Joshua Halim, anak ketua yayasan sekaligus cowok paling berkuasa di Seventeen International School, tiba-tiba menyatakan cinta, Yeri Marliana L. menolaknya tanpa ragu.
Penolakan itu melukai ego Joshua. Terlebih lagi, ia sedang berada di tengah taruhan dengan gengnya VOCAL (Vanguard Of Commanding Alpha Leaders), dan Joshua tidak pernah menerima kekalahan.
Sejak saat itu, ia terus mendekati Yeri dengan berbagai cara, memaksa jarak di antara mereka semakin sempit. Di sisi lain, Yeri justru harus menghadapi konsekuensinya: diincar, dijahili, dan dibully.
Tapi Yeri bukan tipe yang lemah. Ia melawan semuanya tanpa ampun. Namun keadaan berubah saat neneknya membutuhkan biaya operasi besar. Dalam kondisi terpojok, Joshua datang dengan tawaran yang tak bisa ia abaikan—ia akan menanggung seluruh biaya, asalkan Yeri mau menjadi pacarnya.
Dan di balik hubungan yang dimulai dari taruhan dan paksaan itu, satu hal mulai keluar dari kendali—perasaan yang seharusnya tidak pernah ada.
Story by Instagram & Tiktok @penulis_rain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9
Yeri melirik jam dinding di lorong. Udah jam lima lewat. Badannya lengket, bau pembersih lantai, rambutnya acak-acakan. Tapi saat disuruh nyerah gitu aja, dia berfikir ulang lagi. Kalau hari ini dia berhenti jadi Wakil Ketua OSIS, berarti dia kalah telak. Dan Yeri, pantang kalah dari orang-orang jahat itu. Dia memilih berdiri tegak dengan sisa-sisa harga diri yang masih dia punya.
“Gue ikut,” katanya tegas. “Gue nggak akan kasih Kristal sama Joshua kesempatan buat liat gue jatuh.”
Dika berkedip. Ada sedikit senyum lega yang dia sembunyiin.
“Good,” katanya singkat.
Yeri melipat tangan. “Tapi abis rapat, gue pulang. Jangan suruh gue yang aneh-aneh. Again.”
Dika cuma manggut, tapi dalam hati sebenarnya dia seneng banget Yeri masih mau ada di OSIS. Sebetulnya Dika udah suka Yeri dari lama, dari sebelum semuanya jadi serumit sekarang, tapi dia nggak pernah punya keberanian untuk ngomong.
Dan sekarang, semua udah terlambat.
***
Rapat akhirnya selesai juga setelah hampir satu jam penuh. Dika ngoceh soal rundown class meeting. Begitu pintu ruang OSIS tertutup, Yeri langsung ambruk ke kursinya sebentar, napasnya panjang, campuran capek, kesal, sama lapar yang nyelekit.
Perutnya tiba-tiba berbunyi dengan kenceng.
“Great…” gumamnya sambil berdiri.
Dia ngambil tas, siap kabur pulang sebelum hidupnya makin drama. Tapi baru dua langkah Yeri jalan, suara Dika terdengar di belakang.
“Yeri.”
Yeri nutup mata sebentar, udah malas duluan dengar ocehan Ketua OSIS-nya yang sedikit nggak jelas.
“Apa lagi, sialan?!” katanya tanpa balik badan.
“Lo mau makan bareng nggak?”
Yeri langsung noleh, melotot kecil. “Hah? Sekarang lo sok baik?”
Dika mendesah kayak udah siap dipelototin Yeri, pria ini tau percis tabiat Yeri sebagai perempuan’ ketus yang susah banget ditembus. “Gue cuma ngajak makan. Gue mau traktir semua anak OSIS juga. Jadi jangan GR dulu, ini bukan ajakan spesial.”
Yeri langsung membuang muka. “Gue nggak GR. Gue cuma… males. Gue mau pulang.”
Dika mengangkat bahu. “Gak dipaksa kok. Tapi lo laper kan? Perut lo udah ngeluarin suara berisik kayak token listrik gitu.”
Yeri memilih diam, tapi perutnya menjawab duluan.
GRUUUKKKK…
Yeri langsung mematung, wajah merah. Dika nahan ketawa, tapi bibirnya naik dikit.
“Semua udah ngumpul di depan gerbang,” kata Dika sambil jalan duluan. “Ikut aja. Kalo lo mau pulang, gampang. Tinggal bilang. Udahlah, nggak perlu ngambek lama-lama Yeri. Kita rekan kerja loh. Inget?”
Yeri menggertakkan gigi kecil-kecil. Dalam kepalanya, dia nyumpahin perutnya sendiri karena udah ngehianatin harga diri.
Tapi emang dia bener-bener… laper banget.
Akhirnya dia bergerak ikut Dika dari belakang. Begitu mereka keluar ke depan gerbang sekolah, suasananya rame. Anak-anak OSIS lain udah siap semua.
Ada yang naik motor, ada yang nebeng mobil temen, ada yang udah cabut duluan. Mobil-mobil pada keluar satu-satu, ninggalin area sekolah yang mulai gelap.
Lima detik kemudian, tinggal Yeri sendirian.
Dia ngelirik kanan-kiri. Tidak ada siapa pun. Selain… mobil hitam Dika yang masih parkir. Dika berdiri nyender ke pintu mobil, tangan masuk kantong, kayak nunggu Yeri sejak tadi.
“Eh?” Yeri celingak-celinguk. “Anak-anak lain mana?”
“Udah cabut duluan,” jawab Dika santai. “Mereka pada naik mobil masing-masing.”
“Terus gue…?” Yeri udah mulai ngerasain firasat nggak enak.
“Ya naik sama gue lah,” jawab Dika sambil buka pintu penumpang. “Kecuali lo mau jalan kaki ke restoran.”
Yeri mematung. Dia beneran nggak punya tumpangan lain. Benar-benar nol. Ditumpangin orang yang barusan mau ngeluarin dia dari OSIS? Ngapain?!
“Gue… naik sama lo?” tanyanya pelan, lebih ke ngomong sama diri sendiri.
“Daripada lo pingsan di jalan gara-gara laper,” Dika menambahkan sambil cengar-cengir.
Yeri mendelik. “Gue nggak selemah itu, anjir.”
“Yakin? Perut lo barusan konser.”
Yeri langsung nunduk karena malu. Dan akhirnya dengan berat hati, gengsi yang digertak habis-habisan, dan wajah yang udah kayak kepiting rebus dia masuk ke mobil Dika.
“Nih, sabuk pengaman,” kata Dika sambil duduk di kursi supir. “Gue nggak mau lo muter-muter di mobil gue kayak setan lapar.”
“Lo bawel banget deh,” Yeri merapikan sabuknya, tapi perutnya ngebatin juga.
Mobil melaju keluar sekolah. Dika sengaja pelan, biar Yeri nggak makin tegang.
Selama beberapa menit, mereka cuma diem. Tapi Yeri bisa ngerasa tatapan Dika kadang ngelirik dia dari samping. Perutnya masih mules tapi lebih ke lapar, bukan emosi.
Dan tanpa disadari Yeri, Dika malah nyengir kecil. Karena akhirnya, setelah setahun cuma bisa liat Yeri dari jauh, dia bisa duduk bareng Yeri di mobilnya sendiri. Walaupun harus berantem-berantem dulu tadi.
***
Begitu mobil Dika berhenti di depan restoran mewah, Yeri nelen ludah dengan gugup. Pintu dibukain satpam, karpet merah tipis, interior kaca, chandelier, udara dingin AC mahal. Saat masuk ruangan, dia ngeliat meja panjang udah penuh sama anak-anak OSIS. Tinggal satu kursi kosong tepat di sebelah Dika. Jelas banget udah sengaja nggak ada yang nempatin.
“Duduk,” kata Dika pendek.
Yeri mau nolak, tapi semua mata udah ngeliatin. Dia akhirnya duduk sambil nahan deg-degan.
Pelayan ngasih buku menu.
Dika ngeliat Yeri. “Pesan aja yang lo suka. Gue bayarin.”
“Ya gue tau,” sahut Yeri ketus sambil buka menu.
Tapi sebelum Yeri bisa baca, suara sinis datang dari seberang.
Clara.
Salah satu temen dekat Kristal, sekaligus anak OSIS yang paling nyebelin setelah Kristal.
“Yeri…” Clara nyengir manis penuh racun. “Lo nggak bisa baca ya? Butuh gue bacain? Ini restorannya emang nggak ada gambar menunya soalnya. Semuanya pakai bahasa Latin. Biasanya… cuma orang-orang berkelas yang ngerti.”
Anak-anak OSIS lain pada saling lirik. Ada yang senyum nahan tawa.
Yeri cuma mendengus. “Emang kenapa? Lo mau ngebacain?”
Clara keliatan makin bangga diri. “Boleh. Takutnya lo salah pesan. Mahal lho.”
Yeri balik ke buku menu, terus… tanpa ragu dia pesan.
“Saya pesan Tagliata di Manzo al Tartufo. Medium rare. Side salad-nya diganti rocket lettuce, dressing jangan terlalu asam.”
Pelayan langsung catat tanpa ragu. Clara membeku.
Dika ngangkat alis, lumayan takjub.
Clara cuma senyum kaku. “Oh… lo bisa baca ya?”
“Loh, tadi katanya gue nggak bisa?” Yeri nyengir halus.
Clara ngepalkan tangan di bawah meja. Benci banget liat Yeri percaya diri. Saat makanan datang, semua orang mulai makan. Hidangan mahal tersaji rapi, termasuk steak Yeri yang keliatan juicy banget. Tapi tentu saja, Clara belum selesai.
Dia ngeliat cara Yeri megang pisau, langsung nyeletuk, “Eh, Yeri… bukan gitu cara megang steak knife. Kayak gini, tau?” Clara nunjukin contoh yang jelas-jelas salah.
Beberapa anak OSIS lain ngedelik kecil, tapi takut ngeganggu, mereka diem.Yeri tau teknik makan Clara salah. Tapi dia sengaja ngikutin aja.
Clara makin seneng karena ngerasa Yeri bego, dan memang bener nggak selevel sama mereka.
“Tuh kan,” kata Clara. “Lo harus hati-hati motongnya. Jangan—”
Pisau Yeri menekan daging dengan posisi salah (sesuai arahan Clara), bikin daging terpelanting dari piring. Potongan steak melayang… tepat menghantam pipi Clara yang lagi senyum sok anggun. Suara tamparan daging itu keras banget. Anak-anak OSIS langsung membeku. Ada yang tutup mulut nahan ketawa.
Clara terhenyak, tangan di pipi, wajahnya penuh saus daging.
“YERI!!” sahutnya setengah teriak, setengah malu.
Yeri langsung menutup mulutnya dengan ekspresi yang jelas-jelas cuma pura-pura panik.
“UPS!! Ya ampun, Clara! Maaf banget! Tadi kan lo yang bilang cara motongnya begini…” Yeri ngedip tipis.
Dika udah nangis nahan tawa. Anak OSIS lain udah nggak kuat, bahkan ada yang sampai ketawa guling-gulingan di lantai.
Clara berdiri, pipinya merah antara malu dan literally merah karena saus. “Lo sengaja ya!?”
“Loh?” Yeri mengangkat bahu, sambil mengedipkan mata dengan polos. “Gue cuma ngikutin arahan lo. Emang salah ya?”