Di usianya yang sudah genap dua puluh tujuh tahun Sandi Atmojo belum sedikitpun memikirkan tentang pernikahan sehingga kedua orang tuanya jadi khawatir putranya tersebut akan memilih hidup Single seumur hidup. Untuk mencegah hal itu sampai terjadi, sang mamah terus memaksanya untuk mencari calon istri, namun jawaban Sandi tetap sama, yaitu belum berniat menikah sebab belum memiliki calon. "Jika kamu tidak sanggup mencari calon istri, biar mama yang akan mencarikan calon istri untuk kamu." Pada akhirnya sandi tak dapat menolak lagi, dan membiarkan mamah mencarikan calon istri untuknya. Akan tetapi, Sandi tak menyangka jika pilihan mamahnya adalah seorang wanita yang berstatus single Mommy.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5.
Setelah Vania kembali Bu Dinda berpamitan, namun sebelum itu ia menyempatkan diri untuk berbagi nomor kontak dengan Vania.
Informasi yang tadinya ingin ditanyakan oleh Bu Dinda di loket informasi pelayanan rumah sakit adalah nomor kontak penanggung jawab yang tertera di arsip pendaftaran pasien, mengingat tempo hari Vania lah yang menjadi penanggung jawab bagi dirinya. Bu Dinda yakin saat itu Vania pasti di minta menyertakan nomor kontaknya. Namun, sebelum ia tiba di loket informasi pelayanan pada pasien, pandangan Bu Dinda justru tak sangaja melihat keberadaan Vania.
"Memangnya apa salahnya kalau dia berstatus single mom." Bu Dinda bergumam di sela kegiatannya mengemudikan mobilnya meninggalkan area parkiran gedung rumah sakit
*
"Titip Sesil ya mbak!." Dengan berat hati Vania harus menitipkan putrinya dalam kondisi seperti ini pada mbak Atun. Sebenarnya Vania tidak tega, tapi jika tidak berangkat kerja pasti ia akan terkena masalah nantinya.
"Ibu tidak perlu khawatir, mbak Atun pasti akan menjaga non Sesil dengan baik!." Kata mbak Atun meyakinkan Vania.
"Terima kasih banyak, mbak. Kalau begitu saya berangkat kerja dulu, kalau ada apa-apa langsung hubungi saya, mbak!."
"Baik, bu."
Vania pun berlalu setelah mengecup kening putrinya yang masih terlelap.
Setibanya di mobil, Vania meletakkan tasnya di samping bangku kemudi, lalu menghela napas dalam-dalam seolah saat ini organ pernapasan nya membutuhkan pasokan oksigen lebih.
"Tetap semangat, Vania! Semua pasti akan baik-baik saja." Gumam Vania menyemangati diri sendiri, sebelum sesaat kemudian menghidupkan mesin mobilnya. Kini mobil Vania telah bergerak meninggalkan gerbang utama rumah sakit, hendak menuju hotel tempatnya bekerja.
Setelah Kurang lebih dua puluh menit menempuh perjalanan dari rumah sakit akhirnya kini mobil Vania tiba di hotel. Vania gegas beranjak turun dari mobilnya.
"Selamat Pagi, Nona Vania." Seperti biasa, kedatangan Vania disambut oleh sapaan hangat dari security yang bertugas jaga di depan pintu utama gedung hotel.
"Pagi, pak." Balas Vania seraya mengulas senyum ramahnya. Bukan hanya pada petugas security namun Vania pun ramah pada hampir semua pegawai di hotel tersebut.
Dengan menggunakan lift yang diperuntukkan bagi para pegawai serta pengunjung hotel, Vania bergerak menuju ke lantai di mana ruangannya berada.
Baru beberapa langkah keluar dari lift, salah seorang rekan kerjanya nampak menghampiri Vania.
"Vania, pak manager memintamu menghadap ke ruangan beliau!."
Untuk kesekian kalinya Vania menghela napas panjang pagi ini.
"Baiklah." Vania yakin ini pasti ada hubungannya dengan keterlambatannya pagi ini.
Vania memilih langsung menghadap ke ruangan manager, sebelum menuju ruangan kerjanya.
"Tok...tok....tok...."
"Masuk!." Terdengar suara seruan pak manager dari dalam ruangan.
Perlahan Vania memutar handle pintu dan mengayunkan langkah memasuki ruangan yang terasa seperti mencekik baginya itu.
"Selamat pagi, pak."
"Kamu tahu jam berapa sekarang?."
"Maafkan saya, pak." Vania yakin Cika sudah menyampaikan tentang pesannya tadi pada pak manager, tapi sepertinya pak manager memang sengaja ingin mencari-cari kesalahannya.
"Kali ini apa lagi alasan kamu, Vania? Ada accident lagi di jalan? Anak kamu sakit sampai harus dilarikan ke rumah sakit? Atau, ada alasan lain lagi yang ingin kamu gunakan untuk menutupi keterlambatan kamu pagi ini, Vania?." Sakit, suara bentakan pak manager terdengar begitu menyakitkan hati, namun Vania berusaha untuk terlihat tegar.
"Maafkan saya, pak!."
"Saya harap ini permintaan maaf Kamu yang terakhir akibat terlambat datang, Vania. Jika masih ada permintaan maaf berikutnya yang diakibatkan oleh kesalahan yang sama, saya tidak yakin kamu masih punya kesempatan untuk tetap bekerja di sini."
"Baik, pak."
"Sana, Mulailah pekerjaanmu!."
"Baik, pak."
Vania pamit undur diri, hendak menuju ruang kerjanya dan berusaha melupakan semua kata-kata yang menyakiti hati.
Sejak ayahnya meninggal dunia saat usianya masih lima belas tahun, Vania merasa penderitaan dalam hidupnya datang silih berganti. Mulai dari keputusan ibunya menikah lagi dengan duda beranak satu yang membuatnya diperlakukan semena-mena oleh saudari tirinya, hingga terpaksa harus bekerja untuk membiayai kuliahnya dan pada akhirnya mengalami kejadian yang membuat Vania memiliki Sesil dalam hidupnya. Meskipun keberadaan Sesil sejak dalam kandungan membuat Vania akhirnya diusir oleh ibunya karena dianggap sebagai aib, namun Vania tetap bersyukur atas kehadiran Sesil di dalam hidupnya.
"Jika bukan hari ini mungkin besok, jika bukan besok mungkin bulan depan, jika bukan bulan depan mungkin tahun depan Tuhan akan melimpahkan kebahagiaan dalam hidupmu, Vania." Gumam Vania. Seperti itulah cara Vania menghibur hatinya. Vania Meletakkan tasnya di atas meja kemudian menduduki kursi kerjanya.
Di waktu yang sama, Sandi tengah melakukan peninjauan keliling ke seluruh bagian hotel demi memastikan semua pegawai telah melakukan tugasnya dengan baik, dan saat ini Sandi hendak melakukan peninjauan untuk kinerja pegawai yang bertugas di bagian dapur hotel. Sebenarnya Sandi bisa saja memerintahkan manager hotel untuk melakukannya namun Sandi memilih melakukannya sendiri. Bukan hanya melakukan peninjauan tanpa sepengetahuan dari para pegawainya, Sandi bahkan melakukannya tanpa sepengetahuan dari manager hotel. Tujuannya agar tidak ada yang memanipulasi kegiatannya tersebut dengan cara apapun.
"Tadi aku nggak sengaja mendengar pak manager membentak Nona Vania, saat hendak mengantarkan kopi ke ruangan manager."
"Bukannya pak manager naksir sama Nona Vania, masa' sih beliau tega membentak Nona Vania?." Sudah menjadi rahasia umum di kalangan para pegawai tentang perasaan terpendam pak manager pada Vania. Mungkin hanya Sandi satu-satunya orang yang tidak tahu tentang itu.
"Aku dengar dari cerita para pegawai, beberapa bulan lalu pak manager sempat mengutarakan perasaan cintanya pada Nona Vania, tapi sayangnya di tolak secara halus sama Nona Vania."
"Bukan hanya sekali, bahkan Minggu kemarin pak manager kembali mengutarakan perasaan cintanya, tetapi kembali ditolak sama Nona Vania."
"Begitu toh ceritanya, pantas saja akhir-akhir ini sikap pak manager berubah drastis pada Nona Vania, sering marah-marah."
Sandi yang tadinya hendak memasuki area dapur sejenak menghentikan langkahnya ketika mendengar percakapan di antara para pegawai yang bertugas di bagian dapur hotel, hingga otomatis sang asisten pun ikut menghentikan langkahnya.
Bukannya berniat membela Vania secara personal, namun Sandi tidak ingin sampai di kalangan para pegawainya ada yang menyalahgunakan wewenang dan bersikap seenaknya sendiri akibat hal pribadi. Setidaknya, itu point yang ditangkap Sandi setelah mendengar obrolan diantara para pegawainya yang bertugas di bagian dapur hotel tersebut.
Setelahnya, Sandi kembali melanjutkan langkahnya.
"Selamat pagi, tuan." Sapa salah seorang pegawai dengan nada terbata saat menyadari kedatangan Sandi. Takut ketahuan mengobrol di saat jam kerja.
"Selamat pagi, tuan." Rekannya yang lain ikut menyapa kedatangan pimpinan hotel tempat mereka mencari nafkah tersebut.
"Pagi."
Tanpa banyak bicara, Sandi mengecek semua kegiatan yang berlangsung di dapur dan untungnya semua berjalan dengan baik dan sesuai, meskipun tadinya para pegawainya itu sempat mengobrol.
Semua pegawai dibagian dapur hotel bernapas lega, terutama yang bertanggung jawab penuh untuk urusan dapur, setelah Sandi berlalu tanpa melontarkan satupun kalimat protes.
Hai sayang-sayangku... bagaimana kabar kalian semua? Aku berharap semoga kita semua senantiasa sehat dan selalu dalam lindungan Tuhan. Btw, selamat datang di karya receh baru Aku.....🥰🥰🥰... jangan lupa dukungannya ya......😘😘😘😘😘🙏🙏🙏🙏🙏 I love you all......😘😘😘😘
bisa gak dia aja yang di pecat 😏
Sandi pasti akan dukung Vania.
lagian apa urusannya sama Atika kalau pun ada kejadian jebak menjebak antara Vania dan Harto.
Atika melabrak seolah dia istri sah Harto 😆😆😆😆