Selama lebih dari tiga dekade, persahabatan antara Keluarga Lenoir dan Hadinata telah menjadi tonggak dalam kehidupan kedua keluarga. Dari berbagi suka duka hingga merencanakan masa depan bersama, ikatan mereka semakin mengakar dalam setiap aspek kehidupan. Untuk memperkokoh hubungan yang sudah terjalin erat itu, kedua kepala keluarga memutuskan untuk mengikatkan anak-anak mereka melalui perjodohan—suatu langkah yang dianggap akan menyatukan kedua keluarga menjadi satu kesatuan yang lebih kuat.
Aslan Noah Lenoir 28 tahun Pewaris Lenoir Group Dari Paris dan Alana Hadinata 20 tahun berdarah Campuran dari sang ibu ( Helena dubois ) terpaksa harus menjalani rencana perjodohan yang tidak mereka inginkan, gaya hidup mereka yang berbeda sering kali membuat Alana merasa terjebak dalam permainan Aslan yang vulgar dan penuh tantangan.
____
Bisakah dua hati yang terpaksa bertemu menemukan kedekatan yang tulus?
Ataukah perjodohan ini hanya akan menjadi beban dan merusak persahabatan keluarga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna ceriya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20.
Minggu berlalu dengan cepat, seolah waktu sengaja berlari untuk membawa mereka menuju hari pertemuan yang telah direncanakan. Hari itu, langit di atas Jenewa tampak lebih cerah dari biasanya, namun di dalam hati Alana, ada campuran antara antusiasme dan kegugupan yang membuat tangannya terus merapikan pakaiannya berulang kali. Mereka telah sepakat untuk bertemu dengan Marcel di sebuah restoran eksklusif yang terletak di pinggir danau, tempat di mana pemandangan air yang tenang diharapkan bisa menenangkan saraf Alana.
Ketika pintu restoran terbuka dan seorang pria paruh baya dengan penampilan yang berwibawa namun wajahnya sangat mirip dengan Aslan masuk, Alana tahu itu adalah Marcel. Pria itu memiliki mata biru yang sama tajamnya, namun garis-garis usia di wajahnya memberikan kesan kebijaksanaan dan kekuasaan yang telah teruji waktu.
Segera setelah melihat putranya, langkah Marcel memburu, dan alih-alih sekadar bersalaman, ia langsung menarik tubuh Aslan ke dalam pelukan erat—sebuah pelukan yang terasa penuh makna, seolah ada beban berat yang baru saja diangkat dari pundaknya.
"Aslan..." suara Marcel terdengar berat, bercampur dengan rasa lega yang mendalam. Ketika mereka melepaskan pelukan, mata Marcel menatap putranya dengan tajam namun penuh kasih sayang. "Samuel baru saja menghubungku. Dia menceritakan segalanya—keputusan Alana, syarat yang diajukan, dan bagaimana kamu akhirnya berhasil memenangkan hatinya dengan cara yang benar."
Marcel menghela napas panjang, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Alana yang berdiri dengan sopan di samping Aslan. Ia melangkah maju, lalu menangkup kedua tangan gadis itu dengan lembut. "Terima kasih, Nak. Terima kasih karena sudah bersedia memberikan kesempatan kepada anakku. Aku tahu dia bukanlah orang yang mudah dimengerti di awal, tapi aku tahu, di balik sikapnya yang keras, ada hati yang sangat tulus. Dan kau... kaulah yang berhasil menyentuh bagian itu."
Wajah Alana memerah, namun ia berani menatap mata Marcel. "Terima kasih, Tuan. Aku hanya berharap kami bisa membangun sesuatu yang baik."
Marcel tertawa kecil, lalu menggeleng. "Panggil saja aku Paman, atau Ayah nanti jika kau sudah siap. Tapi sekarang, mari kita bicara soal rencana ini." Mereka kemudian duduk di meja yang telah disediakan. Marcel menatap keduanya bergantian, lalu berkata dengan nada yang tegas namun lembut, "Samuel sudah menyampaikan semuanya, dan aku setuju seratus persen. Bagiku, pernikahan ini bukan lagi soal kesepakatan bisnis atau penyatuan kekuasaan seperti yang kami pikirkan bertahun-tahun lalu. Sekarang, ini soal kebahagiaan kalian berdua."
Ia menatap Aslan lekat-lekat. "Dulu, aku mungkin akan menentukan tanggal, tempat, dan segala detailnya. Tapi tidak sekarang. Aku melihat bagaimana kamu berubah, Aslan. Aku melihat bagaimana kamu belajar menghormati batasan dan menahan diri. Itu adalah kedewasaan yang selama ini aku tunggu-tunggu. Maka dari itu, aku menyerahkan segalanya kepadamu dan Alana. Kapan kalian mau menikah, bagaimana acaranya, di mana kalian akan tinggal—semuanya adalah keputusan kalian. Aku dan Samuel hanya akan mendukung apa pun yang kalian pilih."
Kata-kata itu membuat suasana di meja makan menjadi hening sejenak. Aslan menatap ayahnya, dan untuk pertama kalinya, ia melihat ayahnya bukan lagi sebagai sosok otoritas yang harus dipatuhi, melainkan sebagai seorang ayah yang benar-benar menginginkan yang terbaik untuknya. Rasa haru menyelinap di dada Aslan, dan ia hanya bisa mengangguk pelan, suaranya sedikit serak saat menjawab, "Terima kasih, Ayah. Kami tidak akan mengecewakanmu."
Pertemuan itu berakhir dengan suasana hangat dan penuh harapan. Namun, ketika matahari mulai terbenam dan langit berubah menjadi warna ungu keemasan, saatnya tiba bagi Aslan untuk mengantarkan Alana kembali. Alana sedang menjalani masa magang di salah satu rumah sakit ternama di Jenewa, dan tempat tinggalnya berada di asrama mahasiswi yang memiliki aturan ketat serta jam malam yang tidak bisa dilanggar.
Mereka berjalan menuju mobil hitam mewah milik Aslan. Pria itu dengan sigap membukakan pintu untuk Alana, memastikan gadis itu sudah duduk dengan nyaman sebelum menutup pintu dengan lembut. Saat ia berjalan memutar ke sisi pengemudi, langkahnya terasa berat. Setiap meter yang ia tempuh membawa mereka semakin dekat pada perpisahan, meskipun hanya sementara.
Di dalam mobil, suasana terasa hangat namun dipenuhi dengan rasa enggan berpisah. Aslan menyetir dengan tangan yang kokoh, namun sesekali matanya akan melirik ke arah Alana yang sedang menatap keluar jendela. Tangannya yang bebas sesekali akan mencari tangan Alana, menggenggamnya erat, mengusap punggung tangannya dengan ibu jari—seolah ingin mentransfer rasa aman dan kasih sayang lewat sentuhan itu. Ia membimbing perjalanan ini bukan hanya dengan kemampuan menyetirnya, tapi dengan sikapnya yang tenang dan penuh perhatian, memastikan Alana tidak merasa terburu-buru atau tertekan.
"Jangan lupa makan yang teratur, ya," ucap Aslan pelan, memecah keheningan. Suaranya lembut, seperti bisikan angin sore. "Aku tahu tugasmu di rumah sakit sangat berat, tapi tubuhmu juga harus dijaga. Jika ada apa-apa, atau jika kau lelah dan butuh diantar, telepon aku. Kapan saja, di mana saja. Aku akan datang."
Alana menoleh, tersenyum manis. "Iya, aku tahu. Kau juga jangan terlalu sibuk bekerja sampai lupa istirahat."
Momen manis itu tiba-tiba terganggu ketika suara dering ponsel yang keras memecah suasana tenang di dalam kabin mobil. Ponsel Aslan yang terletak di konsol tengah bergetar hebat, dan nama yang muncul di layar membuat rahang Aslan seketika mengeras.
Argon.
Tanpa membuang waktu, refleks Aslan bekerja cepat. Ia tidak mengambil ponsel itu, melainkan dengan gerakan yang seolah-olah hanya ingin menata barang, ia dengan cepat membalikkan ponselnya agar layarnya menghadap ke bawah, sekaligus menekan tombol bisu secepat kilat. Namun, karena sebelumnya volume suara cukup keras, beberapa potongan suara sudah sempat terdengar keluar sebelum panggilan itu terhenti atau teralihkan.
Suara riuh yang sangat jelas terdengar—suara musik keras yang berdentum, tawa orang-orang yang mabuk kesenangan, dan teriakan-teriakan yang tak jelas. Itu adalah suara klub malam, tempat yang sangat asing bagi citra diri Aslan yang kini ia bangun di depan Alana. Dan di tengah keributan itu, suara sahabatnya, Argon, terdengar sangat jelas, berteriak melewati suara musik:
"Aslan! Dasar kau menghilang kemana saja! Dengar ini, ada orang yang mau menebar kabar tentang gadis pirang itu, kau tahu yang mana! Yang bikin ayahmu hampir meledak kepalanya beberapa waktu lalu! Dia mau jual ceritanya ke media! Kau harus dengar ini, bagaimana rencanamu menanganinya?!"
Suara itu terpotong ketika Aslan akhirnya berhasil mematikan suara sepenuhnya, namun kerusakan sudah terjadi. Suara riuh itu, serta potongan kalimat yang terdengar acak namun penuh makna, sudah cukup untuk membuat suasana di dalam mobil berubah drastis.
Alana menoleh, alisnya terangkat dengan rasa ingin tahu yang bercampur dengan sedikit keraguan. Ia menatap ponsel yang kini terbalik di konsol, lalu menatap profil wajah Aslan yang tampak tegang, garis rahangnya mengeras dan pembuluh darah di lehernya sedikit menonjol karena ia menahan napas atau emosi.
"Aslan..." suara Alana pelan, namun penuh pertanyaan. "Itu siapa? Mengapa kau tidak menjawabnya? Suaranya... terdengar seperti dari tempat yang sangat ramai. Dan apa yang dia bicarakan soal gadis pirang dan ayahmu?"
Jantung Aslan berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena rasa sakit yang tajam menusuk dadanya. Ia tahu betul kejadian apa yang dimaksud Argon. Dulu, sebelum ia benar-benar menyadari apa yang ia inginkan dalam hidup, sebelum ia bertemu Alana, ia pernah terjebak dalam kehidupan yang penuh dengan kesalahan. Gadis pirang itu hanyalah salah satu dari bayang-bayang masa lalu yang kelam, sebuah hubungan yang tidak jelas, penuh pesta dan kesembronoan yang bahkan tidak ia inginkan, namun cukup membuat ayahnya marah besar dan hampir memutuskan hubungan dengannya saat itu. Itu adalah bagian dari dirinya yang sudah ia kubur dalam-dalam, bagian yang ia benci, dan bagian yang paling ia takutkan akan membuat Alana meragukan ketulusannya.
Rasa sakit itu meledak di dadanya, seolah ada tangan yang meremas jantungnya dengan kuat. Ia merasa malu, sangat malu. Ia baru saja dipuji oleh ayahnya karena telah berubah, baru saja berjanji pada Alana untuk membangun masa depan yang bersih, dan sekarang masa lalu itu seolah ingin menariknya kembali ke dalam lumpur.
Namun, sebagai sosok yang telah belajar menjadi dewasa, Aslan tahu ia tidak boleh panik. Ia tidak boleh menunjukkan kemarahannya pada Argon, dan ia tidak boleh berbohong secara terang-terangan. Ia menarik napas panjang, perlahan, berusaha menenangkan detak jantungnya dan meredakan ketegangan di wajahnya sebelum ia menoleh ke arah Alana. Matanya yang biru kini menatap mata coklat gadis itu dengan ketulusan yang ia kumpulkan dari seluruh kekuatannya.
"Itu Argon, sahabatku sejak lama di Paris," jawab Aslan, suaranya berusaha tetap tenang dan rendah, meskipun ada sedikit serak yang menandakan emosi yang tertahan. "Dia memang orang yang suka berada di tempat-tempat ramai, dan sepertinya saat ini dia sedang berada di klub malam. Aku tidak menjawab karena aku sedang bersamamu, Alana. Tidak ada hal lain di dunia ini yang lebih penting bagiku saat ini selain waktu yang aku miliki bersamamu. Pesta dan keramaian itu sudah bukan lagi duniaku."
Ia berhenti sejenak, tangan yang menggenggam tangan Alana justru mengerat lebih lembut namun erat, seolah memohon agar Alana percaya.
"Mengenai apa yang dia katakan..." Aslan melanjutkan, memilih kata-katanya dengan sangat hati-hati. Ia tidak ingin menyembunyikan segalanya, tapi ia juga tidak ingin melukai Alana dengan detail masa lalu yang kelam. "Itu adalah masalah dari masa laluku. Sebelum aku benar-benar menyadari apa yang aku inginkan, sebelum aku bertemu denganmu, aku pernah melakukan banyak kesalahan. Ada seorang wanita, ya... sebuah hubungan yang tidak jelas dan tidak bermakna yang pernah membuat ayahku sangat marah dan kecewa padaku. Itu adalah masa di mana aku hidup tanpa arah, hanya mengikuti arus dan kesenangan sesaat."
Aslan menatap lurus ke jalan raya di depannya, namun pikirannya sepenuhnya tertuju pada gadis di sampingnya. Rasa sakit di dadanya semakin menjadi-jadi, bukan karena ancaman masalah itu, melainkan karena rasa bersalah. "Argon berpikir aku masih orang yang sama, orang yang suka mengurusi masalah-masalah yang tidak penting itu. Tapi dia salah. Dia tidak tahu bahwa hidupku sudah berubah sejak aku mengenalmu."
Mobil perlahan melambat, mereka sudah sampai di depan gerbang asrama mahasiswi yang terawat rapi. Aslan memarkirkan kendaraannya dengan sempurna, lalu mematikan mesin. Keheningan kembali menyelimuti mereka, namun kali ini keheningan yang penuh makna.
Aslan menoleh tubuhnya menghadap Alana sepenuhnya. Wajahnya tampak sangat serius, matanya berkilau dengan emosi yang mendalam—campuran antara rasa malu, tekad yang kuat, dan cinta yang tak terhingga.
"Dengar aku, Alana," ucapnya, suaranya lembut namun tegas seperti batu karang. "Apa yang baru saja terdengar itu... itu adalah bukti terakhir dari dunia yang harus aku tinggalkan. Mendengar suara itu, mendengar bahwa masalah itu masih ada, malah membuatku semakin sadar betapa aku tidak ingin kembali ke sana. Dunia malam itu, pesta-pesta itu, hubungan yang tidak jelas itu... semuanya sudah berakhir bagiku. Aku berjanji padamu, dan aku berjanji pada diriku sendiri. Mulai saat ini, tidak ada lagi masa lalu yang akan mengganggu kita. Aku sudah menutup pintu itu rapat-rapat, dan aku akan mengunci kuncinya dan membuangnya jauh-jauh."
Ia mengangkat tangan Alana dan menempelkan telapak tangan gadis itu ke dadanya, tepat di tempat di mana jantungnya berdetak. "Rasakan ini? Jantung ini hanya berdetak untukmu sekarang. Segala sesuatu yang lain hanyalah bayang-bayang yang akan hilang seiring berjalannya waktu. Aku akan menangani masalah yang dibawa Argon itu, tapi aku akan menanganinya sebagai orang baru—sebagai pria yang akan menjadi pasanganmu, bukan sebagai pemuda ceroboh yang dulu."
Alana menatapnya lama, meneliti setiap inci wajah pria itu. Ia bisa melihat ketulusan di sana, dan juga rasa sakit yang nyata. Ia menyadari bahwa apa yang dikatakan Aslan adalah kebenaran—bahwa perubahan itu nyata, dan terkadang masa lalu memang tidak mau pergi begitu saja, tapi yang terpenting adalah bagaimana seseorang menghadapinya.
Alana tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan dengan gerakan kecilnya. Ia maju sedikit, lalu memeluk leher Aslan dengan lembut. "Aku percaya padamu, Aslan," bisiknya di telinga pria itu. "Dan aku tahu kau akan menyelesaikannya dengan cara yang benar."
Aslan memejamkan mata, membenamkan wajahnya di ceruk leher Alana, menghirup aroma gadis itu yang segar dan bersih—aroma yang kini menjadi definisi masa depannya. Rasa sakit di dadanya perlahan berkurang, digantikan oleh rasa syukur dan tekad yang membara. Ia membalas pelukan itu, namun tetap menjaga jarak dan batasan yang pantas, menunjukkan betapa ia menghormati gadis itu bahkan di saat emosinya meledak.
Ketika mereka akhirnya melepaskan pelukan, Aslan membukakan pintu untuk Alana. Ia mengantarnya sampai ke gerbang keamanan asrama, berdiri di sana menatap punggung gadis itu sampai menghilang di balik pintu besar bangunan itu. Hanya ketika sosok Alana benar-benar tak terlihat lagi, Aslan menarik napas panjang, lalu berbalik menuju mobilnya. Wajahnya yang tadi lembut kini berubah menjadi dingin dan tegas. Ia mengambil ponselnya, kali ini dengan niat yang kuat.
Ia akan menyelesaikan masalah ini. Untuk selamanya. Demi Alana, dan demi masa depan yang sedang ia bangun.