Di dunia di mana gerbang dimensi terbuka dan monster mulai menginvasi bumi, garis antara pahlawan dan penjahat menjadi kabur. seorang pria yang terjebak dalam takdir sebagai antagonis, raja naga kehancuran terbangun di tubuh manusia bumi bernama voltra.
Sang Raja Naga Kehancuran, entitas yang ditakdirkan menjadi villain sejati, kini terjebak dalam raga manusia yang lemah. Alih-alih menghancurkan dunia, ia justru terikat oleh tanggung jawab yang tak pernah ia bayangkan: seorang adik perempuan dan kewajiban menjadi seorang Hunter.
Terjebak dalam dilema antara identitas aslinya sebagai penghancur dan peran barunya sebagai kakak sekaligus pembasmi monster. Memilih antara harapan atau kehancuran?.
-LATAR CERITA DI INDONESIA
-KARAKTER PENTING ADA ILUSTRASI
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Natelashura7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 29 perebutan gate
Pertengkaran di depan mulut Gate Rank B itu sudah berlangsung selama tiga puluh menit. Puluhan Hunter dari guild ISG dan guild milik Raven berdiri saling berhadapan, sementara bos mereka masih asyik beradu urat leher.
"Alina, dengar! Logistik timku sudah sampai duluan. Secara aturan asosiasi, kami punya hak klaim pertama!" seru Raven sambil menunjuk-nunjuk tenda medisnya.
"Hak klaim apa?! Tim sensor ISG yang pertama kali melaporkan fluktuasi mana di koordinat ini. Kau hanya datang merampok!" balas Alina tidak mau kalah. "Lagipula, Hunter-mu tidak akan kuat menahan racun monster di dalam sana!" Lanjutnya tidak terima.
Saat keduanya sedang sibuk berdebat soal prosedur dan pembagian hasil jarahan, mereka tidak menyadari sosok pria dengan jaket hoodie hitam berjalan santai melewati garis pembatas. Voltra masuk ke dalam pusaran portal biru itu seolah-olah hanya sedang masuk ke minimarket.
Lima menit kemudian. Pusaran portal yang tadinya berwarna biru pekat tiba-tiba meredup dan berubah menjadi abu-abu—tanda bahwa Boss Room telah dihancurkan dan Gate akan segera tertutup. Alina dan Raven berhenti berteriak. Keduanya menoleh ke arah portal dengan mulut ternganga.
"Tunggu... siapa yang masuk?!" pekik Raven panik.
Langkah kaki terdengar dari dalam kegelapan portal. Voltra keluar sambil membersihkan debu di bahunya. Di tangan kanannya, ia menyeret kantong kain berisi kristal mana murni berukuran besar, dan di tangan kirinya ia memegang sebuah kapak kuno—drop item langka dari dungeon tersebut.
"Kalian berisik sekali" ucap Voltra datar, melangkah melewati Alina dan Raven yang mematung. "Dungeon-nya sudah bersih. Isinya cuma kadal raksasa yang lambat. Tidak layak diperebutkan" Lanjutnya bergumam.
"LIMA MENIT?!" teriak Alina histeris. "Voltra! Itu Gate Rank B dengan radius tiga kilometer! Bagaimana bisa kau membersihkannya sendirian dalam lima menit?!" Lanjutnya heran.
"Karena aku semakin kuat, tapi bukan gaya ku untuk memberitahu secara langsung" Batin voltra melihat status miliknya.
[strength: 130/200, Speed: 120/200, endurance 130/200, mana 200/200].
"Aku bosan menunggu kalian berdebat soal uang. Vanya menungguku pulang untuk makan siang, dan aku tidak ingin membuang waktu melihat kalian berdua bertingkah seperti anak kecil memperebutkan permen" ujar voltra memandang kristal mana ditangannya.
Ia melemparkan kantong kristal mana itu ke arah Alina. Dia tidak tertarik pada kristal rendahan, namun voltra tidak akan menolak untuk uang, lagipula didunia manusia uang adalah segalanya. Tanpa uang kau akan menderita.
"Itu untuk ISG. Dan kapak ini..." ujar voltra menatap Raven sejenak, lalu melemparkan kapak kuno itu ke kaki Raven. "...anggap saja biaya hiburan karena aku sudah menonton debat bodohmu" Lanjutnya menganggap benda itu sampah.
"Kau... kau baru saja merusak seluruh birokrasi perburuan Hunter hari ini, kawan" balas Raven.
"Birokrasi hanya untuk mereka yang tidak punya kekuatan" sahut Voltra sambil terus berjalan menuju motornya. "Cepat bereskan sisanya. Aku mau pulang melihat Kuro" Lanjutnya bergumam.
"Siapa kuro?" Tanya Raven baru pertama kali dengar.
"Bukan siapa-siapa" Jawab Alina cepat. "Kau bukan bagian dari ISG, tidak ada hak untuk tau" Lanjutnya ketus.
"Jahat sekali" Lirih Raven cemberut.
Voltra memasang helmnya, ia sudah naik ke atas sepeda motor miliknya. untuk urusan lainnya ia akan menyerahkan pada mereka yang bertugas, toh tugas voltra hanya semata-mata mengalahkan monster dan mengembangkan kristal mana.
"Naiklah" Suruh voltra pada Alina.
"Siapa bilang aku mau pergi dengan mu" Balas Alina bersedekap dada. "Iya-iya aku naik, kau tidak perlu mengeluarkan aura intimidasi seperti itu" Lanjutnya merasakan aura voltra menekannya.
"Mereka seperti pasangan saja" Batin Raven.
Saat Alina sudah naik ke jok belakang, voltra langsung tancap gas membuat debu berterbangan dan Raven batuk karena itu. Percayalah tanpa status rank S milik voltra, pria itu dipastikan sudah menjadi langganan tilang karena selalu melewati batas kecepatan berkendara.
"Pelan-pelan" Teriak Alina.
"Ya... Kita pergi ke supermarket dulu" Balas voltra.
Motor ditunggangi keduanya berhenti di supermarket, Alina ingin menunggu saja nmunaq volume menariknya karena tidak ingin Alina terlihat seperti gadis hilang didalam poster pencarian. Keduanya memilih bahan makanan, kebanyakan daging karena ada mulut kecil (naga kecil) untuk diberikan makan.
"Memangnya naga bisa makan sayuran?" Tanya Alina melihat voltra mengambil sayuran.
"Mungkin iya dan mungkin tidak" Jawab voltra.
"Jawab yang benar dong" Balas Alina kesal.
"Annooo... " Ucap seseorang yang membuat keduanya menoleh.
"Apa?" Tanya voltra dingin.
"Bisa kami minta tanda tangan?" Tanya remaja itu.
Voltra dan Alina melihat banyak orang-orang yang ingin mendapatkan tanda tangan keduanya. Voltra menatap gerombolan remaja itu dengan tatapan yang seolah-olah ingin membekukan mereka di tempat.
"Tanda tangan? Memangnya aku artis?" gumamnya ketus.
"T-tapi Anda Hunter Rank S ketujuh! Video Anda saat di Jepang sangat viral!" sahut salah satu remaja dengan tangan gemetar menyodorkan buku catatan.
Alina, yang sudah terbiasa dengan sorotan media, segera memasang senyum profesionalnya. Ia menyenggol lengan Voltra dengan keras menggunakan sikunya.
"Jadilah sedikit lebih ramah, 'Raja'. Ini bagian dari pekerjaan kita" bisik alina tajam.
"Malas" Gumam voltra kecil.
"Tentu, kami akan memberikan tanda tangan," ucap Alina sambil mengambil pena dari tangan remaja tersebut.
Dengan terpaksa, Voltra akhirnya ikut menandatangani beberapa buku dan kaos yang disodorkan. Namun, bukannya memberikan tanda tangan yang rapi, ia hanya menggoreskan simbol naga kuno yang tampak seperti coretan abstrak yang memiliki sedikit mana.
"Wah! Keren sekali!" seru para remaja itu melihat 'tanda tangan' Voltra yang terasa hangat saat disentuh.
Setelah berhasil meloloskan diri dari kerumunan, keduanya segera menuju kasir. Voltra tampak sangat tidak nyaman, jika diberikan pilihan untuk memberikan tanda tangan atau membekukan mereka, voltra sudah pasti akan memilih pilihan kedua.
"Lain kali aku akan belanja pakai masker full-face. Manusia-manusia itu lebih merepotkan daripada Goblins di dalam Gate" Gumam voltra setelah kerumunan fans mulai pergi.
"Itu konsekuensi jadi orang kuat, Voltra" balas Alina sambil menenteng dua kantong besar berisi daging. "Omong-omong, kau yakin beli daging sebanyak ini? Kuro itu kecil, perutnya bisa meledak kalau makan sebanyak ini" Lanjutnya merasa membeli begitu banyak.
"Dia naga, Alina. Pertumbuhannya eksponensial. Hari ini dia sebesar kucing, besok siapa yang tahu?" jawab Voltra sambil menyalakan mesin motornya.
di apartemen, Saat Voltra membuka pintu apartemen, suasana di dalam terasa sangat sunyi—terlalu sunyi. Vanya biasanya akan langsung menyapa, tapi kali ini tidak ada suara.
"Vanya?" panggil Voltra, sensor Mananya langsung aktif menyapu seluruh ruangan.
Ia menemukan Vanya duduk di lantai ruang tamu dengan wajah pucat, menunjuk ke arah sudut ruangan. Di sana, di atas tumpukan baju bersih yang baru disetrika, Kuro sedang meringkuk. Namun, ada yang berbeda.
Warna merah di sisik Kuro kini lebih gelap, hampir seperti warna lava cair, dan ukurannya... ia sudah sebesar anjing Golden Retriever. Di mulutnya, ia menggigit sisa-sisa kristal Mana.
"Kak... tadi Kuro tiba-tiba bersinar terang, lalu ukurannya berubah jadi begini," bisik Vanya gemetar. "Dan... dia baru saja membakar gorden kita karena bersin."
Kuro mendongak, melihat Voltra dan Alina masuk. Bukannya mengeluarkan suara "Preee" seperti biasanya, ia mengeluarkan geraman rendah yang menggetarkan kaca jendela.
"Mama!" seru Kuro, suaranya kini lebih berat. Ia melompat, atau lebih tepatnya menerjang, ke arah Alina.
"K-Kuro! Tunggu! Berat!" teriak Alina yang langsung terjatuh karena ditindih oleh naga yang kini beratnya mencapai 25 kilogram itu
"Sudah kubilang kan? Dia tidak akan kecil selamanya. Sepertinya kristal Mana Rank B itu menjadi katalis pertumbuhannya" ucap voltra.
"VOLTRA! JANGAN HANYA DIAM! TOLONG AKU!" teriak Alina dari bawah perut Kuro yang hangat dan bersisik tajam.
"Kau kan induknya" Balas voltra santai.