadi untuk mendorong tubuhku melompat lebih jauh ke arah samping. Aku melayang di udara selama satu detik yang sangat mendebarkan sebelum jari jari tangan kananku berhasil mengunci tepian gua kecil tersebut.
Grep.
Aku menarik seluruh tubuhku masuk ke dalam gua yang sempit dan gelap itu. Suasana di dalam sini sangat lembap serta berbau busuk seperti sarang mahluk yang sudah lama ditinggalkan. Aku merangkak masuk lebih dalam hingga tubuhku sepenuhnya tertutup oleh bayangan gua. Aku segera mengaktifkan kemampuan Shadow Veil untuk menghilangkan jejak energiku sepenuhnya.
[ SISTEM: KEMAMPUAN AKTIF: SHADOW VEIL ]
[ SISTEM: DURASI AKTIF: 8 DETIK ]
[ SISTEM: STATUS: PENYAMARAN TOTAL DIAKTIFKAN ]
Dari dalam gua aku bisa melihat bayangan beberapa mahluk terbang melintas di depan mulut gua dengan kecepatan yang sangat tinggi. Suara kepakan sayap mereka terdengar sangat berat dan berirama menimbulkan hembusan angin yang masuk ke dalam ruangan sempit tempatku bersembunyi. Aku menahan napas paru paru semu ku sekuat mungkin membiarkan detak jantungku berhenti sepenuhnya selama beberapa saat melalui kontrol energi jiwa yang paksa.
"Mereka mencari mu mahluk liar! Tunjukkan dirimu atau aku akan membakar seluruh tebing ini!" suara teriakan salah satu pengejar terdengar sangat nyaring bergema di seluruh lembah jurang.
Aku tetap diam tidak bergerak sedikit pun layaknya sebuah fosil yang terkubur di dalam tanah. Aku merasakan bagaimana butiran debu menempel pada kulit wajahku yang kini mulai berkeringat esensi karena tekanan mental yang luar biasa. Setelah beberapa menit yang terasa seperti berjam jam suara kepakan sayap itu perlahan lahan mulai menjauh menuju ke arah dasar jurang. Mereka sepertinya mengira bahwa aku telah jatuh atau terus melarikan diri ke bawah.
Selamat... setidaknya untuk sementara.
Aku melepaskan kontrol pada jantungku membiarkannya kembali berdetak dengan ritme yang normal. Aku merasakan aliran hangat esensi kembali mengalir ke seluruh syaraf syaraf ku memberikan rasa nyaman yang luar biasa. Aku merogoh saku rahasia di balik jubahku kemudian mengeluarkan gulungan kulit yang berisi peta dimensi Terra.
Tangan kanan ku yang berotot sedikit gemetar saat aku perlahan lahan membuka ikatan benang emas pada gulungan tersebut. Di bawah cahaya redup dari mata kuning keemasan ku aku bisa melihat gambar gambar yang tertera di dalamnya. Ada koordinat koordinat dimensi yang sangat rumit diagram diagram sirkulasi energi antar alam serta sebuah titik merah yang ditandai sebagai Lokasi Pintu Gerbang Utama.
[ SISTEM: MEMULAI PROSES PENYIMPANAN DATA PETA DIMENSI ]
[ SISTEM: MENDETEKSI KODE ENKRIPSI TINGKAT TINGGI PADA KOORDINAT UTAMA ]
[ SISTEM: ESTIMASI WAKTU DEKRIPSI: 48 JAM SIKLUS ENERGI ]
[ SISTEM: STATUS: DATA BERHASIL DICADANGKAN KE DALAM MEMORI PERMANEN ]
Dua hari. Aku butuh dua hari untuk mengetahui di mana letak persis gerbang menuju Bumi itu berada. Aku tidak bisa tetap berada di sekitar Kota Oksidian dalam waktu selama itu karena Lord Valos pasti akan melakukan pembersihan besar besaran.
"Goma kita harus segera keluar dari wilayah ini. Jika hari mulai terang para Silent Watcher akan menggunakan Mata Pemantau untuk memindai setiap inci tebing ini," ucap Kharis sambil duduk di atas gulungan peta tersebut.
"Aku setuju Kharis. Kita akan bergerak ke arah Hutan Rusuk kembali. Di sana banyak tempat untuk bersembunyi serta banyak mahluk yang bisa ku jadikan bahan makanan untuk memulihkan energiku."
Aku menggulung kembali peta itu kemudian menyimpannya dengan sangat hati hati. Aku merasa seolah olah aku sedang memegang kunci menuju surga di tengah tengah neraka yang membara ini. Rasa rindu pada panti asuhan kembali menyerang jiwaku memberikan kekuatan tambahan pada otot otot kaki dan tanganku.
Ibu Widya aku sudah memegang jalannya. Hanya tinggal hitungan waktu sampai aku bisa berdiri di depan pintu rumah kita lagi. Takdir yang membuang ku ke sini tidak akan pernah menyangka bahwa aku akan merangkak kembali dengan membawa kekuatan sebesar ini.
Aku berdiri perlahan lahan di dalam gua sempit tersebut melakukan pengecekan terakhir pada seluruh sendi tubuhku. Aku merasa siap untuk melakukan perjalanan panjang melintasi perbatasan wilayah tengah menuju wilayah luar kembali. Aku tidak lagi takut pada mahluk mahluk liar yang ada di sana karena aku sekarang sudah jauh lebih kuat daripada sebelumnya.
"Ayo Kharis. Pendakian pulang kita baru saja dimulai."
Aku melangkah keluar dari gua dengan gerakan yang sangat hati hati melihat ke arah langit yang kini mulai menunjukkan pendaran cahaya ungu yang lebih terang. Badai energi yang tadi sempat kutunggu sepertinya akan segera tiba dan itulah kesempatanku untuk menghilang selamanya dari pandangan Lord Valos.
Goma sang pendaki kini telah berubah menjadi seorang buronan paling dicari di wilayah tengah Gehenna. Namun bagiku gelar itu tidaklah penting. Yang penting adalah setiap langkahku membawaku satu meter lebih dekat menuju tanah Bumi yang sangat kucintai. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun bahkan raja iblis sekalipun untuk menghalangi jalan pulang ini.