NovelToon NovelToon
Terjerat Pesona Bunga Desa

Terjerat Pesona Bunga Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Miss DK

Lyodra, bunga desa Wonosobo menanam tanaman herbal langka khas dataran tinggi. Namun, warga desa yang mayoritas petani tembakau tidak menyukainya. Karena tanaman tersebut memiliki manfaat yang membuat orang berpikir negatif. Afrodisiak pada akarnya. Padahal di dunia tehnologi modern, tanaman herbal ini dapat dimanfaatkan sebagai obat anti kanker dan anti bakteri yang berdaya jual tinggi.

Kemarahan warga makin menjadi-jadi setelah mendapati Lyodra bersama pria asing di lumbung desa. Warga menuduh mereka berbuat mesum.

Kesalah pahaman membuat kepala desa terpaksa meminta pria asing itu untuk menikahi Lyodra. Agar tidak mencoreng nama baik Lyodra. Namun, sebuah rahasia malah terkuak.

Rahasia apakah itu? Apakah rahasia itu akan mempengaruhi kisah cinta Lyodra ke depannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss DK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Datang

Tok! Tok! Tok!

"Kak Lyodra, Kak Lyodra ada di rumah kan? Buka pintunya, Kak! Ada hal penting yang harus saya sampaikan."

Lyodra terbangun dari tidurnya setelah mendengar suara ketukan pintu. Seseorang juga terus memanggil namanya dari balik pintu.

Lyodra mengerjabkan mata bulatnya yang masih mengantuk. Hari sudah gelap. Rupanya dia tertidur. Kelelahan setelah kebanyakan menangis.

Lyodra bangkit berdiri. Menyeret kakinya keluar dari kamar.

Setelah mengintip dari balik jendela dan mengenali siapa yang ada di balik pintu, Lyodra baru berani membukakan pintu.

"Ada apa, Anteng? Kamu mau ngomong apa?" tanya Lyodra pada tamunya.

Raut wajah Anteng terlihat panik.

"Kak Edward sakit, Kak. Demam tinggi. Mungkin infeksi. Dokter Hans entah pergi kemana. Di puskesmas tidak ada, di rumahnya juga tidak ada. Kata perawat yang bertugas di puskesmas, Dokter Hans lagi patah hati. Jadi Dokter Hans pergi menenangkan diri."

"Astaga!" Lyodra jadi ikut panik gara-gara Anteng tidak berhasil membawa Dokter Hans ke rumah Edward.

"Kamu bawa motor ke sini, Teng?"

Anteng mengangguk lalu menunjuk ke arah pagar rumah Lyodra.

"Saya parkir di situ, Kak. Kakak mau saya antar ke rumah kak Edward?"

Lyodra mengangguk. Lyodra sudah tidak memikirkan lagi, Edward sudah punya calon tunangan di kota, Lyodra tidak peduli.

Dia kasihan mendengar Edward sendirian di rumahnya saat sedang sakit.

Malam ini, Lyodra ingin merawat Edward yang sedang demam tinggi.

Menolong orang harus tuntas kan? Jangan setengah-setengah.

"Aku ambil mantel dulu ya, Teng. Udara malam ini dingin banget."

Lyodra segera masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil mantel milik almarhumah ibunya. Berwarna biru muda dengan hiasan bunga aster warna biru tua.

Setelah mengunci pintu rumah, Anteng dan Lyodra segera naik motor menuju ke rumah Edward.

Rumah megah dengan pekarangan yang sangat luas dan kolam renang air hangat. Dari design dan struktur bangunannya terlihat jelas perbedaan kelasnya. Rumah tuan tanah, rumah orang terkaya di desa, tentu megah dan sangat mewah.

Jalan menuju ke rumah Edward berkelok-kelok, melewati deretan pohon cemara yang berjajar rapi.

Angin dingin meniupkan aroma bau tanah yang khas setelah sore tadi kembali diguyur hujan.

Untung Anteng sudah terlatih bawa motor sehingga Lyodra sampai di depan rumah Edward dengan selamat.

Lyodra segera turun dari motor begitu Anteng menghentikan laju motornya. Tapi mesin motor masih terus menyala.

"Kamu gak ikut masuk ke dalam, Teng?" tanya Lyodra.

Anteng menggelengkan kepalanya.

"Udah malam, Kak. Nanti Anteng dicari Simbok. Udah Kak Lyodra saja yang merawat Kak Edward. Nanti kalau Dokter Hans sudah balik ke puskesmas, perawat akan meminta Dokter Hans nyusul kemari."

"Baiklah. Oh ya, saat kamu balikin motor ke rumah Pak Wicak, jangan lupa beritahu Pak Wicak kalau aku ada di rumah Kak Edward ya. Jangan lupa. Nanti aku dikira berbuat mesum lagi karena berduaan sama Kak Edward. Dan satu lagi. Besok tolong bantu aku memanen tanaman herbal ya. Simpan dulu hasil panennya di rumahmu. Setelah aku kembali dari kota besar, aku akan mengambilnya."

Anteng menganggukkan kepala. Lalu segera memutar balik motornya, pergi ke rumah Pak Wicak lalu bergegas pulang ke rumah.

Karena terburu-buru, Anteng lupa menginfo Pak Wicak kalau Lyodra pergi ke runah Edward untuk merawat Edward yang sedang demam.

Lyodra memencet bel rumah megah. Namun, Pak Jaga, penjaga rumah megah ini tak kunjung datang untuk membuka pagar.

Hampir sepuluh menit Lyodra berdiri kedinginan di depan rumah megah itu, hingga akhirnya Lyodra memeriksa gembok yang tertancap di pagar.

"Ya ampun, gemboknya rusak. Pak Jaga kemana ya?" Lyodra sedikit heran, kenapa pagar rumah megah ini tidak terkunci, padahal Pak Jaga orangnya teliti dan sangat dipercaya menjaga keamanan rumah megah ini.

"Ah, mungkin Pak Jaga sedang sibuk merawat Kak Edward," ucap Lyodra bergegas membuka pintu pagar dan masuk ke dalam.

Sejak kecil, Lyodra bebas berkeliaran keluar masuk rumah megah ini. Karena Pak Jaga tahu kalau Lyodra adalah putri pemilik rumah megah ini. Jadi Lyodra berhak untuk bertandang ke rumah almarhum ayahnya.

Dengan langkah cepat, Lyodra segera masuk ke dalam rumah megah. Mencari Edward di kamar utama yang ada di lantai dua. Kamar yang biasa dipakai ayahnya saat masih hidup.

Setelah melewati belasan anak tangga, Lyodra segera menyusuri koridor. Dan ketika ia hendak mengetuk pintu kamar utama, terdengar suara pintu lain terbuka dari arah belakangnya.

"Lily?"

Lyodra menoleh ke belakang. Ia melihat Edward baru saja keluar dari kamar mandi.

Rambutnya masih basah. Titik-titik air sesekali menetes dari helaian rambutnya. Edward memakai kimono tebal warna putih.

"Kak Edward? Kakak habis mandi keramas ya? Jahitannya jangan sampai kena air lho, Kak. Nanti infeksi." Lyodra kelihatan khawatir.

Edward berjalan mendekati Lyodra. Sangat sangat dekat.

Menunjuk hidung mancung Lyodra dengan jari telunjuknya, menyejajarkan posisi mata mereka. Hingga Lyodra bisa melihat jelas warna pupil mata Edward. Coklat muda. Seperti warna pupil matanya.

Wajah Lyodra kembali merona berada sedekat itu dengan Edward.

"Aku sudah mengganti perbannya dengan plester anti air, Lily. Jadi aku bisa mandi tanpa harus khawatir jahitannya basah."

"Syu-syukurlah kalau begitu." Lyodra sedikit terbata-bata.

Edward tersenyum manis melihat Lyodra salah tingkah. Sekarang ia jadi suka menggoda Lyodra, membuat pipi bunga desa merona merah ternyata cukup menggemaskan.

"A-a-aku ke sini karena ...."

Lyodra langsung mengangkat tangannya dan meletakkannya di pelipis Edward. Ingin mengukur suhu badan Edward.

Kali ini Edward yang kaget setengah mati. Kontak fisik yang dilancarkan Lyodra membuat jantung Edward berdebar kencang.

Sial! Niatnya ingin godain Lyodra, malah sekarang dia yang tergoda.

"Mandi air hangat memang baik untuk menurunkan demam yang tinggi," ucap Lyodra lega Edward sudah tidak demam lagi.

Edward buru-buru mundur sebelum ia hilang akal dan menerkam bibir merah muda Lyodra. Bibir itu terlihat begitu ranum dan manis jika dilihat sedekat itu.

Edward dengan langkah lebar segera berjalan masuk ke kamar tidurnya. Menentramkan degup jantungnya dengan mengalihkan pembicaraan.

"Anteng yang mengantarmu kemari?"

"Iya. Dokter Hans pergi, jadi Anteng mencariku untuk menjenguk Kak Edward."

Lyodra menarik nafas lega Edward tidak lagi berada di dekatnya. Ternyata berada dekat dengan Edward, membuat jantungnya berdetak lebih cepat dan nafasnya jadi sesak hingga ucapannya terbata-bata.

Edward membuka lemari pakaian lalu mengambil kaos lengan panjang yang agak tebal karena malam ini hawanya cukup dingin.

Kruk! Kruk! Kruk!

Tiba-tiba perut Lyodra berbunyi ingin minta diisi.

Edward tersenyum mendengarnya. Sementara Lyodra langsung menunduk malu.

"Lily belum makan malam?"

Lyodra menganggukkan kepala sambil memegangi perutnya yang keroncongan.

"Sebelum pergi, Anteng sempat membuat sup ayam jahe. Aku tadi sudah makan tapi karena masih sisa banyak jadi aku masukkan ke kulkas. Kalau Lily lapar, ayo ke dapur. Aku akan memanaskan supnya."

Lyodra mengangguk setuju.

Edward memandangi Lyodra. Menggerakkan alis matanya ke atas berulang kali. Lalu menggerakkan dagunya ke samping kanan tiga kali sampai Lyodra bingung dengan maksud Edward.

Kode apaan itu? Lyodra bingung.

"Ya Tuhan."

Beberapa saat kemudian Lyodra baru sadar. Itu adalah kode supaya Lyodra keluar kamar karena Edward mau melepas kimononya dan berganti pakaian.

Ish! Lyodra jadi malu deh.

"Maaf, Kak. Saya permisi dulu." Lyodra berjalan keluar kamar dengan rona wajah merah sekali lagi.

Edward tersenyum senang menang. 2 - 1 ya.

Tak berapa lama, Edward keluar kamar. Lyodra pun segera mengikuti Edward turun ke dapur yang luas dan sangat elegan.

Edward dengan cekatan memanaskan sup dan menyiapkan peralatan makan untuk Lyodra di meja. Lyodra diperlakukan bak putri raja, dijamu dengan makanan hangat yang lezat.

"Kak Edward sendirian di rumah? Pak Jaga kemana?"

"Pak Jaga? Siapa itu?" tanya Edward merasa tidak mengenal orang bernama Pak Jaga.

Edward memang tidak pernah menginjakkan kaki di desa ini. Sejak bayi hingga dewasa, dia tinggal di luar negeri bersama ayahnya. Hanya sesekali berkunjung ke kota besar untuk liburan.

"Pak Jaga bersama keluarganya tinggal di sini, Kak. Mereka bekerja menjaga keamanan dan bersih-bersih rumah ini," jawab Lyodra.

Edward mengangkat bahunya.

"Saat aku datang bersama Anteng, pagar dan pintu rumah ini sudah terbuka. Barang-barang di dalam rumah berantakan dan lantainya kotor. Seperti sudah lama tidak dibersihkan. Jadi, aku dan Anteng membereskan barang-barang dan bersih-bersih."

"Kemana ya Pak Jaga? Kok pergi gak bilang-bilang." Lyodra terheran-heran.

Edward mengangkat bahunya tanda tak tahu jawabannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!