"Turun dari langit bukan untuk jadi Dewi, tapi untuk jadi istrimu!"
Demi kabur dari perjodohan Dewa Matahari, Alurra—bidadari cantik yang sedikit "gesrek"—nekat terjun ke bumi. Bukannya mendarat di istana, ia malah menemukan Nael Gianluca Ryker, pewaris tunggal yang sekarat dan kehilangan suaranya akibat trauma masa lalu.
Bagi Alurra, Nael adalah mangsa sempurna. Tampan, kaya, dan yang paling penting: tidak bisa protes saat dipaksa jadi pangerannya!
Nael yang dingin dan bisu mendadak pusing tujuh keliling. Bagaimana bisa bidadari penyelamatnya justru lebih agresif dari pembunuh bayaran? Ditolak malah makin menempel, diusir malah makin cinta.
Dapatkah sihir bidadari bar-bar ini menyembuhkan luka bisu di hati Nael? Atau justru Nael yang akan menyerah pada "teror" cinta dari langit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: GEMA SUARA YANG TERBUNGKAM LAGI
Gedung pencakar langit Ryker Group tampak berkilau di bawah terik matahari Jakarta, namun atmosfer di dalam ruang rapat dewan direksi terasa sedingin es. Semua kursi telah terisi. Jayden duduk di ujung meja dengan gelisah, berkali-kali melonggarkan dasinya yang terasa mencekik.
"Mana dia? Apa si bisu itu terlalu takut untuk menunjukkan wajahnya setelah kekacauan laser kemarin?" ejek Jayden pada Bram, asistennya, dengan suara yang sengaja dikeraskan agar didengar direksi lain.
Pintu ganda ruang rapat tiba-tiba terbuka dengan dentuman pelan namun tegas. Nael melangkah masuk. Ia tidak lagi menunduk atau sibuk dengan ponselnya. Di belakangnya, Alurra mengekor dengan setelan blazer formal yang tetap tidak bisa menyembunyikan tatapan nakalnya yang mengawasi setiap sudut ruangan.
Nael berhenti di kepala meja. Ia menatap Jayden tepat di mata—sebuah tatapan yang membuat Jayden tersedak ludahnya sendiri.
"Selamat pagi, Tuan-Tuan," suara itu pecah. Berat, tenang, dan sangat berwibawa.
Keheningan yang mematikan jatuh ke ruangan itu. Beberapa direktur tua sampai menjatuhkan pena mereka. Jayden terbelalak, wajahnya memucat seketika, berubah dari merah padam menjadi seputih kertas.
"K-kau... Nael? Kau bicara?" gumam salah satu direktur senior dengan suara gemetar.
Nael menarik kursi utamanya, lalu duduk dengan perlahan. "Lima tahun saya membiarkan kalian menganggap keheningan saya sebagai kelemahan. Lima tahun saya membiarkan parasit di perusahaan ini merasa aman karena berpikir saya tidak punya taring."
Nael menoleh ke arah Jayden, yang kini gemetar hebat. "Terutama kau, Jayden. Sepupuku yang sangat 'perhatian'."
"Nael... ini... ini pasti sihir! Kau menggunakan dukun!" teriak Jayden histeris, menunjuk-nunjuk Alurra.
Alurra yang berdiri di samping Nael hanya melipat tangan, senyum liciknya mengembang. "Dukun? Heh, Ular Amis! Mulutmu itu memang minta disumpal sate ayam ya? Pangeranku bicara karena dia punya harga diri, sesuatu yang tidak kau miliki!"
"Diam, Alurra," potong Nael lembut namun tegas. Ia kembali menatap forum. "Hari ini, saya di sini bukan untuk berdebat soal medis. Saya di sini untuk memberitahukan bahwa mulai detik ini, setiap aliran dana yang keluar tanpa tanda tangan saya akan dianggap sebagai pencurian. Dan untuk kau, Jayden..."
Nael melemparkan sebuah map cokelat ke tengah meja. "Ini adalah bukti keterlibatanmu dengan pihak ketiga untuk menyabotase proyek Lightning. Kau pikir aku tidak tahu?"
Jayden ternganga, tangannya gemetar saat membuka map itu. "Ini... ini fitnah! Aku tidak pernah—"
"Cukup!" bentak Nael. Suaranya menggelegar, membuat seluruh ruangan bergetar. "Suaraku mungkin sempat hilang, tapi telingaku mendengar segalanya. Kau dipecat, Jayden. Keluar dari sini sebelum keamanan menyeretmu."
Seluruh direksi terdiam. Wibawa Nael yang baru ini benar-benar menghancurkan dominasi Jayden dalam hitungan menit. Alurra bertepuk tangan pelan dengan wajah bangga. "Hebat! Pangeranku benar-benar punya taring sekarang!"
Namun, di tengah kemenangan itu, pintu ruang rapat kembali terbuka. Kali ini bukan dengan tegas, melainkan dengan perlahan dan menyeramkan.
Seorang pria tua dengan rambut beruban dan bekas luka melintang di dahinya melangkah masuk. Ia menggunakan tongkat kayu, dan setiap ketukannya di lantai marmer terdengar seperti lonceng kematian di telinga Nael.
Nael membeku. Wajahnya yang tadi tegas mendadak pucat. Napasnya memburu, dan tangannya yang tadi kokoh kini mulai bergetar hebat di atas meja.
"Sudah lama sekali, Nael Ryker..." suara pria tua itu serak dan dingin. "Terakhir kali aku melihatmu, kau sedang merangkak keluar dari mobil yang terbakar itu... sambil menangis melihat orang tuamu terpanggang di dalamnya."
Alurra merasakan perubahan aura Nael. Aura perak Nael yang tadi bersinar kini mendadak tertutup kabut hitam pekat yang sangat menyesakkan.
"Nael? Ada apa?" Alurra memegang bahu Nael, namun Nael tidak merespons. Matanya terpaku pada pria itu, bayangan kecelakaan maut lima tahun lalu berputar hebat di kepalanya—asap, api, dan teriakan ibunya yang tak sempat ia selamatkan.
Pria itu adalah Hadi, sopir yang seharusnya membawa orang tua Nael hari itu, namun menghilang secara misterius setelah kecelakaan terjadi.
"Kau pikir rahasia malam itu terkubur bersama mereka?" Hadi menyeringai, menunjukkan gigi-giginya yang hitam. "Aku datang untuk menagih janji yang belum diselesaikan ayahmu, Nael. Atau haruskah aku menceritakan pada semua orang di sini... siapa sebenarnya yang memotong rem mobil itu malam itu?"
Nael terengah-engah, suaranya kembali tercekat di tenggorokan. Trauma itu kembali mengunci pita suaranya, lebih kuat dari sebelumnya. Di depan semua orang, Nael kembali menjadi pria bisu yang ketakutan.
...****************...
aku suka namanya Nael ....