Bagi Elvano Diwantara, hidup adalah tentang Return on Investment (ROI).
Mewarisi ketampanan Kairo dan otak jenius Elena, Elvano tumbuh menjadi "Hiu Muda" yang lebih kejam dari ayahnya. Di usia 27 tahun, dia sudah melipatgandakan aset Diwantara Group. Motonya sederhana: "Kalau tidak menghasilkan uang, buang."
Satu-satunya makhluk di bumi yang bisa membuat Elvano rugi bandar hanyalah Elora, adik perempuannya yang manja dan boros. Elvano rela membakar satu kota demi melindungi sang adik, tapi dia juga akan menagih utang jajan adiknya dengan bunga majemuk.
Namun, kalkulasi Elvano mendadak error ketika dia bertemu wanita itu. Seorang wanita yang berani menawar harga dirinya, mengacaukan neraca keuangannya, dan membuat detak jantungnya berfluktuasi seperti saham gorengan.
"Menikahimu adalah investasi risiko tinggi dengan probabilitas kerugian 90%," kata Elvano dingin.
Wanita itu tersenyum miring, "Kalau begitu, kenapa Tuan Muda tidak berani cut loss dan melepaskan saya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Bukan Klaim Asuransi
"Mbak yakin mau masuk? Serius? Nggak mau pikir-pikir dulu? Asuransi jiwa masih aktif, kan?"
Pertanyaan beruntun dari sekretaris di depan pintu mahoni besar itu membuat nyali Aluna menciut seukuran biji jagung. Wanita dengan rambut disanggul rapi itu menatap Aluna dengan pandangan horor, seolah Aluna baru saja mendaftar jadi umpan buaya muara.
"Saya mau melamar kerja, Mbak. Bukan mau ikut uji nyali," jawab Aluna sambil membetulkan letak kemejanya yang masih agak kusut di bagian lengan. Dia berusaha terlihat seprofesional mungkin meski sepatunya berdebu.
"Sama saja," bisik sekretaris itu sambil melirik pintu tebal di belakangnya. "HRD di lantai bawah sudah angkat tangan. Mereka nggak berani wawancara kandidat untuk posisi 'keramat' ini. Katanya takut kena mental kalau salah pilih orang. Jadi, Pak Elvano minta semua pelamar langsung menghadap dia."
Aluna menelan ludah. Langsung menghadap bos besar? Si CEO pelit itu?
"Jadi... saya boleh masuk?" tanya Aluna ragu.
Sekretaris itu menghela napas panjang, seolah sedang melepas kepergian pejuang ke medan perang. Dia menekan tombol interkom.
"Pak, ada pelamar untuk posisi Audit Internal Khusus."
Hening sejenak. Lalu terdengar suara bariton singkat dari speaker.
"Suruh masuk. Jangan lama-lama, oksigen ruangan saya mahal."
Sekretaris itu menatap Aluna dengan iba. "Semoga beruntung, Mbak. Pintu tidak dikunci. Langsung kabur jika sudah tidak sanggup."
Aluna mengangguk kaku. Dengan tangan sedikit gemetar, dia memutar gagang pintu emas itu dan mendorongnya.
Hembusan udara dingin yang menusuk tulang langsung menyambutnya. Ruangan CEO itu luasnya luar biasa, mungkin seukuran tiga petak kost Aluna dijadikan satu. Lantainya dilapisi karpet tebal yang meredam suara langkah kaki. Tapi anehnya, ruangan itu sunyi senyap. Tidak ada orang di balik meja kerja raksasa di tengah ruangan.
"Permisi?" panggil Aluna pelan.
Tidak ada jawaban. Hanya suara denting halus logam beradu dengan kaca.
Aluna melangkah lebih jauh ke dalam, matanya menyapu sekeliling. Pandangannya terhenti di sudut ruangan, di area pantry pribadi yang terlihat mewah.
Di sana, berdiri Elvano Diwantara. Jas mahalnya sudah dilepas dan disampirkan rapi di kursi, menyisakan kemeja putih pas badan dengan lengan yang digulung sampai siku. Pria itu sedang membungkuk di depan sebuah timbangan digital kecil, wajahnya sangat serius seolah sedang merakit bom nuklir.
Aluna mendekat perlahan, penasaran apa yang sedang dilakukan orang terkaya di gedung ini.
"Enam belas koma dua gram..." gumam Elvano pelan, matanya tak lepas dari angka di layar timbangan. Tangannya memegang sendok kecil berisi biji kopi.
Dia menuangkan satu biji kopi ke atas timbangan. Angka berubah. 16.5 gram.
Elvano mendecakkan lidah. "Kelebihan."
Dia mengambil kembali satu biji kopi itu menggunakan pinset. Ya, pinset.
Aluna melongo. Orang ini menimbang kopi pakai pinset?!
"Pak?" panggil Aluna, kali ini lebih keras.
Elvano tersentak sedikit. Tangannya berhenti di udara. Dia menoleh perlahan, tatapannya tajam dan dingin, terganggu karena ritual presisi kopinya diinterupsi.
Mata elang itu menyipit saat mengenali wajah Aluna.
"Oh," ucap Elvano datar, lalu kembali meletakkan biji kopi itu ke dalam toples. "Gadis tiga puluh lima ribu. Kamu lagi."
Aluna merasakan wajahnya memanas dipanggil dengan julukan konyol itu. "Nama saya Aluna, Pak."
Elvano tidak peduli. Dia membersihkan tangannya dengan serbet kain (bukan tisu, tentu saja), lalu berjalan santai menuju meja kerjanya.
"Kamu niat sekali sampai datang ke sini," komentar Elvano sambil duduk di kursi kebesarannya. Dia menatap Aluna dengan sorot meremehkan. "Baru tiga puluh menit yang lalu kita pisah di parkiran, sekarang kamu sudah sampai di lantai lima puluh. Apa kamu lari lewat tangga darurat demi menghemat ongkos lift?"
"Saya naik lift, Pak. Lift tamu," jawab Aluna ketus.
"Bagus. Berarti kamu nambah beban listrik gedung saya," sindir Elvano. Dia menyandarkan punggungnya, lalu mengulurkan tangan kanan dengan telapak terbuka ke arah Aluna.
"Mana?" tagih Elvano.
Aluna mengernyit. "Mana apanya?"
"Materainya," jawab Elvano tegas. "Saya bilang bawa materai sepuluh ribu untuk tanda terima klaim ganti rugi tiga puluh lima ribu itu, kan? Kamu datang ke sini mau ambil uang ganti rugi spion bututmu itu, kan?"
Elvano membuka laci mejanya, mengeluarkan dompet kulit, lalu mengambil beberapa lembar uang ribuan yang terlihat lusuh dan recehan logam. Dia menghitungnya di atas meja dengan cepat.
"Sepuluh, dua puluh, tiga puluh... lima ratus, lima ratus... oke, pas. Tiga puluh lima ribu rupiah," Elvano menumpuk uang receh itu di pinggir meja. "Mana materainya? Tempel di kwitansi kosong ini, tanda tangan, lalu ambil uangnya dan keluar. Saya sibuk."
Aluna menatap tumpukan uang receh itu. Darahnya mendidih. Pria ini benar-benar mengira harga dirinya cuma sebatas uang spion? Dia pikir Aluna rela menerobos masuk ke gedung mewah ini dengan baju kusut hanya demi uang receh?
"Saya nggak bawa materai," kata Aluna dingin.
Elvano berhenti menyusun uang logam lima ratusan. Dia menatap Aluna tajam.
"Kalau begitu transaksi batal. Tidak ada materai, tidak ada legalitas hukum. Kalau kamu mau beli materai dulu di koperasi lantai dasar, silahkan. Tapi saya kenakan biaya admin lima ribu karena membuang waktu saya untuk menunggu."
"Pak Elvano!" sentak Aluna, memotong ocehan pelit pria itu.
Aluna maju selangkah hingga perutnya menempel ke pinggiran meja kerja Elvano. Dia merogoh tas selempangnya yang talinya sudah agak brudul, lalu mengeluarkan sebuah map kertas berwarna cokelat.
Dengan gerakan tegas, Aluna menghempaskan map itu ke atas meja Elvano. Tepat di samping tumpukan uang receh tadi.
Brak!
Elvano mengangkat alisnya, sedikit terkejut dengan keberanian gadis di depannya.
"Saya ke sini bukan buat nagih tiga puluh lima ribu perak itu, Pak," ucap Aluna lantang, matanya menatap lurus ke dalam manik mata Elvano tanpa rasa takut.
"Lalu? Kamu mau jualan asuransi? Atau nawarin kredit panci?" tanya Elvano sinis, melirik map cokelat itu.
"Itu CV saya," jawab Aluna mantap.
Elvano terdiam sejenak. Dia mengambil map itu dengan ujung jari, seolah jijik, lalu membukanya sekilas.
"Melamar kerja?" Elvano tertawa pendek, tawa yang kering dan merendahkan. "Kamu? Gadis yang motornya karatan dan berani mendebat saya di parkiran, sekarang mau kerja di perusahaan saya? Posisi apa? Tukang parkir? Maaf, slot tukang parkir penuh."
"Staf Audit Internal Khusus," potong Aluna cepat. "Saya baca di videotron depan. Bapak cari orang yang teliti, berani bilang tidak, dan punya mental baja."
Elvano menutup map itu kasar. "Itu posisi krusial. Bukan buat main-main. Saya butuh profesional, bukan orang yang butuh sumbangan."
"Saya profesional, Pak! Saya lulusan Ekonomi Manajemen dengan IPK 3.8!" Aluna membela diri. "Dan yang paling penting, saya miskin. Orang miskin lebih jago menghitung duit daripada orang kaya, karena bagi kami, selisih seribu perak itu urusan bisa makan atau enggak!"
Elvano tertegun mendengar argumen itu. Masuk akal.
"Dan satu lagi," Aluna mencondongkan tubuhnya, menatap Elvano dengan tatapan menantang yang membuat jantung Elvano berdesir aneh—mungkin karena kaget, bukan karena suka.
"Bapak pelit. Sangat pelit. Tapi saya yakin, adik Bapak jauh lebih boros daripada penghematan yang Bapak lakukan dengan menimbang biji kopi itu."
Mata Elvano menyipit. Aluna menyentuh titik lemahnya.
"Terima saya kerja," lanjut Aluna penuh percaya diri. "Dan saya jamin, saya bisa menghemat uang Bapak jauh lebih banyak daripada tiga puluh lima ribu perak ini. Saya akan pangkas pengeluaran yang tidak perlu. Saya akan jadi rem buat siapapun yang mau hambur-hamburkan uang Bapak."
Aluna menunjuk tumpukan uang receh di meja.
"Simpan uang receh Bapak. Anggap itu investasi awal. Tes saya sekarang. Kalau saya gagal jawab pertanyaan Bapak tentang efisiensi, Bapak boleh usir saya dan saya nggak akan minta ganti rugi spion sepeserpun."
Elvano menatap gadis di hadapannya lekat-lekat. Kemejanya kusut, ada noda oli di sikunya, rambutnya sedikit berantakan. Tapi matanya... matanya menyala dengan api ambisi dan kebutuhan mendesak yang jarang Elvano lihat pada pelamar lain yang biasanya cuma bisa menunduk takut.
Sudut bibir Elvano terangkat sedikit. Sangat tipis.
"Menarik," gumam Elvano pelan. "Sangat menarik."
Elvano menyingkirkan uang receh itu, lalu melipat tangannya di atas meja. Postur tubuhnya berubah dari santai menjadi mode menguji.
"Baik, Gadis tiga puluh lima ribu," kata Elvano dingin. "Kita mulai ujiannya. Siapkan otakmu, karena saya tidak menerima jawaban bodoh."
makany baru bisa liat Dunia yg nyata ,,
🤭🤭🤭🤭🤭
kutukan sedang berjalan pak bos ,,
kutukan adik mu🤣🤣🤣🤣🤣
nanti cinbu dan bucin mas kalkulator
pinter bener nih yang nulis skenario 😍😍😍😍
Tersepona...... akuhh.....tersepona.....
asyik.... asyiiiikk.....joossss......😁
😭😭😭😭😭😭😭😭
super duper inti kerak bumi ga sih tuh pengiritan nya......🔥