Hamil dengan pria asing yang ternyata, Mafia???!
Aria hamil dari pria tak dikenal setelah malam yang menghancurkan hidupnya. Ia memilih mempertahankan anak itu, meski pikirannya nyaris runtuh.
Hingga pria itu kembali.
Lorenzo de Santis—datang, mengaku bertanggung jawab, dan masuk ke hidupnya tanpa izin. Namun Aria tidak tahu…
Bahwa kehamilan tersebut bukanlah kebetulan.
Melainkan rencana.
Dan pria yang berdiri di hadapannya bukan sekadar masa lalu yang kelam—
melainkan seorang bos mafia yang sejak awal telah mengendalikan segalanya.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MBM — BAB 34
UCAPAN YANG JUJUR
Lampu kamar temaram. Satu-satunya suara hanya detak jam di nakas dan napas pelan Aria yang kembali teratur usai dia menenangkan dirinya dan membasuh wajahnya di wastafel.
Di sofa singel, Teresa tersentak bangun, lehernya kaku karena ketiduran dengan posisi duduk. Matanya mengerjap, buram lalu fokus. Tentu saja, sejak tadi dia tidur dan tak sadar kalau Lorenzo sudah kembali.
Aria yang sudah terbangun, kini duduk di tepi ranjang. Ia menoleh ke Teresa saat menyadari pergerakan wanita itu dari sofa.
“Nyonya!” Teresa langsung berdiri, panik dan menghampiri Aria saat itu juga. “Maafkan saya, Nyonya. Saya ketiduran. Saya harusnya menjaga—”
Aria tersenyum tipis, lelah, tapi tulus. “Tidak apa-apa, Teresa. Terima kasih sudah menjagaku.”
Teresa mendekat, tangan gemetar memegang tangan Aria. “Nyonya baik-baik saja? Apa kepala mu pusing? Atau perut?”
“Aku lebih baik.” Aria menunduk, tangannya otomatis ke perut. “Lorenzo sudah kembali.”
Kalimat itu pelan. Tapi Teresa menangkapnya sehingga dia ikut senang mendengar kabar itu, lalu tersenyum. “Syukurlah, Nyonya. Syukurlah...”
Dia tidak paham hubungan mereka. Kadang dingin seperti musuh, kadang panas seperti kekasih. Cinta dan tidak. Romantis yang unik. Tapi kalau Nyonya senang, Teresa ikut senang.
“Kau istirahat saja.” Aria menggenggam tangan Teresa. “Aku sudah baik. Pergilah.”
Teresa ragu sedetik. Lalu mengangguk. “Baik, Nyonya. Kalau butuh sesuatu, katakan saja dan panggil saya.” Dia menunduk, pamit, sebelum akhirnya keluar.
Lorong mes pelayan masih gelap, semua masih tidur. Tentu saja, karena ini masih lewat tengah malam, ada beberapa jam lagi untuk bangun dan bekerja.
Pintu belum lama tertutup ketika dibuka lagi.
Lorenzo masuk tanpa suara. Kemeja hitamnya masih sama, goresan di pelipis sudah dibersihkan tapi masih merah. Bau asap tipis masih nempel di jas yang dia lepas dan lempar ke kursi.
Aria langsung berdiri. Kegugupannya kembali lagi. Jantungnya berdebar bukan karena takut, tapi karena pria itu kembali seperti yang dia minta.
“Semuanya baik-baik saja?” Tanya Aria. Suaranya kecil.
Lorenzo menatapnya dari ujung kaki ke mata. “Ya.” Jawabnya singkat.
Lalu hening ketika Lorenzo tidak mengalihkan pandangannya dan dia hanya diam, berdiri dua langkah dari Aria, menatap serta menilai dan menunggu
Aria meremas ujung piyamanya. Sangat canggung. Udara rasanya menjadi lebih berat sampai akhirnya Lorenzo buka suara.
“Kau ingin sesuatu?”
Aria mengangkat wajah. Menatapnya balik, berpikir, lalu mengangguk pelan tapi pasti.
“Aku ingin tidur di sampingmu malam ini.”
Kalimat itu keluar tanpa ragu dan itu mengejutkan Lorenzo. Setelah itu, dia kembali menunduk. “Maaf. Untuk sikapku selama ini kepadamu.”
Dia tidak jelaskan kenapa. Tidak mengatakan soal Matteo, ataupun soal salah paham yang menimpanya. Aria hanya minta maaf.
Sementara Lorenzo heran. Alisnya naik sepersekian mili. Tapi dia tidak bertanya alasan. “Hm. Berbaringlah.” Katanya. “Aku ingin membersihkan tubuhku.”
Tentu Aria mengangguk faham, dan tidak keberatan, lalu berpaling ketika Lorenzo membuka kancing kemejanya sembari berjalan ke arah kamar mandi. Sedangkan Aria naik ke ranjang, selimut ditarik sampai dada. Meski jantungnya masih lari kencang.
“Tenang saja Aria... ini akan berakhir lebih cepat.” katanya dengan gugup dan terus memandangi pintu kamar mandi yang masih tertutup dan samar-samar terdengar suara gemericik air shower.
Lima belas menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka bersamaan dengan uap mengepul. Lorenzo keluar hanya mengenakan bathrobe hitam melilit pinggang, dada bidangnya basah, tetesan air turun dari rambut ke tulang selangka.
Aria menahan napas panas dingin, lalu berpaling.
Lorenzo sekilas melihat ke arahnya, namun langkahnya langsung menuju ke ruang ganti. Setelah itu keluar lagi dengan celana piyama hitam dan jubah senada yang longgar yang ia tali di area pinggang seperti bathrobe sebelumnya, sehingga dadanya sedikit terlihat menggoda.
Dia naik ke sisi ranjang yang kosong. Berbaring di samping Aria, menatap ke langit-langit dalam diam dan tidak menyentuh Aria ataupun berbicara.
Aria mengigit bibir bawahnya. Gugupnya naik ke ubun-ubun. Tapi dia mau ini, dia butuh ini.
“Aku...” Suaranya pecah. “Aku suka aromamu.”
Lorenzo menoleh sedikit.
“Terkadang... aku juga suka aroma Matteo.”
Kata itu jatuh seperti pisau dan berhasil membuat Lorenzo menoleh sepenuhnya. Mata silver itu menyala kaget serta dingin. “Jauhi Matteo.” Perintahnya singkat.
Aria terdiam. Lalu perlahan, dia menggeser tubuhnya mendekat. Sampai lengannya nyenggol lengan kekar Lorenzo.
Tanpa pikir panjang, Aria merangkul tubuh pria itu dari samping, pipinya ia tempelkan ke bahu Lorenzo ketika tangannya berhasil menarik lengan Lorenzo untuk dijadikan bantalan.
Lorenzo masih diam. Dia tidak dorong mendorong ataupun menarik dirinya. Dia hanya diam, menikmatinya. Tapi kenapa dia diam? Lorenzo pun tak tahu dengan dirinya.
“Aku harap kau tidak keberatan dengan posisi seperti ini.” Bisik Aria tersenyum tipis. “Karena aku tidak mungkin pergi ke Matteo lalu melakukan semua ini.”
Lorenzo tidak jawab, tapi dia suka. Namun sekelebatan di kepalanya, gambar lain muncul, beberapa jam lalu. Api, abu, peti kayu sederhana. Pembakaran jenazah Don Vito di pantai terpencil Sisilia. Ledakan itu rata, Don Vito kena telak. Lorenzo selamat karena sofa yang terbalik menahan reruntuhan tersebut.
Sementara beberapa anak buah Vito tewas meski tak semuanya tewas. Senorita pun masih hilang.
Dia memang selamat. Tapi aroma daging terbakar masih tercium di hidung Lorenzo.
“Lorenzo?” Aria mendongak. “Kau baik-baik saja?”
Pertanyaan simpel. Tapi tidak ada yang pernah bertanya seperti itu kepadanya. Tidak Emilio, tidak Monica, atau siapapun.
Lorenzo menunduk menatap Aria dalam. Sangat lama. Lalu tangan kanannya bergerak pasti, jari-jari kasar menyusup ke rambut belakang kepala Aria, menariknya pelan dan mendekat. Sehingga ia berhasil mencium bibir peach itu singkat, lembut tapi dalam.
Aria membeku, matanya melebar, jantungnya berhenti sedetik. Ini ciuman pertama dari Lorenzo yang bukan marah, bukan dingin. Ini... rumah.
Ciuman itu terhenti, dan bagi Aria masih belum cukup. Karena bayangan Matteo muncul. Malam itu, sentuhan yang menjijikkan naik ke tenggorokan. Dan tiba-tiba dia mau menghapus semuanya dengan Lorenzo.
Aria bergerak cepat. Dia angkat wajah, tangannya ke rahang Lorenzo, lalu mencium pria itu. Bukan singkat, melainkan dalam.
Ciuman yang dalam dan lama. Seolah menuntut, bibirnya menekan, mencari, memastikan ini nyata, ini Lorenzo, bukan Matteo.
Tentu saja Lorenzo kaku sedetik. Lalu sesuatu dalam dirinya patah. Tangan kirinya naik ke pinggang Aria, merambat lalu mencengkeram dan dalam satu gerakan, dia berhasil memutar tubuh Aria sampai terlentang di kasur.
Napas tersengal, Lorenzo di atasnya. Jubahnya terbuka, dada menempel ke piyama tipis Aria. Mata silvernya begitu gelap, bukan dingin ataupun lapar dan marah. Melainkan seperti rindu. Semuanya tercampur menjadi satu.
“Jangan main-main, Aria.” Suaranya serak berbahaya. “Karena kalau kau mulai ini... aku tidak akan berhenti.”
Aria menatapnya dalam, seolah itu jawaban siapnya.